Kita telah membahas seputar dalalah yang akan mengantarkan kita untuk memahami jantung ilmu mantik. Sekarang, kita masuk ke pembahasan baru, yaitu lafaz. Kalau kita melihat lagi pembahasan sebelumnya, ilmu mantik ini lebih fokus kepada menata cara berpikir manusia. Tapi apa kaitannya dengan lafaz?
Ikhwan Al-Shafa pernah mengatakan: “Makna yang terkandung dalam lafaz itu, laksana ruh. Sedangkan lafaznya seperti jasad. Tatkala ada lafaz tanpa makna, maka ia seperti jasad tanpa ruh. Sedangkan jika ada makna tanpa lafaz, maka itu ibarat ruh tanpa jasad“.
Artinya, tidak mungkin seseorang mengeskpresikan isi pikirannya kepada orang lain dengan jelas. Karena lafaz merupakan media berpikir, maka sangat wajar lafaz ini dimasukkan ke dalam ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah berpikir.
Kita tidak akan mampu berpikir dengan benar kecuali jika lafaz dan tata penggunaan istilah itu yang kita gunakan itu tepat dan benar. Umumnya, orang-orang yang kacau cara berpikirnya itu, karena tak mampu memahami makna dari lafaz-lafaz yang mereka gunakan.
Karena masalah seperti itulah, para ahli memasukkan pembahasan lafaz dan macam-macamnya. Dan yang perlu kita ingat, fokus lafaz dalam ilmu mantik itu, beda dengan fokus lafaz yang ada dalam ilmu bahasa atau yang kerap kita dapati di ilmu nahwu.
Lalu di mana peran lafaz ini? Kita bisa menemukannya ketika kita sudah masuk ke dalam pembahasan kulliyyat al-khamsah dan ta’rif. Kita tidak akan bisa memahami kulliyyat al-khamsah, kecuali jika sudah memahami perbedaan antara kulliy dan juz’iy, mufrad dan murakkab, dan lain-lain.
Apa saja pembagiannya? Ulasannya berikut ini.

- 𝑴𝒖𝒇𝒓𝒂𝒅 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒖𝒓𝒂𝒌𝒌𝒂𝒃
Sebelum masuk ke definisi, perlu diperhatikan sekali lagi bahwa mufrad dan murakkab ini, berbeda dengan lafaz yang ada di ilmu nahwu. Misalnya, kata المسلمات. Dalam ilmu nahwu, dia dikategorikan dengan jama’ mu’annats sâlim. Sedangkan di ilmu mantik, lafaz tersebut dianggap mufrad.
Misalnya lagi, kata غلام زيد. Itu berbentuk murakkab kalau pakai sudut pandang ilmu nahwu. Sedangkan ilmu mantik, masih menggolongkannya sebagai mufrad. Mengapa? Sekali lagi, sudut pandangnya beda.
- 𝑴𝒖𝒇𝒓𝒂𝒅
Dalam sudut pandang ilmu mantik, definisi mufrad ini:
ما لا يدلّ جزؤه على جزء معناه دلالة مقصود
“Lafaz yang bagiannya, tidak menunjukkan sebagian makna dan petunjuk yang dimaksud”.
Lebih gamblangnya, lafaz yang bagian-bagian pembentuknya, baik itu huruf ataupun kata, tidak menunjukkan makna dan penunjukan yang dimaksud. Tapi sebelum itu, kita sebelumnya juga sudah bersentuhan dengan kull dan ajza’, ini sangat berkaitan dengan lafaz ini.
Misalnya kata زيد. Kata زيد terdiri dari tiga huruf, ز, ي, dan د. Sebagaimana meja yang terdiri dari beberapa bagian seperti papan, kaki meja, dan lain-lain. Begitu pula kata زيد. Sudah juga dikatakan bahwa “Juz dari kata tersebut itu, tidak menunjukkan sebagian dari makna kata itu sendiri“.
