Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana istilah-istilah aneh itu di mata saya. Kali ini saya akan menjelaskan, bagaimana mindset belajar saya terhadap ilmu baru yang kadang-kadang distigma sulit oleh sebagian orang atau ilmu itu ada ilmu yang dianggap “angker” oleh banyak orang, tapi saya tetap pelajari, sebagaimana saya belajar pada umumnya tanpa terbebani dengan kata-kata orang.
Saya melihat kalau kesulitan atau kemudahan ilmu, tidak akan pernah kita tahu kalau kita tidak pernah coba. Ini yang pertama. Kedua, tingkat dan jenis kecerdasan orang itu berbeda sehingga ada suatu ilmu yang dirasa sulit oleh si A dan mudah oleh si B. Ketiga, bagi saya sebagai individu, status ketidaktahuan itu sama. Artinya, sama-sama tidak diketahui apakah mudah atau sulit.
Persoalannya, bagaimana kalau ada nih orang yang bilang ilmu A ini sulit? Kita perlu cek dulu, apakah dia bilang begitu karena sudah dia pelajari atau tidak? Kalau tidak, dia tahu dari hasil kira-kiranya atau dari orang lain? Kalau dari orang lain, apakah orang lain itu pernah mempelajarinya? Kalau tidak, dalam dunia jurnalistik ini sama saja dengan menukil hoax. Kenapa? Wong, dia tahu dari mana sulit-mudahnya kan? Mana lagi dia tidak pernah jalani. Kalau cuman kira-kira, apakah penghukuman berdasarkan kira-kira ini bisa menghasilkan kesimpulan yang otentik? Nggaklah. Dan kalaupun orang yang bersangkutan pernah pelajari, apakah kecerdasannya sama tingkat dan jenisnya dengan kita atau tidak? Ini semuanya perlu dicek, biar tidak mudah termakan doktrin.
Dalam ilmu mantik, hal seperti ini masuk pembahasan dasar, yakni pengenalan tashawwur (konsepsi) dan tashdiq (penghukuman/pembenaran). Sebuah penghukuman tidak akan pernah terbentuk jika tidak memenuhi; 1) Maudhu’ (Objek penghukuman). 2) Mahmûl (Atribut penghukuman). 3) Nisbah (keterkaitan). 4) Idz’ân (peng-iya-an). Ringkasnya, empat hal ini merupakan konsep yang akan menentukan lahirnya penghukuman itu. Tanpa keempatnya, penghukuman kita tidak bisa dipercaya (itu kalau ada penghukuman yang bisa lahir).
Misalnya nih, kita mau spoiler atau rate film. Tapi, kita sendiri nggak pernah nonton. Gimana tuh caranya rate atau spoiler? Nah, kasusnya sama dengan stigma terhadap ilmu itu. Kadang-kadang ada orang mengatakan A, B, C, D, dst itu sulit. Tapi dia sendiri tidak pernah menjalaninya atau menukil dari orang lain yang di mana orang lain itu juga menukil lagi dari orang lain yang dia juga tidak pernah pelajari. Hanya sekedar kabar burung doang.
Jadi, ada pernah tuh orang yang bilang ilmu yang mau nanti saya pelajari itu sulitnya macam-macam. Nada bicaranya seolah ingin saya menjudge ilmu tersebut sulit dan harus ditakuti. Tapi, pas ditanya, apakah dia pernah pelajari? Ternyata, nggak. Dengar dari orang juga. Sampai pada ujungnya, orang yang dinukil ternyata tidak mempelajari. Jadi, saya dengan orang itu sebenarnya sama-sama tidak tahu. Bedanya, satunya berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui.
Sejak kejadian itu, saya selalu skeptis atau ragu kalau ada stigma atau judge seperti itu. Dan saya berpikir begini, mungkin tidak ada ilmu yang menakutkan. Tapi, ada saja orang-orang yang mendikte kita agar takut mempelajari ilmu itu sehingga diamini oleh orang lain yang langsung menerimanya dan diulang-ulang sehingga dikira sebagai suatu kebenaran. Tapi, kita sepakatnya begini, ilmu itu ada untuk dipelajari. Setelah dipelajari kita amalkan dalam kehidupan. Setelah itu lahirlah manfaat baru yang buahnya bisa kita nikmati dan orang lain. Sesimpel ini sebenarnya.
Tapi, gimana kalau pakarnya yang langsung bilang susah? Ya seperti yang saya bilang di atas, mungkin bagi pakar ini sulit, tapi kita tidak tahu apakah kita akan beruntung dan akan mendapatkan kemudahan kan? Kalaupun kita mendapatkan kesulitan, seharusnya kesulitan itu menjadi alasan kita untuk belajar (ini kalau sesuai minat ya). Kenapa? Kita belajar karena kita tidak tahu dan ingin tahu. Dan bisa saja sulit itu hanya terjadi di proses, berubah saat kita sudah paham (ini melihat kecerdasan yang kita terus berkembang).
Oh iya, “sulit” ini memiliki beberapa maksud dan konteks yang beda; 1) Sukar untuk dipahami. 2) Proses yang ribet. 3) Keduanya. Ini sama-sama bisa dibungkus dengan kata “sulit”. Kalau yang pertama itu, bicara tentang proses. Kedua juga proses. Biasanya orang ketika bilang sulit, ini yang dimaksud. Saya tidak tahu kalau ada yang lain.
Ibaratnya, ada sebuah jalan yang penuh ranjau dan rintangan untuk sampai ke suatu tempat. Juga perjalanannya panjang. Ketika kita jalan, kita akan menghadapi satu demi satu kesulitan itu sampai akhirnya tiba di tujuan. Ketika kita tiba di tujuan itu, kesulitan yang ada di jalan itu hanya tinggal cerita yang sangat berkesan dan sulit hilang dari ingatan. Ketika bekasnya benar-benar dalam, akan sulit kita lupakan. Apalagi kalau kita sering mengenang perjalanan itu, maka dia akan merasuki tindakan alam bawah sadar kita yang nantinya akan melahirkan tindakan-tindakan yang berkaitan dengannya.
Pada akhirnya, saya tidak lagi merasakan takut untuk mempelajari hal baru. Karena pada dasarnya saya tidak akan tahu apakah nanti menjadi susah atau mudah bagi saya. Kalau ternyata mudah, alhamdulillah. Kalau susah, alhamdulillah juga. Karena dengan kesusahan itu, dia punya potensi melekat yang lebih kuat di ingatan saya.
Namun, semudah apapun jika tidak ada cinta, rasanya akan kering dan seperti tidak ada nyawanya. Tapi, sesulit apapun, jika ada cinta maka seperti memegang bunga mawar yang tangkainya berduri. Mata kita hanya akan tertuju pada bunga mawarnya, bukan pada tangkainya.
Wallahu a’lam.








