• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Ilmu Mantik

Dalalah Bagian Ketiga

Dars: Kesembilan

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
25 April 2021
in Ilmu Mantik
Waktu Baca: 4 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa dalâlah terbagi, salah satunya sampai kepada dalâlah lafzhiyyah wadh’iyyah. Dan ternyata dalâlah lafzhiyyah wadh’iyyah ini adalah mu’tabar di ilmu logika. Dalalah bagian ini beserta pembagiannya yang menjadi titik fokus pembahasan kita.

Sekedar mengingatkan kembali bahwa dalalah lafzhiyyah berarti dalalah yang diperoleh dari lafazh dan keterkaitan antara dâl dan madlûl itu melalui konteks kebahasaan (wadh’iyyah), bukan akal (‘aqliyyah), bukan juga watak manusia (thabi’iyyah).

Dalalah ini dibagi menjadi tiga, yaitu; 1) Muthabaqiyyah. 2) Tadhammuniyyah. 3) Iltizamiyyah. Kenapa hanya tiga saja? Karena memang secara akal, hanya tiga kemungkinan (akan dibahas sebab-sebab batas sesuatu itu dalam dars extra: Anwa’ al-Hashr).

– 𝑫𝒂𝒍â𝒍𝒂𝒉 𝑳𝒂𝒇𝒛𝒉𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉 𝑴𝒖𝒕𝒉𝒂𝒃𝒂𝒒𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉

Dalâlah berarti penunjukan, lafzhiyyah berarti berbentuk lafazh, sedangkan muthabaqiyyah berarti selaras. Dengan demikian, maka dalâlah lafzhiyyah muthabaqiyyah dapat didefinisikan dengan:

دلالة اللفظ على تمام ما وضع له

Penunjukan suatu lafazh atas makna utuh yang dibakukan untuk lafazh tersebut.

Sebagai contoh, ada makanan bernama “pastel” atau di daerah Makassar diberi nama “jalangkote” (hanya beda nama, intinya sama). Nah, makanan ini, ada terigu bagian luar yang menutupinya. Dalamnya juga ada wortel, kentang, telur, mie, atau toge, yang jelas ada isinya. Yang ingin saya tunjukkan di sini adalah, ketika disebutkan “jalangkote” atau “pastel” maka menunjuk kepada keseluruhan makanan itu, baik bagian luar maupun dalamnya.

Contoh lain lagi, ketika disebutkan kata rumah. Kita tau bahwa rumah adalah tempat tinggalnya manusia yang isinya terdiri atas pintu, jendela, dinding, tehel, atap, lantai, dan lain sebagainya.

Oke, anda adalah seorang laki-laki yang tentunya harus menyiapkan banyak hal sebelum menikah. Tiba-tiba, ketika calon mertua anda bertanya “apakah kamu sudah beli rumah?”. Nah, calon mertua anda menyebut kata “rumah”. Apa yang terlintas? Dinding sajakah? Atap sajakah? Atau pintu sajakah? Tentu yang terlintas adalah keseluruhan dari “rumah” itu yang mencakup pintu, dinding, jendela, dan semua yang tercakup dari kata rumah itu.

Nah, penunjukan kata jalangkote atau pastel ini menunjuk kepada makanan itu secara keseluruhan, baik di luar maupun di dalamnya. Begitu pula kata “rumah” yang mencakup semua yang ada dalam rumah itu. Inilah yang dimaksud dengan dalalah lafzhiyyah muthabaqiyyah. Mengapa? Karena lafazh tersebut menunjukkan makna utuhnya.

Saya rasa, untuk dalalah ini contohnya sangat banyak. Intinya, dalalah lafzhiyyah muthabaqiyyah ialah petunjuk suatu lafazh atas makna utuhnya, bukan sebagian, juga bukan di luar esensi lafazh tersebut.

– 𝑫𝒂𝒍â𝒍𝒂𝒉 𝑳𝒂𝒇𝒛𝒉𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉 𝑻𝒂𝒅𝒉𝒂𝒎𝒎𝒖𝒏𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉

Biasanya kita menggunakan kata-kata atau lafazh, tapi yang dimaksud hanyalah sebagian dari kata tersebut. Jika anda penggemar olahraga sepak bola, anda mungkin pernah mengatakan “di final nanti, akan ada pertandingan Indonesia lawan Malaysia”. Apakah semua rakyat Indonesia dan Malaysia turut serta dalam pertandingan tersebut? Tentu tidak. Hanya sebagian yang dimaksud, yaitu tim nasional saja sebagai perwakilan.

Contoh lain lagi, anda duduk manis menonton bola, tiba-tiba ada tetesan-tetesan air dari plafon rumah lalu anda bertanya kepada istri anda “eh, rumah ini barusan bocor?”. Nah, ini juga menggunakan kata rumah, tapi apakah yang dimaksud seluruh rumah? Tentu tidak. Hanya sebagian, atap dan plafon saja.

