• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026
in Tasawuf
Waktu Baca: 10 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir

Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia Maha Pencipta, Maha Baik, dan semacamnya, karena jalan menuju Tuhan adalah hal paling logis dari seluruh perjalanan. Dengan kata lain, sudah seharusnya Tuhan menjadi tujuan utama, apapun perjalanannya. Hal ini bisa diargumentasikan.

Segala sesuatu itu ada dua kemungkinannya, bisa saja dia 1) Ada, atau 2) Tiada. Sesuatu yang tiada, tidak mungkin menjadi tujuan. Selain karena tidak ada yang didapati di sana, perjalanan itu tidak akan pernah terjadi. Karena jika ketiadaan adalah tujuan, maka sejatinya tujuan itu tidak ada, karena dia ketiadaan itu sendiri. Konsekuensinya, perjalanan itu tidak terjadi. Opsi menjadikan tiada sebagai tujuan ini tidak mungkin dan tidak logis.

Adapun sesuatu yang ada, dua kemungkinan; 1) Mumkin; bisa jadi ada atau tiada, atau 2) Wâjib; mustahil tiada. Jika sesuatu yang mumkin menjadi tujuan, ada dua kemungkinan; 1) Dia ada, atau 2) Dia tidak ada. Jika dia ada, maka ujungnya dia akan tiada. Karena semua yang ada (selain Tuhan) pasti bersifat fana; akan hancur. Sebab kefanaan ini, karena sesuatu yang menerima potensi keberadaan dan ketiadaan, mungkin disusupi sifat tiada. Jika mungkin demikian, berarti memungkinkan ada ketidaksejatian dalam keberadaannya, karena tidak ada konsistensi mutlak di dalamnya.

Seandainya ada yang ingin menyeret surga sebagai salah satu opsi karena surga itu tidak ada akhirnya, perlu diketahui bahwa surga itu ada awalnya. Jika surga memiliki awal, berarti surga itu bergantung pada sosok yang mengadakan. Kalau surga sendiri bergantung, untuk apa bergantung pada sesuatu yang bergantung? Kenapa tidak langsung kepada yang tidak bergantung saja? Ini berlaku kepada semua makhluk yang tidak memiliki akhir.

Berarti, semua mumkin (makhluk) itu rapuh. Sesuatu yang bergantung pada yang rapuh, ia lebih rapuh. Karena yang bergantung itu lebih lemah. Berarti, menjadikan segala sesuatu yang mumkin. sebagai tujuan, hanya akan menjadi bom waktu yang akan menyeret jiwa kepada nihilitas pada akhirnya. Ujungnya, mudarat tanpa maslahat hakiki.

Jika mengambil opsi kedua; bergantung pada sesuatu yang mumkin dalam keadaan tiada, ini juga tidak logis. Sama tidak logisnya dengan menjadikan sesuatu yang tiada sebagai tujuan.

Adapun opsi terakhir, menjadikan sesuatu yang wâjib sebagai tujuan, justru jauh dari seluruh irasionalitas dan absurditas di atas. Karena sesuatu yang wâjib itu keberadaannya tidak diawali ketiadaan dan tidak berakhir. Secara eksistensi, wâjib jauh lebih sejati dari apapun. Jika Dia lebih kuat secara keberadaan, maka seharusnya Dia menjadi tempat bergantung untuk segala eksistensi yang lebih lemah. Segala eksistensi itu adalah makhluk. Makhluk itu semua ciptaan dan selain wâjib. Mencakup kita semua.

Kalau kita menerima ini, perlu kita ketahui bahwa sesuatu yang wâjib itu tidak berbilang dan Dia Maha Esa. Sebagai orang muslim, kita mengenal-Nya dengan Allah. Jika kita menerima bahwa kita harus bergantung kepada-Nya, konsekuensi logisnya, kita harus menjadikan-Nya sebagai tujuan. Karena menjadikan tempat bergantung sebagai tujuan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, menjadikan tempat bergantung sebagai tujuan adalah bentuk dari kebergantungan itu sendiri.

