Dalam mazhab Ahlussunnah, kita diajarkan bahwa Tuhan tidak terikat dengan ruang dan waktu, sehingga kita bisa meyakini bahwa Tuhan ada sebelum segalanya ada. Akan tetapi, ada beberapa ayat yang menyatakan bahwa penciptakaan langit dan bumi itu berdurasi enam hari (sittah ayyâm). Ini seperti dalam ayat:
{الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ وَما بَيْنَهُما فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ..}
“(Dialah) yang menciptakan langit, bumi, dan antara keduanya dalam enam hari…” (Q.S. Al-Furqan: 59).
Ini akan kelihatan kontras dengan ajaran Ahlussunnah. Di satu sisi menunjukkan bahwa Tuhan tidak terikat dengan waktu, karena Dialah pencipta waktu. Tapi di sisi lain, ada ayat yang mengindikasikan Tuhan diliputi waktu, yakni enam hari dalam menciptakan alam semesta. Bagaimana kita menyikapinya? Kita bisa menggunakan jawaban yang dikemukakan oleh Sang Mestro, Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H) dalam kitab Mafâtih Al-Ghaib tentang pembahasan yang bersangkutan dengan itu.
Masalah Pertama: Tentang Keberadaan Waktu
Ada yang mengatakan: Waktu itu diidentikkan dengan gerak bola semesta besar (matahari). Tapi, sebelum keberadaan alam semesta, waktu belum ada! Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan semesta dalam enam hari, sementara waktu sendiri ada bersama semesta?
Imam Fakhruddin Al-Razi menjawab ini dengan menjelaskan bahwa sebelum keberadaan matahari atau benda angkasa, waktu itu sudah ada. Imam Al-Razi menyebutnya dengan al-muddah al-mutawahhamah atau sebuah waktu yang diimajinasikan (Penulis belum menemukan terjemahan yang tepat untuk terma ini) –Wallahu a’lam-. Waktu ini tidak menerima penambahan (ziyâdah), pengurangan (nuqshân), dan pembagian (tajzi’) dan belum memiliki bilangan paten.
Namun, jika yang dimaksud adalah waktu sebelum adanya alam semesta, maka ada satu konsekuensi: qidam al-zamân (kekekalan waktu). Dalam akidah, ini jelas bermasalah. Karena hanya Tuhan yang qadim. Solusinya, Imam Al-Razi menyatakan bahwa sebelum Tuhan menciptakan semesta, Tuhan menciptakan waktu, lalu menciptakan alam semesta. Juga, penciptaan waktu ini tidak memerlukan waktu yang lain. Sebab, penciptaan yang mengharuskan adanya waktu akan bermuara pada tasalsul atau daur.
Ini juga bisa menjadi dalil bahwa penciptaan tidak harus melibatkan waktu. Sebab, sifat Maha Pencipta Tuhan lebih dulu ada dibanding waktu.
Adapun pandangan yang menyatakan makna waktu sebelum keberadaan semesta adalah waktu akhirat yang satu harinya sama dengan seribu tahun, maka ini terlalu jauh dari yang dimaksud. Sebab, kita tidak bisa mendefinisikan sesuatu dengan sesuatu yang majhȗl (yang tidak diketahui) dan ini untuk menyesuaikan dengan akal mitra bicara; yakni manusia yang tidak mampu memahami hakikat waktu akhirat. Tapi, sekali lagi, ini tidak bisa dijadikan definisi paling akurat untuk menggambarkan waktu atau durasi yang ada sebelum keberadaan benda semesta.
Pandangan tentang waktu bergantung kepada gerak matahari (harakah al-falak al-a’dzam) merupakan pandangan mazhab filusuf paripatetik. Jika pandangannya demikian, lantas apakah waktu masih bisa dikatakan ada sebelum matahari itu ada?
Masalah Kedua: Tentang Enam Hari
Ada sebuah pertanyaan lagi yang bisa lahir: Apakah enam hari menunjukkan hari yang kita ketahui di bumi dengan durasi yang sama?
Imam Al-Razi menjelaskan kalau frasa “enam hari” atau “sittah ayyam” itu dua hal yang berbeda. Artinya, konsep “enam” dan “hari” ini harus dibahas secara terpisah.
Kata sittah sendiri merujuk kepada enam keadaan (ahwâl) dari objek yang diciptakan. Kata tersebut, tidak menunjukkan durasi seperti yang diduga oleh sebagian orang dan mengkap kesan Tuhan diliputi waktu.
Dalam ayat tersebut, ada isyarat kepada tiga objek yang diciptakan: 1) Langit. 2) Bumi. 3) Antara keduanya. Ketiga hal tersebut merupakan substansi (dzat) yang memiliki aksiden (‘aradh) yang melekat. Karena masing-masing memiliki aksiden, inilah yang membuatnya menjadi enam secara total.
Adapun kenapa menggunakan kata ayyâm, itu karena manusia jika mengasumsikan perbuatan dalam akalnya, maka mereka akan mendapati keberwaktuan. Sebab, perbuatan itu memiliki keterangan waktu. Kata paling populer untuk menggambarkan waktu adalah ayyâm.
