• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Ilmu Mantik

Mantiq Qadîm dan Mantiq Hadîts

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
22 Desember 2022
in Ilmu Mantik
Waktu Baca: 7 menit baca
https://www.pexels.com/photo/close-up-of-microscope-256262/

https://www.pexels.com/photo/close-up-of-microscope-256262/

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Dalam beberapa tulisan yang lalu, saya banyak menyinggung ilmu mantik dalam beberapa aspek pembahasan. Baik secara teoritis, maupun praktis. Dalam tulisan ilmu kalam, menjawab syubhat, dan lain sebagainya, saya banyak menyinggung tentang definisi, premis, maupun silogisme yang di mana semua ini merupakan bentuk penerapan dari ilmu mantik. Bahkan, di web ini sendiri, saya membuat satu rubrik yang khusus membahas ilmu mantik dan yang berkaitan dengannya. Jika Anda masih asing dengan terma atau istilah “mantik”, ada baiknya jika Anda membaca tulisan saya yang lalu seputar al-mabadi’ al-‘asyarah ilmu mantik.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa mantik itu luas, walaupun dia menduduki posisi sebagai ilmu alat atau ilmu wasilah. Ada mantik yang berfokus kepada materi, ada yang berfokus kepada alogaritma, dan ada juga yang berkutat pada simbol. Masing-masing memiliki porsi dan kedudukannya.

Ilmu mantik yang selama ini Anda baca dari tulisan-tulisan saya adalah mantik klasik (al-manthiq al-qadim). Saya belum pernah sama sekali membuat tulisan khusus tentang mantik modern (al-manthiq al-hadits). Tulisan ini menjadi uraian singkat nan sederhana seputar mantik modern dan yang membedakannya dengan mantik klasik, sekaligus memperkenalkan konsep umumnya.

Pembagian dan Penamaan

Dari segi waktu atau fase, ilmu mantik terbagi menjadi dua; 1) Al-Manthiq Al-Qadim. 2) Al-Manthiq Al-Hadits. Berikut uraiannya.

  1. Al-Manthiq Al-Qadim

Kata “manthiq” sendiri, memiliki beberapa makna. Tergantung, kita melihatnya dari wazan seperti apa yang digunakan. Jika kata al-manthiq dianggap sebagai mashdar mim, maka di sini ada dua makna. Pertama, pengetahuan yang bersifat universal (idrak al-kulliy). Kedua, penggunaan lafaz yang dari lafaz itu, terhasillah sebuah makna (al-talaffuzh alladzi yubrizu al-ma’âni wa yuzhiruhâ). Tapi, jika kata tersebut dianggap sebagai isim makan atau kata benda yang menunjukkan tempat, maka ini merujuk kepada potensi rasional yang dengannya, sebuah makna berinang di dalamnya (quwwah al-‘aqliyyah allati hiya mahal li al-ma’âni al-mukhtalifah). Ini melihat makna kata al-manthiq secara etimologi. Secara terminologi, saya pernah jelaskan dalam salah satu tulisan yang lalu.

Sedangkan kata al-qadîm, bermakna “yang terdahulu”. Dinamakan demikian karena teori mantik yang digunakan itu dinisbatkan ke era Yunani Kuno, tepatnya sekitar abad 5-3 SM, saat nama Socrates, Plato, dan Aristoteles masih berdengung di dinding-dinding kota Athena.

Perlu dicatat, untuk ilmu mantik jenis ini, memiliki banyak nama. Bisa disebut dengan al-manthiq al-syakliy/al-shuri (logika formal) karena mantik ini mengutamakan format akal dalam menyusun premis, ada yang menyebutnya al-manthiq al-qiyâs (logika silogistik) karena mantik ini menjadikan pembahasan al-qiyâs (silogisme) sebagai tujuan tertinggi dari ilmu ini (maqshad al-a’dzam fi ‘ilm al-mantiq). Sebagian turats menyebut mantik ini dengan sebutan al-manthiq al-aristhu (logika aristotelian) karena penyandarannya berfokus kepada sosok yang mengkodifikasi ilmu ini di Negeri Para Filusuf; Aristoteles.

