• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Selasa, Desember 2, 2025
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Biografi

Mengenal Abu Hasan Al-Asy’ari; Imam Besar Ahlussunnah wal Jama’ah

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
18 Agustus 2024
in Biografi
Waktu Baca: 17 menit baca
Source: https://www.republika.id/posts/18336/mengenal-pendiri-asy%E2%80%99ariyah

Source: https://www.republika.id/posts/18336/mengenal-pendiri-asy%E2%80%99ariyah

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Jika kita semua beragama Islam dan ditanya Islamnya dari kelompok mana, maka kita diajarkan untuk menjawab “Ahlussunnah wal Jama’ah”. Banyak ulama yang mengajarkan bahwa ikutilah kelompok yang mayoritas, karena Nabi Muhammad Saw., menyuruh kita demikian. Sebagaimana yang termaktub dalam hadis:

سمعت رسول الله يقول: إن أمتي لا تجتمع على الضلالة, فإذا رأيتم الاختلاف فعليكم بسواد الأعظم

“Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya umat-Ku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Jika kalian mendapati perbedaan pendapat, maka ikutilah al-sawâd al-a’zham.” (HR. Ibnu Majah: 3950).

Dalam hadis lain, terdapat isyarat bahwa Islam akan terpecah menjadi banyak kelompok. Tentang berapa persisnya, ada beragam redaksi riwayat. Ada riwayat yang menyatakan umat Islam terpecah menjadi 72 golongan, jika melihat riwayat dari Sayyidina Malik bin Anas Ra. Sedangkan dalam riwayat Sayyidina Auf bin Malik, dinyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Kita tidak akan menyentuh, bagaimana ulama dalam memahami perbedaan jumlah golongan dalam Islam. Kami sudah membahasnya dalam salah satu tulisan dengan banding riwayat.

Poin yang ingin penulis utarakan adalah dari semua pecahan kelompok Islam, hanya satu saja yang selamat di hari akhir. Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam salah satu hadis:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة, فواحد في الجنة, سبعون في النار, وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة, فإحدى وسبعون في النار, وواحد في الجنة, والذي نفس محمد بيده, لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة, فواحد في الجنة, وثنتان وسبعون في النار. قيل: يا رسول الله, من هم؟ قال: الجماعة

“Orang Yahudi terpecah menjadi 71 sekte, satu (sekte) di surga dan 70 (sekte) di neraka. Orang Nasrani terpecah menjadi 72 sekte. 71 (sekte) di neraka dan satu (sekte) di surga. Demi (Tuhan) yang jiwa-Nya (Sayyidina) Muhammad berada di yad-Nya! Sungguh umat-Ku akan terpecah menjadi 73 sekte. Satu (sekte) di surga dan 72 (sekte) di neraka.” Ada yang bertanya: “Siapa mereka, duhai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah: 3992).

Di sini para ulama memahami bahwa yang dimaksud dengan Al-Jama’ah dalam hadis tersebut adalah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Namun, melihat nama Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan “ladang basah” hari ini, kelompok yang “miring” pun ikut mengklaim dirinya sebagai bagian dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga, banyak dari kita yang kebingungan, sebenarnya siapa panutan yang benar-benar merepresentasikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah?

Pada tahun 2016, diadakan Muktamar Internasional Ahlussunnah wal Jama’ah di Gronzy, Chechnya. Di sana hadir ulama kaliber besar dari seluruh penjuru dunia, termasuk Syekh Ahmad Thayyib, Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ali Jum’ah, Mantan Mufti Agung Mesir, Habib Umar bin Hafizh, Ulama Besar Yaman, Syekh Said Fodah, Pakar Ilmu Kalam dari Yordania, Habib Ali Al-Jufri, dan lain sebagainya. Kesimpulan umum muktamar itu, Ahlussunnah wal Jama’ah akan merujuk ke beberapa madrasah besar. Madrasah besar itu adalah Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan Atsariyyah.

Asy’ariyyah dipatenkan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H), Maturidiyyah dipatenkan oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi (w. 333 H), dan Atsariyyah atau ahli hadis merujuk kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).

