Sekarang adalah momen maulid, di mana umat Islam merayakan hari kelahiran sang junjungan, Rasulullah Saw. Tokoh masyarakat, sampai bintang-bintang internasional merayakan itu. Di Mesir, seorang pesepak bola, Muhammad Salah merayakan maulid, itu terlihat di tautan twitternya.
Tapi, sebagian orang-orang yang iseng melihat kalau kata “Salah” di sini, bisa bermakna dua. Bisa bermakna nama pesepak bola, bisa juga bermakna lawan dari kata benar. Lahirlah kalimat:
“Yang merayakan maulid itu Salah”
Tapi, secara sekilas, kalimat di atas jika orang yang tidak tahu-menahu tentang Muhammad Salah, makna pertama yang terlintas adalah orang-orang yang merayakan maulid itu menyimpang dari kebenaran. Atau mungkin sering mendengar namanya, tapi makna yang paling pertama terlintas adalah lawannya benar.
Apakah kalimat itu berbohong? Tidak. Sama sekali tidak berbohong. Tapi, kalimat itu sengaja dibingkai dan dirangkai seambigu mungkin, agar lahir makna, citra, atau kesan tertentu dari yang melontarkan kalimat itu. Inilah yang disebut sebagai “framing“.
Dalam dunia jurnalistik, teknik framing ini juga ada. Anggaplah ada seorang reporter yang melihat orang muslim dibantai oleh suatu kelompok islamophobia. Ketika orang muslim ini tidak tahan lagi dibantai, mereka menyerang kembali orang-orang islamophobia ini. Reporter yang melihat ini sebagai kesempatan, langsung melaporkan adegan perlawanan orang muslim. Apa yang dilihat netizen atau penonton berita? Mereka melihat “orang muslim membantai orang islamophobia”. Akhirnya, yang menjadi korban adalah orang muslim itu lagi.
Apakah laporan yang dibawakan reporter itu bohong? Tidak. Tapi berita itu sengaja dibingkai sedemikian rupa agar menimbulkan kesan, makna, dan citra tertentu sesuai yang diinginkan oleh media yang bersangkutan. Di sinilah sisi subjektifitas media di tengah menyampaikan berita yang sifatnya objektif.
Ada sebuah ungkapan “C’est le ton qui fait la misque” (ini bukan tentang apa yang kau katakan, tapi tentang bagaiamana caramu mengatakan). Ini bisa kita coba dalam hal jual beli:
“Beli pisang goreng ini, harganya 5 Pon per pisang. Gratis sambel satu sendok”
“Beli sambel ini, satu sendok harganya 5 Pon. Gratis satu pisang goreng loh”
Pada hakikatnya, dua ungkapan ini sama. Semunya ingin ada uang lima pon lalu ditukar dengan satu buah pisang goreng beserta sambelnya. Tapi, kalau orang-orang ditanya, jawabannya pasti berbeda. Mengapa? Mereka terfokus pada bingkai kalimat itu, bukan kepada isi dari kalimat itu.
Kasus lain, ada penjual daging menawarkan jualannya:
“Daging ini mengandung 99% daging asli dan bebas kolestrol”
Namun, ketika pedagang itu ingin menjatuhkan pedagang lain, lahirlah kalimat: “Daging yang mereka jual itu, mengandung 1% kolestrol dan mengandung daging palsu”.
Kalau dicermati, kedua kalimat itu sama intinya. Daging itu memang mengandung 99% daging asli dan bebas kolestrol, tapi di saat bersamaan, daging mereka juga mengandung 1% daging palsu dan tidak bebas kolestrol. Tapi, anehnya kalau pakai bahasa penawaran di atas yang 99% itu, orang akan tertarik dengan bahasa penawaran itu. Artinya, mereka juga sudah terjebak pada bingkai kalimat atau apa yang disebut dengan framing.
Tapi, ada juga bentuk framing yang “agak lebih pintar”. Misalnya di supermarket, ada dua jenis diskon, ada yang terang-terangan diskon 50% dan ada juga diskon 25% + 25%. Pikiran pembeli “lha, bukannya keduanya itu sama saja?”. Sekilas sama, itu jika hanya terfokus pada angka 25 saja, tidak melihat prosesnya. Sejatinya, kedua diskon itu berbeda. Itu bisa kita uji:
Jika ada barang harganya Rp. 100.000, lalu diskon 50%, memang jadinyanya Rp. 50.000. Tapi, bukan berarti 25% + 25% dari Rp. 100.000 juga itu Rp. 50.000. Buktinya:
100.000 – 25% = 75.000
75.000 – 25% = 56.250
Jadi, kalau anda memilih barang yang memiliki diskon 25% + 25%, otomatis penjual itu untung Rp. 6.250. Kalau anda tidak cukup cermat dalam hal ini, maka anda sudah terjebak dalam jebakan batman atau apa yang disebut framing.
Bahkan tidak asing kan, ada kelompok yang selalu menyebut “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” tapi yang dimaksud adalah mengikuti pandangan-pandangan kelompok mereka? Itu juga framing.
Kalau anda hanya fokus pada bingkaian suatu kata, maka anda terhalang untuk melihat realitas yang sesungguhnya. Anda hanya terjebak pada kepalsuan yang dibuat-buat dalam bentuk bingkai rangkaian kata.








