Di pondok dulu, ada kata-kata mutiara yang disuruh hafal oleh guru, kurang lebih bunyinya begini:
من عرف بُعد السفر استعدّ
“Barangsiapa yang mengetahui panjangnya perjalanan, maka ia bersiap-siap (akan panjangnya perjalanan yang akan ia tempuh)“.
Sebenarnya, kata-kata mutiara seperti ini akan terlihat keindahan secara bahasa dan susunan kata, jika kita tidak merasakan menjadi pelaku di sana. Sekitar dua atau tiga tahun lalu kata mutiara ini diajarkan. Tapi, saya merasakan manfaatnya sendiri ketika sampai di universitas.
Ya, saya menyusun cita-cita yang masih jauh lebih tinggi dibanding untuk S1. Saya menyusun sampai S2 dan S3, nanti akan seperti apa. Saya akui, melihat deretan episode kehidupan yang akan datang, masih jauh lebih berat dari hari ini. Dengan susunan ini juga, saya tertantang untuk menyiapkan hal guna menempuh jauhnya perjalanan ilmiah saya. Ini yang saya rasakan sekarang.
Kadang-kadang kalau kita menyusun sejauh ini, kita akan ditanya “buat apa pikir sejauh itu kalau yang sekarang saja belum beres?”. Jawaban saya pribadi, saya setuju itu salah jika memang saya hanya sibuk menyusun cita-cita tanpa berusaha untuk mewujudkan. Itu seperti membentuk gelembung, membiarkannya terbang begitu saja lalu meledak di udara. Namun, menyusun cita-cita diiringi usaha, itu bukan hal sia-sia. Tidak jauh bedalah dengan angan-angan.
Bayangkan saja kuli yang tidak memiliki denah bangunan. Dalam proses pembangunan, akan asal jadi saja dan banyak kebingungan di tengah jalan. Seperti itulah orang yang tidak memiliki tujuan dan visi misi hidup. Islam (jika anda muslim) sendiri memberikan kita tujuan jelas hidup, sampai dengan sangat jelas termaktub dalam Al-Qur’an “Wa mâ khalaqtu al-Jin wa al-Ins illa li ya’budûn”. Yang kurang lebih intinya, kita diciptakan itu hanya untuk beribadah.
Ibadah di sini, jangan dipahami dengan sempit. Ibadah di sini luas. Ibadah itu ada vertikal dan ada juga horizontal. Nah, salat, puasa, dan lain-lain itu ibadah. Tapi ibadah vertikal. Sedangkan kita saling tolong-menolong, belajar, membangun peradaban, melakukan hal-hal produktif juga ibadah. Ini ibadah horizontal. Artinya, tujuan kita hidup ya melakukan hal-hal yang baik sederhananya.
Nah, kalau agama saja yang diturunkan oleh yang Maha Sempurna saja memberikan kita tujuan, bagaimana dengan kita yang nasibnya di dunia dan akhirat masih tanda tanya? Saya tidak mau membahas masalah perbuatan Tuhan ataupun perbuatan hamba, soalnya sekarang bukan pembahasan ilmu kalam. Yang jelas Tuhan menghendaki kita untuk memiliki pilihan. Kita bisa memilih, mau apa saja. Tapi konsekuensi dari kebebasan itu, kita tanggung masing-masing, biar fair kan?
Kalau kita sudah memilih untuk menjadi orang sukses di masa depan, konsekuensinya kita harus berusaha dari sekarang untuk mencapai pilihan itu. Kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana untuk diri sendiri, semisal:
– Apa tujuan selanjutnya?
– Apa-apa saja yang harus dilakukan untuk sampai ke tujuan itu?
– Apa yang sudah dilakukan?
– Apakah selama perjalanan ada masalah atau tidak? Jika iya, solusinya apa?
Ya, kalau kesulitan, saya kasih contoh. Misalnya saya, pengen S2 di 2 negara, yaitu Mesir dan Jepang. Hal-hal yang harus saya lakukan adalah menguasai bahasa Arab, Inggris, Jepang, harus menyelesaikan ilmu-ilmu alat untuk bekal selanjutnya, dan bla bla bla. Terus, saya misalnya sudah menguasai bahasa Inggris dan Arab. Masalahnya, saya belum menguasai bahasa Jepang karena tempat belajar tidak saya temukan. Solusinya? Saya harus mencari-cari melalui internet atau relasi yang saya miliki, agar saya bisa menemukan tempat belajar bahasa Jepang. Dan lain-lain.
