Memiliki masa muda yg dipenuhi kenangan indah tentunya merupakan dambaan hampir semua remaja. Meski penafsiran “kenangan indah” Itu berbeda-beda, diantara; entah itu bersenang-senang dengan teman, pacar, nongkrong santai bercanda ria, ataupun fokus mengejar study di dalam maupun luar negeri dan mengejar karir. Lantas bagaimana dengan orang-orang hebat berikut ini. Menurut mereka, kenangan indah itu adalah ketika melihat senyuman santri-santri mereka setelah mengkhatamkan beberapa juz Al-Quran apalagi semuanya, kenangan indah itu adalah ketika mampu menebar manfaat dan keindahan Islam di daerah pelosok negeri kita.
Kiyai M. Farid Dzulhaj (gelar Lc, MA, Ph.D menyusul), beliau lulusan tahun 2020 (termasuk junior kelas paling teladan menurut semua santri Ponpes Al-Istiqomah Ngatabaru, Sigi, Sulawesi Tengah), pada tahun 2021 berhasil mendirikan dan menggagas sekaligus memimpin pondok pesantren berbasis tahfiz yang struktural dan inovatif (karena memadukan unsur bahasa, ilmiah, kontemporer, dll), namanya Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ar-Rayan, Desa Kapiroe, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Latar belakang berdirinya ponpes itu karena kekompakan ulama dan umaro’nya dalam menanggapi isu serangan missionaris yang semakin menjangkit di desa sekitar ponpes yg nyatanya minoritas muslim, di daerah sekitar Sigi, Sulteng.
Beliau sendiri ditunjuk langsung oleh pemerintah setempat melalui perantara Ustad Wahyudi (Direktur Ponpes Al-Istiqomah Ngatabaru), sebagai perwakilan alumni Ngatabaru yg siap mengabdi di daerah terpencil itu, meski saat ini beliau berstatus calon mahasiswa Al-Azhar (Kemenag 2021). Tentunya tidak sendiri, di antara rekan-rekan seperjuangannya ada ustad Irfan Safrudin (adik kelas terfavorit menurut kami), ustad Wahyu (tamatan 2021), dan ust Fadel Galendo (rekan sekelas kami dulu, angkatan 2018), dan beberapa staf lain yang kami tidak sebutkan namanya.
Saat ini di awal berdirinya pondok tersebut ada 8 santriwan dan 9 santriwati yang sedang menempuh studi Islamnya di sana, bahkan beberapa ada yang sudah berprestasi menjuarai lomba MHQ (Musabaqah Hifzil Quran) yang diadakan pemerintah setempat.
Banyak hikmah sekaligus tamparan batin buat kita semua tentang salah satu gambaran tersebut. Mereka menyadari, ketika keikhlasan dan menjadi bermanfaat adalah tujuan, maka gengsi apapun pasti terlupakan. Menghabiskan waktu bersama santri, mengajarkan mereka Al-Quran dan pelajaran agama Islam lainnya, itulah kenangan indah yang sesungguhnya, baik untuk para pengajar maupun para santri.








