Setelah kita mengetahui apa itu ilmu, melalui media apa saja kita mendapatkan pengetahuan, dan kita akan mengetahui tingkatan-tingkatan pengetahuan yang kita dapatkan. Artinya, kita meninjau tingkatan pengetahuan ini dari segi tingkatan kebenarannya atau dengan kata lain, seberapa meyakinkannya pengetahuan yang kita peroleh.
Kita bisa mengambil contoh ketika ada seseorang datang membawa berita “itu tetangga di samping rumah sudah menikah” dan anda melihat langsung dengan kedua bola mata anda “ada teman anda yang menikah”.
Kalau diperhatikan lebih dalam, pengetahuan yang pertama tadi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui berita. Sedangkan yang kedua, pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera. Kalau kita berpikir, yang mana lebih meyakinkan? Tentu saja pengetahuan yang kedua, karena tidak ada celah bagi anda untuk mendustakan pengetahuan tersebut. Meskipun anda mengatakan kalau teman anda itu tidak menikah, tapi tetap saja hati kecil anda mengatakan kalau teman anda itu sudah menikah.
Untuk membedakan tingkatan-tingkatan pengetahuan yang kita peroleh, maka tulisan ini akan membahas satu persatu bagian urutan pengetahuan.
● 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝑰𝒅𝒓𝒂𝒌 𝑫𝒊𝒕𝒊𝒏𝒋𝒂𝒖 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑺𝒆𝒈𝒊 𝑻𝒆𝒈𝒂𝒔 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕. (𝑳𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒈𝒂𝒎𝒃𝒂𝒓)

Idrâk ini telah kita jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Jika belum paham, silahkan baca kembali pembahasan sebelumnya. Idrâk ini terbagi menjadi dua yaitu jâzim (tegas) dan ghairu jâzim (tidak tegas). Maksud dari tegas adalah ketika seseorang mengetahui sesuatu tapi tidak ada keraguan bahwa pengetahuannya itu salah. Sedangkan yang satunya lagi, masih ada keraguan apakah benar atau salah, apakah condong kepada benar atau tidak, apakah lebih condong kepada kesalahan atau tidak. Yang jelas jâzim itu yakin bahwa pengetahuannya sudah benar. Sedangkan ghairu jâzim tidak.
Jâzim terbagi menjadi dua, yaitu muthâbiq li al-wâqi’ (sesuai realita atau kenyataan) dan ghairu muthâbiq li al-wâqi’ (tidak sesuai kenyataan). Ghairu muthâbiq li al-wâqi’ ini nanti menjadi status pengetahuan “jâhil murakkab” (bodoh pangkat dua/tersusun). Sedangkan muthâbiq li al-wâqi’ itu terbagi dua yaitu nâsyi’ ‘an al-dalîl (bisa dibuktikan) dan ghairu nâsyi’ ‘an al-dalîl (tidak bisa dibuktikan).
Kemudian nâsyi ‘an al-dalil ini menjadi pengetahuan “al-yaqîn” (bersifat meyakinkan) dan ghairu nâsyi’ ‘an al-dalîl itu menjadi pengetahuan “al-i’tiqâd” (bersifat kepercayaan).
Adapun pengetahuan yang ghairu jâzim ini terbagi menjadi dua, yaitu ma’a al-tasâwi baina al-tharfaîn (seimbang) dan laa ma’a al-tasâwi baina al-tharfaîn (berat sebelah). Bagian ma’a al-tasâwi baina al-tharfaîn terbagi menjadi dua yaitu râjih (besar kemungkinan benarnya) dan marjûh (besar kemungkinan salahmya). Kemudian, râjih ini nantinya menjadi pengetahuan “dzann” (bersifat dugaan kuat) dan marjûh menghasilkan pengetahuan “wahm” (bersifat ilusi dan besar potensi salahnya). Adapun ma’a al-tasâwi baina al-tharfaîn itu menjadi pengetahuan “syakk” (seimbang kemungkinan benar dan salahnya).