Tadhammun artinya kandungan. Dalâlah tadhammuniyyah ini definisinya:

دلالة على جزء المعنى فى ضمنه

Penunjukan suatu lafazh atas sebagian makna yang dikandung lafazh itu.

Contoh yang paling sering dipakai oleh para ahli logika adalah “Al-Hayawân Al-Nâthiq” (hewan yang berpikir)* yang merupakan makna utuh dari manusia. Tapi, ketika menyebut kata manusia tapi yang dimaksud hanya sebagian dari kata manusia itu, baik itu hanya menujukan ke “Al-Hayawân” (hewan) atau ke “Al-Nâthiq” saja, maka itu yang dimaksud dengan dalalah tadhammuniyyah, karena yang dimaksud hanya sebagian saja.

Maka jika suatu lafazh manunjukkan makna utuhnya, maka dia menjadi dalâlah muthabaqiyyah. Tapi ketika hanya menunjukkan sebagian makna dari lafazh itu adalah sebagian, maka ia menjadi dalâlah tadhammuniyyah.

– 𝑫𝒂𝒍â𝒍𝒂𝒉 𝑳𝒂𝒇𝒛𝒉𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒍𝒕𝒊𝒛𝒂𝒎𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉

Biasanya juga kita menggunakan suatu lafazh, dan yang kita maksud, bukanlah makna utuhnya, juga bukan sebagian maknanya, tapi makna lain di luar esensi lafzh tersebut, tapi masih ada keterkaitannya (luzûm).

Misalnya anda menggunakan kata “api”. Ketika disebutkan api, maka yang terlintas di akal kita adalah api beserta panasnya. Api dan panas adalah dua hal berbeda, tapi keduanya tetap saling berkaitan.

Ketika disebutkan kata api, dan yang kita maksud adalah panasnya. Maka petunjuk dari kata api, masuk dalam kategori dalâlah lafzhiyyah iltizamiyyah. Yang disebut lain, tapi yang dimaksud lain. Tapi lafazh yang kita sebut, masih ada kaitannya dengan yang kita maksud.

Iltizamiyyah berasal dari kata “lazima” (لزم) berarti keterkaitan atau secara akal, tidak boleh terpisah. Misalnya es batu dan dingin, es batu ini adalah malzûm dan dingin ini melazimi es batu. Es batu tidak terpisah dari dingin meskipun keduanya dua hal yang berbeda. Seperti api dan panas tadi. Ini yang dimaksud dengan lazim.

Dalalah iltizamiyyah didefinisikan dengan:

دلالة على أمر خارج عن المعنى لازم له

Penunjukan suatu lafaz atas sesuatu yang berada di luar esensinya, tapi esensi yang dimaksudkan itu melazimi lafazh tersebut.

Ada hal yang perlu diperhatikan di sini seputar dalalah iltizamiyyah. Karena setiap lafazh itu memiliki keterkaitan makna yang banyak, karena itu para ahli menetapkan syarat-syarat yang cukup berat.

Kenapa harus memiliki syarat berat? Karena kalau tidak diberikan syarat, orang-orang bisa bicara seenaknya. Bisa saja orang berkata A, tapi maksudnya adalah B. Padahal B tidak memiliki kaitan dengan A. Atau bisa saja ada keterkaitan, tapi keterkaitannya tidak jelas. Sampai Imam Al-Ghazali dalam kitab Mi’yar al-‘Ilm mengatakan kalau dalalah iltizamiyyah tidak bisa dijadikan lafzah untuk merangkai ta’rif. Hanya dalâlah muthabaqiyyah dan tadhammuniyyah saja.

Karena dalâlah ini mengharuskan ada luzûm, maka pembahasan selanjutnya akan membahas tentang luzum lalu kembali ke dalâlah lagi.

_________________

Footnote:

Kata Al-Haiwân Al-Nâthiq kerap diartikan sebagai “hewan yang berbicara” lalu dibayangkan ada binatang berbicara layaknya manusia. Padahal hewan yang dimaksud di sini, beda dengan hewan dalam bahasa arab.

Hewan dalam bahasa indonesia, membedakan antara makhluk yang berakal dan tidak berakal yang keduanya sama-sama memiliki pancaindera. Tapi, dalam bahasa arab, hewan itu mencakup manusia dan binatang. Tapi yang membedakan manusia dan binatang adalah nathiq-nya (berakal). Insya Allah ini akan dibahas lebih lanjut di pembahasan Kulliyyat al-Khamsah.

 

Tags: agamafilsafatlogikapemikiran
Artikel Sebelumnya

Dalalah Bagian Kedua

Artikel Selanjutnya

Sudah Siapkan Apa?

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Sudah Siapkan Apa?

Sudah Siapkan Apa?

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.