Jika ada persoalan sederhana tapi jawabannya filosofis, maka salah satu isu itu adalah tentang kebahagiaan. Bahkan, kebahagiaan itulah menjadi tujuan hidup kita. Kendati demikian, para filusuf, pemikir, dan sufi, masih mendawamkan persoalan kebahagiaan ini. Apa itu kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu ada? Kalau ada, yang mana kebahagiaan paling hakiki? Apa bedanya kebahagiaan palsu dan asli? Mayoritas ulama dan filusuf muslim menyatakan bahwa kebahagiaan atau nikmat sejati nan hakiki, hanya bisa didapatkan melalui kebahagiaan rohani, bukan jasadi. Karena jasadi hanya kebutuhan saja.
Salah satu eksponen Ahlussunnah wal Jama’ah yang juga digadang-gadang sebagai penerus Imam Al-Ghazali (w. 505 H), Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H) sudah membahas jauh-jauh hari persoalan kebahagiaan ini dalam kitabnya yang bertajuk Kitâb Al-Rȗh wa Al-Nafs wa Syarh Qawwâhumâ fi ‘Ilm Al-Akhlâq dengan genre filsafat moral.
Kitab ini sangat detail membahas perihal kejiwaaan manusia, terkhusus kebahagiaan, cinta, benci, rindu dan lain sebagainya. Kita hanya terbatas pada sebagian konsep kebahagiaan ala beliau, karena ilmu beliau terlalu luas untuk ruang tulisan yang amat sempit ini.
Kebahagiaan dan Kesempurnaan
Imam Fakhruddin Al-Razi, mengistilahkan kebahagiaan dengan al-ladzîdz dalam kitab tersebut, dengan tambahan detail; al-ladzîdz al-rȗhaniy (kelezatan rohani). Sedangkan, pada umumnya para filusuf dan ahli lainnya mengistilahkan kebahagiaan itu dengan al-sa’âdah.
Detail tersebut berangkat dari pemahaman bahwa manusia itu bisa merasakan kelezatan dalam dua aspek; jasmani dan rohani. Kelezatan jasmani itu berupa makan; ketika kita sedang lapar, lalu kita memakan hidangan yang sangat enak, kita akan merasakan kelezatan, minum; ketika kita sedang haus-hausnya, apalagi sedang ditekan dengan musim panas, kemudian meminum air dengan banyak, di sanalah kita merasakan kelezatan dengan hilangnya dahaga itu. Begitu juga “kawin” dengan pasangan, yang tentu sangat dipahami experience-nya bagi yang sudah mencicipi kelezatan itu. Ini juga diistilahkan dengan al-ladzah al-hassâsiy (kelezatan inderawi), karena kita mengetahui kelezatan itu melalui pengalaman inderawi.
Adapun kelezatan rohani, sifatnya abstrak dan universal. Kenikmatan seperti ini tidak didapati melalui makan, minum, dan “kawin”. Kenikmatan seperti ini hanya diperoleh melalui akal. Seperti dengan bertambahnya pengetahuan, kesadaran, moral, dan hal seperti ini, maka di sanalah seseorang akan berjalan menuju kepada kesempurnaan.
Imam Fakhruddin Al-Razi menulis:
وما يكون كمالا يكون لذيذا، إلا أنا سمينا اللذيذ الجسماني باللذة واللذيذ الروحاني بالكمال
“Kesempurnaan itu tidak harus lezat (dengan konotasi hedon), kami menyebut kelezatan jasmani dengan ‘kelezatan’ dan kelezatan rohani dengan ‘kesempurnaan’.” (Fakhruddin Al-Razi, Kitâb Al-Rȗh wa Al-Nafs wa Syarh Qawwâhumâ fi ‘Ilm Al-Akhlâq, Tahkik: Muhammad Shagir Hasan Al-Ma’shumi, Teheran: Princenton University Library, hlm. 20)
Jadi, ketika Imam Fakhruddin Al-Razi menyebut istilah “al-ladzah” (kelezatan), maka orientasinya adalah kelezatan jasmani. Adapun kenikmatan rohani, disebut dengan al-kamâl (kesempurnaan). Karena kelezatan rohani, mengantarkan kepada kesempurnaan dan kebahagiaan sejati.
