Pikiran kebanyakan orang sehingga tidak mau membaca bahkan membeli buku adalah “buku itu harus ditamatkan” sehingga orang yang awalnya mau membeli buku itu tidak jadi membeli. Pikiran seperti itu terbayang-bayang sampai menjadi beban bagi orang yang bersangkutan. Akhirnya, ketika pikiran ini tersebar dan diamini oleh masyarakat secara luas, tingkat literasi kita di Indonesia semakin menurun. Buku-buku yang dicetak hanya tinggal berdebu di toko-toko tanpa dibaca.
Tentu kita perlu meninjau ulang pemikiran ini, apakah buku itu benar-benar harus ditamatkan seluruhnya atau tidak? Kita harus melihat dua aspek dari buku itu sendiri. Pertama, dari segi kegunaannya. Kedua, dari segi kebutuhan.
Buku dari Segi Kegunaannya
Buku memiliki kegunaan yang berbeda-beda, bukan berarti ada yang tidak dibaca. Maksudnya, ada buku yang digunakan sebagai kamus, ensiklopedia, bacaan, dan lain-lain. Ini perlu kita klasifikasikan. Mengapa? Dengan klasifikasi yang jelas, maka lahirlah sikap yang jelas.
1. Buku Bacaan
Buku bacaan, umumnya ada yang ditamatkan, ada juga tidak. Tapi sampai saat ini, penulis kebanyakan buku bacaan itu tidak ditamatkan, ini jika buku tersebut adalah buku ilmiah. Ini mencakup buku-buku yang khusus dipakai menelaah atau referensi tambahan saja. Jika buku yang dimaksud adalah buku non-ilmiah seperti buku yang berisikan cerita fiksi dan non-fiksi, ini terbagi lagi. Ada yang ceritanya itu bersambung, ada juga tidak. Jika ceritanya bersambung, umumnya diselesaikan. Karena cerita itu tidak lengkap jika tidak diselesaikan. Sedangkan buku yang ceritanya itu terpisah-pisah, itu dibaca bagian yang perlu juga, tapi menamatkan juga tidak ada salahnya.
Untuk buku-buku ilmiah, biasanya buku bacaan itu dipakai untuk muthala’ah (menelaah) saja atau kalau membutuhkan referensi. Biasanya buku-buku hasyiyah dan sebagian buku syarah masuk kategori ini.
2. Kamus dan Ensiklopedia
Kamus dan ensiklopedia, umumnya dipakai untuk mencari per kata atau per pembahasan. Bedanya kalau kamus, dia berfungsi unruk mencari makna per kata, baik itu kamus bahasa maupun kamus istilah. Adapun ensiklopedia, dia biasanya menjelaskan banyak pembahasan dan tidak terstruktur.
Kedua jenis buku ini juga diurutkan sesuai abjad yang berlaku di bahasa masing-masing. Bedanya dengan buku bacaan, dia itu terstruktur, mulai dari asal-usul sampai pembahasan puncak. Dan yang jelas keduanya bukan untuk ditamatkan. Hanya sekedar dipakai merujuk jika dibutuhkan.
Buku dari Segi Kebutuhan
Untuk bagian ini, lebih mengarah kepada skala prioritas. Di sini kita tahu yang mana harus kita tamatkan (prioritas) dan tidak. Itu tergantung seberapa primer buku tersebut. Berikut pembagiannya.
1. Buku Primer
Dalam jenjang belajar, biasanya di sini adalah buku-buku yang harus dikuasai. Biasanya di sini adalah diktat kuliah dan kitab-kitab matan dan sebagian kitab syarah. Kenapa? Buku-buku yang masuk kategori ini itu bertugas untuk membentuk pola pikir kita.
2. Buku Sekunder
Buku-buku yang masuk kategori ini bekerja di bidang pelengkap referensi. Buku-buku yang ada dalam kategori ini kamus dan ensiklopedia dan sebagian buku hasyiyah juga masuk di sini.
Problemnya
Orang tidak bisa membedakan mana buku primer dan sekunder, mana yang sekedar referensi dan pokok. Akhirnya, ketika membeli buku, tidak ada buku yang diselesaikan. Kalaupun ada, bisa saja membaca buku yang tidak tepat. Sehingga kerangka dasar ilmu itu tidak terbentuk.
Solusinya
Yang mengetahui buku itu adalah penulis buku itu dan ahli yang sudah membaca buku itu. Maka mereka adalah orang yang harus ditanya, buku apa yang bisa menjadi referensi dan buku apa yang harus dibaca, dipahami, sampai memperhatikan strukturnya sedalam mungkin. Sebab, kalau kita tidak bisa memetak-metakkan buku apalagi ingin membentuk kerangka keilmuan yang kokoh, keinginan itu hanya menjadi mimpi. Kerangka yang jadi hanyalah kerangka yang lemah.
Wallahu a’lam








