Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas tentang sifat qudrah atau kemahakuasaan Tuhan. Saya sarankan Anda untuk membaca tulisan tersebut sebelum melangkah ke bagian ini.
Secara khusus, tulisan ini membahas tentang pertanyaan seputar pardoks kekuasaan atau dikenal dengan istilah omnipotence paradox. Judul tulisan yang Anda baca ini merupakan salah satu contoh dari pertanyaan omnipotence paradox. Sebenarnya, ada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang serupa ditanyakan, agar kita sampai pada kesimpulan “Tuhan tidak mampu”. Padahal sebuah pertanyaan itu bisa saja keliru. Pertanyaan yang keliru, mustahil melahirkan jawaban yang benar.
Kalau kita membedah pertanyaan ini, maka kita menggunakan pisau bedah yang bernama ilmu mantik atau ilmu logika. Kita akan menariknya ke ruang yang lebih universal; konsep dari pertanyaan omnipotence paradox ini.
Jika A+, Berarti A-?
Pertanyaan populer yang sering kita dengar kurang lebih: “Jika Tuhan Maha Kuasa, bisakah Tuhan menciptakan batu yang sangat besar sampai Tuhan tidak bisa mengangkatnya?”. Sejujurnya, pertanyaan ini melanggar dua kaidah asas dalam berpikir; hukum identitas dan hukum non-kontradiksi. Terkait dengan cara berpikir ini sudah saya bahas dalam salah satu tulisan ilmu mantik.
Sisi pelanggarannya pada kaidah pertama, kita bisa lihat pada terma “Maha Kuasa”. Apa yang kita pahami di sini? Jelas yang kita pahami adalah adanya afirmasi terkait kemahakuasaan Tuhan. Kaidah identitas menyatakan bahwa A+ bukan B, juga bukan A-. Jika Maha Kuasa adalah A+, maka ketidakkuasaan adalah A-. Pertanyaan ini melazimkan status A+ = A-. Ini sisi pelanggarannya terhadap kaidah identitas.
Menghimpun keduanya dalam satu waktu dan ruang akan melahirkan kontradiksi. Karena keberadaan positif dan negatif tidak mungkin terhimpun, tidak juga terangkat secara bersamaan (lâ yajtami’ân wa lâ yartafi’ân). Mengatakan ada seseorang hidup sekaligus tidak hidup dalam waktu yang sama melahirkan kontradiksi. Dan kontradiksi itu mustahil.
Karena kita sudah membuktikan pertanyaan ini dengan kaidah asasi dalam berpikir sebagai entitas yang mustahil, maka menempatkan pertanyaan ini dalam kemahakuasaan Tuhan, merupakan sebuah kekeliruan. Sebab, pada tulisan lalu kita sudah singgung bahwa kemahakuasaan Tuhan berkaitan dengan mumkinât, bukan wajibât, maupun mustahilât. Juga sudah dijelaskan bahwa tidak terjadinya suatu penciptaan pada hal yang wajib dan mustahil tidak meniscayakan kelemahan Tuhan.
Pola ini bisa kita berlakukan untuk menjawab pertanyaan yang serupa. Misalnya, bisakah Tuhan membuat patung yang tidak bisa Dia hancurkan? Bisakah Tuhan membuat Tuhan lain yang tidak bisa Dia lawan? Dan lain-lain.
Jika Bisa Menciptakan A, Bisakah A = B?
Pertanyaan lain yang muncul “Bisakah Tuhan menciptakan hewan yang gemuk tapi kurus?”. Ini mirip dengan pola pertanyaan di atas, hanya saja memiliki perbedaan sedikit di atas, terdapat pada oposisi (taqâbul) terma asal; dalam hal ini kemahakuasaan pada dua hal yang kontraris (dhidh). Bukan pada dua hal yang kontradiktoris (naqdh).
Sebelumnya saya perlu bedakan mana yang disebut dengan kontraris dan kontradiktoris. Saya ambil satu contoh: hidup dan tidak hidup. Hidup adalah A+, sedangkan tidak hidup adalah A-. Sedangkan jika kita sandingkan gemuk dan kurus, maka gemuk adalah A, sedangkan kurus adalah B. Yang pertama disebut dengan kontradiktionis, sedangkan yang kedua disebut dengan kontraris.