Namun, dari ketiga imam besar ini, nama agung Imam Ahmad kerap dipakai oleh sebagian kelompok untuk dijadikan alat validasi bahwa mereka adalah bagian dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Padahal, mereka diam-diam menyelipkan pemahaman tajsim khas aliran Mujassimah, lalu menisbatkannya kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Makanya, para ulama membagi pengikut Imam Ahmad bin Hanbal menjadi dua; 1) Fudhalâ al-hanâbilah, mereka yang mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana yang diajarkan oleh beliau, dan 2) Ghulât al-hanâbilah, mereka yang mengaku mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal, tapi Imam Ahmad sendiri berlepas dari mereka. Yang pertama itulah yang tergolong sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedangkan yang kedua, tidak. Bahkan, tergolong dalam aliran Mujassimah yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kita tidak memiliki waktu banyak untuk membahas bagaimana politisasi indentitas Imam Ahmad bin Hanbal terjadi. Tapi, kita akan memperkenalkan kelompok mayoritas umat Islam; Asy’ariyyah. Karena sebagian besar ulama kita, dari Timur ke Barat, semuanya bermazhab Asy’ariyyah, sebagaimana yang dikatakan Syekh Ali Jum’ah. Bahkan, seluruh sanad khazanah keilmuan kita hari ini, tidak ada yang sampai kepada kita, kecuali melewati para kader Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Berkat beliau, deretan nama besar seperti Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani, Imam Al-Juwaini, Imam Al-Haramain, Imam Al-Ghazali, Imam Fakhruddin Al-Razi, Imam Sa’aduddin Al-Taftazani, Imam Sayyid Syarif Al-Jurjani, Imam Al-Nawawi, Imam Jalaluddin Al-Suyuthi, Imam Ibnu Hajar Al-Ashqalani, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, dan para ulama yang abadi namanya sampai sekarang, seperti hidup dalam satu rumah. Lantas, siapakah sosok Imam Abu Hasan Al-Asy’ari? Bagaimana perjalanan hidupnya? Mari kita ulas.

Biografi

Nama lengkapnyaa Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari. Beliau dikenal dengan sebutan Abu Hasan Al-Asy’ari.

Tentang tanggal lahir dan wafatnya, terjadi perbedaan di kalangan sejarawan. Ada yang mengatakan beliau lahir pada 260 H, ada juga yang mengatakan 270 H. Begitu juga pada tanggal wafatnya, ada yang mengatakan beliau wafat pada tahun 330 H, ada juga yang mengatakan beliau wafat pada tahun 324 H. Yang pasti, beliau itu hidup sekitar sepertiga akhir abad ketiga Hijriyah di Bashrah dan wafat sekitar sepertiga awal abad keempat Hijriyah di Baghdad.

Dari segi nasab, beliau terhubung kepada salah satu sahabat Rasulullah Saw., namanya Sayyidina Abu Musa Al-Asy’ari Ra. Uniknya, Rasulullah Saw., sudah mengisyaratkan keistimewaan yang akan datang kemudian hari dari Sayyidina Abu Musa Al-Asy’ari:

عن أبي موسى رضي الله عنه: قدمنا على النبي‒صلى الله عليه وسلم‒بعد أن افتتح خيبر، فقسم لنا ولم يقسم لأحد لم يشهد الفتح غيرنا، ولما نزل قوله تعالى: { فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ} (المائدة: 54) قال رسول الله ‒صلى الله عليه وسلم: هم قومك يا أبا موسى، وأومأ رسول الله‒صلى الله عليه وسلم‒بيده إلى أبي موسى الأشعري

“Dari Abu Musa (Al-Asy’ari) Ra.: Kami menghadap kepada Rasulullah Saw. setelah Perang Khaibar, kemudian beliau bersumpah kepada kami, dan beliau tidak bersumpah kepada orang lain (karena) tidak ada yang menyaksikan perang tersebut. Kemudian, turunlah ayat: {Allah akan mendatangkan kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya} Rasulullah Saw. (kemudian) bersabda: Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa! Lalu, Rasulullah Saw., memberikan isyarat dengan tangannya kepada Abu Musa.” (Lihat: Abdul Qadir Muhammad Husein, Imâm Ahl Al-Haq; Abu Hasan Al-Asy’ari, Damaskus: Al-Masyriq li Al-Kitab, hlm. 14; Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari: 4/1547; dan Al-Hakim, Mustadrak ‘ala Al-Shahihain: 2/342).

Dan kita sekarang menyaksikan nama besar Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang merupakan keturunan dari Sayyidina Abu Musa Al-Asy’ari.

Guru

Tidak banyak riwayat yang menyebutkan siapa saja guru Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Namun, jejak riwayat yang bisa dilacak sampai sekarang akan bertumpu pada tujuh nama. Lima di antaranya merupakan guru hadis beliau, satu guru ilmu kalam, dan satu lagi guru ilmu fikih.

  1. Abu Muhammad Abdurrahman bin Khalaf Al-Dhabbiy Al-Bashriy (w. 297 H)

Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H) mengonfirmasi dalam Târikh Al-Baghdad bahwa Imam Al-Asy’ari berguru kepada Abu Muhammad Abdurrahman bin Khalaf, bahkan Imam Al-Dzahabi (w. 748 H) dalam Siyar Al-A’lâm Al-Nubalâ’ menyatakan bahwa Imam Al-Asy’ari meriwayatkan tafsir beliau.

  1. Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Jubba’i Al-Bashri (w. 303 H)

Beliau adalah ayah angkat Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan beliau merupakan guru Imam Asy’ari yang paling terkenal, karena menjadi aktor penting dalam momen perjalanan Imam Asy’ari dalam menemukan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Ali Al-Jubba’i merupakan sosok yang sangat mahir dalam bidang filsafat dan ilmu kalam. Bahkan, Imam Al-Dzahabi menyebut bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari belajar ilmu kategori al-maqȗlât kepada Abu Ali Al-Jubba’i.