Maka dari bagian-bagian ini kalau diukur dari segi persentasenya menggunakan persen, maka urutannya:
1. Al-Yaqīn (100%)
2. Al-Dzann (51-99%)
3. Al-Syakk (50%)
4. Al-Wahm (1-49)
5. Al-Jahl (-)
Adapun masing-masing bagian pengetahuan tersebut akan dijelaskan pada tulisan berikut ini:
𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂: 𝑨𝒍-𝒀𝒂𝒒𝒊𝒏
Pengetahuan ini menempati posisi tertinggi dibanding pengetahuan lainnya. Pengetahuan yakin ini adalah pengetahuan terhadap sesuatu sebagaimana adanya dan bersifat pasti.
Contohnya ketika anda diberitahu bahwa kekasih anda selingkuh dengan orang lain. Bisa saja anda tidak percaya karena anda tidak melihatnya. Kemudian anda mencari cara sampai memasang kamera tersembunyi dan menyewa orang untuk mengintai kekasih anda. Karena momen selingkuh sudah terlihat, pengawal itupun menghubungi anda sampai anda menyaksikan bahwa kekasih anda benar-benar selingkuh.
Karena anda sudah memiliki bukti melalui kamera tersembunyi, saksi melalui mata-mata, terlebih lagi anda menangkap basah kekasih anda yang lagi selingkuh. Maka tidak bisa diingkari lagi bahwa kekasih anda selingkuh. Maka pengetahuan selingkuhnya sang kekasih ini, inilah disebut pengetahuan yakin.
Pengetahuan ini memiliki tingkat kebenaran yang pasti. Kalau diakumulasikan ada 100%. Pengetahuan ini harus ada kejadiannya dan bisa dibuktikan.
𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂: 𝑨𝒍-𝑫𝒛𝒂𝒏𝒏
Pengetahuan ini ada di bawah yakin yang akumulasi kebenarannya ada 51-99%. Atau bisa dikatakan kalau al-dzann adalah pengetahuan yang lebih condong kepada kebenaran. Jika yakin tidak memberikan celah pada keraguan, maka bagian ini masih memberi celah untuk ragu. Pengetahuan ini juga dimasuki kemungkinan salah. Tapi sangat kecil.
Misalnya, anda sudah berkenalan lama dengan seorang wanita. Anda mendapatkan isyarat-isyarat tertentu dari caranya berbicara, menatap, dan menyusun kata. Kadang juga, ia sengaja membawa anda ke topik-topik tertentu supaya anda paham apa maunya.
Kemudian, pada suatu hari anda memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan anda. Tiba-tiba, ia begitu saja menerima. Tentu saja anda tidak merasa heran mengapa ia menerima anda, karena sebelumnya anda sudah memiliki pengetahuan dzann tentang perasaannya kepada anda.
Namun, ketika ditanya apakah pengetahuan semacam ini bisa disebut yakin sebagaimana sebelumnya? Tentu saja tidak. Karena kemungkinan salahnya masih ada. Anda masih memungkinkan untuk ditolak. Tapi sangat kecil.
𝑲𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂: 𝑨𝒍-𝑺𝒚𝒂𝒌𝒌
Ini pengetahuan yang ada di bawahnya dzann lagi. Jika Dzann condong kepada kebenaran, maka al-Syakk ini ada di tengah-tengah. 50% kemungkinan benarnya dan 50% kemungkinan salahnya. Tidak ada sisi yang lebih condong.
Misalnya anda ingin melamar seorang anak dari keluarga yang baik-baik, berprestasi, dan dikenal baik oleh orang-orang yang mengenalnya ditambah lagi dia sangat cantik. Lalu anda melihat diri lagi, ternyata adalah keturunan kiyai, sarjana muda, dan disegani oleh orang-orang terdekat maupun yang baru mengenalnya.
Tapi, anda ini tidak juga hebat dalam prestasi, masalah pengetahuan standar saja, dan masalah kenal dengan perempuan itu hanya sebatas komunikasi jarak jauh saja. Anda tidak pernah melihatnya langsung. Apalagi perempuan ini diketahui banyak yang memperebutkannya.
Kemudian anda memberanikan diri untuk melamar wanita tersebut bersama keluarga anda. Apa yang akan terjadi? Anda akan ragu, yakin ditolak tidak, yakin diterima juga tidak. Tidak yakin ditolak karena ada hal-hal yang membuat anda diterima. Tidak yakin diterima.
