Tulisan sebelumnya, saya menjelaskan tentang bukti-bukti rasional kenapa Tuhan esa. Salah satu keesaan yang saya bahas adalah bahwa Allah tidak tersusun atas apapun. Karena jika itu terjadi, maka satu sama lain akan saling membutuhkan. Ternyata, itu mengundang sebuah pertanyaan unik dari seorang teman, apakah semua yang tidak tersusun itu layak membuat dia disebut sebagai Tuhan, dalam hal ini adalah atom? Sebelum saya menjawab ini, saya akan memberikan sebuah pengantar dengan menyentil sedikit ilmu kategori (maqȗlât).
Apa itu ilmu kategori? Itu adalah ilmu yang membahas tentang jins tertinggi yang mungkin ada di alam nyata (‘ilm yubhats ‘an al-ajnâs al-‘âliyah li al-mumkinât al-maujȗdah). Istilah jins ini kita dapatkan pemahaman utuhnya di ilmu mantik.
Coba perhatikan frasa “yang mungkin” ini. Ini artinya, ilmu ini hanya fokus membahas kategori atau sifat yang diberlakukan kepada makhluk, tidak boleh kita berlakukan kepada Tuhan. Karena Tuhan itu wâjib al-wujȗd dan qadîm. Jadi, apapun pembagian dari esensi yang berstatus hâdits, tidak bisa kita berlakukan kepada Tuhan. Dua induk ciri atau sifat yang dimiliki oleh makhluk, itulah yang kita kenal dengan istilah jauhar (esensi) dan ‘aradh (aksiden).

Tentang Jauhar dan ‘Aradh
Apa itu jauhar? Apa itu ‘aradh? Untuk menjawab kedua pertanyaan ini secara detail menggunakan mazhab mutakallimȗn dan falâsifah, mengharuskan yang menjawab itu menyusun satu buku yang kurang lebih memakan 100-an halaman. Karena membicarakan sifat atau kategori yang berlaku kepada makhluk, akan sangat panjang. Apalagi kita melibatkan aspek fisik dan metafisik. Namun, pada tulisan ini, saya hanya menyinggung sedikit saja dan hanya terfokus pada apa yang disebut dengan jauhar. Alasannya, karena itulah yang menjawab pertanyaan besar pada tulisan kali ini, apakah atom bisa disebut memiliki sifat ketuhanan atau tidak?
Secara sederhana, anggaplah ada sendok di hadapan Anda. Dia memiliki panjang, lebar, warna tertentu. Juga sendok itu menempati ruang tertentu dan diliputi waktu. Sekarang, coba perhatikan, bedakan esensi sendok yang kita sebut dengan hakikat ke-sendok-an dan sifat-sifat yang melekat pada sendok, seperti ukuran, panjang, warna, dan lain sebagainya. Lebih sederhananya, bayangkan sendok itu berwarna silver. Di sini ada dua hal, ada yang kita sebut dengan sendok, ada juga warna silver yang melekat pada sendok. Sendok adalah satu hal dan warnanya adalah hal yang lain. Kalau kita lebih jeli lagi kita akan melihat warna silver itu butuh akan keberadaan sendok sedangkan sendok itu sendiri tidak butuh kepada keberadaan warna silver itu. Dengan kata lain, warna silver yang melekat pada sendok itu tidak bisa ada jika sendoknnya tidak ada. Sebaliknya, sendok itu bisa ada tanpa warna silver itu.
Jika kita memperhatikan hubungan antara sendok dan sifat-sifat yang melekat kepadanya, maka sendok itulah yang disebut dengan jauhar, sedangkan sifat-sifatnya itulah yang disebut dengan ‘aradh. Apa itu jauhar? Secara sederhananya dia adalah sesuatu yang ada tanpa membutuhkan sesuatu yang lain, dalam hal ini adalah sifatnya (mâ tahayyaza bi al-dzat). Sedangkan ‘aradh itu sendiri adalah sesuatu yang ada dengan sesuatu yang lain (mâ tahayyaza bi tahayyuzi ghairihi). ‘Aradh ini kemudian terbagi menjadi 9; 1) Kualitas (kaif). 2) Kuantitas (Kam). 3) Kebertempatan (‘Ain). 4) Relasi (Idhâfah). 5) Keberwaktuan (Matâ). 6) Posisi (Wadh’). 7) Kepemilikan (Milk). 8) Aktivitas (Al-Fi’il). 9) Pasivitas (Al-Infi’al). Karena adanya sembilan kategori dan ditambah jauhar, maka jadilah istilah al-maqȗlât al-‘asyarah (Sepuluh kategori).
