Setiap manusia diciptakan sama dalam hal hakikat tapi berbeda dari segi indentitas. Mereka sama-sama makan nasi, punya mata, punya tangan, memiliki nama, punya orang tua, dan lain sebagainya. Tapi, kemampuan dan kecondongan mereka berbeda-beda. Ada yang condong dalam hal menulis, menggambar, memasak, olahraga, kuat dalam memahami, kuat dalam menghafal dan lain sebagainya. Di titik ini, mereka tidak bisa bersepakat, mereka hanya bisa berbeda.
Tapi, tidak jarang dalam kehidupan ini juga, kita melihat ada sebagian orang yang menilai orang secara setara dalam kemampuan. Ya, kita bisa sepakat bahwa manusia itu sebenarnya berpotensi untuk melakukan dan menjadi apapun. Tapi, tidak semua potensi itu harus aktual. Di sekolah, manusia diharuskan memiliki kemampuan yang sama. Ya, manusia semua bisa sampai kepada tujuan dari tuntutan itu. Tapi, apakah kerelaan hati mereka sama? Jawabannya, tidak. Sebab, tidak semua orang suka dengan apa yang diajarkan di sekolah itu.
Kenyataan demikian, tidak berhenti pada menyamaratakan tuntutan saja, tapi sampai kepada penilaian! Buktinya, banyak dalam realita menilai kecerdasan manusia yang kompleks dengan matematika saja. Maka siapa saja yang bodoh dalam matematika, maka mereka dihukumi bodoh dalam segala bidang. Jelas, menghukumi bodoh orang berdasarkan sudut pandang yang sempit itu, bukan tindakan yang bijaksana. Mereka yang dihukumi bodoh, bisa saja memiliki kecerdasan lain yang tidak dilirik apalagi diapresiasi. Pada prinsipnya, segala bentuk kebaikan harus diapresiasi. Sebagaimana segala bentuk keburukan harus diperbaiki.
Pada poin di atas, kita bisa paham bahwa setiap orang memiliki kecondongan yang berbeda. Berangkat pada bagian ini, ada satu hal yang sangat logis jika terjadi, yakni beda dalam memilih jalan hidup. Ada yang melangkah pada rute kepenulisan, ada yang memasuki lorong-lorong teknik, ada yang memiliki juga jalan ninja sendiri menjadi editor. Di sini juga masih timbul masalah, ada anggapan bahwa profesi tertentu itu rendah, sedangkan yang lainnya tinggi.
Kalau kita mau berpikir lebih dalam, setiap profesi dan bidang memiliki kelebihannya masing-masing yang tidak dimiliki bidang yang lain. Para pelukis memiliki kelebihan dalam lukisannya dan lukisannya belum tentu bisa dilawan oleh profesi yang lain. Begitu juga penulis, tukang masak, pekerja hutan, mereka memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi, di samping kelebihan yang mereka miliki, mereka juga memiliki kekurangan. Tukang masak belum tentu bisa melukis, pelukis belum tentu bisa menulis, dan penulis belum tentu bisa memasak.
Lagi-lagi di sini kita perlu berpikir dengan memanggil akal sehat itu dengan bertanya, apakah bijaksana jika kita menilai kelebihan tertentu dengan kekurangannya pada bidang yang lain? Dengan kata lain, apakah pantas kita menilai bidang A dengan kekurangannya pada bidang B? Jawabannya tidak. Penulis teringat dengan pandangan Imam Al-Ghazali bahwa keahlian orang pada bidang tertentu, tidak meniscayakan orang ahli dalam bidang lain. Orang yang ahli dalam berpikir tidak mengharuskan dia ahli dalam melukis. Maka orang yang ahli dalam berpikir, tidak menjadi aib bagi dia jika tidak tahu menulis.
Penulis teringat dengan satu kasus, di mana ada salah seorang sepupu yang berkuliah di salah satu universitas di kota tempat tinggal penulis. Dia itu dari segi pengetahuan dan kecerdikan dalam berpikir, tidak saya ragukan. Tapi, dalam hal berakhlak, memang dia kurang. Salah satu dosen memasukkannya dalam daftar mahasiswa yang diblacklist. Maka, nilai intelektualnya (nilai mata kuliahnya) turun dari banyak mata kuliah, sebabnya hanya gara-gara akhlak.
Di sini penulis berpikir, kalau seharusnya dosen itu tidak menilai intelektualitasnya berdasarkan akhlaknya. Karena intelektualitas satu hal, sedangkan akhlak adalah hal lain. Jika akhlak itu ingin dinilai dengan angka, sebaiknya dibuatkan saja kolom khusus penilaian akhlak, tanpa mempengaruhi nilai intelektualitas. Menurut hemat penulis, ini tidak jauh beda dengan orang yang menilai satu bidang dengan kekurangannya pada bidang yang lain.
Ikan itu jika dinilai berdasarkan kemampuan memanjat, maka dia adalah makhluk yang bodoh. Jika burung dinilai dari kemampuannya berenang dan menyelam, maka dia itu bodoh. Tapi, jika ikan itu dinilai sesuai bidangnya di air, maka dia adalah makhluk yang berkuasa di samudera dan lautan. Jika burung dinilai dengan kemampuannya terbang, maka dia adalah jagoan di udara. Tidak ada yang benar-benar bodoh, tidak ada yang benar-benat pintar.
Manusia yang memiliki akal untuk melihat dari berbagai sudut pandang, seharusnya melihat orang berdasarkan kemampuan dan keahlian orang lain masing-masing. Kita tidak boleh menghakimi kelebihan orang berdasarkan kekurangannya. Karena kelebihan satu hal yang harus diapresiasi, sedangkan keburukan hal lain yang harus diperbaiki.
Akhir kata, jika pintar itu relatif, maka bodoh itu juga relatif. Tidak ada yang benar-benar pintar, tidak ada juga yang benar-benar bodoh.








