Kampanye populer yang banyak ditemukan di sosial media dalam beberapa waktu terakhir adalah sesuatu itu perlu disederhanakan, seribet apapun kebenaran atau teori yang bersangkutan. Karena bahasa yang mengawang-awang itu tidak banyak dipahami orang, hanya segelintir kaum elit intelektual saja. Bagaimana dakwah atau kebenaran bisa sampai kepada semua orang kalau hanya segelintir yang bisa menangkapnya?
Dampak dari kampanye tersebut akan mengakibatkan adanya diskriminasi sosial terhadap penggunaan bahasa ribet dalam mengekspresikan sesuatu. Diskriminasi itu berupa pandangan sinis, misalnya. Setiap ada bahasa ribet akan dipandang eksklusif, elit, dan dingin; jauh dari masyarakat yang berada di bumi kesederhanaan.
Penulis akan kemukakan pada tulisan ini hal yang berlawanan dengan kampanye yang sudah terlalu mainstream tersebut. Sebab, penggunaan bahasa ribet dan sederhana sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Pun, seandainya dikatakan kalaupun kelebihan itu ada, tidak melebihi kekurangan, justru dalam beberapa keadaan, kelebihan itu lebih unggul dari kekurangannya. Tentunya hal tersebut berlaku pada konteks tertentu.
Sebelum itu, penulis akan mengemukakan tiga variabel penting terkait relasi bahasa, penutur, dan audiens dalam realitas.
Bahasa dan Makna
Ada sebuah kaidah yang ditulis oleh Syekh Salim Abu ‘Ashi:
الاستعمال من صفة المتكلم، والحمل من قبل السامع، والوضع قبلهما
“Penggunaan makna adalah peran penutur, memahami makna adalah peran pendengar, dan peletakan makna terjadi sebelum keduanya.” (Salim Abu ‘Ashi, Al-Madkhal ila Al-‘Ulȗm Al-‘Aqliyyah, 2023, Kairo: Athyaf li Al-Nasyr wa Al-Tauzi’, hlm. 76).
Bahasa pada mulanya hanyalah berupa kumpulan lafaz nihil makna. Karena lafaz tersebut belum memiliki makna, lafaz tersebut tidak digunakan dalam penuturan sehari-hari maupun dalam tulisan.
Kemudian, makna itu diletakkan kepada lafaz oleh pihak tertentu, sehingga makna tersebut menjadi makna baku yang menjadi kesepakatan interpersonal. Saat makna itu baku, lafaz itu kemudian digunakan oleh penutur sebagai bahasa yang memiliki makna.
Setelah lafaz itu digunakan, lafaz itu kemudian dipahami oleh audiens. Acuan audiens dalam memahami makna yang dibawakan penutur adalah kesepakatan interpersonal tadi. Sehingga, baik itu penutur maupun audiens, tidak bisa seenaknya; penutur tidak bisa pilih makna yang tidak matching dengan lafaz dan penutur tidak bisa memahami makna sesuai suasana hatinya saja. Harus ada aturan yang menyeragamkan.
Dunia Makna
Jika kita menggeser relasi makna-lafaz ke dunia makna yang begitu abstrak, kita akan menemukan bahwa makna itu tidak bisa sampai begitu saja kepada lawan bicara, jika tidak dikawal dengan alat komunikasi, entah itu bahasa, isyarat, dan sejenisnya.
Makna itu sendiri sangat luas, jauh lebih luas dari sekadar kata yang membungkusnya. Hal ini terlihat ketika manusia mencoba membahasakan sesuatu, ia kesulitan dalam mengekspresikan dalam bentuk kata. Ini menunjukkan bahwa orang tersebut mengetahui makna yang ia alami, tapi tidak memiliki kata yang tepat untuk membungkusnya.
Kemudian, makna itu ada yang sifatnya umum; dipakai dalam kehidupan sehari-hari, ada juga yang sifatnya spesifik; dipakai dalam teknis detail. Tapi, untuk makna spesifik ini, kadang ada yang tidak memiliki padanan kata yang familiar, sehingga teknis detail itu perlu dijelaskan. Akhirnya, dibuatlah kosakata baru untuk menjelaskan teknis itu dalam satu kata. Kosakata ini asing dan tidak pernah kita gunakan sama sekali.