Dari mantik klasik ini, kemdian lahir beberapa inovasi baru dari logika jenis ini, sebagaimana yang dijelaskan Jamil Shaliba. Di antara inovasi baru yang muncul di sini adalah al-manthiq al-ramzi (logika simbolik) yang fokus melihat simbol yang mengandung makna tertentu. Inilah nanti yang sangat membantu dalam ilmu eksak, seperti dalam permasalahan aljabar, logaritma, dan lain-lain.

  1. Al-Manthiq Al-Hadîts

Kata al-manthiq sudah dijelaskan di atas tadi. Adapun kata al-hadits, dia tidak merujuk kepada hadis yang merupakan sabda Nabi. Tidak. Tapi, ini merujuk kepada makna “yang baru” karena muncul di era modern. Sebagian sumber menyebut kalau nanti dikatakan era modern ketika realitas sudah menembus tahun 1400 M. Sebagian lagi menyebut kalau era modern masuk pada tahun 1600 M atau abad ke-17 M. Berhubung yang mengkodifikasi ilmu mantik ini adalah Sir Francis Bacon (1561-1626 M), maka ilmu mantik ini dinamakan sebagai al-manthiq al-hadîts atau logika modern. Ada juga yang menyebut kalau dinamakan demikian untuk mengimbagi (muqabalah) dengan al-manthiq al-qadim.

Selain dinamakan demikian, ada juga yang menyebutnya dengan al-manthiq al-istiqrâ’i (logika induktif) karena penyimpulan induksi yang menjadi jantung ilmu mantik modern. Ada juga yang menamainya dengan al-manthiq al-tajribiy (logika empiris) karena salah satu asas penting dari ilmu ini adalah berinteraksi dengan realitas empiris.

Apakah metode yang ada pada logika modern ini benar-benar baru muncul pada era Francis Bacon? Jawabannya, belum tentu. Francis Bacon berjasa dalam melakukan kodifikasi. Tapi, jika ditanya apakah embrio ilmu ini sama sekali tidak ada di masa lalu, khususnya ulama muslim? Kalau kita melihat sejarah, justru itu sudah ada sejak era ulama muslim dan data historisnya berserakan dalam turats.

Namun, kita tidak punya waktu untuk membahas bagian ini. Sebab, ini akan melibatkan bagaimana atmosfer ilmu mantik saat era Aristoteles, transisi dan tinjauan ulang terhadap mantik aristotelian ala ulama muslim, dan metodologi ulama muslim sebelum masuknya mantik aristotelisan dalam dunia Islam, khususnya dalam kubu ulama kalam (mutakallimun) dan ulama ushul fikih (ushuliyyun). Ini diuraikan secara panjang lebar oleh salah satu sarjana muslim, Dr. Ali Sami Nasyar dalam bukunya yang bertajuk Manâhij Al-Bahts ‘Inda Mufakkiri Al-Islâm (Metodologi Penelitian dalam Perspektif Pemikir Islam).

Perbedaan

Apa yang membedakan antara mantik klasik dan modern? Tentu jika menjawab hanya sebatas “masa kodifikasi” terasa naif. Sebab, jika hanya itu, untuk apa Sir Francis Bacon menulis magnum opus yang bertajuk Novum Organum yang mengkritisi logika aristotelian? Pasti ada yang lebih penting dari itu; metode. Saya akan menguraikan dalam beberapa poin secara ringkas.

Pertama, mantik klasik itu disebut dengan al-manthiq al-tanâzuliy (deduksi). Sebab, dalam menyusun premis dalam bab silogisme, syarat minimal adanya sebuah penyimpulan dalam mantik klasik adalah ada proposisi universal (al-qadhiyyah al-kulliyyah) dan bermuara pada konklusi yang bersifat parsial (juz’iy).

