Suatu hari, saya membawakan materi ilmu logika. Seperti biasa, di dalam penjelasan ilmu tersebut, saya pasti menghadirkan contoh-contoh yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, supaya bisa dipahami dengan mudah. Salah satu contoh yang saya hadirkan: “Kebetulan, saya belum memiliki anak.” Satu patahan kalimat ini kemudian menjadi perhatian salah satu audiens: “Bukannya kebetulan itu tidak ada?” untuk kulliy yang individunya tidak ada, tapi mungkin saja ada.
Walaupun saya menjawab bahwa makna “kebetulan” yang saya maksud dan dia maksud berbeda, saya meyakini bahwa jawaban itu tidak menjawab sebuah keresahan yang mendarat di kepalanya; kebetulan itu sebenarnya ada atau tidak?
Di sisi lain, kalau kita membuka kitab ilmu kalam, kita akan menemukan para filusuf dan teolog akan satu kata; kebetulan itu tidak ada! Tapi, kenapa ungkapan “Kita bertemu pada ketidaksengajaan” itu menjadi valid?
Tahrîr Al-Murâd
Hal tersebut bisa terjawab jika kita mendudukkan konsep “kebetulan” itu secara tepat. Ini kembali kepada kaidah ilmu logika:
الحكم عن الشيء فرع عن تصوره
“Penghukuman terhadap sesuatu tergantung konsepsi tentangnya.”
Maka dari itu, “kebetulan” ini perlu diperjelas, apa yang dimaksud?
Jika melihat dalam konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, yang dimaksud dengan kebetulan adalah hal yang di luar dugaan dan tidak direncanakan manusia. Sedangkan kalau membuka kitab kalam, yang dimaksud dengan kebetulan adalah kejadian acak, tanpa pola, dan tidak ada sistem paten yang mengatur semesta.
Kalau sudah memahami kedua jenis kebetulan itu, maka kita membedakan kedua jenis kebetulan itu dan konsekuensinya berbeda. Kebetulan yang pertama disebut dengan al-shudfah al-‘isywa’iyyah (kebetulan acak), sedangkan yang kedua disebut dengan kebetulan empirik.
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan kebetulan pada makna pertama, kita harus membahas dalil keteraturan (burhân al-nizhâm) dalam konteks mengafirmasi keberadaan Tuhan.
Argumen Keteraturan
Intisari dari argumen keteraturan ini, ingin menyatakan bahwa segala yang ada di semesta ini memiliki aturan. Yang dimaksud dengan aturan itu adalah pola. Misalnya, pola gerak, hukum alam, dan lain sebagainya. Aturan itu pasti bukan sesuatu yang acak, ada yang mengaturnya. Sosok yang mengaturnya pasti Maha Tahu dan Maha Teliti. Maka dari itu, tidak mungkin semesta ini ada dari kebetulan.
Konsekuensi jika kebetulan ini terjadi, berujung pada ketiadaan pengatur semesta. Karena alam ini ada tanpa Dia. Pun, seandainya Dia ada, kalau bukan nganggur, maka dia tidak terlibat.
Salah satu tokoh besar yang memunculkan bentuk kemustahilan seandainya semesta ini acak adalah Syekh Al-Islam Musthafa Shabri. Inti dari argumen beliau adalah seandainya segalanya acak atau kebetulan, maka kita tidak akan menemukan apapun.
Lebih jelasnya, coba perhatikan tulisan yang Anda baca sekarang. Ambil satu kata saja. Misalnya, kata “Lebih”. Kata tersebut diawali huruf l, kemudian e, lalu b, hingga huruf h. Urutan dari huruf pertama hingga huruf terakhir itu terurut, lalu membentuk pola, hingga mengeluarkan makna.
Seandainya tidak ada keteraturan, ketika kita mengasumsikan sudah meletakkan huruf l, kita akan meletakkan huruf e setelahnya. Ketika kita meletakkannya, huruf pertama hilang. Ketika kita kembali ke huruf pertama untuk meletakkan huruf l, maka huruf kedua hilang. Pada akhirnya, tidak ada kata, pola, apalagi pola yang terbentuk.
Konsekuensi ini menjadi logis karena ketiadaan pola mengharuskan ketiadaan hal yang tetap, sehingga tidak pola tertentu terbentuk. Ketetapan sesuatu meniscayakan keteraturan. Maka jika kita menafikan keteraturan, maka kita menafikan ketetapan juga.
