Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan seputar dalalah lafzhiyyah atau penunjukan yang diperoleh dari lafaz. Kali ini penunjukan dâl kepada madlûl diperoleh melalui sesuatu yang bukan lafazh.
Ketika anda menjadi pengendara mobil atau motor, tentunya lampu lalu lintas. Di sana terdapat lampu merah, lampu kuning, dan lampu hijau. Ketika lampu merah menyala, maka anda memahami bahwa anda harus berhenti. Karena isyarat yang anda tangkap dari lampu merah adalah “harus berhenti”. Begitu pula dengan lampu kuning yang menunjukkan hati-hati dan lampu hijau yang menunjukkan jalan.
Apakah lampu lalu lintas itu lafazh? Tentu saja bukan. Maka karena status lampu lalu lintas itu bukan lafzh, maka ia dikategorikan sebagai “dalâlah ghairu lafzhiyyah“.
Jadi, sekali lagi bahwa dalalah ghairu lafzhiyyah ini secara singkat, penunjukan kepada sesuatu yang penunjukannya dipahami melalui sesuatu yang bukan lafazh.

Setelah kita memahami konsep dalalah ghairu lafzhiyyah, maka sekarang kita akan memahami pembagian dalâlah ghairu lafzhiyyah. Singkatnya, dalalah ghairu lafzhiyyah ini terbagi tiga sebagaimana dalalah lafzhiyyah. Yaitu; 1) ‘Aqliyyah. 2) Thabi’iyyah. 3) Wadh’iyyah. Ketiganya akan dijelaskan pada tulisan berikut ini.
– 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘎𝘩𝘢𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘢𝘧𝘻𝘩𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩 ‘𝘈𝘲𝘭𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩
Sebagaimana sebelumnya bahwa penunjukan kepada sesuatu atau keterkaitan antara dâl dan madlûl dipahami melalui akal. Maka dalalah bagian ini juga seperti itu. Tapi, bedanya dalalah ini tidak dipahami melalui lafazh seperti sebelumnya.
Jika anda jalan-jalan ke bangunan yang sudah tua, kotor, kumuh, dan tidak ada sama sekali orang di sana (tidak ditinggali oleh siapapun). Tiba pada satu dinding, anda melihat di sana ada tulisan-tulisan tertentu.
Apa yang anda pahami? Bisa saja anda memahami bahwa di sana ada orang yang pernah menuliskan tulisan itu dan lain-lain. Tapi apakah anda melihat orang di sana? Tentu tidak. Tapi anda bisa mengetahui bahwa di sana pernah ada orang melalui tulisan yang terpajang di dinding itu. Anda memahami hal tersebut melalui penalaran akal.
Misalnya lagi, anda pergi menjelajahi sebuah hutan. Ketika anda sampai di tengah hutan, anda mendapati beberapa sampah sisa makanan. Pasti anda mengetahui bahwa sampah itu tidak akan pernah ada kecuali ada yang membuang sampah di sana. Dan yang membuang sampah tentu saja manusia.
Apakah anda melihat orang yang membuat sampah? Tentu tidak. Tapi anda mengetahui bahwa ada orang yang membuang sampah di sana melalui sampah sisa makanan. Karena anda memahami keterkaitan antara dâl dan madlûl melalui akal.
Jadi, sekali lagi bahwa dalalah ghairu lafzhiyyah itu singkatnya, anda memahami keterkaitan antara dâl dan madlûl melalui akal dan penunjukan ini anda tangkap melalui sesuatu yang bukan lafazh.
– 𝘋𝘢𝘭â𝘭𝘢𝘩 𝘎𝘩𝘢𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘢𝘧𝘻𝘩𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩 𝘛𝘩𝘢𝘣𝘪’𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩
Jika sebelumnya penunjukan itu anda pahami melalui akal, maka penunjukan bagian ini disandarkan kepada kebiasaan manusia secara natural atau alami. Sebagaimana sebelumnya di pembahasan dalalah lafzhiyyah thabi’iyyah.
