Pernah dalam salah satu kesempatan, saya membawakan bimbingan belajar untuk adik kelas. Mata kuliah itu adalah ilmu kalam. Isi mata kuliah itu mayoritasnya bersifat argumentatif, baik itu membela mazhab Ahlussunnah, maupun untuk mengkritisi mazhab lain.
Namun, dalam salah satu momen di tengah penjelasan itu, ada yang bertanya “Untuk apa kita jauh-jauh ke Mesir, tapi ujungnya malahan menguasai mazhab orang lain yang sudah jelas-jelas sesat?” Pertanyaan ini wajar untuk mahasiswa baru. Karena mereka memandang, apapun yang kita pelajari, cukup yang benar saja, tidak perlu aneh-aneh.
Pandangan itu benar, tapi tidak seluruhnya tepat. Mengapa? Dinamika keilmuan Islam, tidak terisolasi di garis hijau saja, tapi juga mencakup arena pinggir jurang.
Hal tersebut tidak berlaku di ilmu kalam saja. Ilmu lain seperti ilmu fikih misalnya, juga menyentuh pendapat nyeleneh. Studi ilmu hadis, juga mengkaji pandangan orientalis yang melemahkan posisi validitas hadis sebagai sumber primer dalam Islam. Sederhananya, mengkaji pandangan keliru itu bagian dari proses memahami ilmu itu sendiri.
Pemula dan Pemikiran Keliru
Ada pertanyaan lanjutan yang bisa muncul. Kalau memang kita mengakui memperlajari mazhab keliru itu bagian dari dinamika ilmu itu sendiri, lalu kenapa pemula tidak langsung dianjurkan saja mengkaji mazhab sesat sejak awal?
Keberadaan pemikiran sesat sebagai bagian dari dinamika ilmu, bukan berarti keberadaan itu menafikan struktur sistematika proses belajar. Benar, ia bagian dari ilmu, tapi bukan berarti itu yang paling awal dicicipi.
Begitu juga kalau kita melihat isi buku. Di sana ada bab awal, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhir. Jika kita menggunakan logika yang sama dengan yang ada di atas, kita bisa bertanya: “Kenapa kita tidak melahap bab akhir itu di awal?” Kebanyakan sesuatu diletakkan di akhir karena secara epistemik, ia seharusnya berada di akhir. Tapi, seluruh bab itu tetap berada di tataran “dinamika ilmu”.
Tugas bagi pemula adalah membangun kerangka epistemik dan perspektif yang kokoh dulu. Karena jika tidak, ia tidak akan sadar kalau ia mempelajari sesuatu yang salah.
Mempelajari yang salah itu tujuannya untuk menguji kebenaran. Masalahnya, kalau belum mengetahui apa yang benar, tentu mustahil untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Kalau memang begitu, kenapa di sebagian kurikulum justru memunculkan pemikiran sesat di awal, walaupun pada akhirnya membantah pemikiran itu? Jawabannya, itu namanya vaksinasi intelektual. Maksudnya, anomali dimunculkan tidak harus untuk dinikmati. Tapi, untuk dikenali. Pun, agar nanti pemula tidak kaget ketika ketemu dengan hal aneh.
Jadi, tidak menyentuh mazhab keliru, bukan berarti alergi kepada mazhab itu secara total. Itu namanya isolasi diri. Kadang disentuh, tapi dengan batas tertentu; sesuai dengan yang digariskan ahli.
Non-Pemula
Kalau tadi kita membahas untuk level pemula, sekarang untuk level bukan pemula. Pertanyaannya tidak kita jawab dengan model taktis seperti tadi.
Dalam ilmu kalam sendiri, mempelajari dan menguasai mazhab sesat adalah hal yang sangat niscaya. Sebab, ilmu kalam itu sendiri secara fungsi, bisa kita lihat dalam definisinya:
علم (بأمور) يقتدر معه على إثبات العقائد الدينية بإيراد الحجج ودفع الشبه
“Ilmu yang dengannya kita mampu untuk mengafirmasi akidah agama dengan mendatangkan argumen dan menghadang syubhat” (Al-Iji, Al-Mawâqif, Beirut: ‘Alim Al-Kutub, Hal 7).
