Sebagai umat muslim, kita semua percaya bahwa Tuhan itu ada, Dia esa, Maha Sempurna, suci dari segala kekurangan, dan bentuk kesempurnaan lainnya yang disandarkan kepada-Nya. Begitu juga, kita mengimani bahwa Nabi Muhammad Saw. dan para Nabi sebelumnya itu ada dan tidak pernah salah (ma’shȗm). Dan konsekuensi dari mengimani keduanya adalah mengimani adanya hal gaib, seperti adanya akhirat, surga, neraka, jin, malaikat, dan sejenisnya. Sampai di sini, tidak ada masalah.
Namun, masalah mulai muncul ketika ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu saking maha kuasanya, bisa berubah menjadi manusia lalu disembah. Padahal, dalam konsep di Islam sendiri, Tuhan Maha Kuasa, tapi tidak juga kemahakuasaan itu berkonsekuensi “melemahkan” Tuhan itu sendiri. Bagaimana Islam menjawab itu? Hal yang seperti demikian, sudah dijawab oleh Islam jauh-jauh hari. Itu pernah juga kita bahas dalam salah satu tulisan yang menjawab pertanyaan omnipotence paradox; Jika Tuhan Maha Kuasa, bisakah Dia menciptakan batu yang sangat besar sampai dia tidak bisa mengangkatnya? Jawaban yang ada, jelas menggunakan rumusan logis para ulama.
Begitu juga ketika ada yang mengatakan bahwa ada Nabi yang penyakitan, sampai menjelang ajalnya. Tak segan-segan, dikatakan bahwa penyakit itu saking parahnya, sampai menggerogoti perawakan sang Nabi. Padahal, dalam ilmu akidah, Nabi tidak berpenyakitan seperti itu. Karena Nabi memiliki wibawa yang besar. Adapun informasi yang muaranya demikian, itu adalah riwayat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, alias isra’iliyyât; hikayat yang berangkat dari orang Yahudi maupun Nasrani. Tidak ada sumber sahih mengenai hal itu.
Apalagi tidak kalah pentingnya mengenai hal gaib, karena banyak miskonsepsi masalah konsep gaib ini di masyarakat. Ada yang mengira Dajjal itu monster bermata tiga yang memiliki tinggi seperti Ultraman, saat Kota Thaif menghijau sedikit lalu dikontenkan di Tiktok, agar muncul spekulasi tanda kiamat sudah dekat, dan lain sebagainya. Padahal, itu semua keliru, ada beberapa catatan penting yang terabaikan. Karena Dajjal itu manusia biasa seperti kita dengan beberapa ciri fisik tertentu, tapi dia memiliki teknik manipulasi tingkat dewa dan beberapa istidrâj yang biasa kita sebut dengan sihir.
Begitu juga dengan menghijaunya Kota Taif, tidak langsung ditujukan kepada hadis yang menyatakan tanda kiamat itu tiba ketika tanah Arab menghijau. Karena itu musiman. Dalam beberapa pekan, tanah hijau itu kembali kering. Masa kesimpulannya kiamat di-cancel? Jelas, ini tidak masuk akal.
Hadirnya ilmu akidah menjadi pedoman bagi kita semua, agar tidak tersesat dalam memahami konsep ketuhanan, kenabian, dan masalah gaib lainnya. Karena saat kita terjebak dalam miskonsepsi sejak awal, maka kita akan membenarkan hal yang tidak tepat. Inilah pentingnya ilmu akidah.
Apa itu Ilmu Akidah?
Singkatnya, kita bisa mengatakan bahwa ilmu akidah itu tentang keyakinan. Keyakinan tersebut berada dalam simpul ketuhanan (ilahiyyât), kenabian (nubuwwât), dan hal gaib (sam’iyyât). Makanya, pembahasan ilmu akidah tidak keluar dari ketiga bagian ini. Namun, sebelum memasuki persoalan ketuhanan, kita akan menemui pengantar yang membawa kita pada deretan pijakan rasional untuk memahami seluruh bab ketuhanan; hukum akal.
Untuk apa kita belajar ilmu akidah? Agar kita tidak hanya “manut” atau taklid dalam beriman. Karena persoalan iman, kita tidak boleh sekadar main percaya-percaya saja. Tapi, perlu pijakan dan dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Makanya dalam ayat disebutkan:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain-Nya” (Muhammad: 19).
Beberapa ulama menjelaskan, bahwa ayat ini menggunakan perintah “Ketahuilah!”, sebagai perintah agar ketika kita ingin menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dan tidak ada selain-Nya, bukan berdasarkan ikut-ikutan, akan tetapi, kita sendiri yang mengeksplor kebenaran itu.