Kita juga harus rajin-rajin evaluasi segala bentuk plan dan apa saja yang sudah diusahakan. Soalnya kita hidup bukan tentang berjuang, mengusahakan, dan mempertahankan. Jangan sampai kita memperjuangkan sesuatu yang kurang tepat, mengusahakan yang kurang pas, dan mempertahankan sesuatu yang salah.
Kalau bisa siapkan hal-hal yang bisa menancap semangat. Misalnya, ingat orang tua yang sudah membiayai kita belajar. Cara kita berterimakasih kepada orang tua saat ini adalah belajar. Atau tanyakan kepada diri sendiri, kalau misalnya orang tua sudah membiayai kita, terus di rumah keduanya selalu mendoakan kita menjadi orang hebat, dan membayangkan kita sibuk belajar, sedangkan kita masih berleha-leha?
Kalau saya sendiri, selalu pakai metode memberi hadiah dan menghukum diri. Kalau target terpenuhi, ya hadiah untuk saya bisa ini dan itu. Atau kalau tidak terpenuhi, tidak bisa ini dan itu. Misalnya, kalau buku ini saya selesaikan, maka saya akan jalan-jalan pergi makan di restoran yang makanannya enak banget. Kalau tidak, maka saya harus tinggal di rumah dan membuat tulisan tentang judul tertentu. Saya pakai metode ini, karena saya sudah besar, bukan lagi anak-anak yang harus disuruh belajar, disuruh jadi orang besar. Saya sendiri malu kalau ada orang yang menyuruh saya menyelesaikan kewajiban saya, karena bagi saya, status kemandirian itu tercoreng dengan kelalaian saya sendiri. Alhamdulillah, sejauh ini, hasilnya sangat efektif dan ada perkembangan pesat bagi diri saya.
Kita hidup di dunia, berarti kita ada di medan perang melawan kemalasan dan kebodohan. Senjata kita adalah visi misi, rencana, plan, dan rencana alternatif. Setelah semua senjata dan bekal perang sudah siap, barulah kita berangkat ke medan perang kehidupan. Cara berperangnya adalah bersungguh-sungguh di dalam pekerjaan kita juga totalitas dalam menyelesaikan tugas. Hasilnya hanya dua, kalau bukan menang, ya kalah. Tidak ada golput.
Kalah bukan akhir, dia bisa saja bagian dari rentetan episode kita. Sekali-kali kita mungkin harus merasakan kalah. Tapi, bukan berarti yang sekali-kali itu harus jadi terus-menerus. Prajurit itu kalau kalah, hanya dua kemungkinan, dia mati atau pulang. Orang yang berhenti berusaha, ibaratnya orang mati. Sedangkan orang yang masih ingin mencoba lagi, seperti prajurit yang pulang lalu mengevaluasi kesalahan dalam perang menyusun strategi pembalasan di markasnya. Kadang-kadang kita perlu selangkah mundur untuk melompat lebih jauh.
Keberhasilan itu tidak harus ada di urutan pertama. Bisa saja keberhasilan itu ada di urutan 50, sedangkan 49 sebelumnya adalah kegagalan. Kalau kita berhenti di urutan ke-30, kita hanya membawa pulang mendapatkan 30 kegagalan. Seandainya sampai di urutan 50, kita membawa 49 kegagalan dan 1 keberhasilan. Dan ingatlah bahwa satu keberhasilan, dapat menghapus jutaan kegagalan. Di sini, kita harus menerima yang namanya kegagalan. Seolah-olah gagal adalah syarat dari keberhasilan.
Kenapa harus berjuang seperti ini? Jawabannya, hidup itu hanya dua. Kalau senang dan susah. Kalau susah sudah kita ambil, maka yang tersisa adalah senang. Tapi ketika senang sudah kita ambil, yang tersisa adalah susah.
Kita akan berperang, sudah siap?
Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...