Pada bagian yang lain, Imam Fakhruddin Al-Razi juga menyebut kalau enam hari yang dimaksud itu sama dengan durasi hari yang ada di bumi, tanpa menggantungkan waktu pada gerak benda semesta. Sebab, Al-Qur’an itu diturunkan kepada manusia dan porsi bahasanya disesuaikan dengan akal manusia. Sebagian ulama lain berpandangan bahwa enam hari di sini tidak menunjukkan waktu yang sama dengan waktu bumi. Karena realitas di bumi berbeda dengan realitas di ruang luar bumi sana. -Wallahu a’lam-
Masalah Ketiga: Antara Penciptaan dan Waktu
Dari uraian kedua di atas, akan timbul pertanyaan baru: Kalau perbuatan diliputi waktu dan Tuhan di sini sebagai pencipta berbuat untuk menciptakan, berarti Tuhan terlibat dalam waktu.
Sebenarnya untuk menjawab ini, kita hanya memerlukan pembahasan teori ta’alluq yang sudah dibahas pada salah satu tulisan yang lalu. Penciptaan itu terjadi dengan sifat qudrah dan sifat iradah yang memberatkan salah satu sisi neraca kemungkinan yang diciptakan oleh sifat qudrah. Karena berasal dari kedua sifat ini, berarti kita harus berbicara tentang ta’alluq yang ada pada kedua sifat tersebut; ta’alluq tanjîz al-hâdits.
Pada pembahasan itu juga, kita telah menyinggung bahwa ketika terjadi perubahan selain dari Dzat-Nya, maka tidak ada dari sifat itu yang berubah, tapi ta’alluq dari sifat itulah yang berubah. Begitu juga kalau kia berbicara tentang sesuatu yang diliputi oleh waktu, yang diliputi waktu, bukanlah Tuhan, bukan juga sifat-Nya. Tapi, ta’alluq dari sifat itulah yang diliputi waktu. Maka, antara adanya waktu dalam penciptaan dan keberwaktuan Dzat, tidak memiliki kaitan sama sekali.
Sampai di sini, maka klaim keberwaktuan Tuhan berdasarkan ayat ini menjadi gugur semua.
Masalah Keempat: Tentang Durasi Penciptaan
Di sini akan timbul lagi pertanyaan: Kenapa Tuhan butuh enam hari dalam menciptakan jika bisa menciptakan segalanya dalam sekejap?
Imam Fakhruddin Al-Razi menjawab bahwa Tuhan bisa saja menciptakan segalanya dalam sekejap. Juga, penciptaan yang memiliki proses tidak membuktikan ketidakmampuan Tuhan dalam menciptakan dalam sekejap.
Buktinya, segala objek dalam alam semesta tersusun atas partikel terkecil yang tidak bisa lagi terbagi (al-juz alladzi la yatajazza’). Seluruh partikel terkecil ini diciptakan sekaligus. Sebab, tidak ada unsur penyusunnya. Jika dikatakan bahwa dia memiliki unsur penyusun, maka itu mustahil, sebab akan terjadi qalb al-haqâ’iq atau kalaupun terjadi, maka akan bermuara pada tasalsul karena akan terjadi keterbagian tanpa batas dan ini mustahil.
Bagaimana jika partikel terkecil itu tidak diciptakan secara bersamaan? Maka di sini kita perlu mengasumsikan sebuah penciptaan. Penciptaan materi ikut melibatkan waktu karena kita akan berbicara tentang ketersusunan yang melibatkan proses. Anggaplah di waktu pertama (atau satuan terkecil waktu pertama), apakah ada terjadi penciptaan atau tidak? Jika tidak terjadi apa-apa, maka pada waktu pertama ini sudah di luar area waktu penciptaan, alias kita sudah di luar konteks pembahasan. Jika ada, maka ada penciptaan partikel terkecil pada waktu pertama dan waktu kedua atau sebut saja dalam dua satuan waktu terkecil. Bagian ini menyebabkan keterbagian partikel terkecil yang tidak terbagi dan keterbagian ini mustahil. Penyebab keterbagian ini adalah waktu yang terlibat dalam penciptaan, sebab waktu itu memiliki keterbagian sejak awal. Maka sudah seharusnya partikel terkecil itu ada secara bersamaan dalam satu waktu.
Di titik mana partikel terkecil itu terbagi dengan keterbagian waktu? Jawabannya, seandainya partikel itu tercipta dalam dua satuan waktu terkecil, maka ada jarak antara satuan waktu pertama dan satuan waktu kedua untuk proses penciptaan. Dalam proses itu tentu menunjukkan kalau ada proses penyatuan antara satu partikel dan yang lain. Karena adanya proses ini, inilah yang menunjukkan bahwa akan ada pernyataan keterbagian partikel kecil yang tidak terbagi lagi. Ini mustahil. Maka ini menunjukkan bahwa partikel terkecil itu harus diciptakan semuanya secara serentak.
Jadi, jika penciptaan sekaligus saja mampu dilakukan oleh Tuhan, apalagi penciptaan yang bertahap (tadarruj).
Wallahu a’lam