Di bagian ini, kita bisa melihat betapa tidak masuk akalnya jika kita adalah makhluk yang secara eksistensi bergantung kepada Tuhan, lalu tidak menjadikannya sebagai tujuan. Jika menjadikan-Nya sebagai tujuan adalah bagian dari perwujudan kebergantungan itu, maka memisahkannya itu seperti memisahkan dua hal yang tidak terpisah, qalb al-haqâ’iq; memutarbalikkan kebenaran. Sangat tidak logis.

Makanya, menjadikan selain Tuhan, seperti surga, ibadah, kebiasaan, dan apapun itu sebagai tujuan, akan menjerumuskan kita kepada jurang yang sama ketika menjadikan harta, jabatan, atau apapun sebagai tujuan; jurang irasionalitas dan jauh dari sesuatu yang betulan substansial.

Kaidah Pertama

Dalam dunia tasawuf, hal paling mendasar yang diajarkan oleh para guru adalah:

أنّ الله هو مقصود الكلّ

“Allah adalah tujuan segalanya.” [Nuruddin Ali Jum’ah, Tharîq ila Allah, 2019, Kairo: Dar Al-Wabil Shayyib, hlm. 12].

Hal tersebut dituliskan oleh Maulana Syekh Nuruddin Ali Jum’ah, Syekh Tarekat Syadziliyyah, sebagai pondasi sebelum berjalan lebih jauh. Karena ketika seseorang ingin pergi pada suatu tempat, prosedur paling awal yang menentukan utuhnya perjalanan itu adalah tujuannya. Perjalanan tidak akan terarah tanpa tujuan yang jelas.

Hanya saja, yang namanya perjalanan, ada banyak hal yang bisa terjadi di perjalanan. Lebih jelasnya, dengan menentukan tujuan saja, perjalanan itu tidak selesai. Tapi, baru memulai. Sama halnya ketika kita ingin pergi ke suatu tempat, dengan menentukan destinasi, bukan berarti kita sampai. Itu namanya wacana, bukan jalan, apalagi sampai. Jadi, menentukan tujuan itu satu hal, berjalan dan sampai itu hal lain lagi. Ada banyak rintangan di depan menunggu.

Maulana Syekh Bahtiar Nawir, Muqaddim Tarekat Syadziliyyah, memberikan gambaran imajiner bahwa di perjalanan itu ada banyak cindera mata. Cindera mata ini bentuknya macam-macam. Entah itu berlian, emas, atau apapun hal berharga. Biasanya ada dalam wujud kasyaf, karamah, dan semacamnya. Ini yang menjadi tantangan sekaligus giveaway bagi seorang hamba yang ingin berjalan menuju Tuhan, khususnya mengenai konsistensi fokus dalam mengarungi perjalanan itu.

Kaidah Kedua

Maulana Syekh Ali Jum’ah, kemudian memberikan kaidah lanjutan:

أن ملتفتا في طريق إلى الله لا يصل

“Distraksi pada jalan menuju Allah itu tidak akan sampai.” [Nuruddin Ali Jum’ah, Tharîq ila Allah, 2019, Kairo: Dar Al-Wabil Shayyib, hlm. 17].

Bahkan, beliau menyebut kalau kaidah ini bukan kaidah tasawuf saja, tapi pola umum yang bisa kita temukan dalam kehidupan.

Misalnya, dalam masa ujian, kita dituntut untuk membaca diktat kuliah. Tapi, entah apa yang terjadi pada kejenuhan tengah paragraf diktat itu, handphone itu seolah memanggil untuk dibuka‒walau tidak ada apa-apa sih‒yang berimbas pada progress dalam mempersiapkan ujian. Akhirnya, karena distraksi itu, “perjalanan” dalam memahami diktat itu tertunda. Karena tertunda, apakah sampai? Hal ini sudah bisa kita jawab.

