Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang lafaz secara umum, juga lafaz mufrad yang belum lengkap uraiannya karena terlampau panjang jika ingin disatukan dengan tulisan sebelumnya. Kita telah membahas mufrad dari segi kelayakannya diberitakan (bi i’tibâr shalahiyyah li al-ikhbâr).
Kali ini, kita akan membahas isim mufrad dari segi mafhum-nya atau hubungannya dengan lafaz mufrad yang lain. Berdasarkan mahfum-nya, lafaz ini terbagi menjadi dua; 1) Tarâduf. 2) Tabâyun. Apa saja maksudnya? Berikut ulasannya.

- Taraduf
إتحاد اللفظين أو أكثر في معنى واحد
“Menyatunya dua lafaz atau lebih dalam satu makna”
Sederhananya, tarâduf itu persamaan kata dari segi maknanya. Atau biasanya dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya “sinonim”. Misalnya إنسان dan بشر yang sama-sama bermakna manusia. Kata صديق dan زميل yang sama-sama bermakna teman/kerabat. Kata ودّ dan حبّ yang sama-sama bermakna cinta. Dan lain-lain.
Umumnya, para ahli mantik menganalogikan tarâduf ini seperti dua orang yang ada dalam satu kendaraan. Dua orang ini adalah lafaz, sedangkan kendaraan itu adalah makna.
Ada catatan penting yang harus Anda baca kembali setelah Anda memahami konsep mafhum dan mashdaq, karena pembahasan keduanya pas di tulisan yang akan datang. Yaitu, tolak ukur apakah lafaz itu masuk taraduf atau tidak, adalah mafhum-nya, bukan mashdaq-nya.
Maka dari itu, jika ada lafaz yang mashdaq-nya sama tapi mafhum-nya berbeda, maka tidak dapat dikatakan tarâduf. Seperti kata insân dan nâthiq yang memiliki mashdaq yang sama, yaitu siapa saja yang berpikir. Tapi, mafhum-nya berbeda. Maka tidak bisa dinamakan tarâduf. Anda akan paham catatan ini ketika Anda sudah paham apa itu mafhum dan mashdaq.
- Tabâyun
اختلاف اللفظين في المعنى و المفهوم
“Perbedaan dua lafaz dari aspek makna dan mafhumnya”
Jika sebelumnya dua lafaz yang bersatu dalam makna, maka bagian ini dua lafaz yang berbeda dalam makna. Tabâyun ini secara bahasa bermakna “berbeda” maka ia membedakan dua hal yang berbeda.
Contohnya sangat banyak, seperti menderita dan bahagia, buta dan melihat, bisu dan bicara, cinta dan benci, dan lain-lain.
Berdasarkan perbedaan makna yang dikandungnya, maka bagian ini terbagi lagi menjadi tiga; 1) Tamâtsul. 2) Takhâluf. 3) Taqâbul. Ulasannya sebagai berikut.
– Tamâtsul
Dua lafaz itu menjadi tamâtsul ketika “makna” salah satu lafaznya memiliki kesamaan dan berada pada hakikat yang sama. Seperti Fauzan dan Awal. Dua orang ini adalah orang berbeda. Tapi masih memiliki kesamaan dari segi hakikatnya yaitu sebagai manusia. Misalnya lagi, manusia dan biawak. Manusia dan biawak itu beda, tapi sama-sama dikategorikan hewan (hewan dalam mafhum ahli mantik).
– Takhâluf
Dua lafaz itu menjadi takhâluf ketika “makna” lafaz itu berbeda satu sama lain. Misalnya kucing dan kelinci. Keduanya tamâtsul dari segi hakikatnya. Tapi, dari segi identitasnya, keduanya berbeda. Misalnya lagi, Ahmad dan Zaid, tamâtsul dari segi hakikatnya. Tapi, berbeda dari segi identitasnya.
– Taqâbul
Dua lafaz itu menjadi taqâbul ketika keduanya benar-benar berbeda sampai tidak bisa sekaligus terjadi dalam satu waktu dan tempat. Seperti hitam dan putih, baik dan buruk, hâq dan bâthil, dan lain sebagainya.
Kemudian, taqâbul ini lagi dibagi menjadi empat; 1) Taqâbul al-nâqidhain. 2) Taqâbul al-dhiddhain. 3) Taqâbul al-milkah wa al-‘adam. 4) Taqâbul al-mutadhayifain.
