“Saya sebaiknya lanjut sekolah di mana?” Tanya adik saya seputar kelanjutan sekolahnya. Saya kemudian memberikan dia pilihan, apakah dia ingin asrama atau hanya cukup hidup di luar asrama? Jawaban pertama yang dia berikan adalah asrama. Ketika dia melontarkan jawaban itu, saya kemudian memberikan dia pertimbangan, dengan cara memberikan sisi positif dan negatif pilihan seperti itu menurut apa adanya. Setelah dia mengetahui sisi negatif dari pilihannya, dia kemudian menarik pilihannya. Jadi, pilihannya tersisa satu; sekolah non-asrama. Saya juga memberikan pertimbangan yang sama persis, ada positif, ada juga negatifnya. Alhasil, dia bingung dengan keputusan yang ada di depannya.
Saya memiliki satu maksud memberikan dia pertimbangan demikian; melatihnya mengambil keputusan, walau itu hanya keputusan kecil. Saya juga memberitahu kalau itu masih keputusan kecil, suatu saat ada keputusan besar yang tidak hanya melibatkan dirinya, tapi mungkin kedua orang tua dan mungkin saya juga akan terlibat.
Pada dasarnya, dalam hidup itu tidak ada yang namanya sempurna. Hal yang sama dikatakan Plato dalam idea-nya, bahwa keberadaan sesuatu di alam semesta adalah bukti ketidaksempurnaannya, semuanya memiliki sisi negatifnya. Karena kalau kita mencari sesuatu yang sempurna di alam semesta, kita tidak akan pernah menemukannya.
Salah satu hal yang menarik bagi saya dari dalam fikih adalah masalah jual beli, lebih tepatnya ijab dan kabul. Secara sekilas, ijab bisa diartikan sebagai ‘afirmasi’ atau ‘meng-iya-kan’. Sedangkan kabul adalah ‘menerima’. Kenapa harus ijab dan kabul? Karena seolah-olah ada isyarat bahwa setelah kita yakin dengan pilihan kita, maka kita siap dengan segala risiko dengan pilihan kita.
Ketika kita belanja di pasar, kita pastinya membeli barang. Tapi, di saat yang sama, kita juga sepakat bahwa barang yang kita beli itu adalah barang yang tidak lepas dari kekurangan. Maka dari itu, kita harus menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada barang itu, di samping kita menerima barang yang kita pilih itu.
Begitu juga ketika memilih calon pasangan untuk menemani merawat rumah tangga. Ketika kita sudah melakukan ijab dan kabul, maka bukan hanya pasangan itu yang kita terima, tapi kita juga menerima segala kelebihan dan kekurangan yang terkandung di dalamnya, entah itu cerewetnya, cengengnya, dan segala tingkah lakunya.
Perlu kita tahu, bahwa untuk menerima kelebihan dan kekurangan, maka yang paling pertama kita harus lakukan adalah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari sesuatu itu. Tidak mentah-mentah memilih. Setelah kita mengetahui, barulah kita bisa memutuskan untuk menolak atau menerima. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh ulama mantik, bahwa untuk menerima atau menghukumi sesuatu, semuanya dimulai dari mengetahui terlebih dahulu.
Perlukah mengetahui kekurangan? Jawabannya, iya. Karena adakalanya kekurangan itu bukan untuk dihindari, tapi untuk diterima. Setiap realitas kita memiliki sisi kurangnya, maka kita harus menerima dan menjalaninya. Memang benar kekurangan itu adalah sisi negatif atau bagian yang semestinya kita hindari, tapi dia adalah sesuatu yang niscaya. Maka yang kita bisa lakukan adalah memilih sesuatu yang sisi kurangnya itu minim. Jika kita menolak kekurangan secara mutlak, maka kita tidak akan pernah menerima apapun di alam semesta ini.
Ketika kita tarik ke dalam dimensi kehidupan, maka kita akan menemukan bahwa sebetulnya kita berijab kabul dengan kehidupan. Kenapa? Karena setiap detik, setiap tarikan nafas, dan setiap detak jantung, ada kenyataan yang harus kita terima. Setiap kenyataan itu mengandung kelebihan dan kekurangan. Tak terkecuali keputusan yang kita pilih. Di sinilah kita berijab kabul dan harus ‘mengijab’ dan ‘mengkabul’ dengan hidup.
Karena realitas adalah sesuatu yang tidak terlepas dari cacat, maka dari itu bisa dikatakan kita juga mengorbankan sesuatu dalam hidup, sekecil apapun itu. Entah itu tenaga untuk berjalan kaki, tenaga untuk berpikir, perasaan yang diliputi kesedihan, dan lain sebagainya. Itulah ijab kabul, bukan hanya tentang bagaimana kita menerima, tapi tentang bagaimana kita bertanggung jawab dan berkorban. Dan itu menjadi konsekuensi dari kehidupan kita.
Wallahu a’lam








