Saya dulu adalah orang yang sangat benci dengan pelajaran yang menggunakan hitung-hitungan rumit. Apalagi kalau ditaburi gugusan rumus yang tidak saya pahami. Sampai setiap ada ilmu atau bacaan yang melibatkan rumus itu, saya pasti memalingkan wajah.
Rasa tidak suka ini hanya bertahan hingga saya kelas 2 SMA. Tapi, yang namanya rasa, ia beda sama mengenal. Kadang, ia datang duluan, tanpa ada pengenalan lebih mendalam. Sampai awal masa kuliah, saya sudah tidak membenci ilmu seperti itu. Tapi, memungkinkan diri untuk mempelajarinya jika ada kesempatan.
Ketika menjatuhkan pilihan untuk menapaki hidup di jalan akidah dan filsafat, saya dulu mengira ini pilihan “kebetulan” hanya karena suka berpikir semata. Saat tahun ketiga, seperti ada hadiah dari langit; ketika mencoba mendaki kitab Syarh Al-Mawâqif yang saat itu selalu memberi saya teka-teki, di sana saya menemukan puzzle yang sepertinya tidak cukup hanya dengan ilmu kalam.
Bertemulah saya dengan beberapa syekh; salah satunya Syekh Abdul Hamid Al-Turkmani yang seperti memberikan isyarat bahwa ilmu kalam bukanlah episode terakhir dari perjalanan. Ia hanya salah satu dari masih banyak sekali perjalanan yang perlu dilewati.
Isyarat itu kemudian diperkuat ketika saya membaca syarah (penjelasan) beliau kepada kitab Al-Mirqât. Padahal, saya lagi serius kepada ilmu mantik, berhubung sedang menyusun buku.
Yang jelas, dalam kitab itu memberikan dua isyarat; Pertama, ada ilmu sebelum mantik, yaitu epistemologi. Kedua, ada ilmu di “dunia lain” yang perlu dijangkau, agar mantik ini lebih sempurna. Isyarat kedua ini memberikan petunjuk kepada harta karun legenda masa lalu; filsafat paripatetik.
Singkatnya, saya dapat informasi kalau ada syekh yang mengajarkan kitab itu. Kitab tersebut adalah ‘Uyȗn Al-Hikmah karya Ibnu Sina. Dalam kitab ini juga memulai dari ilmu mantik, tapi lanjutannya berbeda dengan yang saya dapati selama ini. Itu adalah ilmu alam.
First impression dengan ilmu alam itu, saya mengira ilmu itu berbicara tentang hukum abstrak, seperti yang ada di ilmu kategori (maqulat). Ternyata, tidak. Ilmu itu berbicara tentang alam dan segala hukum yang meliputinya. Titik klimaks yang saya dapatkan di situ adalah alam ini tidak bekerja begitu saja, seperti ada pola tertentu yang dianutnya. Terpikirlah saya: “Masa benda mati punya pola teratur begitu?”
Betapa kagetnya saya, ketika baru tahu bahwa ilmu yang saya pelajari itu adalah ilmu yang pernah saya benci; ilmu alam yang juga menjadi pengantar kepada ilmu eksak! Di sini saya berpikir ulang, bahwa mungkin dulu saya membencinya hanya karena tidak mengenalnya dan perlahan mencintainya karena mengenalnya.
Bagian Lain
Saya punya teman yang mendalami ilmu bahasa. Ia menukil ucapan Syekh Fauzi Konate yang kurang lebih maknanya begini: Ilmu kalam tidak cukup memuaskan jika ingin menikmati mukjizat Al-Qur’an. Ia butuh kepada ilmu balagah untuk mendapatkan feeling Al-Qur’an.
Kesimpulan yang saya dapatkan saat itu, jika kita ingin memahami sesuatu, maka kita perlu memiliki “alat” untuk mencapai apa yang ingin kita pahami. Kalau mau memahami bagaimana komputer bekerja, ya belajar bahasa coding. Karena kita seperti “berkomunikasi” dengan sesuatu yang hendak kita pahami. Memahami dimulai dari mengenali. Perkenalan itu dimulai dari “komunikasi”.
