Sebenarnya, untuk menegaskan perubahan manusia itu tidak perlu repot. Cukup dengan mengetahui bahwa Tuhan membukakan pintu taubat, kita bisa tahu bahwa manusia itu bisa berubah. Untuk apa Tuhan membuka pintu taubat jika dalam ilmu-Nya manusia itu tidak bisa berubah?
Tapi, kalau cuman sampai di situ, cukuplah tulisan ini sampai satu paragraf saja. Aslinya, tulisan ini lebih condong mengulik: Bagaimana manusia itu berubah? Apa yang membuatnya berubah? Kenapa manusia berubah? Dan apa sikap kita kepada perubahan itu? Mungkin variabelnya bisa sedikit bertambah jika diperlukan. Yang jelas, ini poin pentingnya.
Saya ingin mulai dari cerita singkat. Saya adalah anak yang dididik di pondok. Kehidupan dalam dunia pondok itu beragam. Kita bertemu orang dengan berbagai karakter. Ada yang karakternya dewasa, kekanak-kanakan, aneh, dan lain sebagainya. Yang jelas, keragaman itu ada.
Walau ada beberapa teman yang dulunya membuat saya merasa kurang sreg, tapi pada akhirnya saya bisa berteman dengan baik dan akrab dengannya. Rasa kurang sreg itu lahir karena ketidakcocokan saja.
Bukan tentang ketidaksamaan, tapi ini tentang penerimaan. Pun, penerimaan itu berlapis; ada sampai lapisan kenalan, teman, sahabat, bahkan sampai tahap teman hidup. Tipis-tebal antar lapisan itu, kembali ke kadar toleransi masing-masing orang lagi.
Hal penting yang saya tahu dari teman itu, saya berbeda dengannya dan saya menerimanya. Walau penerimaan itu tidak singkat. Saya juga belajar dari teman saya ini bahwa manusia itu tidak benar-benar sama, walau sama-sama makan nasi.
Manusia itu Beda!
Anak tetangga yang biasanya dibanding-bandingkan sama orang tuanya, tahu betul kalau dia itu beda dengan anak tetangganya, walau mereka sama-sama makan nasi, minum, tidur, bahkan sama-sama manusia.
Ulama mantik sudah jauh hari memberikan catatan bahwa manusia itu bisa saja sama hakikatnya; sama-sama manusia. Tapi, beda identitas.
Iya, saya, kamu, dan kita semua, sama-sama manusia. Tapi, kita memiliki perbedaan. Entah itu dari segi karakter, sikap, pola pikir, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut dengan wahdah al-nau’ ma’a ta’addud al-syakhs (Satu hakikat, banyak karakter).
Manusia itu semuanya rata didefinisikan dengan al-haiwân al-nâthiq. Tapi, berbeda jika melihat gelagat manusia ini di kenyataan. Ada tenang, liar, atau biasa saja.
Yang jelas, ini bukan tentang manusia itu sama. Ini tentang bagaimana manusia berbeda. Karena ketika kita bermuamalah dengan orang lain, kita tidak memandang manusia sebagai orang yang sama, tapi sebagai sosok yang beragam. Makanya, beda orang, beda sikap.
Jiwa dan Psikologi
Kendati manusia tadi beda-beda identitasnya, perbedaan itu terletak pada dua tempat; Pertama, aspek biologis, dan kedua, aspek psikologis. Biologis itu seperti bentuk tubuh, postur, wajah, dan lain sebagainya. Sedangkan psikologis mencakup karakter, watak, attitude, dan lain sebagainya. Yang paling krusial itu adalah bagian kedua ini dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena ia bertanggung jawab dalam masalah ketertarikan dalam artian yang lebih dalam.
Kondisi jiwa seseorang itu disebut dengan al-kaifiyyah al-nafsâniyyah. Kondisi jiwa ini bisa berubah. Karena dia merupakan sifat atau hal yang melekat pada manusia, bukan bagian dari hakikat manusia. Ingat, kita sedang bicara tentang kondisi jiwa, bukan jiwa tok.
Kondisi jiwa ini mencakup karakter, sifat, watak, dan sebagainya. Dari segi melekatnya dengan manusia itu ada dua; Pertama, bisa berubah dengan cepat, kedua, bisa berubah dengan lama. Yang pertama disebut dengan al-hall, sementara yang kedua disebut dengan al-malakah.
Berdasarkan uraian tersebut, kita bisa mengetahui beberapa hal:
Pertama, mood itu termasuk dari kondisi jiwa. Karena dia bisa berubah dengan sangat cepat. Kadang juga lama. Tapi, kebanyakan masuk pada perubahan yang cepat.