Apakah huruf-huruf za, ya, dan dal ini menunjukkan sebagian dari makna Zaid yang kita maksud? Tentu tidak. Ketiga huruf tersebut “jika dipecah” tidak menunjukkan makna dan penunjukan yang dimaksud, seperti itulah ciri khas mufrad dalam ilmu mantik. Sekali lagi, bagian-bagiannya itu -secara terpisah- tidak menunjukkan makna. Bagian-bagian inilah disebut juz atau ajza’. Sedangkan ketika bersatu (menjadi kull), maka menunjukkan makna dan penunjukannya sesuai dengan yang kita maksud.
Kalau dalam nahwu dan ilmu mantik, itu memang sama-sama mufrad. Namun, adakalanya juga ilmu nahwu mengatakan jama’ ataupun murakkab, tapi ilmu mantik tetap mengatakan mufrad. Misalnya, kata عبد الخالق. Kalau diartikan maka menjadi “Hamba Sang Pencipta”. Walaupun dipisah dan masing-masing juz-nya (bagiannya) memberikan makna, tapi “penunjukan yang dimaksud” itu tidak terpenuhi. Mengapa? ‘Abdul Khâliq itu nama orang (yang kita maksud) bukan Hamba Sang Pencipta.

Karena bagian-baginnya tidak memenuhi syarat ketidakberlakuannya mufrad secara utuh, maka dia tetaplah menjadi mufrad. Karena syarat mufrad-lah yang terpenuhi, yaitu; 1) Juznya tidak menunjukkan sebagian makna. 2) Penunjukannya harus sesuai yang kita maksud.
Misalnya lagi, kata المسلمات. Itu menunjukkan jama’ menurut ilmu nahwu. Sedangkan, ilmu mantik tetap mengatakan kalau itu adalah mufrad. Mengapa? Kembali lagi kepada definisi tersebut, dikatakan kalau jika bagian-bagiannya tidak menunjukkan makna, atau jika bagian-bagian tersebut menunjukkan makna, tapi maknanya tidak sesuai dengan yang kita maksud, maka jadilah ia mufrad. Anda bisa menguji kata ini, sama dengan kata زيد tadi.
Istilahnya sama, tapi mengapa memiliki sudut pandang berbeda? Karena ilmu nahwu dan mantik, memiliki fokus yang berbeda. Ilmu nahwu memiliki fokus terhadap struktur lafaz, sedangkan mantik berfokus kepada makna yang terkandung dalam lafaz. Jadi, ilmu mantik ini tidak ada urusan dengan tata cara membaca kitab. Tapi berurusan dengan makna yang terkandung dalam bacaan itu.
Kemudian, lafaz mufrad ini, memiliki empat jenis:
- Tidak memiliki bagian seperti: alif, ba, ta, dst. Kalaupun Anda mau pecahkan satu huruf itu, bagaimana caranya? Jangan juga dibayangkan huruf-huruf tersebut dipotong-potong layaknya kacang panjang. Dengan kata lain, tidak bisa.
- Memiliki bagian, tapi bagian-bagiannya tidak menunjukkan makna. Seperti: قلم، بحث، مرأة، dan lain sebagainya. Kalau Anda pecahkan, maka masing-masing bagian dari kata itu tidak menunjukkan makna.
- Memiliki bagian, juga bagiannya memiliki makna. Tapi makna yang dikandung bagiannya tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh lafaz. Seperti kata Abdul Khâliq yang penulis contohkan tadi. Memang kata ‘Abd dan Khâliq menunjukkan makna, tapi maksudnya adalah nama orang, bukan Hamba Sang Pencipta secara keseluruhan.
- Memiliki bagian, juga bagian tersebut memiliki makna, dan bagian tersebut menunjukkan sebagian dari makna yang dimaksud, tapi ternyata dalalah–nya, tidak sesuai dengan yang dimaksud. Misalnya, ada orang bernama haiwan nâthiq. Nama itu, terangkai dari kata haiwan dan nathiq.