Definisi jauhar di atas adalah definisi mutakallimȗn. Kalau menggunakan bahasa paling jujur, tanpa ada peringanan diksi dari definisi itu, maka maksudnya adalah sesuatu yang bertempat dan kebertempatannya karena dirinya sendiri, bukan karena sesuatu yang lain. Perangkat yang Anda pakai membaca tulisan ini, maka dia dikatakan sebagai jauhar. Kenapa? Karena dia adalah sesuatu yang bertempat dan kebertempatannya itu karena dirinya sendiri, bukan sesuatu yang lain. Tidak peduli warnanya merah, kuning, cokelat, hitam, atua pink, dia tetap perangkat. Juga kalau harganya mahal atau murah, maka dia tetap adalah perangkat. Hakikatnya tidak dipengaruhi oleh aksiden atau sifat yang melekat pada dirinya. Ini dalam sudut pandang ulama kalam atau mutakallimȗn.
Adapun para filusuf, mereka mendefinisikan jauhar dengan esensi yang apabila ditemukan di alam nyata, maka dia tidak ada dalam maudhu’ yang tidak butuh pada esensi itu (mâhiyyatun idzâ wujidat fi al-khârij, kânat lâ fi al-maudhu’ mustaghnin ‘anha). Definisi yang diajukan ini, lumayan sukar untuk dipahami. Maka itu perlu penjelasan pada setiap frasanya yang belum jelas. Saya akan jelaskan sedikit saja, tidak sampai “menelanjangi” definisi ini. Karena itu akan membuat tulisan ini panjang sampai sekitar 20-an halaman versi Microsoft Word.
Para filusuf menyebut kalau jauhar adalah mâhiyyah. Ini terlihat di frasa pertama. Apa itu esensi (mâhiyyah)? Dia adalah sesuatu yang dengannya sesuatu yang lain itu menjadi dirinya sendiri (mâ bihi syai’ huwa huwa). Definisi lain juga mengatakan kalau mâhiyyah adalah makna universal yang disertakan untuk menjawab pertanyaan apa itu. Ulama menyebut mâhiyyah ini dengan istilah haqîqah kulliyyah. Penafsirannya sebagaimana yang sudah saya katakan sebelumnya, dia berfungsi untuk menjawab “apa itu”. Karena hakikat, esensi, ataupun substansi hanya akan diketahui jika kita sudah mempertanyakan ke-apa-itu-an terhadap sesuatu itu.
Misalnya, jika ada orang yang bernama Fathan. Jika kita tanyakan, apa itu Fathan? Jawabannya dia adalah manusia. Jika ditanya lagi, apa itu manusia? Manusia adalah makhluk yang berpotensi berpikir (haiwân nâthiq). Apa itu haiwan? Dia adalah jism (corpus). Apa itu jism? Dia adalah substansi (jauhar) yang bisa terbagi atau substansi yang berwujud tiga dimensi. Jadi, jika ditanya apa itu Fathan, maka jawabannya akan berujung pada jauhar. Pertanyaannya, kenapa jauhar dikatakan sebagai mâhiyyah? Karena dia baru muncul jika ada pertanyaan yang berbunyi “apa itu?”. Nah, frasa pertama sudah terjawab.
Sekarang, apakah Fathan itu ada di alam nyata? Jawabannya, ya ada. Coba perhatikan lagi, apakah Fathan itu ada karena keberadaan Anda? Jawabannya tidak. Ini juga alasan kenapa Fathan itu disebut sebagai jauhar. Juga dia tidak berada dalam maudhu’. Apa yang dimaksud maudhu’ di sini? Yaitu sesuatu yang ditempati, namun dia bukan tempat yang ada dengan dirinya sendiri dan dia membuat sesuatu yang lain (‘aradh) itu berada dalam dirinya. Ini adalah maksud frasa kedua. Saya yakin, banyak yang sukar memahami maksud frasa kedua ini. Namun, untuk saat ini saya belum ingin membahas jauhar secara rinci, mungkin pada waktu yang lain.