Atas dasar itu, tidak semua kata yang ada itu sederhana. Sebagian mudah dikenali, sebagian asing. Kata yang mudah dipahami sebagian besar itu adalah kata yang dominan konkrit; bendanya bisa disaksikan dan sering digunakan. Sementara kata yang sulit itu dominan abstrak dan terlalu detail dalam teknis, seperti: korpus, aksiden, epistemologi, dan lain sebagainya. Kata pertama banyak digunakan orang awam, sementara kata kedua banyak digunakan spesialis.
Jadi, kata sebagai dirinya sendiri itu ada dua; 1) Mudah dikenali, dan 2) Sulit dikenali.
Audiens
Audiens itu ada yang awam, ada yang menengah, ada juga yang sampai tingkatan spesialis.
Bagi pendengar yang awam, dia berbicara dan memahami hanya menggunakan kata yang biasanya dipakai dalam kehidupan sehari-hari, percaya pada kesan yang tampak, dan tidak mempertanyakan. Golongan ini termasuk realis naif; terlalu mudah percaya.
Sedangkan pendengar yang berada pada tingkatan menengah, ia mulai memahami cara bernalar yang abstrak, memiliki sedikit sikap skeptis, mulai memahami istilah teknis tertentu, dan mulai membentuk sistem cara pandang sendiri.
Adapun tingkatan spesialis, ia memiliki cara berpikir abstrak bertingkat. Ia tidak harus menggunakan istilah teknis dalam berbicara, tapi paham dengan benar bagaimana menggunakan istilah dengan tepat atau mengisi variabel kata itu dengan kata umum. Ia bukan hanya orang yang memiliki cara pandang sendiri, tapi ia bisa menguji sendiri cara pandangnya, sejauh apa konsistensinya.
Jadi, awam dan non-awam tidak dibedakan berdasarkan pengetahuan atau banyak-tidaknya informasi yang dia miliki. Tapi, bagaimana kedalaman ia berpikir. Semakin dalam seseorang berpikir, semakin jauh ia dari tingkat awam.
Kedalaman berpikir tidak mengharuskan seseorang menggunakan kata rumit. Penggunaan kata rumit itu satu hal, sementara memiliki kedalaman berpikir adalah hal lain. Penggunaan kata ini tidak membedakan keawaman seseorang dengan lainnya. Justru, bisa menunjukkan keawaman jika digunakan secara dangkal dan tidak tepat.
Kemudian, karena tingkat bernalar manusia itu berbeda-beda, maka cara mereka menyikapi sesuatu pasti berbeda. Termasuk cara mereka menerima informasi.
Orang awam menerima informasi yang sederhana, semi-awam menerima informasi yang semi-sederhana, dan spesialis menerima informasi dari beragam tingkatan.
Perbedaan tingkatan ini mengharuskan penutur untuk pandai memoles penyampaiannya sesuai dengan tingkatan audiens atau lawan bicaranya. Kepandaian memoles itu tidak harus dengan penyederhanaan, tapi bisa juga dengan bahasa yang mengalir bagi spesialis.
Penyederhanaan dan Penyambung Lidah
Teknis berpikir rumit, umumnya sulit dipahami oleh orang yang belum mengenal polanya, sehingga perlu menyederhanakan. Penyederhanaan ini terjadi dengan cara menggunakan kata yang mudah dikenali untuk menjelaskan sesuatu yang rumit dan dibantu dengan analogi.
Hanya saja, ada satu persoalan yang sulit dihindari; apakah kata yang mudah dipahami itu bisa mewakili seluruh teknis rumit itu tanpa reduksi makna sama sekali? Seandainya bisa, istilah dalam setiap ilmu tidak perlu muncul. Karena tugasnya sudah diwakili dengan kata umum.
Pun, seandainya ada tersampaikan dengan kata umum, maka yang tersampaikan bukan bagian rumitnya. Hanya bagian umumnya.
Jika ada pertanyaan yang intinya, kita bisa memahami makna melalui penyederhanaan. Tapi, makna itu tidak utuh, karena mengalami reduksi. Sebab, kata umum, tidak mewakili istilah rumit secara presisi dan ekuivalen. Lalu, apakah ini berarti orang awam akan tetap dalam ketidaktahuannya?
Inilah yang menjadi tugas penyambung lidah, seperti pemikir, akademisi, dan Nabi. Pertanyaan besar mereka: Bagaimana keutuhan makna itu sampai kepada orang awam, tapi maknanya tidak kurang?
