• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Tulisan Umum

Baca Banyak atau Paham Banyak?

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
7 Juli 2022
in Tulisan Umum
Waktu Baca: 4 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Ada sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seseorang, “Baca banyak tapi paham sedikit atau baca sedikit tapi paham banyak?”. Tentu kita akan sepakat jika berkata “Paham banyak dan baca banyak”. Tapi, titik tengkarnya (mahall al-niza’)-nya bukan itu. Titik tengkarnya: Paham banyak atau baca banyak (dulu).

Di sini ada dua kata kunci yang akan sama-sama kita uji dampaknya dan ini akan menentukan jawaban mana yang akan saya pilih, yakni “baca” dan “paham”. Apa itu baca? Apa itu paham? Ini sangat penting untuk kita bedah.

Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan apa yang ada dalam hati). Ini definisi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di sini ada dua poin yang krusial “melihat” dan “memahami”. Ketika kita melihat sesuatu, maka kita akan mengetahui keberadaan sesuatu itu. Kita melihat huruf atau sesuatu yang tertulis, maka kita tahu akan keberadaan sesuatu yang tertulis itu. Apakah kita memahami dengan melihatnya saja? Belum tentu. Tapi, bukannya ada kata “memahami” dalam kata “membaca” ini? Iya, benar. Tapi, memahami, belum tentu sudah sampai pada status paham. Anda (sedang) memahami perasaan pasangan Anda, belum tentu Anda paham. Sebab, kata “memahami” di sini, menunjukkan proses untuk sampai kepada paham. Anda dikatakan paham jika sudah melewati proses memahami itu.

Adapun paham, itu berarti Anda sudah mengerti dengan benar sesuatu yang tertulis itu, tidak sekedar membaca saja. Anda tahu dengan betul makna seperti apa yang ada dalam tulisan itu, Anda tahu dengan benar, apa yang diinginkan oleh sang penulis. Itulah paham. Paham tingkatannya lebih di atas daripada membaca. Tentu ini klaim, membutuhkan bukti. Kenapa bisa paham lebih tinggi? Ingatlah, bahwa tingkah laku kita berasal dari pikiran. Semakin banyak yang kita pahami, semakin banyak pula yang mempengaruhi pikiran kita. Semakin banyak yang mempengaruhi pikiran kita, semakin banyak pula yang mempengaruhi perbuatan kita. Bukankah ini tujuan dari membaca itu?

Saya dulunya berada di tim banyak baca, bukan paham banyak. Yang melatarbelakangi saya adalah adanya dorongan dari berbagai influencer di media sosial bahwa warga Indonesia itu kurang banyak bacanya. Terus ada kesimpulan, harus banyak baca. Akhirnya, saya meng-iya-kan provokasi itu. Sebenarnya, niat dari mereka itu baik, tapi bukankah kadang-kadang bacaan membuat kita keliru sebab cara untuk pahamnya bermasalah? Ada banyak kok yang mau banyak baca tapi ketika mau menetapkan hukum Islam, dia malahan memakai terjemahan Al-Qur’an dan Hadis. Ini membaca juga, tapi salah dalam memahami. Akhirnya, saya ragu dengan “banyak baca” ini. Sebab, saya melihat implikasi buruk semacam ini.

Semakin ke sini, saya bertemu dengan guru-guru yang sudah jauh-jauh hari mendapatkan apa yang saya cari: Banyak paham. Contohnya Syekh Husam Ramadhan, Syekh Salim Abu ‘Ashiy, dan beberapa guru-guru di Al-Azhar lainnya itu mengajarkan kita untuk banyak paham dari bacaan yang sedikit itu. Belum lagi, bacaan sedikit itu adalah tulisan ulama yang isinya padat informasi tanpa bermuluk-muluk dalam melontarkan diksi. Maka tidak mengherankan orang yang benar-benar belajar kepada guru-guru seperti itu bacaannya mungkin tidak wow untuk porsi membentuk akal, tapi dia bisa jadi “manusia super” yang bisa menyelesaikan banyak masalah. Karena sekali lagi, yang terpenting bagaimana belajar itu berefek kepada kehidupan kita.

Sebaliknya, ada yang banyak baca. Tapi, dari bacaan yang banyak itu justru membuat dia jatuh dalam jurang kesesatan. Mana lagi yang dibaca adalah buku berat, belum paham metodologi dan epistemologi pemikir yang dibaca. Hampir setiap hari, saya melihat di layar kaya media sosial ada orang yang sudah doktor tapi cara berpikirnya rapuh dan argumen yang didatangkan itu cacat. Padahal, bacaannya banyak. Sudah ada istilah-istilah ilmiah yang kesannya ingin membuat lawan jatuh mental, padahal itu hanya trik retoris saja, tidak membawa kepada kebenaran.