Dua terma yang beroposisi dengan kontraris, tidak bisa terhimpun, tidak bisa juga terangkat. Sebab, tidak ada kemungkinan ketiga dari hidup dan tidak hidup, juga akal tidak bisa menerima keberadaan dan ketiadaan dalam waktu yang sama. Sedangkan untuk kontraris, tidak mungkin terhimpun, tapi mungkin terangkat. Akal kita tidak bisa menerima ada gemuk sekaligus kurus. Tapi, kita bisa menerima keterangkatan dari keduanya; tengah-tengah, bukan gemuk, bukan juga kurus.
Ciri khas dari terma oposisi kontradiktionis, satunya menggunakan kata yang sifatnya positif dan satunya negatif. Sedangkan kontraris menggunakan dua terma positif yang tidak seidentitas, tapi berlawanan. Perlu diingat, bahwa keberlawanan dua terma, tidak harus jatuh kepada negatif, bisa saja jatuh kepada privatif. Seperti melihat dan buta. Hanya saja, keterbatasan kemungkinan akan dibahas lebih lanjut dalam masalah terma oposisi (taqâbul) dalam ilmu mantik.
Hanya saja, kalau kita melihat pola pertanyaannya, maka kita disuguhkan dengan pola keterhimpunan dua terma kontraris. Ini mustahil secara akal. Sebab, melanggar kaidah pertama; hukum identitas yang mengatakan A adalah A, bukan B. Dan kemahakuasaan Tuhan tidak berkaitan dengan sesuatu yang mustahil. Kita juga sudah jelaskan perbedaan antara mustahil ‘aqli dan mustahil ‘adiy, dan mustahil mana saja yang berkaitan dengan kemahakuasaan Tuhan pada tulisan seputar sifat qudrah.
Pola ini berlaku juga untuk menjawab syubhat dengan pola yang serupa, semisal bisakah Tuhan menciptakan dingin yang panas? Bisakah Tuhan terang yang gelap? Dan lain sebagainya.
Bisakah Tuhan Menciptakan Tuhan?
Kalau kita lihat pola pertanyaan ini, maka kita menemukan pertanyaan ini tidak masuk pada pola terma oposisi kontradiktionis, tidak juga membentuk pola kontraris. Hanya saja, untuk meluruskan pertanyaan ini, berbeda dari dua pola tadi. Yang menjadi sorotan adalah konsep ketuhanan itu sendiri. Karena dalam pertanyaan itu terdapat penyandaran penciptaan kepada Tuhan. Maka yang jadi pertanyaan adalah, dalam konsep ketuhanan, mungkinkah Tuhan itu diciptakan?
Kalau kita masuk pada argumen kosmologi terkait afirmasi eksistensi Tuhan, maka kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa Tuhan itu merupakan sebab utama dari penciptaan (al-mabda’ al-awwal). Sebab, kalau Tuhan diciptakan, maka akan terjadi tasalsul dan daur. Kedua hal ini mustahil. Karena mustahil, maka kita tidak bisa sandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan.
Adapun jika di bumi ada entitas yang dituhankan yang merupakan ciptaan dari Tuhan, maka kita tidak bisa menerima konsep seperti itu. Sebab, jika Tuhan diciptakan, maka ada yang lebih kuasa dari Tuhan Kedua itu. Juga, entitas yang disebut sebagai Tuhan Kedua itu, tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Karena Tuhan memiliki 20 sifat wajib yang merupakan identitas ketuhanan.
Salah satu dari 20 sifat itu, ada sifat qidam atau keberadaan tanpa pernah melewati ketiadaan. Jika Tuhan diciptakan, maka yang disebut Tuhan itu pasti tidak memiliki sifat qidam. Oleh karena itu, Tuhan yang demikian memiliki satu sisi cacat. Kalau ditanya apa tolak ukur atau hal yang mendasari bahwa 20 sifat itu menjadi dasar identitas ketuhanan? Untuk menjawab ini, kita tidak punya waktu untuk menjawabnya pada tulisan singkat ini dan diperlukan tulisan secara khusus untuk membahasnya. Semoga ada waktu untuk itu.
Jadi, bisa kita tarik benang merah bahwa untuk menjawab omnipotence paradox, kita harus membedah ulang pertanyaan yang diajukan. Karena jangan sampai pertanyaan yang diajukan itu keliru dan termasuk dari buah fallacy of complex question. Juga, pertanyaan paradoks seperti ini, tidak bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak” saja. Perlu penguraian ulang tentang konsep-konsep yang digunakan.
Wallahu a’lam.








