Setiap manusia punya titik lelahnya masing-masing, termasuk saya. Kadang, kalau saya merasa lelah, selalu saja ada rasa malas yang luar biasa datang. Kadang duduk di pojok rumah dengan tatapan kosong. Tapi, saat tatapan itu benar-benar tidak berfokus pada apapun, tiba-tiba ada lonceng yang berbunyi di kepala saya: “Setelah ini, apa?” Begitu kira-kira bunyinya.
Biasanya, setelah bunyi itu saya respon dengan naluri manusia yang notabenenya berakal sehat, saya langsung merasa sangat bersalah dalam keadaan itu. Rasanya, saya seperti mengkhianati tujuan saya sendiri.
Salah satu tujuan yang paling saya jaga dan saya rawat dengan baik adalah mendidik anak-anak saya suatu saat nanti dengan sebaik-baiknya didikan. Ya, saat ini mereka belum ada, ibunya pun masih belum ditemukan. Atau mungkin sudah terlihat tapi belum bisa diidentifikasi sebagai ibu. Walau anak-anak saya belum ada, jauh dari zaman keberadaan mereka, saya memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada mereka. Khususnya, nasib mereka nanti.
Guru saya pernah berkata kalau ketika kita belajar dan memperbaiki kualitas, sebenarnya kita sedang mendidik anak kita yang gennya masih menyatu dengan kita. Ucapan beliau ini terlontar sekitar empat tahun lalu dan baru saya pikir maksudnya beberapa waktu setelah itu.
Dari ucapan beliau, saya punya ungkapan “Mendidik anak itu dimulai dari sebelum memilih ibunya” dengan kata lain, mendidik diri sendiri. Kenapa demikian? Saya akan memberikan sebuah gambaran. Kita tentu sepakat bahwa dalam memilih ibu anak itu ya paling tidak, berkualitas kan? Karena didikan ibu yang berkualitas pasti banyak nilai plusnya.
Sekarang, bagaimana kalau kita sendiri yang tidak berkualitas tapi mencari calon ibu yang berkualitas? Atau saya ubah pertanyaannya, bagaimana kalau kelas berpikir kita itu kekanak-kanakan, ilmu kurang, skill tidak ada, belum lagi memiliki pengetahuan dasar dalam rumah tangga, tapi mencari calon ibu yang sekolahnya tinggi, bacaannya luas, serba bisa, dan idaman banget? Kalau kita menjawab dengan nada yang realistis saja, Anda sendiri sudah menjawabnya.
Saya tidak bermaksud meremehkan orang yang nasibnya demikian, tapi maksud saya adalah ketika kita mau perempuan yang super seperti itu tapi dengan kualitas yang pas-pasan, bukankah ini hanya akan menjadi angan-angan belaka? Dengan keadaan seperti itu, maka hal yang paling dituntut adalah memperbaiki kualitas, alias tingkatkan kualitas diri. Dengan kata lain, itu dimulai dari diri kita sendiri.
Memang benar ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tapi bukan berarti sang ayah tidak memiliki peran dalam mendidik anak. Jelas kita juga sepakat bahwa kedua orang tua memiliki kewajiban mendidik anak. Tapi, kita juga tidak boleh lupa bahwa ada satu kaidah yang relevan dengan konteks ini: “Yang memberi adalah yang memiliki“. Maksudnya, ketika kita ingin mendidik anak dengan pengetahuan, paling tidak orang tuanya memiliki sesuatu untuk diajarkan. Mustahil kita mengajarkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu.
Dengan demikian, anak-anak saya sudah menjadi motivator sejak ibunya belum ditemukan. Saya sangat menyayangi mereka. Sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian saya kepada mereka yang belum lahir itu, dalam keadaan jomblo seperti sekarang ini, iktiyar saya adalah belajar. Seketika, ketika saya memikirkan nasib anak-anak saya, semangat saya kembali utuh untuk belajar apapun itu.
Bagaimana dengan ibunya? Kalau memang ibunya peduli dengan anak-anaknya atau minimal dirinya sendiri, pasti dia akan berusaha belajar. Karena ibu berkualitas akan menyadari dirinya sebagai “madrasah hidup” bagi anak-anaknya. Kalau tidak juga paham dengan pelajarannya, setidaknya sudah berusaha belajar dan memiliki kecintaan dengan ilmu. Paling tidak, dia akan mengajarkan kecintaan terhadap ilmu kepada anak-anaknya. Sehingga, anak-anak itu nanti yang akan mencapai apa yang tidak bisa kami capai saat hidup.
Wallahu a’lam








