Saya teringat pengalaman di sekolah dulu, ada kawan yang bertanya kepada guru mengenai hal yang tidak dia pahami: “Ustaz,” begitu kami menyapa semua guru laki-laki waktu itu “Saya tidak paham apa yang Anda jelaskan” dengan nada polosnya dan ekspresinya yang tidak beda dengan nadanya. Sang guru itu kemudian mengatakan “Ah, masa yang kek gitu aja kamu gak paham? Pasti kamu gak perhatikan kan?!” ucapan ini diiringi dengan sedikit gertakan dan pada kesempatan lain, diiringi dengan tatapan sinis. Melihat lembaran ingatan yang sekian tahun lalu itu, saya yakin dia tidak menjadi orang yang “berani” seperti sedia kala lagi, dia berubah menjadi sosok yang ragu, takut, dan overthinking disebabkan pengalaman pahit dalam hal yang sederhana itu.
Pada episode yang lain, ada teman yang lain punya satu prinsip, pokoknya kerjakan saja dulu, salah benar itu belakangan. Maksudnya, dia tidak terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Katanya “Saya tidak takut salah, kalau salah ya sudah, diperbaiki lagi”. Dan benar saja, dia selalu blunder plus menuai kritik. Dia akui memang sakit, tapi dia punya “perisai” lagi, “Semakin sakit sebuah kritikan, maka saya semakin bangkit” dan memang, sesuai dengan katanya dia memang bangkit. Dia berbeda dengan dirinya satu, dua, empat tahun lalu. Dalam kurun waktu seperti itu, dia selalu dikritik di depan mata saya.
Dalam lembaran yang lain, ada sahabat saya pernah cerita kalau dia itu bukan tipe yang bisa bangkit dengan “rasa sakit” itu walaupun dia tahu kalau rasa sakit adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Saya sangat kenal sahabat saya yang satu ini, dia itu minder kalau dihujani dengan rasa sakit. Sampai ketika ada masalah besar yang menimpa dia, ada satu pilihannya yang seolah menggambarkan tidak percaya lagi kepada orang lain selain orang dekatnya, dia menghindar dari khalayak, bersembunyi di balik heningnya kesendirian. Padahal dia bukan tipe penyendiri, dia adalah orang yang ceria. Ketika dia angkat bicara mengenai masalahnya, ada satu yang saya ingat sampai sekarang “Saya butuh waktu untuk kembali lagi”.
***
Saya teringat dengan momen sewaktu mengerjakan makalah. Salah satu komentator berkata “Ini sudah bagus, sebab menyertakan biografi penulis dan pemilik ide”. Waktu itu kami sedang mengkaji tentang sebuah pemikiran dan saya mengangkat isu tasawuf yang tertuang dalam disertasi Prof. Dr. Said Aqil Siradj dan saya bersama salah satu kawan sebagai pembawa materi dengan menghadirkan makalah. Apa alasannya biografi itu sebaiknya dicantumkan? Karena biografi itu akan mengambarkan latar belakang pendidikan dan tentunya hal-hal yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran tokoh yang bersangkutan. Sebab, pemikiran, sikap, watak, dan hal-hal yang bersangkutan dengan pengetahuan kita itu dipengaruhi dengan sejarah hidup kita.
Ketika saya bersama rekan media lain baru berkenalan dan pertemuan pertama, di sana ada banyak orang-orang media yang hadir dan ada juga orang penting datang. Ada satu bagian ketika kami; para anak baru dikumpul dalam satu ruangan dan diberikan beberapa sepatah kata. Salah satu penyampaian yang terekam dengan baik di ingatan saya “Semua orang bisa saja bercanda. Tapi tidak semua orang bisa dibercandai”. Dalam pelajaran ilmu logika, ketika disebukan frasa “tidak semua” maka ada yang termasuk dalam kalimat itu, ada juga tidak. Ada yang bisa dibercandai, ada juga tidak. Kenapa ada dua tipe berbeda? Hemat saya, dua kelompok ini punya sejarah yang berbeda. Ada yang sudah dibentuk karakternya untuk siap dibercandai, ada juga yang karakternya dibunuh oleh lingkungannya. Alih-alih menjadi orang berani, malahan menjadi orang yang trauma.