Dua-duanya menunjukkan makna yang dimaksud, yakni seseorang manusia yang bernama haiwan nathiq. Sekalipun kalimat tersebut menunjukkan sebagian makna yang dimaksud, tapi dalalahnya, bukan itu yang kita maksud. Karena yang kita maksud adalah bukan “hewan berpikir” tapi seseorang yang kebetulan saja namanya haiwan nathiq.
Kemudian lafaz mufrad dari segi penunjukannya, terbagi menjadi beberapa bagian; 1) Kalimah. 2) Isim. 3) Adat. Apa saja maksud dari pembagian-pembagian tersebut? Penjelasannya sebagai berikut.
- 𝑲𝒂𝒍𝒊𝒎𝒂𝒉
اللفظ الذي يدلّ بمدّته على معنى، ويدلّ بهيئته على زمان
“Lafaz yang dengan bagian pembentuknya menunjukkan suatu makna, dan dengan bentuknya menunjukkan keterangan waktu.”
Kalimat dalam ilmu mantik, itu adalah fi’il (kata kerja) dalam ilmu nahwu. Misalnya أكل (akala/makan). Dari kata yang terdiri dari tiga huruf ini, menunjukkan makna, yaitu makan. Dan dengan bentuknya (shighah), ia menunjukkan waktu. Yaitu masa lampau.
- 𝑰𝒔𝒊𝒎
ما يدلّ بمدّته على معنى، وليست له هيئة تدلّ على زمان
“Lafaz yang dengan bagian pembentuknya, menunjukkan suatu makna. Tapi, dia tidak disertai penunjukan terhadap waktu.”
Misalnya, pohon, buah, Ridha, Fathan, Amal, kapak batu, dan lain sebagainya. Ia menunjukkan makna dengan bentuknya (shighah) tapi tidak disertai keterangan waktu.
- 𝑨𝒅𝒂𝒕
اللفظ الذي لا يدلّ على معنى مستقلّ بنفسه
“Lafaz yang tidak menunjukkan makna dengan dirinya sendiri”
Dalam ilmu nahwu, ini disebut dengan harf. Sedangkan dalam ilmu mantik disebut dengan adat. Lafaz-lafaz ini tidak menunjukkan makna dengan dirinya sendiri. Seperti misalnya على, في, dan lain sebagainya itu tidak memiliki memiliki makna. Tapi, bukannya di kamus kita menemukan makna yang terpaut dengan على dan في kan? Sebenarnya, itu hanya untuk memudahkan saja.
Tapi, ketika dikaitkan dengan kata lain seperti kata بيت (rumah), barulah ada maknanya في بيت (di dalam rumah). Terkait proses pemilihan makna yang tepat, ada pembahasan khususnya di ilmu bahasa, kita tidak akan membahasnya di sini.
Ada juga pembagian lain mufrad ini, tapi terlalu panjang kalau mau diuraikan, maka akan dibahas pada tulisan selanjutnya, yaitu mufrad yang ditinjau dari segi kelayakannya untuk diinformasikan.
- 𝑴𝒖𝒓𝒂𝒌𝒌𝒂𝒃
Murakkab ini secara bahasa berarti tersusun. Sedangkan menurut ilmu mantik:
ما يدلّ جزؤه على جزء معناه
“Sesuatu yang bagian-bagiannya itu menunjukkan sebagian makna.”
Seperti saya misalnya mengatakan “Rumah itu baru” kalau dalam bahasa arab البيت جديد. Jika kata rumah dan baru ini dipecah, maka kata rumah dan baru ini sama-sama menghasilkan makna. Dan maknanya itu menunjukkan sebagian dari yang kita maksud.
Kemudian, murakkab ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu: 1) Murakkab Tâm. 2) Murakkab Nâqish.