Namun, hal tersebut terbantahkan ketika kita melihat di sekitar kita ada benda-benda tertentu, seperti kayu, lantai, jendela, dan lain sebagainya. Benda-benda itu menunjukkan keteraturan karena seluruh benda tersusun dari partikel terkecil yang tidak lagi terbagi (al-juz alladzi lâ yatajazza’), kemudian menggumpal dan mengambang menjadi benda-benda yang kita kenal. Jika kebetulan terjadi, tidak ada satupun benda utuh yang kita lihat di alam semesta, bahkan kita beserta semesta tidak akan ada.
Ini berarti alam semesta memiliki sistem yang teratur, detail, dan sangat presisi.
Isykâl
Jika kita melihat ada bencana alam misalnya dan segala kerancuan yang ada di alam semesta, itu menunjukkan ketiadaan sistem. Begitu juga misalnya ada negara tertentu diacak-acak dan dibom oleh pihak militer yang pada akhirnya tempat tersebut menjadi tidak teratur dan hancur lebur. Tidak ada kehidupan, apalagi pola teratur. Lalu, di mana keteraturan semesta dalam konteks tersebut?
Jawabannya, justru itu menunjukkan keteraturan alam semesta. Bagaimana bisa? Tentu kita melihat di sana ada sistem dasar semesta yang bekerja; hukum kausalitas, alias sebab-akibat. Kehancuran, ketidakaturan, kekacauan, dan lain sebagainya merupakan akibat dari perbuatan manusia. Pun, jika bukan karena perbuatan manusia itu adalah siklus alam. Hukum kausalitas dan siklus alam merupakan pola. Karena itu pola, maka kita bisa meneliti dan mengkajinya.
Adapun yang kita sebut dengan “acak” itu bukan dalam artian ketiadaan sistem. Kita tidak mengenali pola tersebut, sehingga kita mengatakan itu acak. Padahal, apa yang kita sebut acak itu, berada dalam pola kausalitas.
Pola sebab-akibat itu hanya bentuk besarnya. Ada aspek detail kecil yang membuat hukum sebab-akibat ini tidak sederhana; variabel. Variabel ini adalah segala faktor yang mempengaruhi relasi sebab-akibat. Jumlah pastinya, tidak diketahui. Kita hanya bisa merabanya dari segala yang bisa kita ketahui.
Misalnya, sudah effort dengan segala sumber daya yang dimiliki, tapi hasilnya tidak kita dapatkan. Diri kita yang tidak mendapatkan hasil itu, sebenarnya hanya memenuhi sebagian variabel agar akibat itu terjadi, bukan seluruhnya.
Dalam salah satu tulisan, sudah dibahas bahwa salah satu variabel sebab-akibat adalah adalah variabel yang berasal dari subjek tertentu; al-‘illah al-fâ’ilah. Kalau meminjam bahasa Ahlussunnah, izin Tuhan. Artinya, di luar variabel ini, kita masih bisa mengusahakan segala faktor. Tapi, ini variabel absolut, sehingga walaupun kita berusaha, kita tidak bisa mendapatkan hasilnya.
Ini berarti, variabel sebab-akibat itu sebagiannya kita kenali, sebagiannya tidak. Ketidaktahuan kita terhadap variabel tersebut membuat anggapan bahwa kita sudah melakukan segala yang bisa dilakukan, padahal ada bagian kecil atau faktor x yang tidak kita sentuh, yang sebenarnya itu juga memiliki pengaruh terhadap akibat.
Karena tidak semua variabel kita kenali, berarti ketika ada kejadian yang kita anggap acak, sebetulnya itu tidak acak. Kita hanya tidak mengenal seluruh variabel yang mempengaruhi kejadian itu. Maka, pada hakikatnya hoki atau kebetulan itu tidak ada. Pun, jika “hoki” terjadi, itu tidak benar-benar kebetulan atau acak. Ada variabel atau faktor x yang tidak kita kenali sehingga kita mengatakan itu hoki.
Albert Einstein pernah berkata Max Born dalam sebuah surat: “God does not play dice with the universe” (Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta).
Ucapan Einstein ini muncul sebagai kritik terhadap Mekanika Kuantum (dikenal dengan Copenhagen Interpretation) yang dikembangkan oleh Niels Bohr, Max Born, Werner Heinserberg, dan beberapa lainnya.
Inti dari interpretasi tersebut adalah dalam skala subatomik, perilaku partikel tidak sepenuhnya pasti, hanya bisa diprediksi secara probabilistik. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatan partikel secara simultan, melainkan hanya bisa diprediksi saja. Ini seperti melempar dadu; hasilnya acak.
