• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Filsafat

Aku dan Mereka, Kita Semua adalah Machiavelli

Ichsan Semma Oleh Ichsan Semma
3 Desember 2023
in Filsafat
Waktu Baca: 8 menit baca
Source: https://www.commonwealmagazine.org/renaissance-machiavelli-0

Source: https://www.commonwealmagazine.org/renaissance-machiavelli-0

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Oleh: Siti Aisyah Bannu

Sore itu aku berjalan menelusuri pasar. Namun, bukan bermiat untuk berbelanja seperti orang-orang pada umumnya. Berjalan sendirian, mengabadikan setiap objek unik yang aku temui di tempat-tempat, memang telah menjadi kebiasaanku setahun belakangan ini. Lensaku tak bisa diam tatkala dihadapkan dengan pemandangan-pemandangan.

Pedagang yang antusias menjajakan dagangannya, ibu-ibu dengan belanjaan penuh di tangan yang masih berusaha menawar barang, anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. Jepret sini jepret sana. Tak jarang pula lensaku mengambil gambar pengemis dari mulai yang tua, anak muda, hingga bocah seumuran 10 tahun yang sedang mengharap belas kasih tuhan melalui orang yang lewat.

Akan tetapi, jepretanku terhenti tatkala sorotan kamera tak sengaja mengenai wajah seorang pria berumur. Ia sedang duduk pada kursi kayu di pinggir jalan. Raut wajahnya yang tegas, hidung mancung, rambut yang tersisir rapi seolah baru saja digarap sisir, dan sepuntung rokok yang masih menyala di tangan kanan. Pandangan pria itu mengarah kepadaku. Air wajahnya memberikan kesan menakutkan. Dengan perasaan bersalah aku memberanikan diri mendekat, berniat untuk meminta maaf karena merasa ia tersinggung dan menganggapku tak sopan sebab mengambil gambar tanpa izin.

Aku yang sudah siap jika nanti mendapat respons tak baik oleh pria itu terkejut ketika mendapati raut wajahnya berubah cerah. Bahkan sebelum kakiku sampai di hadapannya, ia sudah tersenyum ramah kepadaku.

“Santai saja, tak masalah,” ucapnya, kemudian  menyodorkan kursi di dekatnya untuk aku duduk, lalu memberi kode kepada seorang pemuda yang tengah sibuk membuat minuman. Mendapat respons baik membuat aku enggan untuk menolak tawaran dari pria ini. Sepertinya dia juga bukan orang jahat, batinku.

Beberapa menit berlalu, percakapan kami hanya sebatas percakapan ringan. Hingga sifatnya yang ramah membuatku terbawa, aku yang aslinya memang senang bertanya, jadi ingin terus melakukannya. Dan sepertinya dia pun senang bercerita. Beberapa pertanyaan seringkali membawanya berkisah tentang kehidupannya. Bagaimana arus membawa ia berjalan hingga sampai ke titik ini.

Mulai dari ia menata karir dan mencari jati dirinya. Siapa sangka, di masa mudanya ia pernah mendapatkan posisi yang kuat dalam pemerintahan, terlibat dalam politik dan menjalin kontak dengan seorang bangsawan tinggi kota. Namanya pernah diagung-agungkan oleh masyarakat. Ia juga pernah dibenci sampai pada tahap digulingkan oleh pembesar-pembesar pemerintahan di zaman itu. Hingga membawanya mencicipi pahit manisnya penjara karena tak sejalan dengan pemerintah.  Aku sendiri sebenarnya tak begitu percaya, tapi melihat ia bercerita seperti seolah sedang berada di masa itu. sangat sulit untuk menyatakan keraguan.

Bagaimana tidak? Semua yang ia ceritakan begitu detail, sampai pada nama tokoh, kota, dan tahun-tahun kejadiannya. Mulai dari saat ia menjalin kontak sebagai pengamat jeli dengan bangsawan tinggi kota Valentino Italia, Cesare Borgia 1475-1507 yang saat itu berambisi menaklukkan paus Julius II. Hingga hancurnya karir politiknya saat kota yang ia tempati, Florence, dikuasai keluarga musuhnya, Medici pada tahun 1512. Ia dijebloskan dalam kurungan penjara selama setahun. Disiksa dengan tuduhan konspirasi pada tahun 1513.

Setelah itu, ia memilih menghabiskan hidupnya dengan berkarya. Menulis beberapa buku dan menuangkan segala idenya di sana. Aku mendengar ceritanya dengan mata penuh rasa takjub, pun kalau seandainya memang ia sedang berbohong, setidaknya ia berbohong dengan cara yang berkelas, juga riset yang dalam. Ketika ia menyebutkan karya-karyanya, aku  terbelagak kaget, rasa takjubku pun bertambah. Buku-buku politik II Principe{sang pangeran, terbit 1532} dan Discorsi Sopra la Prima Decawaditito Livio. Ia juga menjadi penulis komedi pada saat itu.

