• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Karya Sastra

Rintik Rahasia

Sebuah cerita pendek karya 'el-1992'

el-1992 Oleh el-1992
16 April 2021
in Karya Sastra
Waktu Baca: 10 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

###

Musim hujan 10 tahun lalu,

“Ma… Aku mau hujan-hujanan ya. Fau sama Oji udah nunggu di depan.” Aku berteriak girang meminta izin, atau hanya sekedar memberi tahu. Nyatanya, aku langsung berlari keluar. Menemui dua anak seumuranku yang sudah kuyup diguyur hujan. Kami berlarian lincah di bawah hujan, bergabung bersama teman-teman yang sudah berkumpul di sepetak lahan kosong. Tanah yang becek bukan hal yang perlu dihindari. Itu adalah arena terbaik bermain hujan. Seluncuran tanpa alas apapun.

“Fau, Fi, udahan. Ayok pulang!” Oji berteriak, memanggilku dan Fau yang masih asik bermain air. Aku merengut masam, yang langsung diikuti oleh Fau. “Hujannya masih deras, Kak.” Fau memberi alasan, yang langsung ku setujui dengan anggukan. “Tapi ini udah sore, udah lebih dari satu jam kita main ujan. Lagian bentar lagi Maghrib. Kita perlu bersiap.” Meski masih dengan bibir mengerucut, aku dan Fau tetap mengikuti Oji yang sudah melangkah lebih dulu. Aku berjalan dengan hentakan-hentakan keras, Fau yang paham maksudku langsung ikut menghentakkan kakinya. Oji berbalik, menatap kami berdua kesal. Aku tersenyum licik dalam hati, mungkin akan ada tambahan waktu untuk terus bermain.

“Oke, fine.” Oji berucap, membuatku dan Fau berjingkrak bahagia. “Kita pulang lewat jalan jauh. Balapan. Yang kalah, besok bawa tas kita ke sekolah.” Begitu selesai berkata seperti itu, Oji langsung berlari. Mengambil jalan celah di antara aku dan Fau yang masih bengong mencerna kalimatnya. Seakan tersadar, aku dan Fau segera berteriak keras memanggil Oji yang kini tengah tertawa sambil berlari mundur. Aku dan Fau berlari, berusaha menyusul Oji yang semakin jauh.

GEDEBUM!!

Kini, giliran aku dan Fau yang tertawa keras. Oji terpeleset jatuh, dapat ku lihat rintihannya menahan sakit. Aku iba, meski masih kesal aku tetap maju. Mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. Tarikan tangan Oji terlalu kuat, aku nyaris oleng dibuatnya. Oji, sepertinya benar-benar kesakitan. Aku memandang Fau yang masih setia dengan tawa, mataku memintanya membantu. “Dek, tolong Kakak sini, gih. Kaya Fi ini, lho.” Suara Oji menerjemahkan pintaku dengan jelas. Fau bergerak membantu, meski dengan bibir mengerucut. Kami pulang berangkulan, dengan Oji berjalan di tengah sambil tertatih-tatih. Aku dan Fau masih terus mengomel, mengejek Oji yang terpelesat karena mengerjai kami berdua.

****

Satu hari di kelas 8, 7 tahun lalu,

Bel pulang sekolah berdenting panjang, tanda pelajaran telah usai. Setelah menjawab salam penutup sang guru, aku segera mencangklek tasku di bahu kiri. Kupandang Fau di sampingku, ia malah menempelkan kembali kepalanya di meja. “Fau, ayo pulang.” Ajakku, Fau mengangkat kepala memandangku. “Oji futsal dulu, Fi. Nyuruh kita nunggu lagi.” Paparnya menjelaskan. Aku mengernyit bingung, namun sebelum sempat bertanya, aku dan Fau dikagetkan dengan tas yang dijatuhkan di mejaku.