Kaidah ini juga meniscayakan pola sebab-akibat. Lebih fundamentalnya, mendekati Tuhan itu memiliki pola dan merupakan bagian dari hikmah keteraturan alam ini. Karena alam ini memiliki pola universal yang berlaku seluruh lini, termasuk dalam mendekat kepada Tuhan. Hal ini sudah dibahas dan diargumentasikan pada salah satu tulisan. Yang jelas, karena meniscayakan adanya perjalanan, tujuan, dan pola sebab-akibat, berarti jalan menuju Tuhan itu bukan pencapaian yang lahir dari ruang hampa; tiba-tiba terjadi begitu saja.

Karena pola ini ada, maka mendekat kepada Tuhan adalah hal yang sesuai dengan sunatullah, alih-alih menjauhinya.

Pun, seandainya ada seseorang diangkat menjadi wali secara tiba-tiba, ini juga tidak melanggar hukum sebab-akibat. Sebab, hukum sebab-akibat itu memiliki banyak variabel, terlepas kita mengetahui variabel itu atau tidak‒sebagaimana yang sudah dijelaskan. Seandainya tidak ada sesuatu di alam pun yang menjadi perantara sebab itu, maka sifat Maha Kehendak (irâdah) itu yang menjadi sebabnya. Berarti, sebab-akibat tidak batal, justru bekerja.

Hanya saja, jika itu terjadi, jumlahnya terlampau sedikit, dibanding yang melewati pola umum itu. Sesuatu yang sedikit, tidak bisa dijadikan acuan, sekalipun sesuatu itu benar. Karena keberlakuannya terbatas. Maka dari itu, ulama mengambil sampel mayoritas sebagai acuan utama.

Acuan utama ini kemudian menjadi pusat perhatian para ahli, sehingga menjadi satu disiplin; tasawuf. Tidak mungkin ada satu disiplin yang berdiri tegak, jika di dalamnya tidak didapati pola apapun. Bukti keberadaan pola itu adalah adanya kaidah. Karena kaidah itu terbentuk dari pola konsisten.

Berarti, pola fokus jalan kemudian sampai itu pola logis. Begitu juga sebaliknya, yang fokus pada distraksi di perjalanan itu tidak akan sampai.

Kedua pola itu memiliki fenomena yang sama konsistennya. Orang yang fokus pada proses, alih-alih validasi eksternal, dan segala yang mengganggunya, akan sampai. Sedangkan orang yang tidak berproses atau berproses tapi belok, tidak sampai.

Ini disebutkan oleh Maulana Syekh Bahtiar Nawir, bahwa ada sebagian orang yang ketika mendapati hadiah atau giveaway di perjalanan, fokusnya menjadi teralih kepada keistimewaan itu. Karena fokusnya ada pada keistimewaan, maka keistimewaan itu dia dapati. Tapi, tidak sampai pada tujuan utamanya; Tuhan. Makanya, orang yang distraksinya terlalu banyak, kalau bukan lama sampai, tidak sampai.

Kata kuncinya ada dua: 1) Fokus, dan 2) Distraksi. Keduanya adalah hal yang sangat berlawanan. Tapi, kaidah tersebut meniscayakan dua hal ini.

Untuk sampai kepada Tuhan, harus fokus menuju kepada-Nya, apapun hadiahnya. Karena jika tujuan itu Tuhan dan segala pemberian di tengah jalan adalah hadiah, maka tujuan itu lebih substansial. Berarti, untuk sampai kepada Tuhan, kita harus terbiasa dan berpegang dengan hal-hal substansial, alih-alih terdistraksi dengan segala “godaan”.

Jatuh-Bangun

Fokus juga bukan bawaan lahir, ia perlu dilatih. Sehingga, wajar jika mendapati kegagalan dalam berproses. Kegagalan itu bagian dari proses. Maka, setiap kegagalan, harus melahirkan setiap perkembangan. Hanya saja, kegagalan ada sebabnya dan tidak semua sebab itu diketahui.