Ada satu buku yang selalu saya baca ketika SMA dulu ketika menjelang senja terbenam di arah Barat sana. Buku itu adalah Psikologi Belajar karya Muhibbin Syah. Ada sebuah eksperimen untuk menguji kognisi hewan, yaitu tikus. Ketika tikus itu dijebak agar terkurung dalam kandang kecil, tikus itu mencoba berbagai cara agar bisa lepas dari kandang itu. Hasilnya tikus itu gagal. Pada percobaan kedua, masih pada tikus yang sama. Dia lagi-lagi dijebak dalam sebuah kandang. Lagi-lagi dia masih mencoba berbagai cara agar lepas dan masih saja gagal. Sekilas, percobaan pertama dan kedua ini sama, tidak ada yang membedakan. Sebenarnya yang membedakan adalah durasi usaha tikus untuk lepas. Pada eksperimen pertama, tikus ini berusaha lebih lama daripada yang kedua. Akhirnya pada eksperimen kelima hingga kesepuluh, walaupun tikus itu tidak dijebak lagi, yang jelas dia masuk dalam kandang, dia tidak lagi berusaha untuk melepaskan diri. Ini berarti watak tikus itu dibentuk oleh sejarahnya.
Apa itu sejarah? Kata guru saya di SMA, sejarah adalah kejadian yang telah lalu. Ketika saya sedang menulis sekarang, masih belum disebut sejarah. Nanti kalau sudah berlalu, maka tulisan ini akan menjadi sejarah bagi saya dan sejarah yang hinggap di ingatan para pembacanya. Salah satu whatsapp story dari seorang kawan masih saya simpan karena itu berharga bagi saya. Kata teman saya ini, manusia itu tidak bisa benar-benar menjadi dirinya. Sebab, dirinya sendiri dibentuk oleh sekitarnya. Sadar atau tidak, bahasa yang dia gunakan untuk berbicara itu dibentuk oleh lingkungannya. Mulai dari ayah dan ibunya, sampai orang lain sekalipun. Terbentuknya diri orang itu terjadi setelah kejadian-kejadian di lingkungannya menjadi sejarah dalam hidupnya. Kenapa ada orang trauma? Karena dia sudah dihancurkan oleh lingkungannya. Kenapa ada orang yang berani? Karena lingkungannya memberikan dukungan untuk itu. Kenapa ada orang begini dan begitu? Tidak lain karena sejarah hidupnya. Bahkan, melalui sejarah hidup itu, ada terbentuk hobinya, cara belajarnya, cara hidupnya, dan lain-lain.
***
Ada satu malam ketika saya sedang asyik mencari sesuatu di Google, ada satu pesan masuk melalui WhatsApp. Keinginannya ya ingin ditemani cerita. Isi ceritanya itu adalah tentang seorang anak yang berteman dengan anak tetangga. Apa yang dia ingin sorot? Dia ingin membahas kelakukan orang tua yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak tetangga. Bagi saya, membandingkan dua orang berbeda itu patut disayangkan. Apalagi jika memang tujuan membandingkan itu sengaja dilakukan untuk mencela. Apa yang dicela? Kekurangan dan ketidakmampuan yang seluruh orang di dunia itu pun tidak menginginkannya. Orang bodoh pun tidak mau bodoh. Tapi apa boleh buat, keterbatasan itu bukan keinginannya.
Dalam pelajaran ushul fikih sewaktu kelas dua SMA dulu, saya sangat ingat satu hal yang diajarkan oleh sang guru, bahwa Tuhan itu tidak pernah membebani hamba-Nya perintah yang di luar kemampuannya. Karena memberikan perintah di luar kemampuan itu tidak bijak dan tidak logis. Ibaratnya melempar orang jatuh ke laut dengan tangan dan kaki yang terikat, lalu memerintahkan agar dia berenang tidak tenggelam. Tuhan juga tidak mencela hamba-Nya yang memiliki kekurangan yang di luar keinginannya. Tapi, Tuhan memberikan petunjuk agar hamba itu lepas dari kekurangannya atau solusi yang pas bagi hamba-Nya.
Pada bab yang lain, ada pembahasan tentang celaan dan pujian Tuhan. Umumnya, celaan itu menunjukkan kalau perbuatan itu terlarang karena tidak baik. Walaupun kekurangan yang di luar kemampuan itu bukan hal yang positif, Tuhan tidak pernah mencela manusia akan itu. Sedangkan manusia yang katanya berakal itu mencela kekurangan hamba Tuhan yang lain dan kekurangan itu bukan dilakukan atas kesadaran dan kesengajaan.
Jika didatangkan para saksi “sejarah” yang berbeda lalu disuruh menulis, mereka akan memiliki respon berbeda. Sebab, tidak semua dari mereka punya kelebihan dalam dunia tulis-menulis itu. Walaupun mereka kurang dalam menulis, mereka punya kelebihan lain yang dibentuk oleh sejarahnya sendiri. Karena mereka punya bentuk masing-masing, sebagai makhluk sosial kita harus melakukan yang semestinya atau bijak kepada para saksi sejarah yang berbeda-beda itu.
Itulah “sejarah yang beda” yang dimiliki oleh manusia; sejarah yang memiliki pengaruh dalam diri dan segenap lini kehidupan kita. Ya, benarlah petuah kala itu “Kita yang sekarang, dibentuk oleh sejarah”.