“Mau nonton, apa nunggu gaje di sini?” Oji yang tiba-tiba muncul, bertanya dengan nada meledek. Baju putih-birunya sudah berganti dengan seragam futsal sekolah. “Napa kudu nunggu sih, Ji. Biasanya kita juga pulang duluan.” Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain, lagaknya sudah mendarah daging bagi masyarakan Indonesia, termasuk diriku. “Ada deh, nanti kalian tau lah.” Oji hanya menjawab begitu, senyum dibibirnya terlihat menyebalkan. “Kalau bosen, nonton aku aja ya, dah.” Oji berlari keluar sambil berteriak. Aku mengacungkan jempol, Fau hanya tersenyum masam.

“Sudah lama sekali ya, sejak SMP ini kali pertama kita hujan-hujanan lagi kan ya.” Suara Oji memecah keheningan di antara kami. Oji selesai futsal terlalu sore, membuat kami memutuskan untuk sholat ashar terlebih dahulu. Dan begitu kembali ke kelas, hujan sudah mengguyur bumi. Aku dan Fau keluar lebih dulu, menampung dengan tangan tetesan air yang jatuh dari atap halaman. Menikmati tetesan air, yang meski terjatuh berkali-kali tetap membawa manfaat. Di tempat manapun hujan dijatuhkan. Renunganku terpecah saat Oji menarik tanganku dan Fau berlari di bawah hujan. Jadilah sekarang, kami di setengah perjalanan pulang. Berjalan kaki dan sesekali berlari di bawah rintik hujan.

Jalanan sepi, sejak tadi hanya ada kami bertiga yang berjalan beriringan. Dengan Oji di depan, menyusul aku dan Fau di baris kedua. “Kalian tahu?” Oji balik badan, pandangannya menengadah, ia masih tetap berjalan mundur. Aku dan Fau terdiam, memilih tak menanggapi ocehan Oji. “Menengadahkan kepala saat hujan, selalu membawa efek menenangkan.” Selesai Oji berucap begitu, aku lantas menengadahkan kepala. Langkahku mandeg, Oji benar. Ini menenangkan, aku memejamkan mata, menanti lanjutan ucapannya. “Pejamkan mata, resapi, dan langitkan doa. Semoga, Tuhan segara mengabulkan”

Aku tersenyum, merapalkan harapan dalam hati juga menikmati tetesan yang menerpa wajah, hingga kudengar bisikan suara Oji meminta maaf tepat di telingaku, jantungku berdegup kencang. Dapat kurasakan ada kain yang melingkupi tubuh. Aku tambah tak berani membuka mata, ketika ku ingat bahwa seragam yang ku pakai hari ini adalah seragam dari sekolah dengan kain yang tipis. Tuhan, sungguh aku malu. Dan mungkin sejak hari itu, aku tak lagi bisa memandang Oji seperti biasa. Ia, bukan lagi hanya seorang sahabat. Ia, bukan lagi hanya sosok kakak bagiku dan Fau. Ia juga sosok remaja lelaki menawan yang mencuri hati.

 

****

Detik-detik perpisahan SMA, 3 tahun lalu,

“Nduk, pulang besok sama Fauziah ya” Aku menghela nafas pasrah, kala Mama masih saja menyuruhku pulang bersama Fau dan Oji. Bukan apa, tapi besok adalah wisuda pondok. Di mana, aku ingin sekali di saksikan oleh orang tuaku. Bukan hal jarang sebenarnya, orang tuaku menjenguk ke pondok tempat kami menempuh jenjang SMA selama 3 tahun, tapi profesi keduanya yang sama-sama terjun di dunia akademik membuat mereka super sibuk di akhir tahun ajaran. Saat pembagian hasil belajar per semester, mereka juga tengah membagi rapot anak didiknya. Bahkan, saat aku wisuda perpisahan, mereka juga tengah me-wisuda muridnya hingga absen di acara wisuda anaknya.

“Gimana?” Begitu kembali ke kamar setelah mengembalikan telepon ke pengurus pondok, Fau sudah menyambutku dengan pertanyaan. Aku menggeleng pelan, Fau paham. Dan langsung memelukku. “Mereka punya waktu sendiri untukmu. It’s ok. Bunda dan Ayah juga orang tuamu. Oke?” Pelukan sahabat selalu menenangkan, bahkan saat tak bersuara sekalipun. Aku mengangguk, tersenyum dan lanjut mengepak semua barang dalam koper.

