Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual oleh beberapa guru di pondok pesantren ditambah ada santri senior yang turut meminta “jatah” juga saat memergoki gurunya melakukan perbuatan yang amat tercela itu. Sebagaimana dilansir dari omong-omong.com bahwa ada juga kasus yang ternyata pelakunya adalah anak dari kiai yang terpandang di daerah tersebut. Bahkan, mirisnya kiai tersebut menganggap kalau kasus yang dituduhkan kepada anaknya adalah kasus palsu. Belum lagi kasus yang dirangkum oleh Tempo mengenai lembaga dana sosial yang “mengantongi” dana umat. Ada lagi predator yang “memangsa” 13 santriwatinya yang juga sempat heboh beberapa waktu lalu di jagat Indonesia.
Tahukah Anda apa kesamaan dari kasus-kasus ini? Ya, latar belakangnya. Sama-sama membawa nama agama. Apa dampaknya? Orang-orang tidak hanya mendapatkan pembenaran perbuatan jahat nan keji dari orang-orang yang meminjam wajah agama itu, tapi orang yang di luar agama Islam sendiri akan memandang buruk dan rendah agama Islam. Mereka akan melihat agama Islam mengajarkan umatnya dengan ajaran cabul. Juga orang-orang yang tidak bisa membedakan mana perbuatan oknum dan ajaran agama itu sendiri, akan melihat perbuatan oknum adalah ajaran agama itu sendiri. Akhirnya, kemuliaan agama Islam itu terhijab oleh pengikutnya yang membuat banyak gerakan tambahan.
Kalau kita belajar dari kasus-kasus penistaan agama, kita bisa melihat misalnya ada pendeta yang mengolok-olok agama Islam kemudian dituntut atas nama hukum. Olokan terhadap agama Islam yang dilakukan secara eksplisit. Juga Rocky Gerung sempat dituntut oleh beberapa pihak karena menyebut “Kitab suci itu fiksi”. Ini juga karena ada unsur istilah agama yang ada secara eksplisit dan dianggap menistakan agama. Juga yang beberapa tahun lalu, mantan gubernur DKI Jakarta dituntut oleh jutaan umat karena menyebut kalau jangan mau dibohongi oleh ayat tertentu dalam kitab suci.
Tapi, saya belum pernah mendengar ada yang heboh ketika ada tokoh atau oknum agama yang melakukan perbuatan tercela yang tergolong dosa sosial. Dengan kata lain, dosa yang mereka lakukan itu melibatkan orang lain dan statusnya itu sangat hina, seperti pelecehan itu. Memang benar kata guru saya, sebuah kesalahan semakin besar dampaknya seiring besarnya nama pelakunya.
Saya menduga orang tidak mengkategorikan kasus baru-baru ini sebagai penistaan agama. Tapi, hanya melihat kasus ini sebagai tindak pelanggaran pidana saja. Tidak melihat dampak yang besar terhadap agama itu sendiri. Kenapa? Kalau belajar dari kasus-kasus yang ada, penistaan agama nanti dikatakan sebagai penistaan agama ketika ada simbol agama yang dinista, dilecehkan, dan dihancurkan secara eksplisit. Tidak dengan yang seperti kasus-kasus yang tidak melibatkan simbol-simbol agama secara langsung tapi merusak citra agama secara diam-diam.
Jika memang demikian, maka saya sangat prihatin dengan nalar yang ada saat ini. Kenapa? Orang hanya melihat agama sebagai simbol. Tidak melihat agama sebagai sesuatu yang bermakna. Dengan pemahaman yang seperti ini, tidak mengherankan kalau banyak orang tidak mengamalkan agama itu, karena agama hanyalah sebatas mantra kitab suci. Fikih hanyalah sebatas kajian di dalam masjid. Di luar masjid, fikih tidak memiliki urusan. Bahkan lebih kerasnya jika menganggap agama tidak punya urusan dengan kehidupan dunia. Dengan nalar yang sama, banyak juga orang nanti yang akan mengikuti orang yang hanya berjubah, berjenggot, dan berpakaian agamis lainnya. Kenapa? Sekali lagi, mereka hanya melihat agama hanya sebagai simbol yang tidak ada apa-apanya.
Belum lagi kejahatan-kejahatan itu dilakukan atas nama agama atau hal-hal metafisik yang dikesankan sebagai ajaran agama. Seperti misalnya, melakukan pelecehan dengan modus itu ajaran tarekat tertentu. Atau melakukan pelecehan dengan kedok pengobatan. Kemudian, diperkeruh lagi dengan situasi politik yang selalu ada dalam lima tahun sekali, lagi-lagi agama yang dibawa untuk kepentingan tertentu.
Benarlah kata Ibnu Rusyd bahwa agama itu adalah alat dagangan yang amat laris. Jika ingin mempengaruhi orang bodoh, maka bungkuslah kebatilan dengan agama, sehingga orang mengira kebatilan itu sebagai kebenaran. Kenapa Ibnu Rusyd berkata demikian? Tentu Ibnu Rusyd sudah mengetahui kalau sepanjang sejarah akan ada orang yang melihat agama sebagai simbol saja. Buktinya, jika ada bahasa Arab, orang mengira itu tulisan Al-Qur’an atau hadis. Juga, orang mengira semua yang memiliki simbol itu, maka dia pasti sesuatu yang benar.
Kalau kita belajar dari sejarah, maka kita akan melihat banyak kerusakan yang lebih besar lahir dari internal sesuatu itu. Misalnya, ketika dinasti Abbasiyyah di masa-masa akhirnya terangkat para khalifah yang kurang kompeten, adanya persaingan politik demi merebutkan kekuasaan tertentu, akhirnya dinasti itu sampai di titik lemahnya dan Mongol mengambil kesempatan untuk itu. Misalnya lagi Pangeran Diponegoro yang dikhianati oleh orang dekatnya sehingga dia tertangkap. Begitu juga Nabi Isa As. bisa tertangkap oleh orang yang memburunya karena ada yang berkhianat di antara murid-murid beliau. Bahkan Aceh yang dulunya sulit ditembus oleh orang Belanda, baru bisa menembus masuk ke dalam setelah diutusnya salah satu orientalis yang bernama Snouck Hurgronje yang mempengaruhi faktor internal Aceh sehingga mereka bisa ditembus.
Jangan pernah mengira bahwa musuh yang berbahaya itu ada di luar saja. Ketahuilah bahwa musuh yang amat berbahaya adalah yang ada dalam diri kita sendiri. Ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. Karena jika kita tidak bisa menguasai musuh itu, maka faktor eksternal akan mudah masuk ke dalam. Sebagaimana yang terjadi dalam sejarah manusia. Juga jangan pernah mengira musuh adalah mereka yang terang-terangan menyerang kita. Bisa saja ada yang menyembunyikan belati beracun di balik senyum palsunya. Sebagaimana penistaan agama, jangan mengira penistaan terjadi saat ada simbol agama secara eksplisit yang dibawa-bawa. Justru dengan status pemuka agama yang melakukan perbuatan tercela, maka penistaannya jauh lebih ampuh dibanding membawa simbol agama terang-terangan.
Imam Al-Ghazali dalam Bidȃyah Al-Hidȃyah bahwa yang merusak agama sesungguhnya adalah pelajar agama itu sendiri. Yakni, mereka yang belajar untuk saling bersaing, membanggakan diri, menarik perhatian orang lain, dan mendapatkan harta. Tidak hanya agamanya yang dirusak, bahkan dirinya yang dirusak oleh faktor internal dirinya; nafs-nya sendiri.
Wallahu a’lam