Aku memotong kisahnya,” kamu tau itu karya siapa?” tanyaku tidak percaya.

Alih-alih menjawab pertanyaanku ia malah tertawa dan kembali bertanya balik. ” Memangnya itu karya siapa?”

Dengan cepat aku membuka gawaiku  dan mengetik satu nama di pencaharian google. Deg, sangat persis, batinku.

”Nicollo Machiavelli,” Ia menjawab pertanyaanya sendiri lalu kembali tertawa. Rautnya wajahnya seketika berhenti tatkala ekor matanya yang sedang melirik ke arahku menangkap ekspresiku yang tak bisa diartikan.

”Anak muda, kau tak takut denganku bukan?” Aku kemudian meneguk kopi yang ia sodorkan tadi untuk mengusir jauh-jauh perasaan canggung yang tiba-tiba menyerang.

Nicollo Machiavelli. Nama yang tidak asing lagi untuk seorang aku yang juga senang berselancar dengan buku-buku filsafat. Seorang filsuf yang terkenal dengan pendapatnya yang kontroversial. Mulai dari meletakkan politik di atas agama, juga mengedepankan kekuasaan dari moralitas. Pemikiran-pemikirannya yang frontal dan terkesan terlalu liar ini pun mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak, pun kritik keras baik dari masyarakat awam, juga filsuf-filsuf terkenal di abad itu.

Namun di atas semua itu. jika ditilik lebih dalam dan objektif, kita akan mendapati gagasan-gagasan Machiavelli bukanlah suatu hal yang begitu buruk, dan memiliki dasar pandangan yang juga masuk akal.

Dalam hal beragama misalnya, meskipun menegaskan bahwa negara jangan sampai dikuasai agama ia juga tidak ingin mengatakan bahwa agama tidak penting. Namun, dalam sudut pandang politik yang di mana prioritasnya adalah kenegaraan,  agama tidak bisa dijadikan suatu sentral atas sebuah kekuasaan.  Agama harus ditempatkan  secara mutlak di dalam negara, bukan sebagai dasar dari kebenarannya, tetapi hanya sebagai perekat sosial yang juga memliki kadar fungsional untuk negara itu.

Untuk moralitas sendiri, dalam gagasan Machiavelli hanya dapat diurgensikan sejauh ia berguna untuk kekuasaan. Semuanya tergantung apakah ia berfungsi dalam kekuasaan atau tidak.  Jika keadaan menuntut kekuasaan bertahan dengan moral maka lakukan demikian, begitu juga jika sebaliknya.  Seorang penguasa dalam menjalankan pemerintahan harus bisa realistis. Dalam perang misalnya, dianjurkan untuk memihak kubu yang paling kuat agar mendapatkan bagian maksimal dalam rampasan perang. Tanpa mempertimbangkan benar atau tidaknya kubu yang ia dukung.

Pandangan Machiavelli tentunya sedikit banyak dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang politikus. Ia sendiri memang cenderung memandang semua komponen-komponen kehidupan (seperti agama dan moralitas tadi) dari sudut pandang politik. Maka jika sudah seperti itu, prioritasnya pasti adalah keberlangsungan negara dan kekuasaan itu sendiri, terlepas apakah pandangan itu benar di mata para pemuka agama dan pejuang kemanusiaan.

Keterusterangan gagasannya banyak membuka ketidakjujuran politik dari pergerakan Gereja di masa itu. Akibatnya, pemerintah era itu juga tidak tinggal diam. Banyak fitnah konvensional yang melekat pada namanya dilatari dengan marahnya orang-orang hipokrit yang benci untuk berkata jujur tentang perbutan jahat yang mereka lakukan.

Berkat gagasan-gagasannya juga. Nicollo juga menggaet banyak kebencian dari kalangan bawah. Hampir semua filsuf pada saat itu memberi pendapat yang bersinggungan terhadap pergerakan Gereja. Tetapi Machiavelli, alih-alih ikut memberi pendapat kontra,  malah dengan terus terang mengatakan bahwa cara kerja politik memang demikian.

Tak heran jika ia lalu dibenci dan ditakuti. Fantasi, ide, dan gagasan yang ia berikan terbaca menyimpang dari moral yang dijunjung dan paham-paham yang dianut saat itu. Namun, berhasil menjebol legitimasi kekuasan tradisional.