○ 𝑴𝒖𝒓𝒂𝒌𝒌𝒂𝒃 𝑻â𝒎
اللفظ الذي يقيد السامع جملة مفيدة يحسن السكوت عليها
“Lafaz yang bisa memberikan makna yang jelas dan sempurna kepada pendengar sehingga ia tak perlu lagi bertanya”
Misalnya, ular makan batu, teman saya itu tukang tikung, cinta itu menyengsarakan, dan lain sebagainya. Dalam ilmu nahwu, kita mengenal susunan ini dengan istilah jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah.
Kemudian, murakkab tâm ini, terbagi menjadi dua lagi, yaitu: 1) Tâm khabariy. 2) Tâm insya’iy.
– 𝑻â𝒎 𝑲𝒉𝒂𝒃𝒂𝒓𝒊𝒚
ما يحتمل الصدق والكذب
“Lafaz yang mengandung kemungkinan jujur dan bohong”
Misalnya, kamera itu mahal, dia itu baik, gak apa-apa kok, dan lain sebagainya. Kalimat-kalimat ini, Anda bisa uji apakah jujur atau dusta.
– 𝑻â𝒎 𝑰𝒏𝒔𝒚â’𝒊
ما لا يحتمل الصدق والكذب
“Lafaz yang tidak mengandung kemungkinan jujur atau bohong”.
Misalnya, “Izinkan aku menetap di hatimu”, “Sesetia apa dirimu?”, “Sampaikan salamku kepada orang tuamu ya!”, dan lain-lain sebagainya. Kalimat-kalimat ini Anda tidak bisa uji kemungkinan jujur dan bohongnya karena tidak mengandung kemungkinan jujur dan bohong.
○ 𝑴𝒖𝒓𝒂𝒌𝒌𝒂𝒃 𝑵â𝒒𝒊𝒔𝒉
اللفظ الذي لا يقيد السامع جملة مفيدة يحسن السكوت عليها
“Lafaz yang tidak memberikan makna yang jelas dan sempurna kepada pendengar sehingga ia masih perlu bertanya”
Misalnya, “kamu itu“, “kalau kita menikah nanti“, “sebenarnya“, dan lain-lain sebagainya.
Kalau Anda menemukan kalimat-kalimat seperti itu, tentu Anda akan menunggu lanjutan kalimat tersebut atau orang biasa menyebutnya ngegantung. Meskipun kalimatnya tersusun, tapi ia masih belum memberikan makna secara sempurna, maka dinamailah nâqish (kurang).
Kemudian murakkab nâqish ini, memiliki juga pembagian, yaitu; 1) Taqyidiy. 2) Ghair Taqyidiy.
– 𝑻𝒂𝒒𝒚𝒊𝒅𝒊𝒚
ما كانت الكلمة الثانية فيه قائدا للكلمة الأولى
“Suatu rangkaian kata yang kata keduanya itu, mengikat kata pertama.”
Maksudnya, kata kedua pada suatu lafaz, mengikat cakupan lafaz pertama. Untuk lebih memahaminya, bisa Anda perhatikan melalui contoh-contoh, seperti البيت الجديد، الرجل الجميل، غلام زيد، مغفرة الله, dan lain-lain sebagainya.
Perlu dicatat, kalau kalimat ini mengandung 1) Murakkab washfiy (contoh pertama dan kedua) dan 2) Murakkab idhâfiy (contoh ketiga dan keempat).
– 𝑮𝒉𝒂𝒊𝒓 𝑻𝒂𝒒𝒚𝒊𝒅𝒊𝒚
ما تألف من اسم وأدة
“Kalimat yang terangkai dari kata benda dan adat”
Misalnya, di dalam tas, atas atap, depan rumah, dan lain sebagainya.
Semuanya ini dinamakan nâqish. Mengapa? Karena tidak memberikan makna yang jelas. Dan dari semua ini, yang bisa menjadi tashdiq adalah murakkab tam khabariy, karena hanya itu saja yang bisa diperhitungkan jujur atau tidaknya.
Uraian tentang pembagian lain isim mufrad akan dibahas pada tulisan selanjutnya.
Wallahu a’lam.