- Taqâbul Al-Nâqidhain
Taqâbul al-nâqidhain berarti dua hal yang tidak bisa terhimpun dalam satu waktu dan tempat disebabkan kontradiksi. Kontradiksi berarti tidak ada kemungkinan ketiga. Misalnya, hidup dan tidak hidup, makan dan tidak makan, cinta dan tidak cinta, dan lain sebagainya.
- Taqâbul Al-Dhidhain
Taqâbul al-dhiddhain berarti dua hal yang tidak bisa terhimpun disebabkan keduanya saling berlawanan. Jika kontradiksi tidak memungkinkan ada kemungkinan ketiga, maka berlawanan (dhidd) memungkinkan ada kemungkinan ketiga[1]. Misalnya cinta dan benci. Kemungkinan ketiganya adalah antara cinta dan benci. Tapi, cinta dan benci tidak terjadi dalam satu waktu dan tempat. Misalnya lagi, gemuk dan kurus. Kemungkinan ketiganya, antara gemuk dan kurus. Tapi, gemuk dan kurus tidak mungkin terjadi dalam satu waktu dan tempat.
- Taqâbul Al-Milkah wa Al-‘Adam
Taqâbul al-milkah wa al-‘adam maksudnya dua hal yang tidak mungkin terhimpun sebab ke-ada-an dan ke-tiada-an. Misalnya, melihat dan buta, berbicara dan bisu, dan lain-lain. Jika berbicara adalah ada, maka bisu adalah “tiadanya” eksistensi berbicara. Sedangkan kita tau bahwa ada dan tiada tidak mungkin terjadi dalam satu waktu dan tempat.
- Taqâbul Al-Mutadhâyifain
Maksudnya, dua lafaz yang berbeda yang kita tidak mungkin diketahui kecuali dengan mengetahui yang satunya (idhâfah). Misalnya, sebab dan akibat, bapak dan anak. Kita tidak mengetahui akibat, kecuali dengan mengetahui sebab. Anak juga tidak kita ketahui kecuali dengan mengetahui bahwa ia memiliki bapak. Meskipun keduanya secara akal memiliki keterkaitan, tapi keduanya tidak mungkin bersatu. Misalnya, sebab dan akibat tidak dapat bersatu dalam satu waktu dan tempat.
Maka, bagian ini terfokus menjelaskan mufrad yang ditinjau dari segi mafhumnya. Bagian ini terbagi dua; 1) Tarâduf. 2) Tabâyun. Kemudian, tabâyun terbagi menjadi tiga; 1) Tamâtsul. 2) Tabâyun. 3) Taqâbul. Kemudian, taqâbul terbagi lagi menjadi empat; 1) Al-Nâqidhân. 2) Al-Dhiddân. 3) Al-Milkah wa Al-‘Adam. 4) Al-Mutadhayifân.
[1] Kontradiksi (nâqidh) dan bertentangan (dhidh) itu beda. Kontradiksi menggunakan kata positif dan negatif. Sedangkan bertentangan itu, menggunakan kata positif dan privatif.
Positif: Besar
Negatif: Tidak besar
Privatif: Kecil
Di sini kita perlu teliti bahwa tidak besar belum tentu kecil. Sedangkan kecil sudah pasti tidak besar. Artinya, kata privatif ada dalam cakupan kata negatif. Tapi, tidak selamanya negatif meniscayakan privatif, karena privatif hanya salah satu dari cakupan negatif. Sesuatu yang dicakup, sudah pasti meniscayakan sesuatu yang mencakupnya. Seperti misalnya ada orang yang tidak besar dan tidak kecil juga, alias ada di antara besar dan kecil. Tidak besar ini terserah seperti apa, yang jelas dia tidak termasuk besar, kecil juga tidak termasuk.
Kontradiksi, menggunakan kata negatif yang berarti kata-kata privatif juga tercakup. Misalnya duduk dan tidak duduk. Tidak duduk ini banyak cakupannya, bisa berdiri, jongkok, baring, dan lain-lain. Sedangkan kalau bertentangan, semisal berdiri (positif) dan baring (privatif) bisa saja ada kemungkinan ketiga, semisal duduk, jongkok, dan lain-lain.
Wallahu A’lam.