Coba lihat definisi itu lebih jeli. Kita akan menemukan dua fungsi penting dari ilmu kalam untuk mempertahankan akidah; 1) Membangun argumen logis, dan 2) Membantah syubhat. Pembahasan kita ada pada poin kedua.
Ketika seseorang ingin membantah syubhat atau apapun yang bisa dibantah, ada syarat mutlak yang harus ia penuhi. Syarat itu tidak lain adalah memahami dan menguasai sesuatu yang hendak ia bantah. Karena seseorang tidak mungkin membantah sesuatu yang tidak dipahaminya.
Pun, seandainya ia tetap memaksa membantah walaupun ia tidak memahami apa yang ia bantah, hakikatnya ia hanya membantah pikiran yang ia ciptakan sendiri tentang sesuatu yang hendak ia bantah. Inilah yang dikenal dengan strawman fallacy yang merupakan salah satu bentuk cacat logika.
Ini juga pernah diisyaratkan oleh Maulana Syekh Husam Ramadhan, bahwa mempelajari mazhab filsafat paripatetik‒kendati memang mengandung banyak kesesatan‒tapi menguasainya justru bisa membuat kita memahami Ahlussunnah‒yang notabenenya mazhab kita sendiri‒dengan lebih detail.
Bukan berarti mazhab filsafat itu digabung ke dalam Ahlussunnah. Tapi, dengan mengetahui bahwa mazhab filsafat paripatetik itu bukan mazhab “badut”, melainkan bangunan sistematika berpikir yang besar, daya kritisnya luar biasa, dan bisa mempertahankan konsistensi dengan cara bernalar yang kompleks, pasti mazhab yang menjadi lawannya di medan argumentasi adalah lawan yang minimal seimbang. Ini kalau belum melihat mana pendapat yang kuat. Tapi, aturan dasar dalam bertarung yang adil, lawan harus seimbang.
Tapi, dalam banyak tempat Ahlussunnah itu lebih unggul. Dari titik ini, Ahlussunnah itu kelihatan lebih bersinar di banding lawannya.
Pola seperti ini ada juga dalam dunia politik citra. Kadang seseorang kelihatan lebih kuat, hanya karena berdiri melawan yang lebih kuat. Tapi, ia jauh lebih bersinar lagi, kalau menang.
Walaupun sebenarnya ranah ilmiah seperti ini bukan arena tarung tinju yang mencari menang-kalah, tapi mana pandangan yang lebih mendekati kebenaran. Inilah yang nanti dirangkum menjadi ungkapan:
فهم مذهب المخالف جزء من فهم مذهب المختار
“Memahami mazhab keliru itu bagian dari memahami mazhab yang benar.”
Tentu akan berbeda jika kita mempelajari mazhab kita sendiri dengan model satu arah; fokus membangun, tapi tidak mempersiapkan daya tahan dari serangan luar. Karena sedikit saja diberikan isykal (gugatan), besar kemungkinan akan goyah.
Makanya, ketika ada pelajar lanjutan mengira semua ajaran sesat tidak boleh disentuh, sampai dia alergi, dia belum keluar dari cara berpikir orang awam. Karena ajaran sesat adalah penyakit. Pelajar kelas lanjutan itu adalah calon “dokter”. Ia harus belajar praktik menghadapi penyakit. Jika suatu saat ia menjadi dokter tanpa atau minim pengalaman melawan penyakit, ia hanya menjadi dokter yang dangkal dan tidak bertanggung jawab. Karena itu tugasnya. Tentu ini tidak berlaku untuk orang awam dan pelajar pemula.