Maka, harus ada yang mengawasi proses itu dan dia harus lebih tahu dari orang yang berproses. Agar ia bisa memberikan evaluasi, perbaikan, dan peningkatan dari kinerja orang yang berproses. Ini alasan logis, mengapa mursyid harus ada ketika berjalan menuju Tuhan.

Mungkin, ada yang akan mengatakan bahwa seseorang bisa sampai sendirian dengan dirinya, karena sudah mengetahui tujuan. Hal ini bisa terbantahkan dengan: ini bukan tentang mengetahui tujuan, tapi ini tentang berkaitan dengan tujuan, khususnya perjalanan itu. Mengetahui tujuan, tidak memastikan kita mengetahui segala yang berkaitan dengan tujuan itu.

Misalnya saja, ketika ingin ke Piramid di Mesir. Memang tahu tujuan, tapi ketika tidak ada kemampuan bahasa, kemampuan debat dengan orang Mesir, dan tidak ada pengetahuan tentang prosedural untuk masuk ke area Piramid, apakah bisa sampai ke Piramid dengan modal tahu bentuk Piramid saja? Jelas tidak. Makanya, peran tour guide diperlukan di sini.

Pola yang sama bekerja dalam dunia tasawuf. Yang namanya pendatang baru, dia tidak tahu lapangan, apalagi punya pengalaman. Maka, dia butuh kepada mursyid  yang sudah punya jam terbang tinggi untuk membimbing di lapangan spiritual.

Keberadaan mursyid di sini akan memberikan petunjuk, bagaimana tindakan yang pas ketika jatuh, lalu bangkit berjalan. Atau ketika berbelok, bagaimana agar kembali ke jalan utama. Yang jelas, mursyid itu pasti mengawasi perkembangan fokus murid yang berjalan menuju Tuhan.

Brain Rot

Pembahasan brain rot muncul sebagai problematika realistis di tengah masyarakat, khususnya di abad 21 sekarang, apalagi ketika platform media sosial menyediakan fitur reels yang berisi konten pendek dengan rentang 10 detik sampai lima menit.

Mulanya, istilah brain rot muncul dalam buku Walden karya Hanry David Thoreau tahun 1854. Secara harfiah, brain rot itu berarti pembusukan otak. Istilah ini digunakan oleh Henry untuk mengkritisi kecenderungan masyarakat dalam menyederhanakan ide kompleks, alias malas menggunakan fitur fokus mendalam yang disediakan Tuhan.

Tapi, beberapa tahun terakhir, istilah ini muncul untuk mengekspresikan dampak dari budaya internet yang menggambarkan penurunan mental atau intelektual seseorang. Lebih jelasnya, kecerdasan dan daya fokus seseorang menurun karena mengonsumsi konten singkat secara berlebih.

Akibatnya, daya fokus berkurang, penurunan peforma produktivitas, kontrol impuls yang buruk, dan lain sebagainya. Dampak paling nyata yang bisa kita lihat langsung, baca buku 10 halaman, terasa susah sekali, dengar rekaman dengan rentang satu jam saja, teralihnya bisa sampai tiga jam, bahkan mungkin menyelesaikan artikel singkat ini untuk dibaca, rasanya berat sekali.

Bukan bualan semata, tapi ini muncul di 71 studi dalam Psychological Bulletin (American Psychological Association) yang melibatkan 100.000 partisipan. Studi ini muncul untuk mendalami apa hubungan kausal antara konsumsi konten pendek secara berlebih dengan penurunan fokus, kecerdasan-kognitif, serta peningkatan depresi, kecemasan, stres, dan kesepian. Hasil studinya, menunjukkan korelasi dengan persenan tinggi yang menunjukkan adanya relasi logis antara konsumsi konten singkat secara berlebih dengan penurunan kecerdasan.

Untuk melihat betapa luasnya fenomena ini, kita bisa melihat bagaimana Oxford University Press menempatkan brain rot sebagai word of the year (kata tahun ini) pada 2024. Hal tersebut dipicu oleh lonjakan penggunaan kata secara signifikan dari 2023 ke 2024 sampai 230%, sekaligus mencerminkan kekhawatiran sosial terhadap konsumsi konten singkat secara berlebih. Berarti ini fenomena yang sangat luas.

