Dalam pergulatan pemikiran dan sejarah peradaban manusia, ada saja yang tidak percaya tuhan. Itu disebabkan mereka tidak percaya kepada sesuatu yang sifatnya metafisik, hanya percaya kepada sesuatu yang sifatnya fisik. Karena tuhan itu sifatnya metafisik, akhirnya mereka mengingkari juga keberadaan tuhan. Mereka baru percaya jika tuhan itu sifatnya empiris.
Sebelum kita berbicara dalam masalah pembuktian, kita harus sepakati apa itu empiris? Kalau membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), itu berdasarkan pengalaman. Ini dibatasi pada sesuatu yang bersifat material. Namun, saya sendiri memakai definisi yang tidak berbeda dengan yang ada di KBBI itu, yakni kullu mahsȗsât (Semua yang terindera). Jadi, jika ada sesuatu yang tidak terindera seperti waku, ketersusunan, sebab, akibat, ketiadaan, dan lain-lain itu semua metafisik, atau dalam istilah di ilmu ‘aqliyyat, amr al-ma’qȗlât (hal-hal yang dirasio). Saya rasa, hampir semua orang sepakat dalam definisi ini.
Tapi anggaplah kullu mahsusat itu bukan empiris, tapi material-fisikal. Oke, tidak ada masalah. Namun, empiris yang definisinya seperti itu, berdasarkan pengalaman, itu lebih khusus dibanding apa yang disebut sebagai materi atau fisik itu. Ini tetap tidak meruntuhkan apa yang menjadi fokus pertanyaan besar di sini. Kalau dalam mantik, ada sebuah kaidah yang kurang lebih maknanya, apa yang berlaku kepada sesuatu yang umum, maka itu berlaku kepada yang khusus juga. Jika hal-hal yang diindera itu termasuk hal yang umum, dalam hal ini material dan fisikal, maka itu berlaku juga kepada sesuatu yang empiris. Karena dia lebih khusus. Sebab, ada banyak hal material yang tidak masuk dalam pengalaman hidup kita.
Namun, ada masalah, apakah sesuatu yang metafisik itu benar-benar ada? Apakah keberadaan metafisik itu tergantung akal kita, dalam artian dia baru ada jika kita tahu? Jika ditanya ada, saya sepakat bahwa itu ada. Juga keberadaan metafisik itu sendiri tidak bergantung kepada penalaran, alias eksistensinya itu independen, saya sepakat juga. Alasannya, ilmu, waktu, dan nyawa itu adalah sesautu yang metafisik dan lazim dalam kehidupan kita. Juga, tanpa kita ketahui, dia itu ada. Jika dia ada karena akal kita, maka sejatinya keberadaan itu adalah produk pemikiran manusia, sedangkan berbicara ada atau tidak adalah sesuatu yang objektif, eksistensi independen. Ini sama halnya kalau kita berbicara tentang keberadaan gravitasi, apakah gravitasi itu baru ada setelah Issac Newton menyadari keberadaan gravitasi itu?
Nah, karena hal tersebut mau tidak mau, kita harus sepakat bahwa hal metafisik itu ada dan eksistensinya independen. Kemudian, apakah kita bisa menjawab pertanyaan bahwa bisa atau tidak kita membuktikan keberadaan itu secara empiris atau tidak? Sejujurnya, apa yang kita sebut dengan ada dan tidak ada itu adalah sesuatu yang metafisik. Tapi kan, kalau kita melihat laptop, berarti kita melihat keberadaan laptop? Apa yang kita sebut dengan ada itu sebagai status eksistensi dan bentuk keberadaannya adalah dua hal berbeda. Yang kita lihat adalah “bentuk” keberadaannya, sedangkan yang kita bahas sekarang adalah “status” yang tidak terindera itu. Berarti kalau kita bicara ada atau tidak, kita sedang mempersoalkan masalah metafisik.
Kemudian, kembali ke pertanyaan tadi, apakah bisa atau tidak? Jawabannya, tergantung bagaimana maksud pertanyaan kita. Jika yang dimaksud alat atau wasilah untuk sampai ke pada pengetahuan akan eksistensi tuhan, itu yang disebut dengan pembuktian secara empiris, maka saya akan mengatakan iya. Namun, jika yang dimaksud pembuktian keberadaan tuhan itu harus seperti yang dituntut Bani Israil, ingin melihat tuhan secara empiris, kasat mata, maka saya tidak sepakat. Kenapa? Ada beberapa konsekuensi jika kita mengatakan tuhan sebagai entitas yang empiris.