“Selamat untuk kalian, anak-anakku.” Bunda memelukku dan Fau bersamaan. Oji yang datang bersama Ayah setelah mengusung koper, juga langsung disambut dengan pelukan Bunda hingga membuatnya berkelit menghindar. Aku bisa melihat Fau mencubitnya, membuat Oji akhirnya menerima pelukan Bunda meski dengan bibir mengerucut. Aku dan Ayah hanya tertawa kecil melihatnya. Ayah mengusap kepala kami bertiga bergantian setelah selesai dengan tawa.

“Ayah bangga dengan kalian. Terutama padamu Oji.” Saat berkata begitu, Ayah membawa leher Oji dalam rangkulan. Mengapitnya keras hingga membuat raut wajah Oji tampak kesakitan. “Terus jaga adik-adikmu, ya.” Ucapan Ayah itu, seketika menghentikan tawaku melihat Oji yang pura-pura menderita. Ucapan Ayah, seakan menegaskan posisiku di mata mereka, dan mungkin juga di mata Oji. Aku adalah adik bagi Oji, tak berbeda dengan Fau yang memang saudara kembar Oji.

Sepanjang jalan, aku hanya terdiam melihat jendela. Hanya sesekali menimpali percakapan bila ditanya. Untungnya, mereka tak banyak tanya. Hanya mengira bahwa diamku karena absennya Mama dan Papa di acara wisuda. Sesekali mereka menasihati, bahwa selain orang tua yang harus mengerti keinginan dari anaknya, Sang anak juga harus mengerti kesibukan orang tua. Sungguh, sebenarnya bukan karena itu. Aku hanya merenung tentang jalan cerita asmaraku. Akankah rasa ini terpendam, atau akan ada suratan takdir lain esok nanti. Akankah, Oji melihatku lebih dari sekedar adik yang perlu ia lindungi sedemikian rupa. Aku memandang langit, mendung seperti rasaku sore ini.

“Yah, mampir pantai dong.” Entah mengapa, ada perasaan lebih kala mendengar Oji berujar begitu pada Ayah. Seakan, permintaan Oji tadi merupakan bagian dari usahanya menghiburku. Pantai adalah salah satu tempat favoritku. Selain tetesan air hujan yang menerpa wajah, debur suara ombak yang bersahutan, juga membawa efek menenangkan. Belum lagi, terpaan angin pantai yang menyejukkan. Hanya berdiam di sana saja mampu membuat moodku kembali membaik. Bahkan kini, hanya mendengar Oji meminta pergi ke pantai membuatku diam-diam menarik senyum.

Hujan sudah mengguyur bumi kala Ayah memarkirkan mobilnya beberapa meter di sisi pantai. Kami yang memang bersahabat dengan hujan, tentu tak menyurutkan niat untuk bermain di sisi laut. Aku turun lebih dulu, menunggu Fau dan Oji yang masih menyiapkan baju ganti. Oji berlari riang menerjang hujan, disusul aku dan Fau yang hanya berjalan cepat. Aku terdiam lama di sisi laut, membiarkan hujan dan suara ombak menenangkan pikiran. Setelah beberapa saat, Oji mengajakku dan Fau sedikit maju. Duduk di atas pasir, sembari sesekali merasakan terpaan air laut.

“Fi, Fau, kalian pernah mendengar perintah menangis kala hujan?” Oji bertanya, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan bergantian. Kini, Oji memang duduk di antara aku dan Fau. Aku memilih tetap diam, tak menjawab pertanyaan Oji bahkan meski hanya dengan isyarat anggukan atau gelengan. “Pernah.” Itu Fau yang menjawab. Perhatian Oji kini sempurna pada Fau, “Fau tau apa alasannya?” Aku masih diam, memilih menyimak percakapan dua anak kembar itu. “Biar gak ada orang tau, kan.” Nada Fau terdengar geram di telingaku. Fau dan Oji memang susah sekali akur. “Biasanya memang begitu.” Tanggapan Oji membuatku tersenyum kecil, aku menoleh pada dua bersaudara yang masih bicara. “Tapi Oji, selalu luar biasa.” Itu gumaman kecilku, yang ku harap Oji tak mendengarnya. Oji tiba-tiba meluruskan pandangan. Wajahnya menengadah, bibirnya melengkung tipis.