Sedangkan mantik modern itu disebut dengan al-manthiq al-tashâ’idiy (induksi) karena penyimpulannya mulai dari proposisi parsial (al-qadhiyyah al-juz’iyyah) kemudian bermuara pada kesimpulan yang bersifat universal (kulliy).

Contoh sederhananya, dalam mantik klasik, ketika kita membangun premis, bentuknya seperti:

Premis 1: Fulan berpotensi melamar wanita yang suka belajar

Premis 2: Semua wanita yang suka belajar berada di sekitar Fulan

Konklusi: Fulan berpotensi melamar wanita di sekitarnya

Coba perhatikan konklusi yang lahir. Sifat proposisi yang dilahirkan itu parsial, karena cakupannya menyempit kepada wanita tertentu yang ingin dilamar oleh si Fulan.

Adapun mantik modern dalam menyimpulkan sesuatu, bentuknya:

Premis 1: Besi, emas, dan timah merupakan barang tambang.

Premis 2: Besi, emas, dan timah memuai ketika dibakar.

Konklusi: Semua barang tambang memuai ketika dibakar.

Konklusi tersebut menyebut kata “semua”. Ini jelas menunjukkan bentuk proposisi universal.

Kalau ada yang bertanya kenapa bisa kita menggeneralisir banyak hal, sedangkan yang diteliti hanyalah sebagian? Ini sama halnya dengan ada seseorang memutuskan pacar buruknya yang ke sekian dengan ucapan “Semua orang sama saja!”. Sedangkan, dalam realitas, kita sendiri melihat kalau tidak semua orang sama dalam hal keburukan. Bagaimana kita bisa menerima generalisasi semacam itu? Untuk pembuktiannya, itu butuh ratusan halaman. Jangan mengira generalisasi ini disimpulkan semudah itu, apalagi mantik modern ini sudah menjadi metode besar yang banyak dipegang oleh ilmuwan seluruh dunia. Pada tulisan yang singkat ini, saya belum ingin jawabannya. Karena kita tidak punya waktu banyak untuk itu.

Kedua, mantik modern berfokus kepada penelitian ilmiah, eksperimen, hipotesa, dan interaksi dengan realitas empiris. Sedangkan mantik klasik berpegang kepada empat asas berpikir; hukum identitas, non-kontradiksi, ketiadaan opsi ketiga, dan kausalitas. Terkait keempat hukum tersebut, sudah pernah saya bahas dalam salah satu tulisan lalu.

Ketiga, mantik modern sifatnya tidak universal. Sebab, ilmu ini melihat kalau setiap lini ilmu memiliki metodenya masing-masing. Misalnya ilmu kedokteran, dia memiliki metodenya tersendiri. Metode ilmu kedokteran jelas tidak bisa diterapkan dalam ilmu sejarah. Sedangkan mantik klasik, sifatnya universal. Karena dia bisa masuk ke ilmu apapun secara kultural. Seperti setiap ilmu mengamini bahwa setiap istilah dan pembahasan tertentu memerlukan konsep jelas dan paten. Masalah konsep (tashawwur) ini merupakan salah satu bagian intim dari mantik klasik.

Keempat, mantik modern disebut sebagai al-manthiq al-nisbiy (logika relatif). Sebab, ketika hasil akhir dari konklusi ini lahir, mantik modern tidak pernah mengklaim bahwa kesimpulannya pasti benar secara mutlak. Karena metode yang digunakan adalah induksi (istiqra’) dan generalisasi (ta’mîm). Klaim kebenarannya berhenti sampai tingkatan probabilitas yang tinggi (zhann). Sedangkan mantik klasik mengklaim kalau ketika dia menyusun premis, bisa sampai kepada kebenaran mutlak dan tetap. Asasnya, kembali kepada format akal.

Kelima, mantik modern tidak akan pernah mengklaim kebenaran premisnya jika tidak melalui penelitian atau eksperimen. Sedangkan dalam mantik klasik, sebuah premis sudah bisa dikatakan benar jika premisnya sudah memenuhi syarat konklusi.