Misalnya anda sudah beristri dan istri anda sudah terlanjur mabuk cinta dengan anda. Hubungan anda dalam pernikahan yang bertahun-tahun. Sampai suatu hari, anda ketahuan jalan dengan wanita lain. Dan istri anda memandang anda dengan wajah memerah. Apa yang ditunjukkan oleh wajah merah? Bisa saja marah. Anda memahami madlûl melalui dâl melalui penunjukan yang disandarkan kepada kebiasaan manusia yang natural atau alami.
Apakah wajah merah selamanya menunjukkan marah? Tentu tidak. Bisa saja kalau saya berkata kepada sang kasih, “Duhai kekasih, wajahmu terlampau indah. Sampai-sampai bintang dan rembulan cemburu padamu”. Lalu tiba-tiba kekasih saya wajahnya memerah. Apakah wajah merah di sini menunjukkan marah? Tentu tidak. Bisa saja menunjukkan malu.
Intinya, dalâlah ghairu lafzhiyyah thabi’iyyah di sini menunjukkan adanya keterkaitan antara dâl dan madlûl yang ditangkap melalui kebiasaan manusia yang bersifat naluri dan proses penunjukan itu diketahui melalui sesuatu yang bukan lafazh.
– 𝘋𝘢𝘭â𝘭𝘢𝘩 𝘎𝘩𝘢𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘢𝘧𝘻𝘩𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩 𝘞𝘢𝘥𝘩’𝘪𝘺𝘺𝘢𝘩
Penunjukan ini, kita peroleh melalui konteks kebahasaan. Tapi proses penunjukan antara dâl ke madlûl, bisa kita pahami melalui sesuatu yang bukan lafazh. Yang perlu diingat kalau kontek kebahasaan ini berdasarkan kesepakatan oleh sekelompok ahli bahasa, maupun tidak.
Misalnya, anda mengendarai motor atau mobil. Umumnya, di jalan raya itu kita menyaksikan lampu lalu lintas. Lampu lalu lintas ini memiliki 3 warna, yaitu merah, kuning, dan hijau. Tapi lampu ini meskipun tidak memiliki tulisan bahwa kalau merah harus berhenti, kuning hati-hati, dan hijau jalan, tapi ketika lampu merah menyala, yang terlintas adalah perintah untuk menghentikan kendaraan.
Tapi apakah lampu merah adalah lafazh? Tentu saja bukan. Tapi kita memahami lampu merah sebagai perintah untuk berhenti. Mengapa harus lampu merah? Saya sendiri tidak tau mengapa lampu merah yang dipilih sebagai sesuatu yang menunjukkan kepada perintah berhenti. Yang jelas lampu merah ini menunjukkan harus berhenti.
Misalnya lagi, bendera merah putih. Apa yang terlintas di kepala anda? Kalau anda orang Indonesia, kemungkinan besar yang mendarat di kepala anda adalah Indonesia. Tapi apakah anda melihat tulisan “Indonesia” pada bendera itu? Tentu tidak. Tapi kita memahami bendera merah putih menunjukkan Indonesia karena kita sepakat bahwa bendera merah putih itu menunjukkan Indonesia.
Jadi, dalalah ghairu lafzhiyyah wadh’iyyah secara singkat adalah penunjukan terhadap sesuatu yang penunjukannya dipahami melalui konteks kebahasaan yang sudah disepakati oleh baik itu para ahli maupun bukan.
Namun, yang perlu kita catat di sini bahwa dalalah ghairu lafzhiyyah itu tidak mu’tabar atau tidak menjadi titik fokus ilmu logika. Sebab, dalalah ini terbatas. Misalnya saja ketika anda ingin menjelaskan bahwa “planet itu lebih dari enam” dapatkah anda menjelaskannya tanpa lafazh? Itu akan sangat sulit. Makanya dalalah ini tidak menjadi titik fokus dalam ilmu logika.
Wallahu a’lam








