Bismillah, wa bihi nasta’în
Anakku, jika engkau membaca tulisan ini, maka engkau termasuk orang beruntung di dunia. Karena engkau akan membaca intisari dari jutaan kitab tauhid yang ada di dunia. Jika engkau membaca kitab tauhid suatu hari nanti, maka engkau akan menemukan inti yang sama dengan tulisan ini; bertemu dalam kalimat syahadat; “Asyhadu an lâ ilaha illallah wa asyhadu anna muhammad rasulullah”
Duhai anakku, ketahuilah bahwa hal pertama yang wajib bagi segenap manusia adalah mengetahui Tuhan. Sebab, jika engkau tidak mengetahuinya, maka imanmu akan diperselisihkan. Ingatlah wahai anakku, keluar dari perbedaan pendapat adalah hal yang sangat dianjurkan. Maka, jalanmu adalah mengetahui Tuhan; baik itu wajib bagi-Nya, mustahil, maupun jâ’iz. Hal yang sama juga berlaku bagi para Rasul, mereka memiliki sifat wajib, mustahil, dan jâ’iz. Ketika engkau menerima apapun yang datang dari Tuhan maupun Rasulullah Saw., maka engkau pasti menerima konsekuensinya; tentang hari akhir, kitab-kitab samawi, dan takdir. Karena iman itu satu kesatuan yang tidak terpisah.
Anakku, keimanan itu bukan doktrin dari pemikiran kolot nan kuno, pun bukan buatan manusia. Tapi, keimanan itu murni ajaran agama. Keimanan itu ada karena akal manusia tidak mampu mencerna sesuatu yang lebih besar. Tidak bisa juga dikatakan tidak logis. Karena perkara keimanan tidak ada yang bertentangan dengan hukum akal. Semuanya dipercaya oleh akal sebagai sesuatu yang benar. Hanya saja tentang prosedur dan detailnya, akal tidak bisa menangkapnya.
Anakku, ketika engkau bertanya “Jika Tuhan ada, di mana dia?” Jawabannya, dia tidak bertempat, tidak juga diliputi waktu. Sebab, Dialah pencipta keduanya. Dia ada bersama hamba-hamba-Nya. Bahkan, Dia menyatakan bahwa Dia selalu mengijabah doa-doa hamba-Nya dalam firman-Nya. Dia mendengar jeritan hati dan penderitaan kala engkau melantunkan doa. Dia juga melihat hati hamba-Nya yang memohon pertolongan kepada-Nya. Dia juga yang mengizinkan kita hidup dan menikmati segala nikmat-Nya. Ketahuilah, yang seperti ini pasti Maha Hidup.
Anakku, jika engkau bertanya “Jika Tuhan ada, kenapa saya tidak melihatnya?”, Ingatlah, bahwa ketika engkau tidak mampu melihat sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak ada. Ingatkah engkau kilauan matahari siang hari? Apakah engkau mampu melihatnya? Jika engkau bisa melihatnya, berapa lama engkau bertahan menatapnya? Anakku, jika matahari ciptaan-Nya saja tidak mampu engkau lihat, bagaimana dengan Dia yang lebih dari matahari?
Anakku, Tuhan itu tidak pernah bersembunyi, tidak lari, tidak pula hilang lalu tampak. Dia ada, tapi mata manusia tidak sanggup untuk menangkapnya. Mata manusia itu fana, sedangkan Dia itu Maha Kekal. Bagaimana mungkin fana bisa melihat Yang Maha Kekal? Suatu saat, Tuhan mengganti mata manusia dengan mata yang kekal. Dengan begitu, mereka bisa melihat yang Maha Kekal.
Anakku, jika engkau mempertanyakan keberadaan Tuhan, ingatlah bahwa keberadaan Tuhan terlalu jelas untuk dibuktikan. Bahkan, keberadaan kitalah yang lebih layak diragukan, Nak. Bagaimana tidak, Dia adalah ada yang niscaya, sedangkan keberadaan kita tidak niscaya. Bagaimana mungkin kita mempertanyakan sesuatu yang niscaya?
Anakku, tidakkah engkau melihat deretan semesta ini? Bagaimana mungkin semesta ini ada tanpa ada yang menciptakannya? Jika ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh dirinya, bagaimana mungkin semesta menciptakan sementara semesta itu sendiri tidak ada? Pasti ada sesuatu yang lain yang menciptakan. Nak, lihatlah langit itu. Apa jadinya jika rentetan penciptaan itu tidak berhenti sampai Tuhan? Alam ini tidak akan pernah ada, Nak. Jika engkau bertanya “Siapa yang menciptakan Tuhan?” Ingatlah anakku, Tuhan itu tidak diciptakan, tapi Dia yang menciptakan. Karena dia ada tanpa membutuhkan sesuatu yang lain.