Tapi‒pikir saya‒bukannya ayat Tuhan itu bukan hanya Al-Qur’an? Kan, ayat-ayat Tuhan itu ada qauliyyah (perkataan) dan kauniyyah (alam). Oke, firman Tuhan yang berupa Al-Qur’an itu, kita bisa pahami melalui ilmu seperti bahasa, usul fikih, dan lain sebagainya. Tapi, bagaimana dengan ayat kauniyyah-Nya?
Di sinilah ilmu sains‒terkhusus fisika‒hadir untuk memahami ayat kauniyyah-Nya. Karena simpelnya, sains itu hanya ingin menjelaskan bagaimana semesta dan seisinya bekerja. Sesederhana itu. Yang ribet itu, menyederhanakannya, haha.
Lalu, fisika itu bagaimana cara kerjanya? Fisika itu punya lapangan kerja untuk mempelajari hukum materi dan energi. Terserah, manusia itu bisa atau tidak bisa melihatnya, yang jelas, hukum yang berlaku bagi materi itu bisa kita pahami. Terus, cara mempelajarinya itu harus pakai pengamatan, perhitungan, eksperimen, dan semacamnya.
Biar tidak terburu-buru, saya akan mengundang pemain kartu terhebat di Bumi untuk bermain Uno. Ketika pemain itu melempar kartu di hadapan saya, kartu itu tergeletak begitu saja di atas meja. Saya melihat kartu yang turun adalah 8 hijau. Berarti, saya harus mengambil kartu nomor 8 atau warna hijau. Saya menurunkan kartu 8 merah. Kartu tersebut begitu saja tertinggal di atas kartu hijau itu.
Tapi, apa jadinya kalau kartu tersebut tembus meja seperti dilewati hantu? Jelas itu tidak mungkin. Karena mana mungkin materi bisa tembus ke benda lain. Juga warna kartu itu tetap. Warna merah atau hijaunya tidak lepas, tapi tetap menempel pada kartu itu.
Nah, kartu itu tidak tembus meja dan warna itu tetap menempel pada kartu itu adalah bagian dari bekerjanya hukum alam. Atau bahasa lebih jelasnya, materi tidak akan “memasuki” materi lain, sebagaimana sifat itu akan tetap melengket pada materi.
Fisika itu Bercabang
Masih pada visi dan misi untuk memahami semesta. Pada abad ke-19 dan 20, para fisikawan menemukan kalau ada bagian atom yang punya “cara kerja” sendiri. Dia berbeda dari hukum yang kita kenal. Begitu juga, ketika Albert Einstein merumuskan teori relativitas, ia meruntuhkan fisika klasik yang dibawakan oleh Issac Newton dan Aristoteles.
Walaupun para fisikawan modern membawa cara pandang yang “tidak biasa” itu, tapi itu dianggap sebagai penjelasan terbaik untuk menjelaskan bagaimana semesta itu bekerja.
Misalnya, Issac Newton dulu memandang kalau benda jatuh dari atas ke bawah itu, disebabkan massa, tapi Albert Einstein datang merevisi pandangan bahwa sebenarnya gravitasi bekerja bukan sekonyong-konyong massa benda, tapi di sana terjadi rambatan ruang-waktu, sehingga benda itu jatuh.
Ada sebuah eksperimen yang dibuat untuk membantah pandangan lama yang menyatakan bahwa semakin besar massa sebuah benda, maka gravitasinya semakin kuat. Videonya bisa dinonton di sini.
Penjelasannya, anggaplah ada bola boling dan bulu ayam. Jika kita mengenal dua benda itu, kita tahu bahwa bola boling itu lebih berat daripada bulu ayam. Jika keduanya dijatuhkan, kita otomatis mengatakan bahwa yang sampai di tanah duluan adalah bola boling. Karena dia berat.