  1. Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab Al-Jumhiy Al-Bashriy (w. 305 H)

Dalam penyataan Imam Al-Dzahabi, beliau merupakan seorang sastrawan dan ahli hadis. Imam Al-Asy’ari belajar hadis dan meriwayatkan tafsir dari beliau.

  1. Zakariya bin Yahya Al-Saji (w. 307 H)

Beliau merupakan seorang mufti, ahli hadis, dan guru besar di Bashrah. Imam Zakariya merupakan salah satu imam ahli hadis, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Al-Dzahabi, sampai Imam Al-Asy’ari mendapatkan pemahaman para ulama salaf dalam persoalan sifat Tuhan dan banyak merujuk ke tulisan beliau. Selain itu, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari banyak meriwayatkan hadis dari beliau.

  1. Muhammad bin Ya’qub Al-Muqri (w. sekitar 330 H)

Imam Al-Dzahabi menyebut beliau sebagai sosok yang adil, masyhȗr, dan bisa dijadikan hujjah. Tidak banyak informasi ditemukan lebih lanjut mengenai beliau.

  1. Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al-Marwazi (w. 340 H)

Imam Tajuddin Al-Subki (w. 771 H) dalam Thabaqât Al-Syâfi’iyyah Al-Kubrâ menulis bahwa keberadaan Imam Abu Ishaq menjadi alasan mengapa Imam Al-Asy’ari bermazhab Syafi’i. Karena di sinilah Imam Al-Asy’ari belajar ilmu fikih. Ini beliau nyatakan setelah menyuarakan ketidaksetujuannya kepada pihak yang mengklaim bahwa Imam Al-Asy’ari itu bermazhab Maliki. Ini juga didukung oleh Imam Abu Bakar bin Furak (w. 406 H) dalam Thabaqât Al-Mutakallimîn. Dalam Mujarrad Al-Maqâlât juga disebutkan:

وكان يذهب في أكثر مسائل أصول الفقه إلى ما ذهب إليه الشافعي في كتاب: الرسالة في أحكام القرآن

“Beliau banyak berpendapat dalam persoalan ushul fikih sesuai dengan pendapat Imam Syafi’i Ra dalam kitab Al-Risâlah fi Ahkâm Al-Qur’ân”  (Ibnu Furak, Mujarrad Maqâlât Al-Syaikh Abu Hasan Al-Asy’ari, Beirut: Dar Al-Masyriq, hlm. 192-193).

  1. Sahl bin Nuh

Imam Al-Dzahabi menyebut bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari mengambil riwayat dan meriwayatkan tafsir dari beliau. Tapi, tidak banyak informasi yang bisa ditemukan tentang beliau.

Karya

Dari seluruh karya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, tidak ada yang sampai di tangan kita kecuali tujuh judul:

  1. Al-Ibânah fi Ushȗl Al-Dinâyah
  2. Al-Luma’ fi Radd ‘ala Ahl Al-Zaigh wa Al-Bida’
  3. Risâlah ilâ Ahl Al-Tsagr bi Bâb Al-Abwâb
  4. Maqâlât Al-Islâmiyyin wa Ikhtilâf Al-Mushalliyyin
  5. Al-Hatsu ‘ala Al-Bahts
  6. Istihsân Al-Khaudh fi ‘Ilm Al-Kalâm
  7. Mas’alah Al-Imân

Padahal, jumlah karya beliau yang sebenarnya hampir mencapai seratus judul.

Sebelum Kedatangan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari

Saat Rasulullah Saw. masih hidup, belum ada sengketa tertentu seputar persoalan akidah. Apa yang sekarang kita kenal dengan isu dzat dan sifat Tuhan, takdir, perbuatan hamba, dan lain sebagainya, tidak pernah dipersoalkan oleh para sahabat. Karena pada masa ini, para sahabat itu “manut” saja dengan teks syara’. Pun, pertanyaan para sahabat itu kebanyakan dalam ruang fikih atau hukum baru yang belum didapati. Rasulullah Saw. sendiri tidak pernah juga memberikan diktum teologis tertentu yang condong kepada satu mazhab akidah tertentu. Hal ini jauh berbeda nantinya dibanding setelah beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah Saw., isu paling pertama yang menjadi topik perdebatan di tengah umat Islam kala itu adalah isu kepemimpinan. Saat itu adu klaim muncul dari kubu Anshar dan Muhajirin; mereka merasa masing-masing layak menjadi khalifah pertama, sembari mendatangkan tombak argumentasi terbaik bagi mereka. Tapi, isu ini diakhiri dengan dibaiatnya Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq (w. 13 H).

