Ada sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seseorang, “Baca banyak tapi paham sedikit atau baca sedikit tapi paham banyak?”. Tentu kita akan sepakat jika berkata “Paham banyak dan baca banyak”. Tapi, titik tengkarnya (mahall al-niza’)-nya bukan itu. Titik tengkarnya: Paham banyak atau baca banyak (dulu).
Di sini ada dua kata kunci yang akan sama-sama kita uji dampaknya dan ini akan menentukan jawaban mana yang akan saya pilih, yakni “baca” dan “paham”. Apa itu baca? Apa itu paham? Ini sangat penting untuk kita bedah.
Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan apa yang ada dalam hati). Ini definisi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di sini ada dua poin yang krusial “melihat” dan “memahami”. Ketika kita melihat sesuatu, maka kita akan mengetahui keberadaan sesuatu itu. Kita melihat huruf atau sesuatu yang tertulis, maka kita tahu akan keberadaan sesuatu yang tertulis itu. Apakah kita memahami dengan melihatnya saja? Belum tentu. Tapi, bukannya ada kata “memahami” dalam kata “membaca” ini? Iya, benar. Tapi, memahami, belum tentu sudah sampai pada status paham. Anda (sedang) memahami perasaan pasangan Anda, belum tentu Anda paham. Sebab, kata “memahami” di sini, menunjukkan proses untuk sampai kepada paham. Anda dikatakan paham jika sudah melewati proses memahami itu.
Adapun paham, itu berarti Anda sudah mengerti dengan benar sesuatu yang tertulis itu, tidak sekedar membaca saja. Anda tahu dengan betul makna seperti apa yang ada dalam tulisan itu, Anda tahu dengan benar, apa yang diinginkan oleh sang penulis. Itulah paham. Paham tingkatannya lebih di atas daripada membaca. Tentu ini klaim, membutuhkan bukti. Kenapa bisa paham lebih tinggi? Ingatlah, bahwa tingkah laku kita berasal dari pikiran. Semakin banyak yang kita pahami, semakin banyak pula yang mempengaruhi pikiran kita. Semakin banyak yang mempengaruhi pikiran kita, semakin banyak pula yang mempengaruhi perbuatan kita. Bukankah ini tujuan dari membaca itu?
Saya dulunya berada di tim banyak baca, bukan paham banyak. Yang melatarbelakangi saya adalah adanya dorongan dari berbagai influencer di media sosial bahwa warga Indonesia itu kurang banyak bacanya. Terus ada kesimpulan, harus banyak baca. Akhirnya, saya meng-iya-kan provokasi itu. Sebenarnya, niat dari mereka itu baik, tapi bukankah kadang-kadang bacaan membuat kita keliru sebab cara untuk pahamnya bermasalah? Ada banyak kok yang mau banyak baca tapi ketika mau menetapkan hukum Islam, dia malahan memakai terjemahan Al-Qur’an dan Hadis. Ini membaca juga, tapi salah dalam memahami. Akhirnya, saya ragu dengan “banyak baca” ini. Sebab, saya melihat implikasi buruk semacam ini.
Semakin ke sini, saya bertemu dengan guru-guru yang sudah jauh-jauh hari mendapatkan apa yang saya cari: Banyak paham. Contohnya Syekh Husam Ramadhan, Syekh Salim Abu ‘Ashiy, dan beberapa guru-guru di Al-Azhar lainnya itu mengajarkan kita untuk banyak paham dari bacaan yang sedikit itu. Belum lagi, bacaan sedikit itu adalah tulisan ulama yang isinya padat informasi tanpa bermuluk-muluk dalam melontarkan diksi. Maka tidak mengherankan orang yang benar-benar belajar kepada guru-guru seperti itu bacaannya mungkin tidak wow untuk porsi membentuk akal, tapi dia bisa jadi “manusia super” yang bisa menyelesaikan banyak masalah. Karena sekali lagi, yang terpenting bagaimana belajar itu berefek kepada kehidupan kita.
Sebaliknya, ada yang banyak baca. Tapi, dari bacaan yang banyak itu justru membuat dia jatuh dalam jurang kesesatan. Mana lagi yang dibaca adalah buku berat, belum paham metodologi dan epistemologi pemikir yang dibaca. Hampir setiap hari, saya melihat di layar kaya media sosial ada orang yang sudah doktor tapi cara berpikirnya rapuh dan argumen yang didatangkan itu cacat. Padahal, bacaannya banyak. Sudah ada istilah-istilah ilmiah yang kesannya ingin membuat lawan jatuh mental, padahal itu hanya trik retoris saja, tidak membawa kepada kebenaran.