Pun, jika seandainya mazhab atau pemikiran keliru sirna dari dunia, tersisa mazhab kita, maka perlu mendatangkan gugatan dan menyoal apa yang dibangun dalam mazhab itu. Hal itu untuk memastikan, apakah mazhab itu bisa konsisten atau tidak? Begitulah ilmu bisa terjaga; diuji, dikritisi, dikoreksi, dibandingkan, dan direkonstruksi.
Merasa Benar dan Sektarian
Mungkin ada pertanyaan yang akan timbul; bukannya dengan membantah mazhab lain, lalu ketika mazhab lain “kalah”, lalu kita akan merasa lebih benar dan superior dibanding mereka? Dan bukankah membantah mazhab lain itu hanya bertujuan menguatkan mazhab sendiri?
Untuk sampai pada kesimpulan “merasa benar” itu, perlu kita bedakan terlebih dahulu, mana mencari kebenaran dan merasa benar. Kedua-duanya bisa diperoleh lewat perdebatan dan tarung pikiran. Sehingga, butuh ketelitian untuk membedakannya.
Merasa benar itu umumnya ditandai dengan sikap arogan, menutup diri dari dialog, menggunakan serangan personal (ad hominem), dan menolak argumen lawan tanpa penyelidikan logis. Kalau melihat unsur dari merasa benar ini, kita sama sekali tidak menemukan variabel ilmiah atau pengujian argumen. Hanya ego yang ada.
Bedanya dengan mencari kebenaran itu menguji klaim secara dialektis. Jadi, jika ada sesuatu yang dianggap sesat karena mengandung kontradiksi atau kekeliruan data, maka membantahnya merupakan bagian dari menjaga kejernihan ilmu pengetahuan.
Adapun klaim bahwa membantah mazhab lain hanya bertujuan menguatkan mazhab sendiri, alias sektarian, jika nama mazhab diletakkan lebih tinggi di atas kebenaran. Ini bisa terjadi, bisa juga tidak. Tapi, tidak harus terjadi. Untuk menjatuhkan klaim sektarian ini, membutuhkan investigasi.
Selama prinsip ilmiah dijunjung tinggi, fokus kepada substansi argumen, dan menitikberatkan investigasi intelektual, maka klaim sektarian dan merasa benar itu tidak seharusnya dilayangkan.
Tapi, bukankah ketika misalnya ada orang yang bilang 1+1=2 itu harus merasa benar karena memang dia benar? Karena justru aneh jika dalam keadaan itu ia merasa salah.
Di sini kita perlu membedakan mana merasa benar sebagai keyakinan epistemik dan arogansi subjektif.
Jika orang yang mengatakan 1+1=2 itu merasa benar, itu wajar. Karena ia merasa benar setelah bersandar kepada argumen, bukti, atau data yang valid. Seandainya tidak ada ahli atau peneliti yang merasa benar (dalam konteks ini) terhadap temuan atau pendapatnya, mereka tidak akan pernah melakukan publikasi.
Beda jika ia hanya bersandar pada identitas semata tanpa bisa menjelaskan “mengapa” pada setiap klaim yang ia miliki. Bagian kedua ini yang menjadi anomali dalam dunia ilmiah.
Kesimpulan
Jadi, ketika kita mempelajari sampai menguasai mazhab lain, apalagi jika mazhab itu keliru, sampai di tahap bantah-membantah, bukan untuk menjadi pemenang dan merasa benar dalam konteks arogan. Tapi, untuk mencari kebenaran, memahami mazhab sendiri dengan lebih detail, dan membantah kekeliruan. Karena seandainya hanya untuk merasa benar saja, tidak perlu menguasai mazhab itu. Cukup dengan hidup di “gua pikiran” lalu salahkan mazhab lain. Justru dengan mendalaminya, ada dialektika dan verifikasi ilmiah yang terjadi, sehingga klaim “merasa benar” itu gugur dengan sendirinya.
Wallahu a’lam







