• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Ilmu Kalam

Nuktah Pertama; Tuhan, Butuh Pembuktian?

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
11 Maret 2023
in Ilmu Kalam
Waktu Baca: 6 menit baca
Source: https://www.pexels.com/photo/blue-and-white-sky-with-stars-4737484/

Source: https://www.pexels.com/photo/blue-and-white-sky-with-stars-4737484/

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Seluruh pengetahuan, di mana pun dan apapun itu pasti akan berbasis kepada sesuatu yang disebut aksioma atau sesuatu yang tidak butuh penalaran, alias tidak perlu dibuktikan. Para pengkaji dan akademisi Islam mengistilahkan aksioma itu dengan dharuriy. Di titik ini, tidak ada perdebatan atau keraguan apapun bahwa “Langit itu di atas” dan “Tanah itu di bawah” adalah sebuah kebenaran.

Tapi, kalau kita menarik benang pembahasan kita ke realitas sebelah, kita akan menemukan bahwa ada orang yang meragukan Tuhan. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada karena tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, dan lain-lain. Maka yang tidak bisa dicapai, kesimpulannya Dia tidak ada. Melihat ada realitas seperti ini, maka ada satu garis penting: Apa motif munculnya ilmu akidah? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan berbagai perspektif. Salah satunya, menggunakan perspektif kalam Tuhan bahwa ilmu akidah ada untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

“Perlukah Tuhan dibuktikan?” Sebelum saya menjawab “ya” atau “tidak”, saya akan memberikan sebuah pengantar untuk memberikan “kepastian” kepada pertanyaan yang terlihat sederhana, tapi butuh deretan paragraf untuk menjawabnya.

Saya sudah sedikit “menyentil” di paragraf pertama, bahwa semua pengetahuan memiliki aksioma. Aksioma ini bisa kita sebut dengan postulat atau sebuah premis primordial yang kebenarannya tidak bisa digugat. Sebuah pengetahuan dibangun di atas postulat. Membantah postulat, berarti membantah pengetahuan itu. Ibaratnya, sebuah pohon yang memiliki akar. Pohon itu ibarat pengetahuan yang terbangun. Sementara, akarnya adalah postulat. Apabila akarnya dirusak, maka runtuhlah pohon itu.

Saya akan mulai dari sebuah titik paling halus nan kritis: epistemologi.

Manusia, sebagai makhluk Tuhan yang diistimewakan, diberikan bekal atau alat untuk mengarungi samudera realitas. Manusia memulai segalanya dengan “mengetahui” realitas itu. Pertanyaannya, bagaimana manusia mengetahui? Saya akan mendatangkan satu ayat yang membahas tentang “kebagaimanaan” manusia dalam mengetahui:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah telah mengeluarkan kalian (manusia) dari rahim ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Kemudian, Allah memberikan kalian al-sam’u, al-abshâr, dan al-af’idah. Agar kalian bersyukur” (Al-Nahl: 78)

Syekh Said Fodah dalam Syarh Al-Muthawwal memberikan beberapa faidah yang ditarik dari ayat ini:

Pertama, manusia itu ilmunya hâdits; ada setelah mengalami ketiadaan. Itu berdasarkan “lâ ta’lamȗna syai’a”.

Kedua, manusia itu memiliki ketersiapan dalam menerima pengetahuan. Ini karena manusia sebelumnya tidak tahu, kemudian tahu. Titik antara tahu dan tidak, dibatasi oleh dinding ketersiapan. Jika ketersiapan itu tidak ada, maka mustahil manusia bisa tahu. Tapi, manusia bisa tahu. Maka, manusia memiliki ketersiapan.

Ketiga, sifat ilmu manusia itu akumulatif. Artinya, ilmu manusia itu saling melengkapi, tertabung sesuai yang didapatkan.

Keempat, manusia memiliki tiga sumber pengetahuan; 1) Pancaindera; ini diisyaratkan oleh al-sam’u. 2) Khabar; ini diisyaratkan oleh al-abshâr. 3) Akal; ini diisyaratkan oleh al-af’idah.

Pertanyaan “Bagaimana manusia mengetahui?” itu sudah terjawab dengan uraian di atas. Selanjutnya, kita akan meraba di mana postulat itu? Dan apa saja yang terbangun di atasnya? Saya akan mengurai pada segmen selanjutnya.