Hal ini juga diakui oleh Jacob Burckhardt bahwa dalam kemampuannya untuk merekonstruksi sebuah negara, Machiavelli tak ada tandingannya. Meskipun objektivitas poltiknya sewaktu-waktu dapat menjadi mengerikan dalam keterusterangannya. Karena objektivitas itu lahir di zaman yang mana manusia tidak lagi mudah percaya kepada hukum dan tak dapat mengadalkan kemurahan hati.

Pria itu mematikan puntung rokonya yang sudah hampir habis. “Sedang apa kau di sini, saya tak melihat satu pun barang belanjaan di tanganmu?” Dia balik bertanya usai bercerita panjang tentang dirinya.

“Hanya berjalan-jalan saja. Memotret hal-hal unik yang aku temui. Mengisi akhir pekan,” jawabku santai. Dia mengaku heran melihatku, pasalnya dewasa ini ia jarang menemukan anak seumuranku berjalan seorang diri, ditambah lagi di tempat yang terbilang kumuh seperti pasar tradisional.

Medengar itu, aku hanya tersenyum. Melihat dulu aku juga tak terbiasa seperti ini. Berjalan sendrian ke tempat yang sama sekali aku tidak ada keperluan. Dulu aku juga sama seperti orang-orang pada umumnya, berpergian bersama teman, menghabiskan isi tabungan dengan mengunjungi toko-toko yang sedang mengadakan promo besar-besaran.

Seiring bertambahnya usia, pola pikirku pun ikut bertumbuh. Di sinilah aku mulai memilih menarik diri dari kebiasaan lalu. Banyak hal yang dulunya sangat kita gemari menjadi hal yang tak kita senangi. Sesuatu yang amat kita kejar saat ini bisa saja menjadi hal yang paling kita hindari di kemudian hari. Perlahan menarik diri dan memulai kebiasaan baru.

Kepentingan diri menjadi yang nomor satu. Kita adalah penguasa bagi diri kita sendiri. Hal ini sedikit banyak juga selaras dengan gagasan-gagasan yang dibawa oleh Machiavelli. Tentunya dalam ruang lingkup yang lebih personal dan sederhana.

Seorang penguasa wajib melakukan apapun untuk melindungi kekuasaannya. Begitu pula dalam  ruang lingkup individual, setiap indvidu bebas melakukan apapun untuk bertahan atau melindungi diri. Caranya pun beragam, menarik diri misalnya. Seorang yang tak menemukan kenyamanan jika berbaur dengan keramaian, tidak menjadi masalah jika mengikuti rasa egoisnya untuk mengasingkan diri. Meskipun tak sejalan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam prosesnya, kita juga pasti akan menemukan beberapa paham yang bersinggungan. Menolak ajakan teman untuk hangout karena ingin menabung uang, mengatakan tidak pada mereka yang meminta pertolongan karena kita sendiri sedang tidak cukup kukuh. Seperti yang tadi dijelaskan, dalam sudut pandang kekuasaan, prioitasnya adalah eksistensi kekuasaan itu sendiri, moralitas hanya boleh diberi peran tergantung seberapa berfungsinya ia.

Dalam karyanya yang berjudul The Prince, dijelaskan bahwa seorang penguasa akan mati jika dia terus berbuat baik. Ada sebuah bab XVIII yang berjudul “In what day princes must kepp faith”. Kita dijelaskan bahwa penguasa harus menjaga imanmnya ketika memang diperlukan. Itu artinya, ada juga beberapa keadaan di mana si penguasa tidak perlu menjaga, bahkan harus mengingkari keimanannya.

Hanya saja, untuk keperluan eksistensial, dibutuhkan keahlian menipu untuk menyamarkan sikap tersebut agar tetap terlihat layaknya seorang manusia arif. Hal ini juga yang menjadikan pemikiran Machiavelli unik, karena perhatiannya terhadap hal-hal tabu terkait kebohongan dan manipulasi perasaan.

Misalnya, untuk kasus peminjaman uang tadi. Alih-alih menolak secara gamblang dan jujur, yang berpotensi menimbulkan kebencian dari pihak peminjam. Machiavelli lebih menyarankan kita untuk juga menjelaskan betapa sulitnya keadaan kita saat ini, dengan beberapa bumbu fiksi untuk dramatisasi demi menimbulkan rasa prihatin dari si peminjam. Hasilnya mungkin akan sama, uang kita aman. Namun opsi yang ditawarkan Machiavelli dapat meredam efek samping berupa kesenjangan hubungan kita dengan si peminjam untuk ke depannya.

Dalam buku Pemikiran Modern karya Budi Hardiman juga dipaparkan bahwa Machiavelli membenarkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Hal ini memang terkesan kasar karena secara zahir menyimpang dari moral dan jauh dari paham yang khalayak anut. Namun, tanpa kita sadari, paham ini telah dianut hampir dari semua kalangan. Tentu saja dengan pengaplikasian yang berbeda. Kasus peminjaman uang tadi salah satunya.