Secara singkat pahami saja jauhar itu sebagai eksistensi independen, keberadaannya tidak bergantung kepada sesuatu yang lain. Jika dikatakan jauhar adalah sesuatu yang tidak bergantung kepada sesuatu yang lain adalah tidak diciptakan? Tidak juga begitu. Karena yang dinaksud dengan tidak butuh kepada sesuatu yang lain adalah tidak butuh sesautu yang lain (yang merupakan dari mumkin al-wujud, baik dia merupakan jauhar atau ‘aradh) untuk ada. Kenapa dibatasi kepada yang mumkin saja? Karena sebagaimana pada uraian di atas saya katakan bahwa jauhar dan ‘aradh ini statusnya mumkin. Dan karena statusnya mumkin, maka pasti dia hâdits yang butuh kepada wâjib al-wujȗd.
Tentang Atom, Terkomposisi (Kull), dan Komposisi (Juz/Ajzâ’)
Kalau dalam ilmu kimia, atom adalah unsur kimia terkecil (setelah nuklir) yang dpaat berdiri sendiri dengan senyawa yang lain. Sedangkan nuklir itu adalah intinya atom. Yang saya tahu, atom adalah unsur kimia yang tidak tersusun atas apapun. Artinya, dia berdiri sendiri. Dalam tradisi ulama kalam, jauhar dibagi menjadi dua saja, yakni jism dan jauhar al-fard. Yang pertama itu tersusun atas dua unsur (paling sedikit). Artinya ada unsur komposisinya, sedangkan yang kedua, dia adalah bagian yang tidak memiliki bagian (al-juz alladzi lâ yatajazza’). Yang kedua inilah yang kita sebut dengan atom/quark. Kita tidak membahas bagaimana para filusuf membagi jauhar menjadi lima bagian, karena sepertinya itu tidak relevan dalam tulisan. Adapun tentang kapan sesuatu itu dikatakan bermateri (maddah), berbentuk fisikal (shurah), dan tersusun dari dua jauhar al-fard, ini tidak kita bahas. Juga ini tidak relevan kecuali sangat sedikit.
Jauhar adalah yang paling inti dari sesautu itu. Adapun jika dia adalah sesuatu yang tidak terbagi, maka dia tetaplah jauhar dan dia hanya bisa menjadi unsur penyusun, bukan sesuatu yang tersusun.
Dalam mantik, saya pernah menyinggung tentang sesuatu yang disebut dengan kull dan juz pada tulisan di FP Ilmu Logika. Singkatnya, kull itu adalah sesuatu yang tersusun dari dua hal atau lebih. Sedangkan juz atau ajza’ itulah yang menjadi unsur penyusun.
Kemudian, ada satu hal yang perlu kita sepakati, bahwa sesuatu yang tersusun itu pasti lebih besar daripada yang menjadi unsur penyusunnya. Ini sangat jelas. Laptop itu lebih besar daripada CPU, RAM, VGA, dan lain-lain yang menjadi unsur penyusunnya.
Tuhan dan Materi
Kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu berbeda dengan makhluknya, itulah kenapa Tuhan memiliki sifat mukhâlafah li al-hawâdits. Juga pada tulisan sebelumnya, saya sudah mengatakan bahwa Tuhan itu tidak tersusun atas bagian-bagian, karena bagian-bagian itu akan saling membutuhkan. Lantas, bagaimana atau apa konsekuensi jika kita mengatakan justru Tuhan menjadi bagian itu sendiri? Apalagi atom yang tidak terbagi itu?
Sebelum menjawab itu, perlu diingat, apa yang kita sebut sebagai sesuatu yang terkomposisi atau komposisi itu, maka dia pasti materi. Karena materi tidak akan menjadi materi jika dia bukan juz (bagian), apalagi jika sudah menjadi terkomposisi. Saya rasa, alasannya cukup logis jika terkomposisi ini tetap dikatakan materi. Sebab, bagaimana mungkin dia menjadi non-materi sedangkan unsur penyusunnya sendiri adalah materi? Tapi, bagaimana jika ada sesuatu yang non-fisik, seperti malaikat, jin, dan lain-lain? Walaupun dia non-fisik, dia juga tidak bisa dikatakan Tuhan, karena masih tergolong dalam jauhar. Tidak ada selain Allah yang tidak ber-jauhar. Tentang jauhar dan anak-anaknya bisa kita lihat pada salah satu tulisan saya di FP Ilmu Logika juga.
