Kalau kita membahas perbandingan antara manusia dan malaikat, umumnya orang akan mengatakan bahwa malaikat itu memiliki tingkatan superior yang amat tinggi dan jauh di atas manusia. Karena malaikat disifati dengan sifat-sifat maksum (terjaga dari kesalahan), sedangkan manusia, bisa salah. Sekilas, malaikat lebih tinggi dari manusia.
Coba sedikit kita merenung, kenapa Tuhan menjadikan manusia khalifah, tidak memilih malaikat? Hal ini bisa kita saksikan pada firman Allah Swt:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Al-Baqarah: 30).
Salah satu ulama besar yang mencoba menjawab itu adalah Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H) dalam kitabnya yang berjudul Kitâb Al-Rȗh wa Al-Nafs wa Syarh Qawwâhumâ fi ‘Ilm Al-Akhlâq. Sebelum beliau memberikan jawaban, beliau menjelaskan klasifikasi makhluk terlebih dahulu. Segala ciptaan Tuhan terbagi menjadi empat:
Pertama, makhluk yang memiliki akal dan hikmah, tapi tidak memiliki tabiat dan syahwat. Golongan pertama ini adalah malaikat. Di antara sifatnya:
…لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“…mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Al-Tahrim: 6).
Dalam ayat yang lain disebutkan:
يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (Al-Nahl: 50).
Kedua, ini kebalikan dari yang pertama, mereka memiliki tabiat dan syahwat, tapi tidak memiliki akal dan hikmah. Golongan ini adalah semua binatang.
Ketiga, mereka yang tidak memiliki akal, hikmah, tabiat, dan syahwat. Mereka adalah tumbuhan dan benda mati.
Keempat, ini adalah golongan yang memiliki keempatnya; punya akal, hikmah, tabiat, dan syahwat. Yang tergolong di sini adalah manusia.
Kata Imam Fakhruddin Al-Razi, setelah kita tahu semua jenis makhluk, ini menjadi hikmah kenapa Tuhan berfirman “Aku hendak menjadikan (manusia) khalifah di muka Bumi.” Kemudian malaikat bertanya kepada Tuhan:
قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami memuji dan mensucikan-Mu?” (Al-Baqarah: 30).
Malaikat mengatakan demikian karena ketika manusia memiliki akal dan syahwat dan keduanya saling terhubung, semisal manusia bisa melakukan kejahatan dengan terstruktur atas jasa akalnya, maka akan terjadi pertumpahan darah di Bumi. Bagi malaikat, hal ini jauh lebih berbahaya syahwatnya dibandingkan binatang. Kemudian, Tuhan membalas:
قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ
“(Allah) berfirman: sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (Al-Baqarah: 30).
Imam Fakhruddin Al-Razi, mencoba memecahkan hikmah di balik firman Tuhan tersebut. Ada beberapa keterangan beliau yang kita bisa simak bersama:
Pertama, malaikat itu merupakan cahaya dan akal abstrak, maka mereka tidak memiliki bentuk (kasat mata) tertentu. Dari sini, malaikat itu sibuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Tuhan.
Imam Fakhruddin Al-Razi sengaja menggolongkan malaikat di golongan pertama, bukan untuk menunjukkan kemuliaan malaikat, tapi untuk menunjukkan bahwa hal seperti itu sifatnya umum. Bukan hanya malaikat, manusia juga bisa. Buktinya, ada sufi yang sibuk berzikir.
Kedua, kalaupun manusia memiliki kemungkinan merusak di Bumi, hal itu berangkat dari syahwat. Begitu juga, kemungkinan manusia menumpahkan darah di muka Bumi itu sebab nafsu ammarah-nya.
Kendati demikian, manusia juga memiliki kemungkinan untuk bertasbih dan bertahmid layaknya malaikat, karena mereka memiliki akal. Dan dengan akal pula, manusia bisa lebih terpaku dalam melakukan kebaikan daripada keburukan.
Ketiga, malaikat itu memiliki pengetahuan yang jauh lebih sempurna dibandingkan manusia. Kalau kita hentikan sampai di sini, malaikat seolah lebih tinggi daripada manusia. Akan tetapi, kata Sang Pemimpin Ulama Kalam itu, malaikat tidak bisa merasakan rindu kepada Tuhan. Sambung beliau “Rindu adalah tingkatan yang agung!” Hanya manusia yang bisa mendapati itu.
Apa gerangan? Rindu hanya bisa terjadi pada sesuatu yang pengetahuannya tidak sempurna. Sedangkan, malaikat memiliki pengetahuan yang sempurna. Maka, malaikat tidak memiliki kerinduan itu.