Kebahagiaan Hakiki dan Sementara
Banyak filusuf yang menulis tentang dua jenis kebahagiaan ini. Kebahagiaan hakiki diistilahkan dengan al-sa’âdah al-kulliyyah (kebahagiaan universal). Diistilahkan demikian karena kenikmatan seperti itu tidak akan habis. Semakin dinikmati oleh manusia, maka dia tidak merasa bosan, tidak juga merasakan titik jenuh. Semakin dimakan, semakin lapar. Semakin diminum, semakin haus. Seperti inilah ciri kenikmatan dan kebahagiaan hakiki.
Misalnya belajar, ini salah satu kenikmatan hakiki. Karena ketika kita semakin belajar, maka kita semakin menyadari ketidaktahuan kita. Semakin kita menyadarinya, keinginan mencarinya semakin besar. Ketika kita memahami sesuatu setelah mencarinya, maka kita akan merasakan kenikmatan. Di saat yang sama, kita akan melihat betapa luasnya hal yang belum kita pelajari. Di sanalah rasa rakus belajar semakin besar. Ini senada dengan nasihat dari para leluhur orang Arab yang terkenal:
العلم ثلاثة أشبار: من دخل في الشبر الأول تكبّر، ومن دخل في الشبر الثاني تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم
“Ilmu itu ada tiga tingkatan; orang yang berada di tingkatan pertama akan sombong, di tingkatan kedua akan rendah hati, sementara di tingkatan ketiga, dia akan mengetahui bahwa dia tidak mengetahui apapun!” (Al-Qahtani, Muqawwamât Al-Dâ’iyyah Al-Nâjihah, hlm. 152).
Kenapa orang yang berada di tingkatan tertinggi merasa demikian? Karena kerakusannya terhadap ilmu yang sudah terlalu besar dan ia mengetahui bahwa ilmu apa adanya terlalu luas, umur tidak cukup untuk menimba semuanya, sehingga ilmu yang ia miliki terlihat seakan-akan tidak ada, ibarat membandingkan satu biji kelereng dan matahari. Ini bukti, bahwa semakin ilmu dipelajari, maka orang semakin haus. Sepert inilah kebahagiaan sejati, dia tidak akan habis.
Begitu juga ketika kita berbuat baik dengan orang lain, ketika orang terbantu dengan kita, maka kita merasa senang. Dan itu menjadi motivasi untuk semakin berbuat baik. Hal itu seperti yang dirasakan oleh para penulis, seniman, konten kreator, dan semacamnya. Semakin perbuatan mereka bermanfaat kepada orang lain, maka mereka akan merasakan kenikmatan. Kenikmatan ini muncul karena orang lain terbantu dan bahagia. Makanya, membahagiakan orang lain adalah kebahagiaan juga. Jadi, basa-basi “Asalkan engkau bahagia, jelaslah saya menjadi paling bahagia” ada benarnya juga.
Bagaimana dengan orang yang merasa senang ketika membuat orang lain menderita? Kebahagiaan seperti ini, bukanlah kebahagiaan hakiki. Karena kebahagiaan hakiki adalah membahagiakan orang lain. Jadi, ia hanyalah kebahagiaan sementara. Walaupun ada orang terhibur karena membuat orang lain menderita, pada akhirnya ia akan menemui titik jenuh, ia akan bosan dengan semua itu. Jadi, kebahagiaan ini sifatnya temporal dan sementara.
Adapun kenikmatan jasmani, memang pada awalnya nikmat. Tapi, hal seperti ini ada batasnya. Seperti makan. Memang saat kita kelaparan, makan itu terasa nikmat. Tapi, ketika kita sudah mencapai batas makan itu, mau selezat bagaimana pun makanan itu, kita tidak bisa memakannya. Alih-alih makan, ujung-ujungnya muntah. Begitu juga, minum. Tak terkecuali “kawin”, sesi pertamanya terasa nikmat. Tapi, kalau sampai berkali-kali dalam waktu singkat, itu juga akan merusak dan menyakitkan. Berarti, kenikmatan seperti ini tidak sejati, karena batasnya ada.
Ada kutipan dari Al-‘Allamah KH. Muhammad Nur, beliau mengatakan: “Hewan itu hidup untuk makan, sedangkan manusia makan untuk hidup.” Beliau mengisyaratkan bahwa nikmat paling maksimal bagi hewan adalah makan, minum, dan kawin. Sedangkan manusia, sepantasnya melampaui kenikmatan level hewani. Ini juga menjadi alasan, mengapa para sufi menempatkan maqam ma’rifah sebagai tingkatan tertinggi, karena saat itu hamba “mengenal” Tuhannya. Ma’rifah artinya pengetahuan atau mengenal. Disebut juga mengenal, karena dia memiliki pengetahuan tentang yang dia kenal. Perhatikan, di sini titik beratnya adalah pengetahuan, bukan makan, minum, dan “kawin”. Padahal, ini tingkatan tertinggi.
