Mendengar kata sastra, hal yang pertama kali tergambar dalam kepala kita biasanya adalah untaian kata yang indah dengan makna yang dalam, baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Karya sastra, mulai dari ranah populer hingga literer seringkali dinikmati dengan berbagai tujuan, dari hal yang paling sederhana seperti rekreasi, hingga yang rumit seperti kajian sejarah dan pemikiran.
Untuk tujuan yang kedua sendiri, karya sastra seringkali bersanding dengan beberapa ilmu dan teori yang berfokus pada bidang kemanusiaan seperti sosiologi dan psikologi. Penerapan kaidah-kaidah keilmuan tersebut dalam sebuah karya berfokus pada pengkajian lebih dalam tentang bagaimana kita memandangnya. Dimana hal ini akan menjadi titik tolak dari lahirnya berbagai perspektif yang bisa dijadikan inovasi dalam wujud pemikiran yang bersifat relevan untuk masa kini, serta futuristik untuk masa yang akan datang.
Berangkat dari fenomena tersebut, tulisan ini hadir dengan niat untuk memberikan gambaran terkait peran sastra yang seringkali disalahpahami hanya sebagai curahan hati dan perasaan belaka. Dimana persandingan dengan membawa perspektif lain, dalam hal ini sosiologi, bisa membawa kita pada kedalaman pandangan dan perasaan yang lebih kompleks, bahkan dapat memacu kita untuk melahirkan sudut pandang dengan kategori yang sudah disebutkan di atas.
- Mengenal Sosiologi Sastra
Agik Nur Efendi dalam bukunya yang berjudul Kritik Sastra, Pengantar Teori, Kritik, & Pembelajarannya, menjelaskan bahwa pada dasarnya ada kesamaan konsep pada penerapan serta tujuan sosiologi dan sastra yang menjadikan keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Hal ini berkisar pada kelarasan pandang dua komponen tersebut dalam menyikapi kemanusiaan.
Sosiologi misalnya, yang berfokus pada pembelajaran terkait lembaga sosial serta srtukturnya demi mencapai landasan kehidupan yang tepat dan dapat diterapkan di masyarakat. Begitu pun dengan sastra yang mengandalkan kedalaman observasi dan keliaran imajinasi untuk mempelajari aspek yang jarang atau tidak dipahami dalam kehidupan sosial kemudian menjadikannya wahana bagi penulis untuk mengkreasikan ide yang unik lagi menarik. Dari penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sosiologi dan sastra tidak terlepas dari satu permasalahan yang sama, yaitu kemanusiaan.
W.B. Yeats menjelaskan konstruksi awal pengertian sosiologi sastra dan fungsinya. Menurutnya, Sastra tidak lain dan tidak bukan adalah cerminan dari tindakan masyarakat. Ini secara tidak langsung menjadikan penikmatan karya sastra sebagai mempelajari kehidupan itu sendiri.
Aspek cermin ini kemudian menjadi perhatian khusus oleh Endraswara. Ia menyatakan bahwa karya sastra pada dasarnya merupakan imitasi dari kehidupan masyarakat. Dimana meskipun bersifat sebagai tiruan, sastra dapat memadukan konsep tersebut dengan imajinasi yang membuatnya menjadi representasi dengan tujuan tertentu. Menjadikannya bukan hanya tiruan fakta belaka, namun juga membawakan kaidah moral secara sosial dengan cara yang halus dan estetik.
Lebih dari itu, dengan konsep cermin ini, sastra juga dapat dijadikan sebagai media pengenalan serta propaganda budaya yang efisien. Hal ini disebabkan salah satu aspek dominannya sebagai wadah hiburan. Dimana secara tidak langsung menjadikan proses introduksinya ke khalayak juga menjadi lebih cepat diterima. Misalnya seperti karya-karya penulis Indonesia seperti Ahmad Tohari yang menuliskan kehidupan seorang ronggeng dalam novel Ronggeng Dukuk Paruh, atau cerpen-cerpen Faisal Oddang yang menceritakan kisah kepercayaan orang Bugis dan Toraja seperti Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam itu serta Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon.