“Bagiku, selain di sepertiga malam. Waktu mengadu terbaik adalah kala hujan. Saat air mata luruh bersama derasnya hujan, ketika itu pula aku merasakan hangatnya pelukan Tuhan. Di mana Tuhan seakan melingkupiku, menjawab persoalanku, dan memastikan bahwa Tuhan selalu ada untukku, hamba-Nya.” Selesai dengan ucapannya, Oji memandangku yang masih menatapnya. Manik mata kami terkunci selama beberapa saat, sebelum akhirnya kutundukkan pandangan. Beristighfar, juga meluruhkan tangis. Mengeluarkan segala resah dalam hati. Sebuah pelukan terasa begitu hangat merengkuhku. Aku tau ini Fau, aku membalas pelukannya. Kubiarkan tangisku luruh dalam dekapan persaudaraan.

 

***
Hari ini, kala bumi tengah menumpahkan tangis,

Fau baru saja menerima tamu, perutnya tak bisa diajak kompromi. Ia meringkuk lemah di atas dipan. Hujan sedang deras-derasnya, aku dan Oji gamang. Antara berdiam di sini menemani Fau, atau tetap keluar menikmati hujan. Situasi di mana kami bertiga bisa santai berkumpul sudah semakin jarang. Kegiatan perkuliahan tahun ke-3 yang kami jalani, membuat kesibukan kami seringkali berbenturan. Belum lagi, jurusan kami berbeda-beda. Oji mengambil ilmu komunikasi, sekaligus kini tengah menjabat sebagai ketua BEM kampus. Fau yang sejak dulu menyukai dapur, memilih tata boga sebagai hal yang ia tekuni. Dan aku, aku yang saat itu tak punya arah, akhirnya mengikuti jejak Mama-Papa sebagai guru. Masih beruntung bahwa kami masih bernaung di Universitas yang sama. Jadi sesekali, kami bisa mencuri waktu bertemu di jam makan siang.

Sebenarnya, aku dan Fau tergolong masih sering bersama, hanya Oji yang terlalu sibuk dengan kehidupannya. Aku dan Oji, entahlah aku tak lagi mampu mengukur rasa. Terkadang, aku merasa perasaanku tersambut, kala mendapat perhatian lebih darinya. Tapi setelah dipikir lagi, aku masih sadar bahwa perhatian-perhatian itu, juga layak di lakukan oleh seorang kakak. Aku turun ke dapur, hendak mengambil minuman dingin untuk mendinginkan kepala. Hujan, selalu bisa membangkitkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu di ingat kembali.

Baru saja aku hendak kembali ke kamar Fau untuk ikut berbaring, Oji turun dan mengajakku tetap bermain hujan. Fau sudah mengizinkan katanya. Aku mengernyit bingung, selain di posisi mendesak, aku nyaris tak pernah-lagi- pergi berdua dengan Oji. Ilmu yang kami miliki memberitahu, bahwa ada batasan-batasan yang membuat interaksiku dan Oji tak sebebas antara Oji dan Fau. Oji tetap keukeh mengajak, ia beralibi bahwa ada hal penting yang harus ia sampaikan. Kami akhirnya keluar, merasakan tetes-tetes air yang jatuh membasahi bumi. Kami berjalan dalam hening, menikmati tiap langkah dibawah hujan. Oji membawaku ke taman yang baru dibangun sekitar 3 tahun lalu. Taman ini, dulunya adalah tanah kosong tempatku, Oji, dan Fau bermain seluncuran kala kecil.