Kenikmatan jasmani ini disebut juga dengan al-ladzah al-juz’iyyah (kenikmatan partikular). Karena ia terbatas; sangat jauh terbatas dibanding kenikmatan universal.
Alam Universal dan Partikular
Dalam tulisan lain Imam Fakhruddin Al-Razi, beliau sempat menyinggung tentang istilah universal dan partikular ini dalam kitabnya yang bertajuk Al-Mulakhash fi Al-Manthiq wa Al-Hikmah. Intinya, pengetahuan itu ada dua; universal dan partikular.
Pengetahuan universal itu tidak berubah, sifatnya umum, dan mutlak. Seperti pengetahuan manusia tentang dua hal yang bertentangan itu tidak bisa bertemu; tidak bisa mengatakan bumi itu ada sekaligus tidak ada, karena tidak logis. Sedangkan yang partikular itu, berubah-ubah, sifatnya temporal, dan relatif, seperti penampakan seseorang itu yang dulunya cantik, akan pudar beberapa waktu mendatang. Pengetahuan universal itu bisa diakses manusia, tapi tidak bisa diakses hewan. Sedangkan pengetahuan partikular, bisa diakses manusia, hewan lain juga bisa.
Hal itu terjadi karena manusia punya akal. Akal itu merupakan “pintu” menuju alam universal yang sifatnya abstrak. Sedangkan hewan tidak memiliki itu. Makanya, hewan berada di alam yang lebih rendah; alam partikular. Mengapa alam ini bisa diakses keduanya? Karena keduanya sama-sama memiliki pancaindera. Pintu memasuki alam partikular adalah pancaindera, sementara pintu memasuki alam universal adalah akal.
Seandainya hewan memiliki akal, maka mereka mampu membuat rumus-rumus tertentu dan menciptakan pengetahuan, bahkan peradaban yang menjadi tandingan bagi manusia. Tapi, sepanjang sejarah alam semesta, hewan di luar sana, tidak membuat peradaban besar. Mereka bertindak berdasarkan insting. Maka jelas, hewan tidak memiliki akal.
Konsekuensinya, jika manusia bisa mengakses alam universal, maka manusia bisa mengakses kebahagiaan universal yang kita sebut dengan kebahagiaan hakiki. Hewan tidak bisa mengaksesnya, maka hewan tidak mendapati kebahagiaan hakiki. Karena syarat mendapatkan kebahagiaan hakiki adalah memasuki pintu alam universal. Karena kita tidak bisa mengambil sesuatu secara langsung di dalam kota jika tidak memasuki kotanya dulu.
Jika kebahagiaan hakiki saja bisa diakses manusia, apalagi yang lebih gampang; alam partikular. Hanya saja, kalau manusia sibuk pada kebahagiaan partikular itu, maka dia memiliki level kebahagiaan yang tidak beda dari hewan, bahkan bisa saja hewan itu lebih hebat dari manusia di bagian ini. Buktinya, singa lebih kuat makan daripada manusia.
Segala puji bagi Tuhan yang memberikan manusia akal, sehingga akal itu mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hakiki dan derajatnya jauh melampaui hewan.
Kebahagiaan Hakiki vs Sementara
Masih dalam Kitâb Al-Rȗh wa Al-Nafs, Imam Fakhruddin Al-Razi menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki itu lebih mulia daripada kebahagiaan sementara. Bagi kita ini jelas. Tapi, Imam Fakhruddin Al-Razi adalah sosok yang cerdas, tidak sekadar mengamini, sampai beliau mendatangkan sepuluh argumen untuk membuktikan itu! Dalam tulisan ini, kita hanya menyentuh beberapa saja, mengingat keterbatasan ruang dan format tulisan. Berikut beberapa argumen beliau.