Apakah tidak masalah kritis dalam beriman? Justru sikap kritis inilah yang diajarkan oleh para Nabi. Kalau kita ingin menarik mundur, kenapa Nabi Ibrahim As., mengajak Namrud berpikir dengan berdebat, dengan menyatakan bahwa patung itu tidak mungkin bergerak? Kenapa Nabi Musa As. dan Nabi Harun As., ketika bertemu dengan Fir’aun, mereka berdebat dengan argumentasi rasional? Seandainya sikap kritis dalam beriman dilarang, maka kita tidak akan pernah mendapati para Nabi mengajak kaumnya berpikir logis. Karena tauhid para Nabi itu satu. Tapi, kita mendapati para Nabi berdebat dengan kaumnya, berarti kritis dalam beriman bukanlah hal yang tabu.
Hanya saja, di kalangan atau lingkungan kita menganggap itu tabu karena ada pertanyaan liar yang sukar untuk dijawab. Sehingga, ketika mencoba menjawab pertanyaan itu, hanya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Di sini juga pentingnya ilmu akidah, agar kita bisa menjawab deretan pertanyaan liar atau syubhat yang menyerang diri kita.
Tapi, kenapa kita bisa percaya? Jawabannya, setiap jengkal pembahasan ilmu akidah ini bisa dibuktikan secara ilmiah dan rasional. Hal itu sudah termaktub dalam banyak kitab ulama. Namun, kita tidak memiliki banyak ruang untuk memaparkan seluruhnya di tulisan ini kecuali sebagain saja.
Namun, pada tulisan ini maupun tulisan mendatang, sasarannya adalah pemula. Pemula di sini dalam artian bukan orang bodoh. Tapi, mereka yang baru memiliki keinginan atau baru memulai belajar ilmu akidah secara serius. Karena melihat tingkatan ini, ada banyak argumen, redaksi, dan istilah yang direduksi untuk memudahkan pemahaman dan lebih mengedepankan intisari ilmu yang merupakan kesimpulan dari argumen para ulama. Pun, jika kita nantinya akan bertemu dengan istilah tertentu, kita akan memperkenalkan maksudnya dengan sesederhana mungkin.
Referensi primer yang digunakan adalah Syarh Al-Kharîdah Al-Bahiyyah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Muhammad Al-Badawi (w. 1201 H) atau dikenal dengan Imam Al-Dardir. Karena buku ini sangat bersahabat dengan tingkatan pemula dan isinya sangat sederhana. Ini juga kitab yang kami pelajari di Al-Azhar ketika masih berstatus mahasiswa baru.
Perjalanan Pembahasan
Seperti yang sudah disinggung di atas, ilmu akidah tidak keluar dari tiga hal ditambah satu pengantar; hukum akal, ilahiyyât, nubuwwât, dan sam’iyyât. Adapun poin inti dari setiap bab adalah:
- Hukum akal itu fokus kepada kaidah rasional yang sifatnya universal; mencakup segala hal, ruang, dan waktu. Dan ini sifatnya mutlak. Bagian ini juga memiliki tupoksi agar kita menerima bahwa Tuhan itu pasti ada dan mustahil tiada. Mukjizat itu mungkin terjadi, akhirat itu juga mungkin. Sekutu Tuhan itu mustahil ada, sebagaimana Tuhan mustahil tiada. Di sini juga kita membedakan level kemustahilan antara terjadinya mukjizat dan ketiadaan Tuhan. Yang jelas, dari bagian ini, akan sangat banyak membantu kita dalam pembahasan mendatang.
- Ilahiyyât, ini fokusnya ke persoalan ketuhanan. Kita akan mulai membuktikan bahwa alam ini sifatnya baru (hâdits) dan penciptanya adalah Tuhan. Kemudian, Tuhan yang menciptakan ini Esa dan memiliki 20 sifat wajib dan mustahil, ditambah satu sifat jâ’iz (bisa saja dilakukan dan bisa saja tidak dilakukan Tuhan). Karena beginilah konsep ketuhanan.
- Nubuwwât, ini fokusnya kepada Nabi. Kita akan mulai dari membahas definisi Nabi, pembedanya dengan Rasul, 4 sifat wajib dan mustahil, ditambah satu sifat jâ’iz, konsep mukjizat, dan keterjagaan Nabi dari dosa (ma’shȗm).
- Sam’iyyât, kita akan menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan akhirat. Seperti, sirat, mizan, kebangkitan, hari kiamat, dan lain sebagainya.
Kurang lebih demikian perjalanan pembahasan kita ke depannya. Semoga membantu.
Wallahu a’lam