Isu kepemimpinan ini masih tetap berkobar, tatkala pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. (w. 40 H), sebenarnya jauh lebih layak menjadi khalifah pertama karena sangat dekat dengan Nabi. Tapi, pemikiran ini kembali surut kendati didapati Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga berbaiat atas kekhalifahan Abu Bakar.

Waktu berjalan, sampailah pada masa pemerintahan khalifah Utsman bin ‘Affan Ra. (w. 35 H). Di sinilah kemudian fitnah di antara umat Islam muncul, sehingga udara perpecahan semakin tampak. Fitnah ini kemudian menjadi faktor penting munculnya mazhab Syi’ah yang menganggap masalah kepemimpinan ini sebagai bagian dari keimanan dan yang paling berhak di sana adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dari sudut yang berlawanan, muncul juga Khawarij yang menganggap bahwa siapa pun orang muslim, berhak menjadi khalifah. Walaupun, yang bersangkutan adalah hamba  sahaya.

Ketika melihat beragam isu di masa Khulafa Al-Rasyidin, ini yang kemudian menjadi pemicu munculnya isu susulan seputar teologi, semisal perbuatan hamba; apakah hamba terpaksa melakukan sesuatu atau ia melakukan sesuatu berdasarkan pilihannya?

Hal itu bisa kita dapati pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab Ra. (w. 23 H). Saat ada seseorang tertangkap mencuri, lalu diinterogasi, kemudian dia berkata “Saya mencuri karena Allah sudah menakdirkan saya melakukan itu.” Mendengar itu, Sayyidina Umar bin Khattab menjatuhi orang itu hukuman atas perbuatan mencurinya dan ucapannya yang demikian. Ini berarti, pemahaman tersebut keliru. Hal ini juga didapati dalam diskusi antara Sayyidina Abu Musa Al-Asy’ari dan Sayyidina Amr bin ‘Ash (w. 43 H) dan pertanyaan seseorang kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Setelah masa ini, umat Islam mulai menaruh perhatian khusus terhadap isu perbuatan hamba, sampai menjadi mazhab khusus.

Masa Khulafa Al-Rasyidin berlalu. Umat Islam kemudian memasuki babak baru dengan naiknya Mu’awiyah bin Abi Sufyan (w. 60 H) menjadi khalifah baru. Di sini kemudian Dinasti ‘Umayyah (41-132 H) berdiri. Dinasti Umayyah ditandai dengan corak khasnya yang melakukan banyak ekspansi. Dalam banyak riwayat disebutkan, ekspansi itu sampai Andalusia, Spanyol.

Karena luasnya wilayah kekhalifahan saat itu, menjadi pengaruh baru dalam berkembangnya pemikiran dan mazhab teologis. Pasalnya, umat Islam hidup bertetangga dengan penganut agama lain. Isu yang awalnya hanya sebatas “Apakah perbuatan kita merupakan kehendak Tuhan atau bukan?” kemudian bergulir menjadi isu baru: “Apakah Tuhan memiliki sifat atau tidak?”

Ada mazhab yang tidak percaya bahwa Tuhan memiliki sifat. Mereka adalah Muktazilah yang diinisiasi oleh Washil bin Atha’ (w. 131 H). Apa gerangan mereka menganut pandangan demikian? Hal itu disebabkan ada dialog dengan agama lain; Nasrani. Muktazilah membantah doktrin trinitas dalam Nasrani dan sebagai tindakan defensif dari serangan balik, Muktazilah menggunakan doktrin “Tuhan tidak memiliki sifat.” Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa Tuhan memiliki sifat dan sifat itu bukanlah Dzat sebagaimana yang diduga kaum Nasrani.

Dalam domain agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani. Mereka juga memiliki pandangan tentang perbuatan hamba. Jika dalam Islam ada Jabariyyah yang menganggap bahwa perbuatan hamba itu sepenuhnya dikendalikan Tuhan, Yahudi juga memiliki kubu yang bernama Qarra’un dan dalam Nasrani ada Ya’aqibah. Begitu juga dalam pandangan bahwa manusia secara absolut menentukan perbuatannya, dipelopori oleh Qadariyyah dalam agama Islam, sedangkan dalam agama Yahudi ada Al-Rabbaniyyun dan dalam Nasrani ada Al-Nasathirah yang memiliki pandangan serupa.

Karena kesamaan ini, sampai ada orientalis yang menuding kalau perkembangan isu akidah dalam Islam dipengaruhi oleh pandangan agama lain. Tapi, tudingan itu dibantah oleh Prof. Muhammad Bahi. Beliau mengatakan bahwa hal itu muncul tidak harus ada dari pengaruh agama lain, melainkan hal tersebut natural berjalan dalam masing-masing agama.