Kedua, watak seseorang tidak termasuk pada bagian yang cepat berubah, tapi masuk pada bagian yang lama berubah. Karena ia dibentuk dengan proses lama.
Ketiga, ketika seseorang ingin berubah, dia harus betulan niat. Karena dia ingin mengubah sesuatu yang perubahannya lama. Hal ini berlaku ketika seseorang ingin bertaubat atau ingin menjadi lebih baik.
Keempat, fix mindset (pola pikir bahwa manusia itu tidak bisa berubah) itu tidak ada. Karena faktanya, kondisi jiwa manusia itu bisa berubah, baik lambat maupun cepat.
Imam Syamsuddin Al-Kirmani menulis:
والملكة ممكنة للتغيير
“Malakah itu mungkin berubah.” (Syamsuddin Al-Kirmani, Syarh Risâlah Al-Akhlâq, 2021, Oman: Dar Al-Fath, hlm. 174).
Beliau mengatakan itu “mungkin” bukan pasti. Bisa iya, bisa tidak. Karena watak masuk bagian dari al-malakah itu, maka manusia bisa membuat sifat atau karakternya tetap, bisa juga merubahnya. Itu kembali kepada keinginan dan usaha masing-masing, walaupun dengan beragam kemungkinan. Yang jelas, mengatakan diri sendiri mustahil berubah itu tidak ada alasan logisnya.
Perubahan Manusia
Setelah membahas bahwa manusia berubah dan kemungkinan berubah itu ada, kita kemudian melihat, bagaimana manusia berubah.
Watak manusia itu dipengaruhi dua hal besar dalam hidupnya; 1) DNA, dan 2) Lingkungan. Aturan pabrik manusia itu salah satunya dipengaruhi DNA. Tapi, pengaruh lebih besar datang dari lingkungan.
Lingkungan itu tidak melulu tentang pertemanan atau circle saja, tapi segala yang bisa memberikan pengaruh. Ini mencakup bacaan, tontonan, suasana rumah, keadaan sekitar, konten yang sering dikonsumsi, pertemanan, bahkan pengalaman hidup pribadi.
Kemudian, lingkungan ini membentuk cara kita dalam memandang sesuatu. Khususnya, bagaimana arti, makna, atau nilai dari sesuatu. Karena kita tidak menilai sesuatu kecuali berdasarkan informasi yang kita peroleh dalam perjalanan hidup.
Kita bisa melihat orang bermain gitar itu mulia kalau kita hidup dalam lingkungan pemain gitar. Kita bisa melihat betapa mulianya orang-orang yang mencapai derajat mythic jika kita hidup di tengah pemain Mobie Legend. Tapi, semua itu menjadi biasa saja kalau kita tidak tahu apa-apa tentang dunia itu. Makanya, kita semua menjadi biasa saja bagi orang yang tidak mengenal kita.
Yang jelas, faktor utama yang membuat manusia berubah adalah hidupnya. Selama dia hidup, saat itu juga dia berubah. Karena segala yang diliputi waktu, itu berubah.
Perubahan manusia itu ada dua macam; 1) Semakin baik, dan 2) Semakin buruk. Semakin baik jika kesempurnaan dalam diri manusia meningkat, seperti perbuatannya semakin baik, ilmunya meningkat, kesehatannya semakin baik, dan lain sebagainya. Jika kesempurnaannya berkurang, seperti perbuatannya semakin buruk, berhenti belajar, dan lain sebagainya, maka semakin buruk.
Sejak awal kita tidak mengingkari bahwa manusia itu berubah, tapi kita tidak juga menormalisasi dan membenarkan segala bentuk perubahan. Karena perubahan itu satu hal, sementara benar-tidaknya perubahan itu adalah hal lain. Ini untuk membatalkan cara berpikir orang yang melakukan validasi terhadap kesalahannya dengan alasan manusia bisa berubah.
Karena ada yang benar dan salah di sini, maka ruang manusia untuk bertanggung jawab terhadap perubahannya itu terbuka. Karena manusia dididik oleh agama untuk berubah ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Dan manusia perlu mengontrol perubahan itu dalam dirinya.
Kontrol perubahan itu bisa dengan memulai dari niat yang kuat, konsistensi dalam berubah, sampai menyiapkan langkah-langkah tertentu untuk mencapai “diri” yang baru.
Sudut Pandang Orang Lain
Hal yang sudah ditegaskan sebelumnya adalah manusia itu tidak benar-benar sama. Karena itu, orang lain akan memiliki tiga sikap terhadap perbedaan itu; 1) Menyukai, 2) Membenci, dan 3) Netral. Sikap itu kembali kepada pengalaman pribadi seseorang yang membentuknya dalam memandang nilai itu.