Tapi, kita perlu menahan diri untuk percaya dulu, karena sebenarnya benda yang beda beratnya itu bisa sampai di tanah secara bersamaan. Bagaimana bisa? Begini, bola boling itu sampai duluan di tanah, bukan karena beratnya, tapi karena bulu ayam itu dihalangi oleh udara. Ilmuwan menyebutnya dengan “hambatan udara”. Makanya, bulu ayamnya agak lambat sampai.
Untuk membuktikan itu, dilakukanlah eksperimen untuk membuktikan bahwa sebetulnya keduanya bisa sampai di tanah dalam waktu yang sama. Kedua benda itu diletakkan dalam ruang hampa udara. Dan bumm, keduanya betulan sampai di tanah pada waktu yang sama.
Ini berarti, jika massa adalah bagian yang bertanggung jawab dari terjadinya gravitasi, harusnya kedua benda itu tetap konsisten tidak sampai di tanah bersamaan. Tapi, eksperimen ini “menggeser” cara pandang lama itu dengan relativitas Einstein; sebenarnya benda jatuh karena ada lengkungan ruang-waktu, terserah berapa pun beratnya.
Lalu, Buat Apa?
Jadi, anggaplah kita sudah memahami alam ini, beserta seluruh hukumnya. Lalu, untuk apa? Gini, untuk membuat sebuah strategi, kita harus memahami lapangan tempur. Kalau kita ingin hidup lebih efektif dan efisien, maka kita harus mengetahui apa yang ada dalam kehidupan itu. Supaya, ambil keputusannya tidak ngasal, tapi ada perhitungannya.
Nah, jadi kalau kita sudah memahami hukum alam, ibaratnya kita sudah punya bumbu kalau mau memasak. Terserah masakannya nanti apa, yang jelas kalau tidak ada bumbunya, tidak bisa masak.
Mau itu untuk masakan yang ada atau mau eksperimen bikin masakan baru, tetap butuh bumbu. Bumbu itulah yang diacak-acak takaran atau cara penyajiannya, biar jadi hal beda.
Begitu juga kemajuan teknologi seperti panel surya, GPS, dan lain sebagainya, mereka menerapkan prinsip fisika, sehingga kehidupan kita jauh lebih mudah. Tapi, mungkin ada pertanyaan, kan tidak semua dari kita beruntung menjadi teknisi yang terlibat dalam mengutak-atik teknologi. Lalu, apa gunanya bagi warga sipil seperti kita-kita ini?
Simpelnya begini, ketika masak beras, kita punya intuisi kalau api besar akan membuat air mendidih. Ketika air mendidih, maka apinya harus dikecilkan. Begitu juga kalau ada minyak goreng panas, ia akan “bereaksi keras” ketika ada air yang mau masuk sirkel minyak.
Hal-hal mendasar seperti itu sebenarnya penerapan dari fisika. Tapi, kalau sudah ada di intuisi kita, untuk apa lagi belajar fisika?
Ibaratnya, ada satu orang yang ternak kelinci dan satunya lagi sarjana jurusan peternakan kelinci. Orang yang berfokus ke ternak kelinci sesuai dengan pengalaman dan intuisinya saja, dia tetap menjadi peternak. Jurusnya satu, tapi itu terus yang ia asah. Sedangkan yang lulusan jurusan peternakan tadi, ia tahu satu-satunya jurus si peternak tadi, tapi di kampusnya, ia diberikan banyak jurus baru yang tidak didapatkan si peternak itu.
Walaupun untuk ternak kelinci butuh pengalaman, tapi secara potensi sarjana peternakan kelinci itu punya potensi lebih. Karena dia punya banyak jurus yang sisa menunggu diasah, bahkan bisa menciptakan jurus baru untuk memakmurkan peternakannya.