Akal, Postulat, dan Nash

Kalau kita membuka kitab-kitab kalam yang seabrek itu, baik dari kubu klasik maupun kontemporer, maka kita akan menemukan ulama memulai semuanya dari akal; baik melalui epistemologi maupun ontologi. Sekadar informasi, Islam memiliki dua jenis pilar utama dalam berdalil; aqli dan naqli. Kenapa dimulai dari akal? Jawaban paling sederhananya, karena akal adalah sumber pengetahuan yang paling dekat dari manusia, setelah pancaindera.

Untuk mengetahui, manusia memulai dari indra. Indra terbatas hanya pada ruang al-juz’iyyât atau partikular. Indra tidak bisa mengakses pengetahuan al-kulliyât atau universal. Titik akhirnya indra adalah dinding pembatas antara partikular dan universal. Lalu, dimensi universal kemudian menjadi ranah bagi akal.

Ketika manusia melihat pohon di realitas, “penglihatan” manusia (atau dalam bahasanya Immanuel Kant; fenomena) itu kemudian ditarik menjadi sebuah konsep di akal. Ketika manusia menyaksikan pohon itu sudah tidak lagi seperti sebelumnya, maka akal manusia akan mengonsepsikan bahwa di sana terjadi “perubahan”. Indera manusia tidak dapat melihat sesuatu yang disebut “perubahan”, tapi akal dapat mengkonsepsikan sesuatu yang disebut perubahan dan berubah itu. Lalu, akal yang mengundang hukum kontigen (al-imkân) kepada perubahan itu, lalu akal juga yang dapat menyimpulkan “Semua yang baru itu bersifat kontigen”.

Kemudian, ketika akal sudah menetapkan sifat kontigen kepada sesuatu yang berubah, melalui nalar oposisi biner, kita bisa menarik sebuah benang merah; jika ada sesuatu yang kontigen, maka entitas eternal juga ada (qadîm).

Sampai di titik ini kita bisa melihat bagaimana akal manusia bekerja dalam menyimpulkan, sehingga wajar saja akal itu menjadi salah satu postulat penting dalam ilmu akidah. Kenapa akal? Sekali lagi, akal paling dekat dengan manusia setelah pancaindera. Kenapa bukan pancaindera; sumber pengetahuan terdekat? Sebuah indera yang tidak ditopang dengan dengan akal, tidak ada bedanya dengan hewan ternak. Hewan ternak memiliki pancaindera, tapi mereka tidak bisa membangun suatu peradaban. Kita tidak bisa menemukan sebuah kebenaran jika murni pancaindera menjadi postulat primordial dalam mengarungi kehidupan. Tidak akan ada peradaban, tidak akan ada harapan, apalagi kemanusiaan.

Ketika ditanya, kenapa akal menjadi salah satu postulat? Jawaban pendeknya,  “Memang begitu”. Diksi “Memang begitu”, perlu dipertajam lagi maksudnya. Apa yang dimaksud “Memang begitu”? Kita akan menjawab dengan jawaban yang serupa jika kita mempertanyakan postulat. Karena postulat adalah sesuatu yang dianggap benar dan tidak butuh pembuktian. Seandainya, semua postulat dijawab dengan jawaban-jawaban gamblang, maka akan muncul pertanyaan tanpa batas; “Kenapa begitu?”, tidak akan ada ujung, ad infinitum (tasalsul). Maka, diperlukan ujung untuk menopang susunan teori yang lain. Makanya, tidak mengherankan jika postulat tidak mampu dijelaskan manusia, karena postulat adalah “dogma” versi ilmiah.

Sampai di sini, kita sudah menemukan relasi antara akal dan postulat. Akal itu sendiri adalah postulat atau badâhi. Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana dengan nash, bukankah agama ini butuh juga dengan teks samawi?”. Kita akan membuat segmen khusus terkait dengan afirmasi nash.

Dalil: Nash

Syekh Salim Abu ‘Ashiy menulis dalam bukunya yang bertajuk Asy’ariyyun Anâ bahwa ketika dalil itu ada dua; ada naqli dan ‘aqli. Tapi, ‘aqli menjadi postulat karena kebenarannya tidak perlu dibuktikan (ini sebagaimana yang dijelaskan di atas). Namun, naqli butuh diafirmasi oleh akal. Sebab, naqli itu butuh kepada neraca pemberat afirmasi (murajjih).

Ketika kita berdebat dengan orang yang mengingkari teks samawi, maka kita tidak bisa melakukan pengutipan apapun dari teks samawi. Yang perlu kita lakukan adalah mengafirmasi kelayakan teks suci itu menggunakan deretan argumentasi rasional. Sebab, mencoba membuktikan nash menggunakan nash, maka nash yang bertugas membuktikan akan dipertanyakan: “Bagaimana caranya percaya dengan nash ini sebagai bukti?” Jika dijawab dengan dalil nash lagi, maka akan timbul jawaban yang sama; daur (infinite regression). Maka untuk memutus “lingkaran setan” itu, maka perlu solusi lain; menjadikan akal sebagai pilar.