Kemudian, Albert Einstein menolak itu dengan menyatakan bahwa semesta ini tidak acak seperti bermain dadu; Tuhan tidak bermain dadu. Kita bisa memprediksi sesuatu jika kita mengetahui seluruh variabel, bahkan dadu itu sendiri. Karena jika kita melempar dadu dengan kecepatan, gaya, dan posisi yang sangat presisi, maka hasilnya akan konsisten. Ini berarti, semesta, bahkan dalam skala subatomik itu memiliki pola, walau sebatas prediksi.
Tentang Pola
Sesuatu itu disebut pola jika paling sedikit berulang tiga kali dengan hasil yang sama. Jika belum, maka masih berada di taraf gejala. Misal, ketika si A ketemu dengan si B, A langsung lempar jokes di awal percakapan. Pada kesempatan kedua, si A bertemu lagi dengan si B, si A kembali lempar jokes. Setelah itu, pada kesempatan ketiga, kronologi yang sama berulang. Akhirnya, kita menyimpulkan bahwa jika A bertemu B, A pasti melempar jokes. Kesimpulan ini lahir, karena kita membaca pola tetap.
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana kalau pola itu tidak kita ketahui? Lebih jelasnya, jika kita tidak mengetahuinya, apalagi keberulangannya. Bagaimana kita bisa menyebutnya sebagai pola? Kalau kita tidak bisa menyebutnya sebagai pola, lantas atas dasar apa kita bisa mempertahankan klaim semesta ini seluruhnya memiliki pola?
Jawabannya, hal tersebut dibuktikan secara induktif (istiqrâ’). Kita melihat seluruh benda, seluruhnya memiliki keteraturan. Bahkan, keberadaan benda itu sendiri memiliki pola; ketersusunan. Begitu juga pada ranah mikro seperti di dunia subatomik; atom memiliki inti dan partikel. Ini juga pola.
Adapun untuk hal yang tidak pernah kita saksikan langsung, hal tersebut “diwakili” oleh sampel representatif; variabel inti pada sampel tersebut menunjukkan gejala berulang tertentu hingga membentuk pola, maka pola tersebut akan berlaku pada variabel sama di sampel lain, terlepas kita mengetahuinya atau tidak.
Atas dasar itu, semesta memiliki pola. Karena semesta memiliki pola, berarti semesta itu memiliki aturan. Karena semesta memiliki aturan, berarti ada yang menyebabkan aturan itu. Dia pasti Maha Tahu, karena “karya”-Nya sangat detail. Karena tidak mungkin aturan muncul dari ketiadaan ilmu dan ketidaksadaran. Tidak mungkin Maha Tahu itu tidak hidup. Bagaimana Dia mengetahui kalau Dia mati?
Antara Kebetulan Acak dan Kebetulan Empirik
Jika Anda sudah memahami uraian di atas, berarti tidak sulit bagi Anda memahami bahwa kebetulan empirik itu bukanlah sesuatu yang benar-benar acak; dia berproses di bawah hukum alam dan kausalitas, terlepas apakah kita mengetahui variabelnya atau tidak. Dengan kata lain, kebetulan empirik ini, tidak benar-benar kebetulan.
Kebetulan acak itu tidak mungkin terjadi, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Sedangkan kebetulan empirik, mungkin terjadi. Yang ditolak oleh para filusuf dan teolog adalah kebetulan acak, bukan kebetulan empirik.
Jadi, ketika dikatakan semesta ini memiliki pola universal dan partikular yang dibungkus dengan istilah sunatullah, itu betulan ada. Konsekuensinya, Tuhan mengizinkan relasi sebab-akibat terjadi di dunia. Karena ini diizinkan, berarti ketika kita mengusahakan sesuatu, itu tidak bertentangan dengan akidah, tidak syirik, bahkan bisa tergolong ibadah.
Hanya saja, ketika kita “menuhankan” sebab-akibat itu, seolah usaha kita itu pasti menyebabkan akibat yang kita inginkan, di sinilah syirik kecil itu terjadi. Karena kita terlalu pede dengan pengetahuan yang sempit akan variabelnya, memastikan akibat yang butuh variabel luas dari sekadar yang kita tahu tentang variabel itu.
Maka, ketika Anda bertemu dengan seseorang yang tidak pernah Anda duga atau berpisah dari seseorang tanpa pernah Anda pikirkan, itu bukanlah kebetulan acak, tapi kebetulan empirik. Semua sudah ada aturannya.
Wallahu a’lam








