• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Opini

Bidang yang Beda

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
1 September 2021
in Opini
Waktu Baca: 3 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Setiap manusia diciptakan sama dalam hal hakikat tapi berbeda dari segi indentitas. Mereka sama-sama makan nasi, punya mata, punya tangan, memiliki nama, punya orang tua, dan lain sebagainya. Tapi, kemampuan dan kecondongan mereka berbeda-beda. Ada yang condong dalam hal menulis, menggambar, memasak, olahraga, kuat dalam memahami, kuat dalam menghafal dan lain sebagainya. Di titik ini, mereka tidak bisa bersepakat, mereka hanya bisa berbeda.

Tapi, tidak jarang dalam kehidupan ini juga, kita melihat ada sebagian orang yang menilai orang secara setara dalam kemampuan. Ya, kita bisa sepakat bahwa manusia itu sebenarnya berpotensi untuk melakukan dan menjadi apapun. Tapi, tidak semua potensi itu harus aktual. Di sekolah, manusia diharuskan memiliki kemampuan yang sama. Ya, manusia semua bisa sampai kepada tujuan dari tuntutan itu. Tapi, apakah kerelaan hati mereka sama? Jawabannya, tidak. Sebab, tidak semua orang suka dengan apa yang diajarkan di sekolah itu.

Kenyataan demikian, tidak berhenti pada menyamaratakan tuntutan saja, tapi sampai kepada penilaian! Buktinya, banyak dalam realita menilai kecerdasan manusia yang kompleks dengan matematika saja. Maka siapa saja yang bodoh dalam matematika, maka mereka dihukumi bodoh dalam segala bidang. Jelas, menghukumi bodoh orang berdasarkan sudut pandang yang sempit itu, bukan tindakan yang bijaksana. Mereka yang dihukumi bodoh, bisa saja memiliki kecerdasan lain yang tidak dilirik apalagi diapresiasi. Pada prinsipnya, segala bentuk kebaikan harus diapresiasi. Sebagaimana segala bentuk keburukan harus diperbaiki.

Pada poin di atas, kita bisa paham bahwa setiap orang memiliki kecondongan yang berbeda. Berangkat pada bagian ini, ada satu hal yang sangat logis jika terjadi, yakni beda dalam memilih jalan hidup. Ada yang melangkah pada rute kepenulisan, ada yang memasuki lorong-lorong teknik, ada yang memiliki juga jalan ninja sendiri menjadi editor. Di sini juga masih timbul masalah, ada anggapan bahwa profesi tertentu itu rendah, sedangkan yang lainnya tinggi.

Kalau kita mau berpikir lebih dalam, setiap profesi dan bidang memiliki kelebihannya masing-masing yang tidak dimiliki bidang yang lain. Para pelukis memiliki kelebihan dalam lukisannya dan lukisannya belum tentu bisa dilawan oleh profesi yang lain. Begitu juga penulis, tukang masak, pekerja hutan, mereka memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi, di samping kelebihan yang mereka miliki, mereka juga memiliki kekurangan. Tukang masak belum tentu bisa melukis, pelukis belum tentu bisa menulis, dan penulis belum tentu bisa memasak.

Lagi-lagi di sini kita perlu berpikir dengan memanggil akal sehat itu dengan bertanya, apakah bijaksana jika kita menilai kelebihan tertentu dengan kekurangannya pada bidang yang lain? Dengan kata lain, apakah pantas kita menilai bidang A dengan kekurangannya pada bidang B? Jawabannya tidak. Penulis teringat dengan pandangan Imam Al-Ghazali bahwa keahlian orang pada bidang tertentu, tidak meniscayakan orang ahli dalam bidang lain. Orang yang ahli dalam berpikir tidak mengharuskan dia ahli dalam melukis. Maka orang yang ahli dalam berpikir, tidak menjadi aib bagi dia jika tidak tahu menulis.

Penulis teringat dengan satu kasus, di mana ada salah seorang sepupu yang berkuliah di salah satu universitas di kota tempat tinggal penulis. Dia itu dari segi pengetahuan dan kecerdikan dalam berpikir, tidak saya ragukan. Tapi, dalam hal berakhlak, memang dia kurang. Salah satu dosen memasukkannya dalam daftar mahasiswa yang diblacklist. Maka, nilai intelektualnya (nilai mata kuliahnya) turun dari banyak mata kuliah, sebabnya hanya gara-gara akhlak.

Di sini penulis berpikir, kalau seharusnya dosen itu tidak menilai intelektualitasnya berdasarkan akhlaknya. Karena intelektualitas satu hal, sedangkan akhlak adalah hal lain. Jika akhlak itu ingin dinilai dengan angka, sebaiknya dibuatkan saja kolom khusus penilaian akhlak, tanpa mempengaruhi nilai intelektualitas. Menurut hemat penulis, ini tidak jauh beda dengan orang yang menilai satu bidang dengan kekurangannya pada bidang yang lain.

Ikan itu jika dinilai berdasarkan kemampuan memanjat, maka dia adalah makhluk yang bodoh. Jika burung dinilai dari kemampuannya berenang dan menyelam, maka dia itu bodoh. Tapi, jika ikan itu dinilai sesuai bidangnya di air, maka dia adalah makhluk yang berkuasa di samudera dan lautan. Jika burung dinilai dengan kemampuannya terbang, maka dia adalah jagoan di udara. Tidak ada yang benar-benar bodoh, tidak ada yang benar-benat pintar.

Manusia yang memiliki akal untuk melihat dari berbagai sudut pandang, seharusnya melihat orang berdasarkan kemampuan dan keahlian orang lain masing-masing. Kita tidak boleh menghakimi kelebihan orang berdasarkan kekurangannya. Karena kelebihan satu hal yang harus diapresiasi, sedangkan keburukan hal lain yang harus diperbaiki.

Akhir kata, jika pintar itu relatif, maka bodoh itu juga relatif. Tidak ada yang benar-benar pintar, tidak ada juga yang benar-benar bodoh.

Tags: bijaksanafilsafatHarmonisasi
Artikel Sebelumnya

Meninjau Ulang Kata-Kata Mutiara

Artikel Selanjutnya

Tulisan, Ada yang Tiada

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Tulisan, Ada yang Tiada

Tulisan, Ada yang Tiada

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.