Khawarij

Sebelum munculnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, kelompok yang sangat gencar pergerakannya adalah Khawarij. Ia juga termasuk kelompok yang muncul di masa awal. Tentang siapa mereka, ulama kalam hampir sepakat dengan mendefinisikan mereka dengan “Setiap orang yang keluar (kharaja) dari yang disepakati seluruh umat Islam, baik itu pada masa Khulafa Al-Rasyidin, tabi’in, dan setelahnya.”

Sebagian juga menduga kuat bahwa Khawarij itu muncul saat peristiwa Perang Shiffin antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 37 H. Kronologi lebih tepatnya adalah pada saat peristiwa arbitrase (tahkîm). Setelah debut pertamanya, mereka kemudian meletuskan berbagai isu teologis, seperti pelaku dosa besar pasti kafir. Kemudian, pandangan ini memunculkan anti tesisnya yang bernama Murji’ah. Mereka memandang bahwa iman seorang muslim itu tidak akan “lecet” ketika melakukan maksiat, sebagaimana tidak berubah kekafiran seseorang jika melakukan ketaatan. Intinya, kedua kubu ini sama-sama ekstrem dari kutub yang berlawanan.

Syi’ah

Kata Syi’ah memiliki banyak makna. Bisa bermakna keluarga, kelompok, ataupun penolong. Kebanyakan kata Syi’ah ini diberlakukan kepada orang yang menganggap keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan ahli bait di atas segalanya.

Mazhab ini mulanya ada sepuluh sekte, tapi ada tiga yang populer; Imamiyyah, Zaidiyyah, dan Isma’iliyyah. Secara ringkas, mazhab ini memandang bahwa persoalan kepemimpinan bukan isu umum yang seandainya tidak dipedulikan, tidak ada masalah. Tapi, masalah ini termasuk rukun iman. Menurut mereka juga, seorang pemimpin yang akan dibaiat, harus ada namanya secara sarih yang termaktub dalam teks syara’, kecuali Zaidiyyah yang mencukupkan sampai sifat saja.

Ini adalah kelompok yang sudah ada sebelum datangnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, tepatnya saat masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan Ra., saat Abdullah bin Saba memicu beragam konflik mendatang.

Muktazilah

Sebelum munculnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, Muktazilah memiliki warna yang besar dalam perkembangan pemikiran dan wacana teologi Islam, khususnya pada abad kedua, ketiga, dan keempat Hijriyah, setelah abad sebelumnya sudah diwarnai oleh Khawarij, Murji’ah, dan Syi’ah.

Muktazilah ini muncul karena adanya ketidaksepakatan antara Washil bin Atha’ dan gurunya; Imam Hasan Al-Bashri (w. 110 H) tentang persoalan pelaku dosa besar. Singkatnya, Washil bin Atha’ memunculkan ajaran baru dengan menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu tidak bisa dikatakan kafir, tidak juga mukmin. Tapi, ia berada di posisi antara iman dan kafir; manzilah baina manzilatain. Sedangkan Imam Hasan Al-Bashri melihat kalau pelaku dosa besar itu tergolong munafik, tapi tetap mukmin.

Kemudian, pada perkembangan berikutnya, Muktazilah merumuskan lima pondasi fundamental dalam mazhabnya yang dikenal dengan istilah al-ushȗl al-khamsah: 1) Al-tauhîd, 2) Al-‘adl, 3) Al-wa’d wa al-wa’îd, 4) Al-manzilah baina manzilatain, dan 5) Amar makruf nahi mungkar. Ini sebagaimana yang termaktub dalam Al-Intishâr wa Al-Radd ‘ala ibn Rawândi Al-Mulhid yang ditulis oleh Abu Al-Husein Al-Khayyath Al-Mu’tazili (w. 321 H).

Masuk pada era pemerintahan Dinasti Abbasiyyah (132-656 H), Muktazilah mengumumkan pandangan pentingnya tentang kemakhlukan Al-Qur’an. Karena mereka menganggap sifat itu tidak ada, dan Al-Qur’an merupakan kalam nafsi yang berangkat dari Sifat Kalam dalam perspektif Ahlussunnah, maka keberadaan Al-Qur’an, bukan dari sifat, melainkan lafaz yang diciptakan Tuhan.

Masuk pada era pemerintahan Al-Ma’mun (w. 218 H) yang terkesima dengan pengetahuan dan bertemu dengan Muktazilah yang memiliki corak rasional yang kental, diadakanlah sebuah ujian (mihnah) untuk memeriksa ulama yang mengamini kemakhlukan Al-Qur’an dan tidak. Dan salah satu yang menjadi korban peristiwa ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau sempat dipenjara dan disiksa pada masa khalifah Al-Mu’tashim (w. 227 H) dan berlanjut kepada putranya yang menjadi khalifah selanjutnya; Al-Watsiq (w. 232 H). Fitnah ini baru berhenti ketika Al-Mutawakkil (w. 247 H) memegang kekuasaan, karena dibuat tersadar oleh beberapa nasihat dan menyadari Muktazilah yang mengarah ke ruang ekstrim. Di sinilah kemudian para ulama Ahlussunnah dibebaskan dari penjara.