Ada bahkan yang menuduh agama Islam itu hanya sebatas dogma karena bacaannya dari orang yang kontra dengan agama. Ya, penulis-penulis itu melihat agama sama saja, mau itu Islam, Kristen, dan lain sebagainya. Saya tidak tahu, apakah mereka itu tidak pernah tahu kalau Islam itu punya mantik, maqulat, adab al-bahts, dan ilmu kalam yang sangat kental dengan akal? Kenyataan yang saya lihat, justru membuat saya ingin berkata sebaliknya, mereka yang mengatakan agama Islam dogma sebenarnya terperangkap oleh dogma penulis-penulis yang berkata demikian. Buktinya, kenyataannya berbeda dari yang mereka klaim. Bukankah ini juga karena bacaan tanpa adanya bekal berpikir kritis?

Padahal, prinsip membaca itu menimbang. Bukan untuk diterima secara mentah-mentah, bukan juga menolak mentah-mentah. Belum lagi melihat metode membaca. Metode yang saya maksud, tidak terbatas pada cara atau trik tertentu dalam membaca. Tapi, lebih kepada cara memahami. Saya berikan contoh saja, silahkan buka buku Filsafat Islam karya Prof. Dr. Sirajuddin Zar. Kalau Anda tidak pernah mempelajari cara filusuf Islam berpikir dan istilah-istilah mereka dalam karyanya, saya yakin seyakin-yakinnya, Anda tidak akan memahami buku tersebut. Sebab, itu serat dengan istilah-istilah filsafat.

Misalnya lagi, ketika filusuf seperti Ibnu Sina mengatakan “Akal Sepuluh” dalam membuktikan keberadaan tuhan. Apa yang terlintas di kepala orang? Apakah akan membayangkan ada sepuluh bentuk akal? Sepuluh jenis akal? Atau seperti apa? Padahal, “akal” sendiri menurut kacamata filusuf, berbeda dengan “akal” yang sering kita pakai dalam percakapan sehari-hari. Apalagi ketika filusuf mengatakan “Allah adalah akal”. Kalau kita lihat sudut pandang mereka, akal adalah sesuatu yang non-materi. Bagaimana kita bisa memahami itu? Dari belajar metodologi. Entah metodologi mazhab, pemikiran, tokoh, dan lain sebagainya.

Tapi, coba bayangkan jika ada orang yang bermazhab banyak baca tadi ternyata ketemu buku-buku seperti itu? Belum lagi kalau ketemu dengan buku-buku yang bercorak komparatif. Akan bingung sendiri jadinya. Ini seperti orang yang mencoba membaca buku perbandingan aliran tapi tidak mengerti cara berpikir dan istilah yang dipakai oleh aliran yang bersangkutan. Akan pusing sendiri. Akhirnya, untuk mendapatkan apa yang menjadi inti dari belajar tadi adalah mulai dari memahami untuk melangkah ke yang lebih luas.

Melihat kenyataan yang seperti itu, saya agak skeptis dan tidak terlalu kagum melihat orang yang banyak baca. Saya bukan su’udzan atau apa. Sebab, semakin banyak bacaan, semakin butuh pemahaman yang dalam. Bacaan ini terbatas bacaan yang butuh pemahaman seperti buku ilmiah. Skeptisnya saya adalah “Apakah orang ini paham yang dia baca?”. Kalau tidak, maka dia hanya menghabiskan waktu di membaca, tidak mendapatkan apa-apa dari bacaannya. Saya malahan percaya dengan orang-orang yang belajar dengan sistem yang tertata rapi. Ini juga yang membuat saya percaya Al-Azhar, karena memang sistem yang disusun tujuannya membentuk cara berpikir pelajarnya. Dengan kata lain, membuat paham para pelajarnya. Ini benar-benar mengutamakan kualitas belajar.

Adapun membaca secara mandiri baru bisa dilakukan ketika pelajaran yang wajib sudah selesai di talaqqi. Sebab, di sana kunci untuk membaca sendiri, sudah kita miliki. Bahkan Syekh Salim Abu ‘Ashiy pernah mengatakan bahwa kemampuan untuk membaca mandiri (memahami bacaan secara mandiri) bukan bawaan lahir, dia butuh kunci, yakni belajar lewat majelis.

Jadi, kalau ditanya, pilih paham banyak atau baca banyak? Saya akan berkata paham banyak. Karena paham itulah yang memberikan dampak dalam hidup. Sedangkan kalau kita membaca tanpa paham, tidak ada dampak yang diberikan. Ini menunjukkan paham terhadap sesuatu memiliki nilai dan kualitas lebih tinggi dibandingkan sekedar baca.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

Pentingnya Kata Kunci

Artikel Selanjutnya

Penista Agama yang Sesungguhnya

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Penista Agama yang Sesungguhnya

Penista Agama yang Sesungguhnya

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.