Ada bahkan yang menuduh agama Islam itu hanya sebatas dogma karena bacaannya dari orang yang kontra dengan agama. Ya, penulis-penulis itu melihat agama sama saja, mau itu Islam, Kristen, dan lain sebagainya. Saya tidak tahu, apakah mereka itu tidak pernah tahu kalau Islam itu punya mantik, maqulat, adab al-bahts, dan ilmu kalam yang sangat kental dengan akal? Kenyataan yang saya lihat, justru membuat saya ingin berkata sebaliknya, mereka yang mengatakan agama Islam dogma sebenarnya terperangkap oleh dogma penulis-penulis yang berkata demikian. Buktinya, kenyataannya berbeda dari yang mereka klaim. Bukankah ini juga karena bacaan tanpa adanya bekal berpikir kritis?
Padahal, prinsip membaca itu menimbang. Bukan untuk diterima secara mentah-mentah, bukan juga menolak mentah-mentah. Belum lagi melihat metode membaca. Metode yang saya maksud, tidak terbatas pada cara atau trik tertentu dalam membaca. Tapi, lebih kepada cara memahami. Saya berikan contoh saja, silahkan buka buku Filsafat Islam karya Prof. Dr. Sirajuddin Zar. Kalau Anda tidak pernah mempelajari cara filusuf Islam berpikir dan istilah-istilah mereka dalam karyanya, saya yakin seyakin-yakinnya, Anda tidak akan memahami buku tersebut. Sebab, itu serat dengan istilah-istilah filsafat.
Misalnya lagi, ketika filusuf seperti Ibnu Sina mengatakan “Akal Sepuluh” dalam membuktikan keberadaan tuhan. Apa yang terlintas di kepala orang? Apakah akan membayangkan ada sepuluh bentuk akal? Sepuluh jenis akal? Atau seperti apa? Padahal, “akal” sendiri menurut kacamata filusuf, berbeda dengan “akal” yang sering kita pakai dalam percakapan sehari-hari. Apalagi ketika filusuf mengatakan “Allah adalah akal”. Kalau kita lihat sudut pandang mereka, akal adalah sesuatu yang non-materi. Bagaimana kita bisa memahami itu? Dari belajar metodologi. Entah metodologi mazhab, pemikiran, tokoh, dan lain sebagainya.
Tapi, coba bayangkan jika ada orang yang bermazhab banyak baca tadi ternyata ketemu buku-buku seperti itu? Belum lagi kalau ketemu dengan buku-buku yang bercorak komparatif. Akan bingung sendiri jadinya. Ini seperti orang yang mencoba membaca buku perbandingan aliran tapi tidak mengerti cara berpikir dan istilah yang dipakai oleh aliran yang bersangkutan. Akan pusing sendiri. Akhirnya, untuk mendapatkan apa yang menjadi inti dari belajar tadi adalah mulai dari memahami untuk melangkah ke yang lebih luas.
Melihat kenyataan yang seperti itu, saya agak skeptis dan tidak terlalu kagum melihat orang yang banyak baca. Saya bukan su’udzan atau apa. Sebab, semakin banyak bacaan, semakin butuh pemahaman yang dalam. Bacaan ini terbatas bacaan yang butuh pemahaman seperti buku ilmiah. Skeptisnya saya adalah “Apakah orang ini paham yang dia baca?”. Kalau tidak, maka dia hanya menghabiskan waktu di membaca, tidak mendapatkan apa-apa dari bacaannya. Saya malahan percaya dengan orang-orang yang belajar dengan sistem yang tertata rapi. Ini juga yang membuat saya percaya Al-Azhar, karena memang sistem yang disusun tujuannya membentuk cara berpikir pelajarnya. Dengan kata lain, membuat paham para pelajarnya. Ini benar-benar mengutamakan kualitas belajar.
Adapun membaca secara mandiri baru bisa dilakukan ketika pelajaran yang wajib sudah selesai di talaqqi. Sebab, di sana kunci untuk membaca sendiri, sudah kita miliki. Bahkan Syekh Salim Abu ‘Ashiy pernah mengatakan bahwa kemampuan untuk membaca mandiri (memahami bacaan secara mandiri) bukan bawaan lahir, dia butuh kunci, yakni belajar lewat majelis.
Jadi, kalau ditanya, pilih paham banyak atau baca banyak? Saya akan berkata paham banyak. Karena paham itulah yang memberikan dampak dalam hidup. Sedangkan kalau kita membaca tanpa paham, tidak ada dampak yang diberikan. Ini menunjukkan paham terhadap sesuatu memiliki nilai dan kualitas lebih tinggi dibandingkan sekedar baca.
Wallahu a’lam