Pertama, seandainya kebahagiaan manusia itu bergantung pada orientasi syahwat dan tekanan hawa nafsu saja, konsekuensinya hewan itu lebih bahagia dan lebih nikmat hidupnya daripada manusia. Karena seperti yang dicontohkan sebelumnya, singa memiliki nafsu makan dan syahwat yang lebih tinggi daripada manusia. Akan tetapi, hewan tidak lebih bahagia. Justru, manusia memiliki kebahagiaan yang lebih dibanding hewan. Karena hewan hidupnya stagnan, sedangkan manusia itu bervariasi.
Kedua, kalau segala sesuatu itu bisa menjadi pemicu kebahagiaan, maka setiap pemicu banyak ditempuh, maka kebahagiaan juga terhasil. Anggaplah makan itu menjadi pemicu kebahagiaan. Maka setiap seseorang makan, seharusnya dia mendapatkan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan hakiki itu mengantarkan seseorang kepada kesempurnaan dan derajatnya naik. Tapi, kenapa justru kalau kelebihan makan, malahan membahayakan manusia? Ini berarti, makan itu bukan kebahagiaan sejati. Begitu juga minum dan “kawin”. Hal tersebut tidak lebih sebatas kebutuhan saja. Bukan tujuan paling puncak dalam kehidupan.
Ketiga, kenikmatan jasmaniah itu dicari oleh manusia bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu yang lain; menutupi kelemahan (daf’u al-âlam) saja. Misalnya makan. Semakin besar rasa lapar, maka semakin rasa nikmat yang dirasakan. Semakin kecil rasa lapar, maka semakin juga rasa nikmat dari makan. Hal yang sama dengan pakaian, ia tidak lebih untuk melindungi aurat manusia, dari udara panas, dan dingin saja. Ketika kelemahan itu tertutupi, kita tidak lagi membutuhkannya.
Berarti, itu bukan kenikmatan dan kebahagiaan hakiki. Karena kebahagiaan hakiki sifatnya esensial; kita mencarinya karena dirinya sendiri. Seandainya kita mendapatkannya, maka tidak ada lintasan pada diri kita untuk tidak membutuhkannya. Ini juga menjadi alasan, kenapa surga disebut kenikmatan dan kebahagiaan hakiki. Karena ketika kita sudah berada dalam surga, kita tidak merasa bosan dan tidak lagi berhajat.
Keempat, seandainya ada sesuatu yang pada hakikatnya itu sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, orang tidak akan malu untuk mengumbarnya. Justru, orang akan bangga menampakkannya. Mari kita lihat ulama, ilmuwan, pemikir, filusuf, dan sufi besar, adakah di antara mereka yang merasa bangga hanya karena banyak makan, bisa belanja sana-sini, minum banyak, dan “kawin” berkali-kali? Justru, kenyataan berkata lain. Kita lihat misalnya Imam Al-Nawawi (w. 631 H), dalam beberapa riwayat beliau dinyatakan lupa makan karena belajar. Bahkan, ketika kita berbuka puasa, makan dalam jumlah besar tidak dianjurkan, karena membuat kita malas.
Atau hal paling sederhana saja, adakah orang yang sehat akalnya dengan bangga menceritakan aktivitas “kawin”-nya bersama pasangannya dengan detail? Jelas, itu hal memalukan. Ini semua menunjukkan bahwa makan, minum, dan “kawin” bukanlah kebahagiaan hakiki. Melainkan sekadar kebutuhan hidup saja. Derajat kebutuhan itu berbeda dengan derajat lanjutan. Berarti, ini bukan kebahagiaan hakiki yang mengantarkan kepada kebahagiaan.
Sejarah membuktikan kalau yang membanggakan dari para sarjana besar kita adalah keilmuan, ketaatan, dan kesalehan. Justru, ketiganya tergolong dalam kebahagiaan universal. Karena hal itu hanya bisa dilakukan manusia, tidak oleh hewan. Selalu dalam buku biografi ulama kita temukan siapa gurunya, murid-murid berprestasinya, karyanya, dan capaiannya dalam kemajuan peradaban. Kita tidak pernah menemukan daftar makanan yang pernah dimakan, warung makan yang pernah dikunjungi, dan deretan minuman yang pernah dicoba.
Dari keempat argumen tersebut, sudah cukup untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa kebahagiaan hakiki nan sejati itu hanya bisa didapatkan melalui akal, pengetahuan, dan moral. Adapun makan, minum, dan “kawin” hanyalah kebutuhan hidup, bukan poin akhir kehidupan kita.
Wallahu a’lam