Keenam, konklusi pada mantik modern itu lebih umum dibandingkan konklusinya. Sedangkan, mantik klasik itu sebaliknya. Ini tidak lepas pada poin pertama di atas. Satunya karena pakai metode induksi. Satunya lagi deduksi.

Ketujuh, induksi memiliki dua bentuk. Ada induksi sempurna (istiqra’ tam) karena meneliti semua individu yang ada. Ada juga induksi tidak sempurna (istiqra’ naqish). Yang pertama memberikan pengetahuan yang bersifat yakin. Sedangkan yang kedua, memberikan pengetahuan yang kemungkinan besar benar (zhann). Sedangkan mantik klasik, selama konklusi dan premis saling meniscayakan (talâzum) kebenarannya, maka kesimpulannya benar.

Kedelapan, mantik modern berperan penting dalam memajukan pengetahuan dan menyingkap tabir kebenaran semesta. Sedangkan mantik klasik berperan dalam memuaskan akal lawan bicara. Itupun kalau lawan menerima argumentasi kita.

Persamaan

Walaupun kita sudah menyaksikan perbedaan antara kedua ilmu tersebut, tapi tetap saja tidak menafikan titik temu kedua ilmu ini. Titik temunya ada pada kaitan format premis (syakl al-qiyâs) dan materi (maddah al-qiyas). Saya langsung berikan contoh saja:

Premis 1: Alam itu berubah-ubah

Premis 2: Semua yang berubah-ubah itu ada berasal dari ketiadaan

Konklusi: Alam itu ada berasal dari ketiadaan

Coba perhatikan premis di atas. Ada klaim yang menyatakan bahwa alam ini berubah dan semua yang berubah ini ada dari ketiadaan. Bagaimana membuktikan klaim itu? Di sinilah peran mantik modern untuk meneliti segenap material alam semesta. Dengan hasil penelitian yang panjang dan metode yang ketat, disimpulkanlah bahwa alam semesta itu berubah. Tapi, kesimpulan itu kemudian dijadikan materi dalam premis. Dan yang memiliki premis adalah mantik klasik.

Ringkasnya, mantik modern bertugas untuk meneliti kebenaran materi premis tersebut di alam semesta. Sementara, mantik klasik bertugas mengolah data yang sudah ditemukan oleh mantik modern dengan rumus logika yang digunakan. Dengan menggabungkan keduanya, jelas akan melahirkan kebenaran yang kokoh.

Mantik Modern dan Ilmu Kalam

Jangan mengira ulama kalam buta dengan metode induksi hanya karena melihat kitab-kitab kalam kental dengan silogisme deduktif. Sebab, ketika mereka melakukan pembuktian dan saling debat, hal yang tidak pernah luput adalah menguji materi yang digunakan dalam silogisme. Sehingga, ketika mazhab Muktazilah datang dengan membawakan argumen yang kental dengan logika formal saja, ulama Ahlussunnah juga melakukan comeback dengan menguji materi-materi yang digunakan dalam rumus.

Dalam madrasah Ahlussunnah, jika pelajaran mantik klasiknya sudah sampai di bab silogisme, kita akan diperkenalkan bahwa nanti ada silogisme yang keliru bukan karena rumusnya yang salah. Iya, rumusnya sudah benar, sudah sesuai dengan format akal. Tapi, materi yang dimasukkan dalam silogisme itu keliru. Ini yang menjadi isyarat kepada mantik modern, terkait dengan kecocokan materi dan rumus yang digunakan.

Jadi, seperti itulah gambaran ringkas mantik modern dan yang memebedakannya dengan mantik klasik. Semoga ada waktu untuk menjelaskan bagian ini lebih detail dan mendalam.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

Berapa Banyak Buku yang Saya Baca Sehari?

Artikel Selanjutnya

Benang Merah Ta’aruf dan Mantik Hadis (Bag. 1)

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Benang Merah Ta’aruf dan Mantik Hadis (Bag. 1)

Benang Merah Ta’aruf dan Mantik Hadis (Bag. 1)

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.