Bukan berarti sebelum 2024 aktivitas tersebut belum ada dan belum meluas. Justru, karena ini fenomena, bisa saja pada tahun sebelumnya penggunaan kata tepat untuk mengekspresikan fenomena ini, bukan menggunakan kata brain rot, tapi kata lain.

Tapi, poin pentingnya adalah karena meluasnya konten singkat dan sangat mudah untuk diakses, akhirnya penggunaannya bisa meningkat secara drastis dan memberikan stimulus kepada otak untuk memproduksi dopamin yang pada akhirnya, terbentuklah pola brain rot. Efeknya, tentu menurunkan daya fokus.

Apa hubungannya dengan menuju Tuhan? Orang yang terkena brain rot itu susah fokus. Sedangkan untuk menuju Tuhan, butuh fokus. Berarti, fenomena brain rot ini merupakan problematika yang bersinggungan dengan tasawuf, karena bersinggungan dengan isu jalan menuju Tuhan.

Mau itu berzikir, salat, berdoa, khalwat, dan lain sebagainya itu butuh fokus. Ini butuh fokus aktif. Sedangkan, dalam ibadah yang berkaitan dengan manusia lain juga butuh fokus; tetap menargetkan bahwa Tuhan menjadi tujuan. Ini butuh fokus pasif. Fokus aktif selalu lebih berat dibanding fokus pasif. Fokus yang paling terdampak oleh fenomena brain rot ini adalah fokus aktif. Tentu, pengaruhnya akan sampai kepada khusyu dalam salat.

Tapi, bukan berarti tasawuf tidak menyediakan obat itu. Tasawuf tetap bisa menjawab tantangan psikologis di era TikTok yang saling rival dengan Meta Club. Jangan mengira hanya karena ada di tahun pasca 2000 dan berbahasa Inggris, lantas tidak ada kaitannya dengan dunia spiritual. Tasawuf itu lifestyle; gaya hidup atau sering disebut dengan manhaj al-hayât (cara hidup).

Tasawuf tidak hanya bicara tentang detox; pembersihan “racun” konten reels yang berlebih lewat takhalli (membersihkan diri dari hal buruk), tapi jauh lebih substansial. Ini bisa didapati pada kaidah selanjutnya.

Kaidah Ketiga

Ketika seseorang sedang berjalan menuju Tuhan, ada hal sangat intim yang perlu dirawat oleh jiwa orang itu. Maulana Syekh Ali Jum’ah menulis:

العبرة بمن صدق، وليست بمن سبق

“Ini tentang siapa yang tulus, bukan siapa yang duluan.” [Nuruddin Ali Jum’ah, Tharîq ila Allah, 2019, Kairo: Dar Al-Wabil Shayyib, hlm. 21].

Sebelum jauh melakukan kiat-kiat yang mengusir distraksi itu, ada hal yang sangat substansial; ketulusan. Artinya, seseorang dalam perjalanan bisa sampai dengan cepat jika ia tulus. Lebih jelasnya, mulusnya sesuatu selalu berangkat dari kemurnian. Bukan dari hal-hal sampingan, kayak suara followers atau haters.

Ini juga maksud dari ucapan Gus Dur, bahwa hamba amatir itu selalu goyah (terdistraksi) dengan pujian dan celaan. Karena hamba sejati, tidak akan menjadikan selain-Nya sebagai tujuan‒sebagaimana yang telah diargumentasikan. Makanya, bagi para Nabi, wali, dan ulama, validasi atau hate speech orang lain itu tidak penting. Karena mereka bukan Tuhan. Makanya, ketulusan itu menjadi penting. Biar ada duluan, tapi kalau tidak tulus, tidak mulus.