Dalam kasus lain, bisa kita lihat pada ilustrasi tiga orang yang bersahabat tatkala sedang bersama. Mereka saling tukar cerita, saling rangkul ketika keadaan mengharuskan. Namun, dalam beberapa keadaan,  menjadi sebaliknya saat mereka sedang tidak bersama. Mereka berubah menjadi pengkhianat, dengan jenis pengkhianatan yang beragam, seperti menceritakan keburukan sahabatnya kepada orang lain, atau memang menjelek-jelekkannya. Tujuannya pun banyak, untuk melindungi diri misalnya, bisa juga untuk menjaga  agar tonkrongan tetap seru.

Dari kedua ilustrasi tadi kita bisa membaca, bahwa gagasan Machiavelli yang secara gamblang ditolak dan dianggap menyimpang hingga saat ini sebenarnya tanpa kita sadari telah direalisasikan oleh manusia sekarang. Bahkan, Machiavelli sendiri bisa saja sebenarnya tidak mendatangkan gagasan baru pada saat itu, ia hanya memperlihatkan  apa yang berhasil ia baca dari kehidupan kepada manusia dalam bentuk gagasan. Kejujurannya membuktikan bahwa gagasannya lahir dari sesuatu yang tel;ah ia saksikan dan rasakan.

Dengan ini juga bisa diambil kesimpulan bahwa, meskipun banyak yang beranggapan filsuf Machiavelli penuh dengan ide-ide yang liar dan gila, tidak menghapuskan bahwa kita semua sebenarnya telah menjadi penganut paham itu. tanpa terkecuali mereka yang menolak, sadar atau tidak. Bahkan bisa saja kita adalah sebab lahirnya gagasan ini. Yang mana moralitas hanya berfungsi jika keadaan mengharuskan. Perilaku menyimpang yang kerap dilakukan untuk melindung diri, kekuasaan, bisa saja adalah sifat alamiah. Kita semua sama, hanya saja enggan dan memilih tidak mengenali gagasan yang telah melekat.

Beberapa menit kami sama-sama menikmati diam. Aku yang Tak nyaman dengan suasana seperti ini akhirnya melempar pertanyaan sembarang.

“Bagaimana kau bisa melahirkan ide-ide itu?”

Pria itu menarik nafas panjang. Ia kemudian menceritakan, bagaiman teori-teorinya lahir. Setiap gagasan, ide serta solusi yang ia suarakan saat itu, ia temukan dalam bait-bait kehidupan di zamannya.  Penipuan, pembodohan, kecuarangan dan cara melindungi diri itu bukan karena ide gila dan keegoisaannya sebagai manusia.

Selesai bercerita, pria itu kembali terdiam, aku yang kehabisan pembahasan pun tak punya pilihan lain selain membiarkan kami berdua tenggelam dalam sunyi. Sebelum akhirnya pria itu berdehem, diiringi dengan gestur badannya yang seakan ingin beranjak. Pertanda implisit bahwa pertemuanku dengannya akan segara berakhir. Dia meletakkan secarik kertas di bawah gelas dan beberapa lembar uang untuk membayar minuman tadi.

”Jaga dirimu baik-baik,” ucapnya. Sembari meberikan salam perpisahan. Pertemuan ini tak akan pernah aku lupakan, batinku.

“Nak, Perpustakaan sebentar lagi akan kami tutup.” Entah suara dari mana itu, sepertinya aku mengenalnya. Pemilik suara itu menepuk pundakku beberapa kali. Aku merasakan kepalaku terguncang, suara itu terdengar semakin keras. Aku membuka mataku. Bersamaan dengan pandangan yang kian menjelas, bisa kulihat wajah orang yang membangunkan itu sekarang. Rupanya itu suara bapak penjaga perpustakaan.

Setelah beberapa saat mengerjapkan mata. Aku baru sadar kalau pertemuan tadi hanyalah mimpi. Meski begitu, garis wajah dan suara pria itu seperti benar-benar nyata dan masih sangat jelas dalam ingatan. Pertemuan tadi seperti membawaku berjalan-jalan ke abad pertengahan.  Aku tidak akan pernah melupakannya. Melihat bapak penjaga perputakaan  sudah siap untuk menutu[p ruangan ini, Aku pun bangkit dari duduk. Lalu, mengambil buku Sejarah Filsafat Barat karya Bertrand Russel yang tadi aku baca untuk dikembalikan ke rak buku.

Artikel Sebelumnya

Kulliy Keempat: Khassah

Artikel Selanjutnya

Tuhan Berbahasa Arab?

Ichsan Semma

Ichsan Semma

Artikel Selanjutnya
Tuhan Berbahasa Arab?

Tuhan Berbahasa Arab?

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.