Konsekuensi
Jika kita mengatakan sesuatu yang berstatus atom itu sebagai sesuatu yang memiliki sifat ketuhanan, maka ada beberapa hal yang terjadi:
Pertama, sesuatu itu pasti entitas yang sangat kecil yang saking kecilnya dia tidak memiliki bagian. Jika atom adalah sesuatu yang sangat kecil hanya tidak bisa terbagi, maka jelas ada banyak yang lebih kuasa, lebih tahu, lebih besar daripada Tuhan itu sendiri. Manusia lebih besar dari atom. Hari ini manusia ada miliaran di muka bumi. Betapa banyaknya yang lebih besar dari Tuhan. Jelas, kekurangan seperti ini tidak dimiliki Tuhan, sebab dia maka kuasa.
Kedua, partikel paling kecil itu hanya bisa menyusun. Karena kebisaannya menyusun ini, maka nanti dia butuh kepada partikel yang lain untuk membentuk kull. Sebab, bagaimana mungkin sesuatu itu dikatakan tersusun atau terkomposisi jika hanya satu di sana? Sedangkan tersusun itu bisa terjadi jika ada dua hal di sana yang bersatu. Tentu butuh kepada sesuatu yang lain ini adalah sebuah kelemahan yang mustahil terjadi pada Tuhan.
Makna Ketidaktersusunan
Ketika dikatakan Tuhan tidak tersusun, bukan berarti semua yang tidak tersusun itu adalah tuhan. Sebab, ada juga sesuatu lain yang tidak tersusun seperti atom. Tapi, bukankah Tuhan itu memiliki sifat mukhâlafah li al-hawâdits? Nanti ada pembahasannya secara tersendiri, kita nantinya akan membedakan apa yang disebut sebagai musyârakah dan tamâtsul. Singkatnya, kalaupun kita sama Tuhan sama-sama melihat, bukan berarti penglihatan kita itu sama dengan penglihatan Tuhan. Kita butuh mata untuk melihat, sedangkan Tuhan tidak butuh mata untuk melihat. Kesamaan ini hanya pada “nama” saja, bukan pada hakikatnya. Sedangkan kaidah mengatakan bahwa al-‘ibrah bi al-ma’na lâ bi al-lafzh (yang kita lihat adalah maknanya, bukan lafaznya). Sebab, lafaznya bisa sama sedangkan hakikat bisa berbeda.
Ketika dikatakan tuhan tidak tersusun, maka ada beberapa hal yang perlu dilihat:
Pertama, menafikan ketersusunan. Ini tentu maklum, ketika dikatakan sesautu itu tidak tersusun, maka kita menafikan ketersusunan.
Kedua, ketika dikatakan demikian, bukan berarti kita mengafirmasi sifat ketidaktersusunan ala makhluk, dalam hal ini adalah atom. Kenapa? Kita perlu ingat, yanag kita bedah adalah penafian, sedangkan dalam penafian tidak ada bentuk afirmatif apapun. Adapun kalau kita berbicara tentang hal-hal yang muqâbalah, ini beda pembahasan dan lumayan detail. Jadi, ketika kita menafikan, bukan berarti kita mengafirmasi, apalagi yang diafirmasi itu adalah hal lain, yaitu sifat kemakhlukan. Kenapa? Karena sejak awal, kita menafikan sifat makhluk dengan mengafirmasi sifat qidam kepada Allah.
Ketiga, tidak mengafirmasi bahwa Tuhan adalah juz atau ajzâ’. Sebab, sekali lagi, kita menafikan ketersusunan, maka kita tidak mengafirmasi apapun. Jika kita mengatakan atom memiliki sifat ketuhanan hanya karena tidak tersusun, berarti secara tidak langsung kita menyandarkan kelemahan kepada sesuatu yang disebut dengan Tuhan itu. Alasannya, sudah saya paparkan di atas.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Tuhan bukanlah atom dan atom tidak bisa dikatakan memiliki sifat ketuhanan.
Wallahu a’lam.