Ketulusan ini kemudian terbagi dua; 1) Sebelum perjalanan, dan 2) Saat perjalanan. Ketulusan sebelum perjalanan ini terletak pada niat; ikhlas, karena Tuhan semata. Sedangkan, pada perjalanan ada pada kesungguhan (‘azam) menuju tujuan. Kalau tulus, pasti serius.

Agar semua rintangan tidak terlihat besar, maka butuh al-himmah al-‘âliyah (effort); lawan semua kemalasan, tidak mudah. Agar proses ini tidak berat, maka butuh kecintaan (mahabbah). Maka, berat hanya butuh terbiasa, lalu terbiasa agar kita nyaman, lalu nyaman agar mencintai proses itu.

Kalau ada mengira karena ini tasawuf dan serba mistis sehingga tidak butuh usaha, anggapan seperti ini perlu dijauhi. Syekh Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari pernah ditanya: “Apakah ada zikir pembangkit effort?” Beliau tertawa lalu menjawab: “Tidak ada!”

Ini adalah proses yang tidak bisa dicurangi dengan bacaan, rapalan mantra, atau jampi tertentu. Namanya juga ketulusan. Tentu tidak ada jalan pintas dalam ketulusan. Sayangnya, mentalitas ingin hasil tanpa usaha, tidak dikenal dalam tasawuf, apalagi Islam. Tidak ada Nabi pemalas.

Jika kembali ke isu brain rot sebelumnya, kita butuh niat yang tulus dalam melawan keinginan untuk hal sementara dan keinginan kuat untuk menjadi lebih baik. Keinginan kuat ini akan melahirkan segala bentuk solusi untuk melawan kecenderungan dengan konten pendek, salah satunya dengan melakukan detox.

Di antara bentuk realisasinya adalah berusaha kembali fokus dengan beragam metode yang dikembangkan. Misalnya, dengan menghilangkan semua yang mengganggu fokus dari pandangan kita, agar otak kita tidak “memanggil” pengganggu itu lagi.

Karena ini tidak mudah, lagi-lagi butuh kepada orang yang selalu mengingatkan, kendati sudah serius. Sepandai-pandai tupai melompat, ia bisa jatuh. Ketika diingatkan, di sinilah pentingnya tahu diri. Sosok yang mengingatkan itu juga harus sering bersama, agar bisa mengawasi.

Pola ini juga kita sering temukan dalam perjalanan menuju Tuhan. Seorang murid harus latihan fokus berjalan menuju Tuhan. Dia harus sering bersama mursyid, agar perkembangannya bisa dipantau. Kalau diberikan arahan, taat adalah keharusan. Karena yang terdistraksi dari fokus itu yang perlu diperbaiki.

Apakah Boleh Santai?

Pertanyaan ini mungkin muncul karena melihat ajakan fokus tersebut seolah kita harus menjadi kaku, tidak peduli sosial, dan dugaan negatif lainnya. Boleh atau tidaknya, tergantung apa yang dimaksud dengan “santai” ini.

Jika yang dimaksud dengan santai adalah rehat sejenak ketika lelah, menghela nafas, lalu melanjutkan perjalanan, kenapa tidak? Istirahat tidak membatalkan tujuan, tapi bagian dari strategi agar perjalanan efektif. Istirahat bukan mundur, bukan berhenti total, bukan juga berpaling, apalagi membatalkan tujuan. Makanya, istirahat tidak bertentangan dengan fokus.

Adapun jika dimaksud dengan santai adalah tidak serius dan mematikan fokus dalam tujuan, ini adalah pengkhianatan kecil terhadap diri kita. Kita yang memulai, kita juga yang tidak serius.

Dalam salah satu pengajian, saya bertanya kepada Maulana Syekh Bahtiar Nawir, untuk memastikan: “Berarti, ketiadaan fokus ini hal yang dimusuhi para Nabi, wali, dan seluruh manusia?” Beliau menjawab: “Benar!”

Berarti, fokus bagian dari ajaran Islam.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

Apakah Kebetulan itu Ada?

Artikel Selanjutnya

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.