Apa kaitan antara rindu dan ketidaksempurnaan pengetahuan terhadap Tuhan? Imam Al-Razi menjawab, rindu itu mencari tahu apa yang belum diketahui. Misalnya, kita tidak mengetahui keadaan seseorang yang kita cintai. Kemudian, ketika kita bertemu dengan orang yang kita cintai, maka paling pertama yang ingin kita ketahui adalah kabarnya. Kenapa kita mencari tahu? Karena kita tidak mengetahuinya. Ketidaktahuan dan ketidaksempurnaan pengetahuan itulah yang melahirkan rindu.
Malaikat tidak rindu karena mereka mengetahui Tuhan. Sedangkan manusia, pengetahuannya terhadap Tuhan, jauh di bawah malaikat. Kalau malaikat sudah mengetahui, untuk apa malaikat mencari tahu melalui rindu?
Rindu kepada sosok yang dicintai itu ada dalam dua bentuk saat ia mengetahuinya:
Pertama, ketika seseorang sudah melihat sosok yang dicintainya, kemudian sosok itu lenyap dari hadapannya, maka tersisa memori tertentu di ingatan tentang sosok yang dicintainya. Dari memori tersebut, ruh manusia merasakan rindu. Dampak kerinduan itu muncul dari alam khayali manusia, kemudian terpancar menuju alam nyata. Dari sinilah beragam tingkah manusia kelihatan dari rasa rindunya, seperti air mata yang mengalir karena rindu atau wajah pucat karena gelisah terhadap yang dirindukan.
Kedua, ketika seseorang melihat yang dicintainya, tapi ada sebagian kebaikan dan kelebihan yang tidak diketahuinya. Di sinilah seseorang bisa rindu (penasaran) akan yang tidak diketahuinya. Biasanya, orang yang penasaran akan mencari tahu. Begitu juga manusia ketika ia mulai mengenal Tuhannya, maka ia akan penasaran terhadap Tuhan dan mencari tahu segala kebaikan-Nya, lalu mensyukurinya.
Pada dasarnya, kedua bentuk ini tidak dialami malaikat, karena pengetahuan malaikat itu sifatnya terus-menerus (dâ’imah), hadir, dan bebas dari tabiat potensial (al-quwwah) dan ketersiapan menerima pengetahuan. Kata Imam Al-Razi, inilah makna dari ayat:
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
“Mereka (malaikat) bertasbih (kepada Allah) malam dan siang tanpa henti.” (Al-Anbiya’: 20).
Karena pengetahuan malaikat yang sifatnya tetap dan hadir, sedangkan syarat rindu adalah pengetahuan yang terbatas, maka mustahil malaikat merasakan rindu. Seandainya malaikat mungkin mengalami rindu, maka kemungkinan itu jatuh kepada bentuk kedua, bukan bentuk pertama. Sebab, walaupun malaikat pengetahuannya jauh di atas manusia tentang Tuhan, tetap saja ada batas tertentu yang tidak mampu menampungnya.
Bedanya dengan manusia, kedua keadaan tersebut bisa dialaminya ketika rindu kepada Tuhannya, bahkan Imam Al-Razi menyebut hal tersebut pasti terjadi pada manusia.
Lalu, apa perbedaan jenis rindu pertama dan kedua? Untuk bentuk pertama, sifatnya terbatas. Sedangkan yang kedua, tidak. Pengetahuan tentang Tuhan, tidak akan mencapai kejelasan, kecuali seseorang sudah berada di akhirat. Maka ketika seseorang sudah berada di akhirat, pada saat itulah ia tidak rindu untuk jenis pertama. Sedangkan, pada jenis kedua, seseorang akan tetap rindu, karena hikmah ilahi itu tidak terbatas.
Bahkan, Imam Al-Razi memberikan perumpamaan, seandainya ada seseorang diciptakan saat makhluk pertama diciptakan dan dia terus hidup sampai batas akhir kehidupan penduduk surga dan neraka, maka ia menyaksikan segalanya akan hilang, karena terbatas. Sedangkan, rindunya kepada Tuhan semakin besar. Karena sampai kapan pun, ujung dari kerinduan jenis kedua ini tidak akan ada habisnya. Malaikat tidak akan mengalami bagian ini, karena pengetahuan malaikat bersifat tetap. Sedangkan manusia, pengetahuannya berkembang. Jika manusia ingin mengenal Tuhan, maka kerinduannya kepada Tuhan semakin besar. Inilah tingkatan manusia yang tidak dicapai malaikat.
Wallahu a’lam








