Saya memiliki satu mindset yang membuat saya tidak terlalu takut mengenal istilah-istilah aneh dalam tulisan ataupun buku-buku tebal. Saya melihat istilah atau kata sebagai pantulan dari sebuah makna. Sedangkan makna yang ditunjuk oleh kata itulah yang diinginkan dan memang ingin mengirim pemahaman kita ke sana. Kalau di mantik, ini bersinggungan dengan pembahasan dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah.
Kenapa kita merasa asing dengan suatu istilah sebelum memahami? Karena kata yang dibentuk untuk mengemas makna itu adalah sesuatu yang di luar memori kita, tidak kita kenal. Sedangkan makna atau proses pengelolaan informasi itu terjadi di akal kita, sehingga kita akan menjadi familiar dengan makna itu ketika kita paham.
Misalnya saja, saya berikan dua istilah; aksiomatik dan dharuriy. Kalau kita melihat ini sebagai kemasan makna, maka dia itu tampak sebagai dua hal yang berbeda. Tapi, ketika kita telisik lagi, yang diinginkan dari kata “aksiomatik” dan “dharuriy” itu sama. Sama-sama menunjukkan “sesuatu yang tidak membutuhkan penalaran” (mâ lâ yahtâju ila al-ta’ammul).
Atau tarik saja ke dalam konteks bahasa. Dalam bahasa Indonesia, kita akan mengatakan “pulpen” untuk benda yang digunakan menulis di atas kertas yang berisikan tinta (sebagaimana yang kita pahami dari kata “pulpen” itu sendiri). Sedangkan dalam bahasa Arab menyebutnya “قلم” dan bahasa Inggris menyebutnya “Pen“. Padahal yang dituju adalah sesuatu yang sama. Tatkala kita memahami makna dari yang diinginkan kata tersebut, maka istilah-istilah lain yang menunjuk kepada makna yang sama terlihat sama. Kenapa? Karena makna ada tujuan, sementara bahasa atau istilah adalah jalan untuk sampai ke tujuan. Bagaimana ceritanya kita ingin ke jalan menuju tujuan kalau kita sendiri sudah ada di tujuan?
Nah, saya sempat terpikir begini, kenapa kita menggunakan istilah atau yang kita sebut “bahasa” itu (dengan bentuk yang lebih umum)? Karena kita tidak bisa menyampaikan makna sebagaimana adanya (fi nafs al-amr) kepada orang lain. Maka dari itu, kita butuh media, bungkusan, atau perantara lain. Itulah bahasa atau istilah.
Kaum sofis dulu ketika berdebat, bermain-main dengan kata-kata. Sedangkan Socrates datang membantah mereka dengan memperjelas, makna apa yang diinginkan dari kata yang digunakan kaum sofis itu? Di sinilah ada ucapan Socrates yang terkenal “حددوا ألفاظكم” (Perjelas kata-kata kalian!) Supaya makna dapat disatukan, sehingga perdebatan mengalir.
Nah, kisah ini sangat menginspirasi saya bahwa yang inti adalah “makna”. Di bagian-bagian lain, akhirnya saya mendapatkan satu kaidah yang benar-benar mengubah cara saya menanggapi sebuah informasi:
العبرة بالمعنى لا بالألفاظ
Yang dijadikan patokan adalah makna, bukan kata.
Bahkan dalam berdebat, ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh dua pendebat. Salah satunya: “Menyepakati istilah kunci” (Ini dibahas dalam ilmu adab al-bahts wa al-munâzharah/ilmu debat). Misalnya nih, mereka berdebat tentang “Emansipasi wanita”. Tapi, satu orang memahami istilah itu dengan “Kesetaraan hak perempuan dan laki-laki” dan satunya memahami “Pemberontakan perempuan terhadap tabiatnya”. Ini tidak akan ketemu ujungnya, karena sejak awal memang mereka sudah tidak ketemu. Lebih tepatnya, mereka tidak sepakat tentang apa yang dimaksud oleh “Emansipasi wanita”. Akhirnya, makna lagi yang menjadi sorotan.
Sejak saya menggunakan mindset ini, saya tidak gentar jika ditakut-takuti dengan sejumlah istilah atau judul buku yang sekian banyak. Alih-alih gentar, tapi saya akan bertanya dengan nada yang sangat-sangat penasaran dan kadang dengan nada skeptis: “Apa maksudnya? Apa isinya? Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan?”. Saya tidak bisa digertak dengan bahasa apapun. Karena saya akan menanyakan maknanya. Toh, dalam ilmu debat, ada namanya minta penjelasan (istifsâr). Karena yang saya cari “Apa yang kamu ingin katakan?” Bukan seberapa keren yang kamu katakan. Juga, dalam perdebatan itu, yang terjadi adalah tabrakan makna, bukan kata.
Jadi, setiap saya melihat buku tebal, pasti saya akan melihat daftar isinya, karena hanya penasaran, Ini isinya gimana? Pengemasan ilmu ini kayak gimana? Apakah cara membungkusnya beda dengan yang saya lihat kemarin? Apakah bungkusannya lebih spesifik? Semakin buram makna yang tergambar di kepala saya karena istilah asing, maka saya semakin penasaran. Ini yang membuat saya juga mudah bersahabat dengan buku tebal. Toh, saya hanya ingin tahu.
Kalau bahasanya anak-anak muda: “Jangan nilai buku dari covernya” karena covernya buku adalah “pakaian” dari buku. Sebagaimana sebuah kata adalah “pakaian” dari sebuah makna.
Wallahu a’lam