Hal penting yang perlu kita catat ada dua:
Pertama, jika mencari orang yang betulan sama dengan kita itu buang-buang waktu. Karena tidak ada faidahnya dan itu tidak akan pernah ada.
Kedua, kita tidak akan pernah menyukai orang secara utuh dan sebaliknya. Minimal, ada hal yang kita sukai, tidak sukai, dan netral pada seseorang, setelah mengenalnya lebih dalam. Karena manusia berbeda dan perbedaan itu meniscayakan ketidaksamaan nilai. Ketidaksamaan nilai ini mengharuskan ada yang lebih baik, tidak lebih baik, atau setara.
Kemudian, taraf perbedaan manusia dengan orang lain itu ada dua secara garis besar; 1) Nilai mendasar, dan 2) Nilai sampingan. Nilai mendasar itu seperti agama, prinsip hidup, tujuan utama kehidupan, dan lain sebagainya. Sedangkan nilai sampingan itu seperti hobi, passion, self-branding, dan lain sebagainya. Nilai mendasar ini bisa bertambah dan berkurang jumlahnya, tergantung orangnya, menganggap sesuatu itu penting atau tidak sebagai nilai mendasar.
Perbedaan ini mengharuskan adanya toleransi dalam takaran tertentu kepada orang lain. Jika tidak ada penerimaan atas perbedaan, maka manusia tidak akan menerima siapa pun. Karena perbedaan adalah hal niscaya dan tidak bisa diingkari. Tentang bagaimana takarannya, itu kembali kepada setiap orang. Karena orang memiliki takarannya, sesuai dengan perjalanannya akan kehidupan.
Tapi, kebanyakan yang ditemukan, perbedaan nilai mendasar sulit mendapatkan toleransi, karena itu terlalu bernilai untuk ditawar. Sedangkan nilai sampingan lebih banyak memperoleh kompromi. Lagi-lagi, ini dikembalikan lagi kepada masing-masing orang terkait batas toleransinya. Semakin tinggi batas toleransi, semakin banyak yang bisa diterima. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah batas toleransi, semakin sedikit yang bisa diterima.
Salah satu guru saya pernah bilang, bahwa ketika bermuamalah dengan orang, jangan berharap mengubah seseorang, tapi perluas batas toleransi, tanpa perlu mengikuti sesuatu yang kita toleransi dan membenarkan yang salah jika itu salah.
Hal ini tidak hanya berlaku pada pertemanan, tapi juga dalam keluarga dan pasangan. Karena semakin banyak bisa menerima orang, kemungkinan berdamai dengan keadaan itu semakin besar (walau memperluas area toleransi itu tidaklah mudah). Karena ketidakdamaian selalu datang dari rasa tidak terima.
Pengaruh Orang Lain
Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa manusia itu bisa berubah, salah satunya karena lingkungan. Salah satu bagian dari lingkungan itu adalah orang lain.
Sebagai manusia, pengaruh dari orang lain itu penting. Tapi, “keseimbangan” dari pengaruh itu jauh lebih penting. Artinya, kita tidak sampai menolak total dan menerima total pengaruh orang lain, tapi perlu seimbang; tahu mana yang bisa diterima dan mana tidak.
Keseimbangan ini datang dari dua lokasi: 1) Diri sendiri, dan 2) Orang lain. Jika dari diri sendiri, itu mencakup pola pikir dan karakter. Maksudnya, pola pikir dan karakter dalam diri memiliki pengaruh dalam memilih apa yang harus diterima dan tidak, untuk menyeimbangkan arus informasi.
Sedangkan jika datang dari orang lain, itu berupa pujian, apresiasi, saran, teguran, bahkan cacian.
Jika manusia mengandalkan apa yang ada pada dirinya saja, itu kurang. Karena manusia cenderung menganggap benar apa yang dilakukannya. Maka dia butuh kepada orang lain jika terjebak dalam kesalahan.
Tentang bagaimana teguran orang lain itu tersampaikan, itu ada tiga bentuk; 1) Teguran langsung, 2) Teguran pasif (diam), dan 3) Teguran dengan isyarat (kode atau sindiran). Namun, dari ketiganya, bagian pertama itulah yang paling bermanfaat dan berpahala jika mengarahkan kepada yang lebih baik. Karena tidak semua orang peka untuk poin kedua dan ketiga. Penting betul itu keberanian dan terus terang.
Kemudian, teguran langsung terbagi menjadi dua; 1) Menggunakan seni delivery, dan 2) Tidak menggunakannya (blak-blakan). Yang pertama, disukai sebagian besar orang. Karena tidak terasa menyalahkan. Sedangkan yang kedua, tidak disukai banyak orang karena menyakitkan. Tapi, keduanya bisa mengarahkan kepada kebaikan, selama kita tidak termakan ego saja.