“Fi” Oji memanggilku, sedikit berteriak. Derasnya hujan membuat suara gaduh yang mengganggu pendengaran. Kami kini tengah duduk di kursi taman, di bawah rintik hujan yang melingkupi tubuh basah kami. Aku menoleh, memandang Oji penuh tanya.  “Kau bisa berjanji untukku?” Oji bertanya. Suaranya melemah, namun masih bisa ku dengar  jelas. Aku mengernyit bingung. Ku tatap mimik wajahnya yang meminta jawaban. Aku tersenyum singkat, dan menjawab. “In Syaa Allah”

“Fi..” Panggilan Oji memanjang, bersama sejak kecil membuatku paham maknanya. Ia hanya menerima jawaban ‘iya, aku janji’. Aku masih mempertahankan senyum, ku tengadahkan wajah. Memejamkan mata sembari menikmati tetes air hujan yang terus turun. Nikmat ini tak pernah berubah, selalu membawa efek menenangkan. “Kamu yang selalu mengingatkan kan, Ji. Jangan berjanji tanpa mengatakan In Syaa Allah, kita tak tahu apa yang terjadi esok lusa. Bisa jadi umur kita tak sampai nanti sore” Aku kembali menikmati manik mata Oji yang menyipit bersama air. Ia menghela nafas, menengadahkan kepala.

“Berjanjilah padaku Fi” Pandangan kami kini bersitatap. Manik mata Oji penuh hipnotis, membuatku tanpa sadar mengangguk. Menunggu kata selanjutnya. “Berjanjilah untuk tidak pernah membenci hujan.” Aku mengernyit bingung, pandanganku penuh tanya. Masalah apa yang mengganggu Oji, hingga meminta hal aneh seperti itu. Aku merubah tatapan, tatapan menenangkan. “Hujan selalu menjadi pembawa berita gembira, Ji. Bagiku, kamu, dan Fau. Dan itu tidak akan pernah berubah. Percayalah, Ji.” Aku menjawabnya tenang, tak ingin menerka kata berikutnya yang akan terucap dari mulut Oji.

“Tetesan air hujan, mungkin saja memadamkan nyala api harapan. Tapi di kemudian hari, tetes tetes ini akan menumbuhkan benih yang masih terpendam hari ini. Hujan, bukan tentang apa yang jatuh. Hujan, adalah tentang apa yang akan tumbuh” Oji berucap, tangannya menengadah. Menampung hujan yang terus mengalir turun. Aku masih terdiam, menanti lanjutan mutiaranya.

“Tidak semua harapan yang berakhir mengecewakan, akan menghancurkan jiwa, tidak pula merugikannya. Kau harus selalu ingat itu, Fi.” Oji kembali menjeda kalimatnya. Aku mulai berusaha menerka arah pembahasan. Perasaanku mulai gundah. Aku menatap Oji lekat, menuntut penjelasan.

“Salah satu kaidah kehidupan di dunia, bahwa segala sesuatu tidaklah berakhir, kecuali ada hal lain yang bermula. Dan mungkin saja, hal itu lebih baik, lebih indah, dan lebih bermakna.” Oji kini menatapku lekat, pandanganku masih menuntut penjelasan. Deras hujan mulai berkurang, menyisakan rintik-rintik gerimis. Hening masih menjadi teman kami, Oji masih belum membuka suara lagi.

“Kamu ingin bilang apa sih, Ji” Aku tak bisa menyembunyikan kesal. Oji masih saja memilih diam, sebelum meluruskan pandangan. “Kamu nggak pernah merasa aneh, Fi?” Oji masih terus memutarkan pembicaraan. Membuat terkaanku semakin tak karuan. “Ji, kamu yang aneh tau. Yang jelas, sih. Aku bingung ini, lho!” Susah mengatur nada marahku untuk masih biasa saja, apalagi tuntutan bersuara keras. Membuat perkataanku tadi seakan kemarahan besar pada Oji. Ia menghela nafas berat, entah kenapa hatiku berdetak tak karuan. Seakan bersiap menerima berita terburuk yang akan keluar dari mulut Oji.