Ada hal lain yang bisa menguatkan besaran makna yang sampai menggunakan kata umum; kemampuan komunikasi. Karena kemampuan komunikasi, tidak mengandalkan kata saja sebagai sumber makna, tetapi memanfaatkan segala hal yang bisa mempengaruhi makna; konteks, situasi, tekanan suara, intonasi, bahasa tubuh, dan lain sebagainya, sehingga makna yang sampai, lebih dari sekadar kata umum yang ada. Walau tidak benar-benar utuh.
Kalau begitu, apakah makna itu tidak secara utuh sampai kepada orang awam? Jawabannya, secara utuh tidak. Karena ini bukan hal yang terpenting untuk mereka. Orang awam hanya membutuhkan “inti” dari penyampaian itu, tanpa perlu detail. Sehingga, kalau inti itu sudah sampai, teknis detail itu tidak diperlukan lagi.
Audiens Tidak Biasa
Kampanye paling umum muncul adalah bagaimana berdakwah kepada orang awam, sehingga solusi penyederhanaan itu muncul sebagai jawaban.
Tapi, perlu diingat bahwa umat Nabi Muhammad Saw. itu bukan hanya orang awam. Ada pemikir, orang jenius, filusuf, akademisi, dan lain sebagainya. Betul, berdakwah kepada orang awam itu penting karena jumlah mereka lebih banyak. Tapi, jika yang sesat adalah manusia yang bersinar bagi orang awam, ini jauh lebih bahaya. Karena kesesatan orang awam hanya untuk dirinya. Sedangkan, kesesatan orang pintar itu ada pada dirinya dan bisa menularkan kepada orang lain. Sehingga, orang yang demikian juga butuh dakwah.
Juga, cara orang dalam menerima informasi itu tidak sama. Ini dikembalikan kepada kadar tingkat berpikirnya. Mendakwahi orang awam, tidak sama dengan mendakwahi orang yang non-awam.
Karena ada perbedaan jenis audiens dan daya pemahaman yang berbeda, maka pasar audiens juga terbagi. Ada pasar awam, semi-awam, dan spesialis.
Juga, sebagian spesialis mengalami bias kognitif curse of knowledge (kutukan pengetahuan). Maksudnya, mereka lupa rasanya tidak mengetahui sesuatu. Lebih spesifiknya, mereka cenderung meremehkan informasi yang terlalu dasar, walaupun itu penting.
Karena adanya hal ini, maka bahasa ribet itu perlu ada untuk mengimbangi cara para spesialis ini berpikir, tanpa menafikan urgensi bahasa sederhana untuk orang awam. Posisi seimbang ini penting secara psikologis dalam berdakwah. Jika sejak awal kita berada pada posisi (diposisikan) rendah, bagaimana dakwah kita diterima dengan mudah?
Jika sejak awal kita menerima bahwa umat Nabi Muhammad Saw. itu banyak dan beragam, maka kita harus mengakui semua bentuk dan variabel dakwah, tanpa perlu merendahkan satu pun model yang tidak cocok dengan kita. Kita tidak perlu merendahkan bahasa umum karena terlalu simpel. Tidak pula untuk bahasa ribet karena terlalu kaku dan melangit. Warna beragam, tidak harus bertemu dengan satu warna. Audiens akan datang ke pasar yang pas bagi mereka.
Dalam menghadapi beragam orang, hal itu bisa kita pelajari dari Nabi Muhammad Saw. Beliau akan berbicara dengan bahasa awam jika bertemu dengan orang awam. Beliau juga akan berbicara dengan bahasa pas dan sedikit berat jika bertemu dengan sahabat yang punya latar belakang kritis.
Jadi, secara keberadaan bahasa ribet dan umum, keduanya harus ada karena bagian dari perbendaharaan bahasa. Secara komunikasi, bahasa tersebut perlu disesuaikan dengan objek komunikasi; audiens.
Jika kita berbicara dengan orang awam, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa umum. Jika berbicara dengan orang non-awam, maka bahasa yang digunakan itu sesuai tingkatan mereka.
Apapun tingkatan lawan bicara kita, tidak harus menafikan keberadaan, tupoksi, apalagi urgensi salah satu bentuk tingkat bahasa. Sebab, hal itu mencerminkan keegoisan kita saja; seolah kita adalah mercusuar kenyataan itu berjalan. Padahal, dunia ini memiliki 8 miliar manusia yang memiliki kisah masing-masing.
Wallahu a’lam