Anakku, jika engkau bertanya “Kenapa Tuhan itu satu?”, apa jadinya jika Tuhan memiliki rekan dalam menciptakan semesta? Jika keduanya bekerja sama dalam menciptakan semesta, bagaimana jika rekan Tuhan meninggalkan Tuhan? Jika Tuhan masih mampu menciptakan semesta sendirian, maka rekan Tuhan tidak dibutuhkan. Tapi, jika Tuhan memerlukan rekan-Nya, berarti Tuhan itu lemah. Tidak mungkin Tuhan itu nganggur dan tidak mungkin pula Tuhan itu lemah. Maka keesaan Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya.
Anakku, jika engkau bertanya “Bagaimana bentuk Tuhan?” Ingatlah bahwa apapun yang muncul di pikiranmu tentang Tuhan, itu pasti bukan Tuhan. Karena jika Tuhan serupa dengan makhluk, maka Tuhan menduduki hukum keserupaan dengan makhluk. Nak, makhluk itu diciptakan, sedangkan Tuhan yang menciptakan. Bagaimana mungkin Tuhan serupa dengan ciptaan yang ada di pikiranmu? Tinggalkanlah bayangan-bayangan dalam pikiranmu, karena itu pasti bukan Tuhan.
Anakku, Tuhan itu memiliki banyak utusan. Mereka adalah orang-orang yang dipercaya dan mereka pembawa kabar gembira. Karena mereka adalah orang yang jujur dan tidak pernah berbohong. Bahkan, riwayat menyatakan bahwa orang yang membenci mereka tidak ragu untuk menitipkan hartanya kepada mereka. Juga, mereka adalah orang yang cerdas. Karena tidak mungkin mereka memegang misi besar, sedangkan mereka tidak memiliki kecerdasan yang siap untuk itu. Nak, Tuhan tidak naif mengutus sosok yang lemah mental dan memiliki penyakit yang membuat orang takut kepada mereka. Justru mereka adalah orang-orang yang berparas ideal dan berkarakter.
Anakku, para Nabi itu bukanlah orang egois yang menyembunyikan hidayah. Mereka adalah orang yang sangat dermawan memberikan pengetahuan. Bagaimana mungkin kita melihat ulama hari ini jika Nabi itu menyembunyikan sumber pengetahuan para ulama? Bagaimana ulama menjadi ulama jika mereka tidak memiliki wawasan keagamaan dan nalar yang kuat? Tapi, engkau bisa menyaksikan ulama. Berarti sumbernya itu jujur, amanah, tidak menutup-nutupi kebenaran, dan cerdas.
Anakku, Tuhan menguji manusia. Tapi, di saat yang sama, Tuhan justru memiliki Sifat Maha Penyayang. Engkau perlu ingat bahwa Tuhan Maha Absolut; bebas ingin melakukan apa saja selama itu layak bagi-Nya dan tidak menciderai kesempurnaan-Nya. Begitupun dengan Nabi yang bisa juga mengalami sakit, sebagaimana manusia pada umumnya. Tapi, karena Nabi itu adalah orang pilihan, maka mereka tidak pernah mengalami penyakit parah.
Anakku, jika engkau sudah selesai mengamini keberadaan Tuhan dan Nabi beserta sifat-sifatnya, maka konsekuensinya adalah engkau mengamini apapun yang datang dari kedua-Nya.
Anakku, ada yang mempelajari tauhid, tapi ilmunya hanya membuat hatinya keras, alih-alih menambah keimanan. Mereka adalah orang yang hatinya kering. Padahal, sejatinya ilmu tauhid itu tidak dirancang untuk mengeringkan hati. Misi utama ilmu tauhid adalah afirmasi akidah dan membantah syubhat jika itu ada. Bukan ilmu yang dipakai untuk membanggakan diri ataupun mencari tenar.
Anakku, keimanan adalah langkah pertama. Jangan berpikir bahwa engkau sudah mendapatkan segalanya begitu selesai dari ilmu tauhid. Engkau butuh belajar tentang kelembutan hati dan menggapai kebenaran yang tidak pernah engkau dapatkan. Karena ada kebenaran yang bisa ditangkap oleh intuisi hati, tidak mampu ditangkap akal ataupun dibahasakan. Inilah jalan yang ditempuh oleh para pecinta Tuhan. Sekian.
Ayahmu, Muhammad Said Anwar