Membuktikan keabsahan nash menjadi salah satu sumber utama perlu ilmu transmisi (riwâyah) dan ilmu teoritis (dirâyah). Kedua basis ini bertumpu pada pembuktian akal. Pembuktian lebih gamblangnya, tidak akan dipaparkan di sini kecuali memberikan abstraksi saja.

Pun, perlu kita garisbawahi bahwa arena tempur nash itu bisa saja sama dengan akal, bisa juga melampaui realitas akal. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa dijangkau akal, kecuali dimungkinkan saja, seperti masalah gaib di masa lalu, masa mendatang, dan persoalan sam’iyyât lainnya.

Pembuktian

Setelah kita menemukan titik terang bahwa manusia memiliki beberapa sumber pengetahuan dan akal sebagai postulat, maka kita akan menjawab “Tuhan, perlukah dibuktikan?”. Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak.

Realitas manusia itu bertingkat-tingkat. Manusia akan familiar dengan ruangnya masing-masing. Seperti yang sudah saya goreskan di atas, bahwa pancaindera dan akal, memiliki ruang berbeda dan masing-masing batasnya. Pertanyaannya, mungkinkah ada sesuatu di atas akal? Jawabannya, iya. Paling minimal, kalau tidak diiyakan, akan dimungkinkan.

Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalal membuktikan bahwa ada sebuah realitas yang lebih tinggi. Itu saat beliau menantang dua sumber pengetahuan terkuat manusia; pancaindera dan akal. Jika memang pancaindera benar, mengapa benda terlihat berbeda ukurannya atas dasar distansi? Ini berarti, ada saat tertentu pancaindera itu “berbohong”. Juga, bagaimana caranya percaya dengan akal, sementara kita lebih dulu percaya pancaindera? Sampai satu bagian, Imam Al-Ghazali terjatuh sakit dan diperlihatkan sebuah kebenaran yang lebih tinggi. “Ketika engkau mimpi, bagaimana engkau mengetahui sesuatu, sementara engkau terlelap?”. Inilah kemudian yang dikenal dengan intuisi (al-hadas).

Jadi, jika pancaindera memiliki titik ujung, maka akal juga demikian. Titik awal setelah ujung akal adalah intuisi dan realitasnya lebih di atas daripada akal[1]. Tapi, tidak semua manusia yang bisa mengakses dimensi intuitif itu. Maka, di sini kita memecah realitas manusia menjadi dua; 1) Realitas awam. 2) Realitas khusus.

Kembali ke poin pembuktian Tuhan. Mungkin, setelah memberikan dua opsi, malahan menggantung setelah saya berikrar memberikan kepastian. Baik, kali ini saya akan memperjelas, apa di balik “ya” dan “tidak” itu.

Manusia yang berada pada realitas awam, jelas butuh pembuktian. Di sinilah para teolog memberikan sebuah solusi; argumen kontigensi alam (hudȗts al-‘âlam). Karena mereka memiliki realitas terbatas, tapi masih mungkin menerima adanya “realitas lebih” yang tidak terindra, tidak juga terpikir sebelumnya.

Adapun manusia pada realitas khusus, tidak perlu lagi pembuktian. Sebab, mereka telah menyaksikan kebesaran Tuhan dengan amat jelas. Untuk apa membuktikan sesuatu yang terlampau jelas? Mereka tidak butuh lagi ilmu yang memiliki visi mengafirmasi Tuhan. Tentu, ini menguatkan poin sebelumnya; karena realitas manusia terbatas, maka entitas Tuhan tidak diketahui secara aksiomatik oleh manusia, alias spekulatif (spekulatif). Karena sifatnya spekulatif, maka butuh pembuktian.

Wallahu a’lam


[1] Saya pernah memabahas ini dalam salah satu esai. Lihat: Muhammad Said Anwar, Realitas Nir-Batas; Perspektif Epistemik-Ontologis.

Artikel Sebelumnya

Bagaimana Saya Membaca Buku?

Artikel Selanjutnya

Jika Tuhan Ada, Kenapa Masih Ada yang Mengingkari-Nya?

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Jika Tuhan Ada, Kenapa Masih Ada yang Mengingkari-Nya?

Jika Tuhan Ada, Kenapa Masih Ada yang Mengingkari-Nya?

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.