Kehadiran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari itu hidup di sepertiga akhir abad ketiga Hijriyah sampai awal sepertiga abad keempat Hijriyah. Berarti, beliau melewati enam fase masa penguasa Abbasiyyah:

  1. Al-Mu’tamid ‘ala Allah (w. 279 H).
  2. Al-Mu’tadhid (w. 288 H).
  3. Al-Muktafi Billah (w. 295 H).
  4. Al-Muqtadir Billah (w. 320 H).
  5. Al-Qahir (w. 322 H).
  6. Al-Radhi Billah (w. 332 H).

Di sini Imam Abu Hasan Al-Asy’ari hidup di masa ilmu menjadi mercusuar utama dalam aspek kehidupan. Jika ada buku sejarah yang menghikayatkan kemajuan dan kebangkitan peradaban Islam, maka rujukannya di masa ini.

Dalam beberapa catatan sejarah, di masa inilah semua ilmu keislaman dan ilmu yang masuk ke dalam dunia Islam mencapai titik mekarnya, terutama ilmu kalam atas jasa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Ditambah, beliau hidup semasa dengan dua imam besar ilmu kalam yang tidak kalah hebat dalam menebarkan pengaruhnya; Imam Abu Ja’far Al-Thahawi (w. 321 H) yang banyak berkontribusi di Negeri Kinanah dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi yang ajarannya populer di negara Transoksiana (Mâ Warâ’u Al-Nahar). Sedangkan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, banyak berdedikasi di Irak. Tapi, dari ketiga imam ini, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang memiliki penganut terbanyak di dunia.

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Muktazilah

Kalau kita membaca biografi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, kita akan melihat bahwa beliau pada mulanya sudah hidup dalam lingkungan Sunni. Ayah beliau sebelum digantikan oleh ayah angkatnya juga bermazhab Sunni. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu ‘Asakir.

Ketika ayah beliau hendak menemui ajalnya, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari diwasiatkan agar belajar kepada ulama mazhab Syafi’i dan ahli hadis. Di antara guru beliau di masa ini adalah Zakariya bin Ahmad Al-Saji dan Abu ‘Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij. Keduanya merupakan tokoh dalam mazhab Syafi’i.

Kemudian, ketika Imam Abu Hasan Al-Asy’ari pindah ke Baghdad untuk belajar, di sini juga ibunya bertemu dengan salah satu pembesar Muktazilah; Abu Ali Al-Jubba’i yang kelak menjadi mercusuar mazhab dalam diri Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Di sinilah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, sebagaimana yang ditulis oleh Imam Tajuddin Al-Subki, memulai hidupnya sebagai sosok yang bermazhab Muktazilah, hingga menjadi salah satu tokoh di sana empat puluh tahun lamanya. Sampai Imam Ibnu ‘Asakir mengabadikan sepak terjang Imam Abu Hasan dalam Tabyîn Al-Kadzib Al-Muftari:

ألفنا كتابا كبيرا في الصفات كنا ألفناه قديما على تصحيح مذهب المعتزلة لم يؤلف لهم كتاب مثله، ثم أبان الله سبحانه لنا الحق فرجعنا عنه ونقضناه وأوضحنا بطلانه

“Kami (Imam Abu Hasan Al-Asy’ari) pernah menulis kitab sangat tebal tentang isu sifat Tuhan yang tidak ada duanya sebelumnya. Dahulu, kami menulisnya sebagai afirmasi atas mazhab Muktazilah. Kemudian, Allah menunjukkan kepada kami kebenaran, (sehingga) kami menarik, mengkritik, dan menunjukkan kecacatan pandangan itu.” (Ibnu ‘Asakir, Tabyin Al-Kadzib Al-Muftari, Damaskus: Dar Al-Fikr, 1979, hlm. 131)

Jika kita mencoba bertanya, apa gerangan beliau menjatuhkan pilihannya kepada Ahlussunnah? Setidaknya, ada empat faktor penting yang bisa kita temukan dalam catatan sejarah dan peneliti; 1) Mimpi beliau bertemu Rasulullah Saw., 2) Perdebatan dengan ayah angkatnya, 3) Mengalami fase skeptis dan bingung terhadap asas mazhab Muktazilah, dan 4) Kemampuannya dalam bernalar fikih dan hadis yang membantunya menemukan kebenaran. Tapi, tiga poin pertama yang paling kerap ditemukan dalam biografi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan sampai sekarang, sebab paling akurat itu masih menjadi perdebatan.

Terkait mimpi itu, kita akan jelaskan kronologinya, sesuai dengan catatan Ibnu ‘Asakir. Sebelum mimpi, ada sebuah kejadian yang membayang-bayangi hari Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Kejadian itu bermula ketika beliau belajar kepada Imam Al-Jubba’i, tapi ada sebuah masalah yang dipertanyakan oleh beliau kepada ayah angkatnya. Ujungnya, beliau tidak mendapati jawaban yang memuaskan. Sehingga, malam-malam beliau terganggu karena persoalan yang tak kunjung menemui muaranya.