Artinya, pengetahuan yang anda dapatkan ketika itu bersifat netral. Itulah yang dinamakan syakk.
𝑲𝒆𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕: 𝑨𝒍-𝑾𝒂𝒉𝒎
Ini adalah pengetahuan yang ada di bawah syakk. Jika syakk itu penetahuan yang seimbang antara kemungkinan benar dan salahnya, maka wahm ini adalah kebalikan dari dzann. Jika dzann lebih condong kepada benar, maka wahm ini condong kepada kesalahan.
Persentase kebenaran yang ada di pengetahuan ini hanya berkisar 1-49% saja. Dengan kata lain, condong kepada kesalahan. Kalaupun ada kemungkinan benarnya, maka sangat kecil sebagaimana kemungkinan salah di dzann.
Misalnya, ada seseorang yang tidak jelas apa latarbelakangnya, pengetahuan minim, kuliah tidak jelas, profesi tidak jelas, ekonomi juga minim. Tapi wanita yang mau dilamar adalah anak dari ustadz Yusuf Mansur misalnya. Kenal juga tidak, apalagi memberikan indikasi-indikasi tertentu pada laki-laki ini.
Lalu si laki-laki ini memberanikan diri untuk melamar wanita tersebut. Apa yang terjadi? Kemungkinan besar ditolak. Tapi bukan berarti tidak ada kemungkinan diterima meskipun sangat kecil.
Jadi, pengetahuan ini meskipun condong kepada salah, tetap saja ada kemungkinan benarnya meskipun tidak menutup ada kemungkinan benar. Tapi lemah.
𝑲𝒆𝒍𝒊𝒎𝒂: 𝑨𝒍-𝑱𝒂𝒉𝒍
Sebenarnya al-jahl ini tidak masuk kepada pengetahuan. Tujuan para ahli logika memasukkannya ke dalam pembagian ini adalah, hanya untuk membagi atau memperinci apa itu jahl saja. Singkatnya, jahl ini kebodohan atau tidak mengetahui sesuatu.
Para ahli membagi jahl ini menjadi dua. Pertama, jahl basith. Kedua, jahl murakkab. Jahl basith ini adalah kebodohan biasa dan bukan pengetahuan. Ketika ada orang ditanya “di mana guru anda tinggal?” Lalu menjawab “tidak tau”.
Sedangkan jahl murakkab ini bisa diartikan “pengetahuan tentang sesuatu, yang bertolak-belakang dengan kenyataan, dan disertai keyakinan”. Misalnya ada orang ditanya “tahun berapa proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno?” Lalu orang tersebut dengan penuh keyakinan menjawab “tahun 1942”. Sudah bertolak-belakang dengan kebenaran dan fakta, tidak merasa salah juga, malahan yakin dengan jawabannya. Itulah jahl murakkab atau kalau diterjemahkan “kebodohan yang bersusun”.
Kalau dibandingkan, lebih parah itu jahl murakkab daripada jahl basith. Pasalnya, jahl basith itu tau dirinya kalau tidak tau, sedangkan jahl murakkab tidak tau kalau dirinya tidak tau.
Tapi timbul pertanyaan, kenapa jahl basith tidak masuk dalam pengetahuan sedangkan jahl murakkab masuk pada cakupan pengetahuan? Telah dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa konsep pengetahuan dalam ilmu logika itu, tidak pandang benar salahnya. Yang jelas ada gambaran di akal, itulah pengetahuan.
Jahl murakkab masuk dalam pengetahuan karena ada gambaran atau pengetahuan “yang salah” terlintas di akal seseorang. Makanya dengan penuh percaya diri ia menjawab meskipun jawabannya tidak sesuai kenyataan atau kebenaran. Sedangkan jahl basith itu kebodohan yang kelas standar. Ia tidak masuk pengetahuan karena tidak ada sama sekali gambaran tentang sesuatu baik itu benar maupun salah.
Lalu mengapa al-i’tiqad tidak ada ukuran benar ataupun salahnya secara persenan? Karena sampai detik ini i’tiqad tidak bisa diukur dari segi kemungkinannya dan al-i’tiqad ini sifatnya relatif.
Wallahu A’lam.