Sikap dan Kebijaksanaan
Mengetahui bahwa manusia berbeda, nilai setiap orang tidak sama, dan kita punya sikap akan perbedaan, maka kita memiliki pilihan untuk bijaksana atau tidak.
Pilihan untuk bersikap bijak, bukan hanya tentang setuju, tidak setuju, atau abstain. Tapi, bagaimana cara moderat dalam menyampaikan sikap itu.
Tentang kesalahan orang, baik itu besar atau kecil, semua orang memiliki peluang yang sama, tanpa membenarkan kesalahan. Poinnya, itu mungkin, bukan “membenarkan” karena dilakukan orang lain juga.
Tapi, ketika kesalahan itu terjadi, kita tidak perlu menanam anggapan bahwa itu terus-terusan akan terjadi‒prasangka baik nomor satu. Karena sekali lagi, manusia bisa berubah. Bisa saja ia melakukan kesalahan karena tidak tahu atau khilaf semata. Hanya perlu teguran dan masukan langsung. Karena kalau tidak ditegur, bagaimana dia tahu itu salah? Jika dia tidak mengetahui itu salah, bagaimana cara dia memperbaiki? Sedangkan jika ingin memperbaiki sesuatu, perlu mengetahui apa yang harus diperbaiki.
Kemudian, ketika manusia melakukan kebaikan, kita perlu berprasangka baik bahwa ia adalah orang baik dan kebaikan itu ada pada dirinya. Betul, prasangka baik itu sifatnya tidak pasti terjadi. Tapi, poinnya bukan pada terjadi atau tidaknya prasangka itu, tapi sikap kita terhadap sesuatu yang mungkin terjadi, tapi tidak (atau belum) terjadi. Makanya, dugaan baik dan buruk ada pahala dan dosanya, karena ini tentang sikap, bukan tentang akurasi kebenarannya di alam nyata. Sedangkan Tuhan menilai hati orang, karena di sanalah sumber sikap.
Tentang kesamaan dan perbedaan, sekali lagi, tidak ada orang yang betulan sama. Yang ada itu ada kesamaan dan ada perbedaan. Menyikapi persamaan, sebagian besarnya mudah, sedangkan perbedaan sebagian besarnya sulit. Karena ini masalah ego.
Sehingga, ketika kita menanam persepsi bahwa ketika ingin bersahabat atau berpasangan, harus dengan orang yang seluruhnya kita sukai dan memusuhi segala yang dibenci, maka kita akan memusuhi seluruh manusia. Karena mereka semua memiliki titik perbedaan‒jika menganggap titik perbedaan itu sebagai sumber permusuhan.
Makanya, dalam menimbang kecocokan dengan orang lain baik dalam pertemanan ataupun berpasangan, variabelnya sangat banyak. Bukan hanya hal yang disukai, tapi mencakup batas toleransi, kemungkinan berubah, dan lain sebagainya. Karena variabelnya banyak, maka sangat tidak bijak mengambil keputusan “bubar” hanya karena ada satu atau beberapa variabel kecil yang mungkin diatasi cepat.
Pun, jika seandainya manusia mengalami masalah yang berakar dari perbedaan itu, prinsip problem solving mengatakan bahwa yang diselesaikan itu masalahnya, bukan relasinya.
Tentang keabadian perubahan pada manusia, sejatinya manusia tidak akan pernah berhenti berubah sampai ia “selesai”. Maka penilaian kita terhadap manusia, tidak ada yang betul-betul final; hanya sementara. Karena kita tidak betul-betul mengetahui orang lain‒bahkan diri sendiri‒di sinilah peran berprasangka itu memiliki nilai. Kalau agama sendiri, menyuruh kita berprasangka baik. Kita berprasangka, karena hakikatnya tidak tahu kebenaran aslinya. Jika kebenaran sudah tampak, batallah prasangka.
Dari seluruh tulisan ini, kita mengetahui bahwa kebenaran akhir dari manusia hanya Tuhan yang mengetahuinya. Adapun yang kita ketahui itu hanyalah kebenaran sementara. Kita hanya butuh berprasangka baik. Tidak gampang membenci, karena segala pemicu kebencian‒jika pakai sudut pandang pembenci‒itu ada pada setiap orang. Hal yang sama berlaku dengan pemicu untuk tidak membenci, ia ada pada setiap orang. Lagi-lagi, poin pentingnya adalah kebijaksanaan yang perlu dibumikan dan perubahan adalah hal paling pasti pada diri manusia.
Wallahu a’lam