- Pengkajian Sederhana, Pendalaman Perspektif dan Identifikasi Karya
Dalam penerapannya, konsep cermin masyarakat ini dijelaskan oleh Ian Watt dalam beberapa aspek, sebagian di antaranya yang akan dibahas di tulisan ini adalah sosial pengarang dan masyarakat yang dituju. Sosial pengarang sendiri membahas tentang karakter kehidupan dari si empunya karya, mulai dari mata pencaharian, latar belakang karakter dan sebagainya. Misalnya Budi Darma yang banyak bergelut di bidang akademik dan Habiurrahman El-Shirazy yang juga memanggul peran sebagai seorang pendakwah. Keduanya sama-sama melahirkan karya sastra dengan bentuk dan karakter yang berbeda.
Pengkajian terkait fenomena ini akan banyak berpengaruh kepada karya yang kita identifikasi. Salah satunya adalah melahirkan pengenalan lebih dalam terhadap si penulis, juga menentukan batasan ranah pengkajian agar tetap relevan dengan tujuan penulis yang telah kita identifikasi dari proses pengenalan tadi. Sebagai contoh, sudut pandang terhadap Habiburrahman El-Shirazy pada Ayat-Ayat Cinta yang bernuansa religius, tidak bisa serta-merta dipakai pada Orang-Orang Bloomington-nya Budi Darma, yang menuliskan hasil observasinya terhadap kultur orang Indiana di Amerika ketika ia tinggal di sana.
Aspek selanjutnya adalah masyarakat yang dituju, dalam proses ini, pengkajian yang kita lakukan dituntut untuk memahami dinamika publik tempat karya tersebut lahir, dan tipikal pasar yang ingin dituju oleh si penulis. Misalnya seperti Djenar Maesa Ayu yang berusaha merangkul perempuan, atau Sapardi Djoko Damono yang ditujukan untuk penikmat romantisme.
Dalam skala yang lebih besar, kita memerlukan pengidentifikasian yang lebih luas, seperti pendekatan historikal yang diniatkan untuk mengenal dinamika masyarakat dari segi kultur dan pemikiran yang berkembang pada lini masa karya tersebut lahir. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh Karl Marx terhadap karya Shakspeare yang berjudul Timon of Athens. Dalam kritiknya Marx menjelaskan tentang ketidakrelevanan gagasan yang dibangun Shakespeare perihal cerminan uang yang dapat mengatur kehidupan dan karakter manusia. Menurut Marx uang tidaklah mengontrol manusia sepenuhnya, namun hanya mengalienasi manusia dari diri sendiri juga sosial.
Jika digali lebih dalam perihal Marx, kita bisa mendapati beberapa latar belakang yang menjadi motif pemikirannya. Salah satunya adalah ketidaksetujuan pada kelas masyarakat komunal yang melakukan feodalisme terhadap kaum buruh yang akhirnya menegaskan jarak antara kelas borjuis dan proletar. Kesemena-menaan yang timbul dari fenomena tersebut akhirnya menimbulkan penentangan dari sisi kaum buruh serta kritik terhadap ideologi kapitalisme yang menuhankan uang di atas kemanusiaan.
Berdasarkan orientasi di atas, pemahaman dari aspek sosiologi ini secara tidak langsung membuat kita dapat mengidentifikasi kompleksitas sebuah karya, menentukan batasan pengkajian diskusi, serta menentukan relevansi pemikiran yang sedang kita kaji. Hal ini merupakan tujuan utama dari penerapan pengkajian sederhana dalam setiap karya yang kita baca.
- Kesimpulan
Seperti yang telah dijelaskan di atas, penerapan sastra dalam perspektif sosiologi ini pada dasarnya berfokus pada pendalaman cara pandang kita terhadap fenomena sastra, baik yang bersifat klasik maupun kontemporer. Dengan demikian, terbitnya usaha untuk pendalaman tersebut menjadi suatu hal yang niscaya, dimana usaha ini akan membawa kita pada pembacaan lebih lanjut guna melahirkan pandangan yang lebih adil juga ilmiah terhadap sebuah karya.
Dari sini dapat ditegaskan bahwa pemahaman sastra sebagai cerminan hidup bisa menjadi objek observasi yang lebih dari sekadar curahan hati. Kita dapat memahami sejarah dan pergolakan pemikiran yang terjadi di suatu zaman dari karya-karya yang kita baca, serta dengan pendekatan yang tepat, kita dapat memahami ide yang ingin dibawa oleh setiap penulis dengan baik dan benar. Dimana di titik tersebut, pemikiran yang kita miliki pun dapat didistribusikan menjadi suatu karya yang layak dikaji dan dikenang hingga masa yang akan datang.