Begitu juga fisika, jika bergantung pada intuisi dan pengalaman hidup saja, maka akan stagnan seperti itu saja. Tapi, kalau belajar, ia akan membuka potensi jurus baru untuk memudahkan hidup. Bukan hanya ilmu fisika, tapi ilmu lain juga seperti mantik, filsafat, bahasa, dan lain sebagainya. Secara praktik, ada dalam naluri, tapi jika dikembangkan, akan menjadi “kekuatan baru.”
“Tapi, bukannya malaikat Munkar dan Nakir tidak menanyakan rumus termodinamika di alam kubur?” Tanyaku dahulu dalam keadaan benci kepada fisika, khususnya bab energi.
Justru, fisika adalah sarana untuk tadabbur alam. Fisika adalah alat untuk mengamalkan ayat qauliyyah yang berbunyi:
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَاب الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Al-Imran: 190-191).
Bahkan, dengan fisika melalui pengamalan ayat tersebut, itu malahan bisa menjadi “kunci jawaban” di alam kubur untuk menjawab malaikat Munkar dan Nakir. Memahami semesta bagian dari ajaran Islam. Salah satu cara memahami semesta itu melewati ilmu fisika. Tentu hal itu termasuk amal baik. Dan amal baik membantu kita menjawab di alam kubur.
Jika lewat ilmu bahasa dan ilmu mantik bisa memahami mukjizat ayat qauliyyah, maka dengan fisika kita bisa memahami keajaiban ayat kauniyyah. Jika dengan belajar ilmu “agama” kita bisa menghamba kepada-Nya, maka fisika juga bisa mengantarkan menuju jalan penghambaan, sampai membuat kita menyadari bentuk penghambaan itu.
Bagaimana Caranya Mulai Belajar Fisika?
Perbaiki mindset dulu. Jangan anggap fisika sebagai ilmu yang penuh dengan hitungan rumit. Fisika adalah ilmu yang kita pakai untuk memahami alam. Selalu mulai dari pola konsep lalu ke hitungan. Pun, hitungan ada kalau diperlukan.
Mulai dari logika dasar seperti ilmu mantik. Juga, jadikan pembahasan kulliy dan juz’iy sebagai sasaran empuk. Karena ini akan membantu dalam memahami hal abstrak. Tapi, perlu juga dasar ilmu kalam, kalau belajar fisikanya lewat mazhab paripatetik. Biar tahu limit, mana yang tercampur dengan doktrin filsafat dan tidak.
Kalau mau lebih mudah mendapatkan gap atau celah dalam memahami konsep, maka butuh ilmu kategori. Karena ilmu ini menjelaskan konsep universal materi dan sifatnya yang menjadi cikal-bakal hukum fisika.
Setelah itu, masuk ke konsep dasar ilmu alam. Seperti benda itu memiliki dzat dan sifat. Benda itu tersusun dari partikel terkecil yang tidak bisa terbagi, dan lain sebagainya. Lalu, masuk ke konsep dasar fisika klasik, seperti hal bisa diukur, seperti panjang, massa, waktu, suhu, energi, dan sebagainya. Juga, tujuh besaran pokok, kayak panjang, massa, waktu, besaran pokok, dan seterusnya. Lalu lanjut ke turunan tujuh besaran pokok ini, dan seterusnya. Artinya, fisika juga perlu pengantar.
Ditambah sekarang sudah banyak kanal Youtube dalam memudahkan kita belajar fisika di rumah. Seperti Domain of Science atau situs seperti Math and Science.
Hal yang paling penting dari semuanya adalah pemahaman rumus. Itu jauh lebih penting dari sekadar menghafalnya. Karena rumus iu hanyalah template dari cara kerja tertentu. Rumus itu pola. Namun, tidak mengetahui bagaimana pola itu bekerja, hanya membuat ilmu ini menjadi beban. Tapi, hafalan bisa terbantu jika kita sudah memahami cara kerja ilmu ini.
Fun fact-nya, walaupun kita hanya sekadar tahu saja dengan cara kerja alam semesta, itu sudah membuat diri kita meningkat.
Wallahu a’lam