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari kemudian melakukan salat dua rakaat lalu bermunajat agar Allah memberikan beliau petunjuk. Akhirnya, Allah memberikan beliau rezeki berupa mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw., kemudian beliau bilang: “Berpeganglah kepada sunnah-Ku.” Pesan Nabi inilah yang menjadi inspirasi kepada beliau agar meninggalkan Muktazilah, walaupun riwayat ini ada dalam tahap perdebatan dan masih diperselisihkan; apakah menjadi sebab utama ataukah hanya salah satu motif perpindahan beliau?

Adapun perdebatan beliau dengan ayah angkatnya, sangat banyak tema yang terlibat. Dalam beberapa riwayat, disebutkan beliau berdebat dengan ayah angkatnya seputar perbuatan al-shâlih wa al-ashlah (baik dan terbaik) bagi Tuhan, apakah asmâ’ Allah itu tauqîfi atau tidak, makna taat, melihat Allah, kehendak Allah, dan lain sebagainya.

Dari berbagai tema itu, riwayat yang paling populer adalah tema seputar kewajiban Allah berbuat baik. Terkait kronologinya, kita akan merunutkannya sesuai dengan pembacaan terhadap teks Imam Tajuddin Al-Subki dalam Thabaqât Al-Syâfi’iyyah Al-Kubrâ.

Suatu hari, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari mendatangi ayah angkatnya; Imam Abu Ali Al-Jubba’i Al-Mu’tazili. Beliau bertanya: “Wahai tuan guru, apa pendapat Anda tentang tiga orang (di akhirat): mukmin, kafir, dan anak kecil?”

Al-Jubba’i menjawab: “Orang mukmin, berada di surga. Orang kafir, berada di neraka. Sedangkan anak kecil, selamat.”

Al-Asy’ari bertanya kembali: “Seandainya anak kecil tersebut menjadi penduduk surga, apakah mungkin?”

Al-Jubba’i menjawab: “Tentu tidak, karena orang mukmin masuk surga karena taat, sedangkan bayi belum melakukan itu.”

Al-Asy’ari kemudian heran, lalu bertanya lagi: “Bagaimana jika nanti bayi ini protes kepada Tuhan: ‘Singkatnya hidupku, bukan salahku. Seandainya engkau hidupkan aku lebih lama, maka aku melakukan ketaatan seperti yang dilakukan orang mukmin.’?”

Al-Jubba’i menjawab lagi dengan nada hipotesis: “Maka Tuhan akan menjawab bayi itu: ‘Aku tahu jika engkau kuhidupkan dengan usia yang lebih lama, maka engkau akan melakukan maksiat, sehingga Aku menghukummu. Demi kebaikanmu, maka kuambil nyawamu sebelum engkau sampai usia taklif (terkena tanggungan hukum-red).”

Al-Asy’ari yang mengetahui rahasia dapur Muktazilah, khususnya prinsip keadilan Tuhan sebagai kredo prima Muktazilah, menguji konsistensi jawaban gurunya: “Kalau begitu, orang kafir (yang merasa terzalimi dengan jawaban Tuhan) juga akan bilang: ‘Tuhan, Engkau tahu masa depan anak bayi itu sebagaimana engkau mengetahui masaku yang sekarang. Tapi, kenapa engkau tidak menyelamatkanku, sebagaimana engkau menyelamatkan bayi itu?”

Al-Jubba’i terdiam. Ia tidak bisa menemukan jawaban akan pertanyaan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Tapi, Imam Al-Asy’ari yang saat itu bimbang, menemukan kontradiksi terkait keadilan dan kewajiban Tuhan berbuat baik dalam jawaban Al-Jubba’i. Beliau semakin bimbang. Sebagian riwayat menyebut bahwa perdebatan ini lebih dulu terjadi dibanding beliau bertemu Nabi melalui mimpi. Namun, untuk urutan timeline dari kedua peristiwa penting ini, masih belum disepakati.

Saat Imam Abu Hasan Al-Asy’ari berada di fase paling skeptisnya, beliau kemudian mengasingkan diri dari khalayak selama lima belas hari. Tentu, beliau yang kesehariannya bertegur sapa dengan masyarakat, tiba-tiba hilang. Dalam sebagian keterangan juga disebutkan bahwa masyarakat bertanya-tanya tentang keberadaan beliau. Waktu ini, beliau gunakan untuk mencari kebenaran dan menghadapi kebingungannya.