“Orang tua kita bukan orang bodoh, Fi.” Sungguh, meski aku ingin sekali menanggapi Oji, tapi aku memilih diam, menanti dengan setia rangkaian kalimat yang akan Oji katakan. “Aku berkali-kali diperingati untuk menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis, tapi aku juga selalu diingatkan untuk terus menjagamu, juga Fau tentunya. Kukira, itu kerena hubungan baik orang tua kita, juga pertemanan kita yang terjalin sejak bayi.” Dalam hati aku meng-iyakan. Sekali, aku pernah pulang bersama rombongan kelompok presentasi menggunakan mobil salah satu teman lelakiku dan Mama-Papa langsung menerorku untuk menjaga pergaulan. Padahal, aku juga tak sekali pulang atau berangkat bersama Oji, hanya berdua.

“Semua semakin terasa aneh kala kita mondok. Setiap kali Fi dijenguk, bukan hanya Fau yang diizinkan bertemu, tapi aku juga. Padahal Fi tau sendiri kan, betapa ketatnya pondok menjaga santri putra dan putri agar tak bertemu.” Benar, semua yang Oji katakan benar. Aku mulai menerka lebih jauh, sembari berkali-kali menangkal apa yang kupikirkan. Entah kenapa, mataku mulai panas. Seakan ada hal yang tertahan hendak keluar.

“Kita sudah bukan remaja, Fi. Dan aku tak buta, banyak hal yang berbeda di antara kita. Ya, kan?” Jantungku, sungguh detakan ini terlalu bertalu-talu. Oji tahu, oji tahu tatapan kagumku padanya. Oji tahu semuanya. “Dan entah mengapa, aku juga berharap Fi tak buta. Bahwa Fi tak sendirian.” Aku menutup mata, sungguh ini diluar nalar. Perhatian-perhatian itu, memang bukan perhatian seorang kakak. Tapi, aku menahan diri untuk bergembira. Aku tahu, ada hal yang belum Oji sampaikan.

“Tapi Fi, tadi malam aku tahu, hal sepatutnya kita ketahui dari jauh hari.” Aku tak mungkin salah melihat, punggung Oji bergetar. Isaknya terdengar, aku tak tahu sejak kapan ia menangis. Air matanya tersamarkan hujan, tapi melihatnya begini membuatku tak lagi bisa menahan tangis. Sungguh Ya Tuhan, aku benar-benar tak siap mendengar kalimat Oji selanjutnya.

Isakanku benar-benar tak lagi bisa ku bendung saat sebuah lengan menarikku mendekat. Oji memelukku, menempatkan kepalaku di dadanya. Tangisku luruh, saat mendengar Oji berbisik lirih di telingaku, “Kita sepersusuan, Fi. Kamu mahromku.” Untuk kedua kalinya, aku menangis di bawah hujan dalam pelukan persaudaran. Bedanya, pelukan ini menyesakkan. Ya Tuhan, ternyata ada yang lebih menyakitkan dibanding cinta yang terhalang ridho orang tua, waktu masih bisa merubah segalanya. Tapi cinta yang tertentang ketetapan Tuhan, sungguh waktu yang telah berlalu tak mungkin bisa diulang kembali. Aku hanya meminta, bersama harap yang berakhir kini, ada asa yang tengah tumbuh, entah di belahan bumi mana.

Tags: ceritacerpenhujanquote
Artikel Sebelumnya

Dalalah Bagian Pertama

Artikel Selanjutnya

Dalalah Bagian Kedua

el-1992

el-1992

Lahir di ujung barat Cilacap pada 19 September 2002. Sekitar 11 tahun kemudian pada 2013, ia lulus dari MI Ma'arif 01 Layansari untuk kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya, MTs N 1 Kebumen hingga lulus di tahun 2016. Pengembaraannya berlanjut hingga Solo saat bergabung dengan keluarga besar MAPK (Madrasah Aliyah Program Keagamaan) Solo. Universitas impiannya ada Universitas al-Azhar Mesir yang masih terus ia usahakan hingga kini.   Beberapa kali, tulisannya masuk di buku antologi menulis bersama yang diadakan oleh berbagai instansi. Berminat pada buku-buku fiksi seperti novel, kumcer, dan puisi. Buku non-fiksi yang ingin ia baca berkisar pada buku wawasan keislaman, ke-bahasa arab-an, dan kepenulisan.

Artikel Selanjutnya
Dalalah Bagian Kedua

Dalalah Bagian Kedua

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.