Kemudian, tepat hari Jumat dan kebetulan saat itu beliau yang punya jadwal khutbah di Masjid Basrah. Saat itulah khutbah fenomenal dalam sejarah Ahlussunnah dimulai; Imam Abu Hasan Al-Asy’ari secara terang-terangan mendeklarasikan “dirinya yang baru” di hadapan seluruh jamaah. Di sinilah para imam besar Ahlussunnah mencatat dengan baik setiap patahan kata Imam Abu Hasan Al-Asy’ari:

“Jamaah sekalian, saya sudah mengasingkan diri dari kalian selama beberapa hari, karena meneliti beberapa kerangka (mazhab Muktazilah). Tapi, saya tak kunjung menemui titik terang. Kemudian, Allah memberikan saya petunjuk (tentang masalah itu). Allah memberikanku petunjuk kepada akidah yang sudah kutulis di bukuku ini. Saya melepaskan apa yang kuyakini selama ini, sebagaimana saya melepaskan jubahku.”

Beliau melepaskan jubahnya di atas mimbar itu. Saat itu juga, baik secara de facto maupun de jure, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari resmi meninggalkan Muktazilah. Dalam sebagian riwayat juga disebutkan bahwa beliau meninggalkan Muktazilah sembari membantah pandangan mereka dalam banyak tulisan. Juga, banyak mendidik anak muda agar mengkritisi mazhab Muktazilah. Melalui pengajian kecil, kemudian lahirlah beberapa anak didik beliau yang menjadi pendekar Ahlussunnah di masa berikutnya.

Lahirnya Kader Berkualitas

Dalam beberapa catatan Ibnu ‘Asakir dan Imam Tajuddin Al-Subki, ada beberapa kader Imam Abu Hasan Al-Asy’ari hidup semasa dengannya dan sangat berjasa dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Berikut nama 24 pendekar tersebut yang diurutkan sesuai tahun wafatnya:

  1. Abu Al-Husein Bundar bin Al-Husein Al-Syirazi (w. 353 H). Dseibutkan juga kalau beliau adalah khadim dari Imam Al-Asy’ari.
  2. Qadhi Abu Muhammad Abdullah bin ‘Ali Al-Thabari (w. 360 H).
  3. Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasyi (w. 365 H).
  4. Abu Sahl Muhammad bin Sulaiman Al-Su’luki Al-Naisaburi (w. 369 H).
  5. Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ishaq Al-Thabari (w. 370 H).
  6. Abu Al-Hasan Al-Bahili Al-Bashri (w. sekitar 370 H).
  7. Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Mujahid Al-Tha’iy (w. sekitar 370 H).
  8. Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi Al-Thabari (w. sekitar 370 H)
  9. Abu Abdullah bin Khafif Al-Syirazi (w. 371 H).
  10. Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al-Fasyani Al-Marwazi (w. 371 H).
  11. Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim Al-Jurjani Al-Isma’ili (w. 371 H).
  12. Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Al-Sulamiy Al-Baghdadi Al-Naqqasy (w. 379 H).
  13. Abu Abdullah Muhammad bin Qasim Al-Asbahani (w. 381 H).
  14. Abu Muhammad Abdul Wahid bin Ahmad Al-Qarasyi Al-Zuhriy (w. 382 H).
  15. Abu Al-Hasan bin ‘Ali bin ‘Isa Al-Rummani (w. 384 H).
  16. Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Bukhari Al-Awdani (w. 385 H).
  17. Abu Al-Husein Muhammad bin Ahmad bin Isma’il (w. 387 H).
  18. Abu Ali Zahir bin Ahmad Al-Saraksiy (w. 389 H).
  19. Abu Manshur Muhammad bin Abdullah bin Hamsyad Al-Naisaburi (w. 388 H).
  20. Abu Abdurrahman Muhammad bin Isma’il Al-Syuruthi Al-Jurjani (w. 389 H).
  21. Abu Abdullah Hammawi Al-Sirafi (Tidak diketahui).
  22. Abu Nashr Al-Kawazi (Tidak diketahui).
  23. Al-Damyani (Tidak diketahui).
  24. Al-Qadhi Abu Muhammad bin Umar Al-Maliki (Tidak diketahui).

Demikian perkenalan singkat seputar Imam Besar Ahlussunnah wal Jama’ah; Abu Hasan Al-Asy’ari. Sebenarnya, masih banyak detail kecil dan bagian tertentu yang tidak dibahas, karena keterbatasan ruang. Seandainya kita ingin membahas banyak hal dari beliau, maka kita akan menyaksikan buku yang sangat tebal dengan deretan jilid, terutama jika bersentuhan dengan pemikiran beliau.

Semoga, kita bisa terus meneruskan spirit Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawakan oleh para imam dan ulama kita, terutama Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, dan menjadi wasilah najah di akhirat kelak.

Wallahu a’lam.

Artikel Sebelumnya

Filsafat Hari Ini; Quo Vadis?

Artikel Selanjutnya

Ilmu Akidah untuk Pemula; Pendahuluan (Bag. 1)

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Ilmu Akidah untuk Pemula; Pendahuluan (Bag. 1)

Ilmu Akidah untuk Pemula; Pendahuluan (Bag. 1)

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.