Pertama, jika kita mengatakan tuhan sebagai sesuatu yang empiris, maka lazimnya kita akan mengatakan bahwa tuhan itu hâdits. Dan ini mustahil, sebab tuhan itu wâjib al-wujȗd. Pembuktian mengapa tuhan itu wâjib al-wujȗd itu sudah saya jelaskan pada salah satu tulisan yang lalu. Selain itu, kita harus ingat bahwa sesuatu yang empiris, pasti hâdits, sedangkan metafisik mencakup sesuatu yang qadîm dan hâdits.
Kedua, jika tuhan adalah entitas yang empiris, maka tuhan akan tersusun. Ini juga mustahil bagi tuhan, sebab masing-masing bagiannya akan saling membutuhkan. Ini sudah saya buktikan dalam masalah keesaan tuhan juga di tulisan yang lalu.
Ketiga, jika tuhan adalah entitas yang empiris, maka tuhan dibatasi oleh ruang dan waktu. Jika tuhan dibatasi ruang dan waktu, berarti ruang dan waktu itu adalah sesuatu yang lebih besar dari tuhan. Bukankah tuhan yang menciptakan ruang dan waktu?
Masalah Baru
Baiklah, anggaplah kita setuju dengan hal tersebut. Bagaimana dengan pembuktian sesuatu yang metafisik melalui sesuatu yang fisik? Apakah itu berarti keberadaan tuhan hanya diciptakan oleh pikiran manusia saja? Mari kita bahas.
Dalam mantik, ada namanya signifikasi (dalâlah) yang terdiri subjek yang menunjuk (dâl) dan objek yang ditunjuki (madlȗl). Ini penah juga saya bahas dalam beberapa tulisan lalu. Jika anda mendengar ada suara ketukan pintu, maka suara itu menunjukkan ada yang mengetuk pintu, terlepas apakah dia manusia atau bukan. Suara ketukan pintu itu adalah dâl sedangkan sesuatu yang menjadi pelaku dibalik munculnya suara itu adalah madlȗl. Pertanyaannya, kalau kita melihat dari sisi objektif alias eksistensi itu sendiri, apakah karena suara yang kita tahu pertama kali itu menunjukkan bahwa sesuatu yang di balik pintu itu muncul belakangan, setelah suara itu muncul? Jika iya, bagaimana suara itu muncul sedangkan penyebabnya sendiri tidak ada? Di sini terjadi kerancuan dan ditolak oleh akal. Maka kita harus menerima bahwa keberadaan sesuatu yang ditunjuki oleh subjek itu tidak dipengaruhi oleh keberadaan petunjuk itu sendiri.
Perlu dicatat, umumnya dalam pembuktian ada atau tidak melalui metode signifikasi atau dalalah ini, perlu dibedakan mana arena dal dan madlul. Dal itu selalu mencakup sesuatu yang material-empiris, sedangkan madlul itu mencakup material dan non-material. Misalnya, ucapan Anda membuktikan keberadaan ilmu atau pengetahuan Anda.
Ingatlah bahwa tidak semua yang kita ketahui itu ada. Juga, tidak semua yang ada itu kita ketahui, sebagaimana segala sesuatu yang ada, bisa kita ketahui. Artinya, terlepas kita tahu atau tidak eksistensi sesuatu itu, dia tidak ada urusan. Mau kita tahu atau tidak, dia tetap ada. Atas dasar inilah, ulama mantik mendefinisikan dalâlah itu dengan fahmu amr min amr (memahami/mengetahui sesuatu melalui sesuatu yang lain), tidak ada sangkut pautnya dengan ada atau tidaknya sesuatu itu.
Sekarang, kalau kita bawa kepada pembuktian keberadaan tuhan, keberadaan tuhan itu tidak dipengaruhi oleh keberadaan sesuatu yang lain. Dalam artian, bukan berarti tuhan baru ada setelah kita menalar ciptaannya itu. Kita akan mengamini bahwa tuhan ada melalui ciptaannya. Sebab, kita tidak bisa langsung mengakses ke sana tanpa melewati step. Sama dengan status “ada” pada segala sesuatu di dunia ini, nanti kita bisa memahami hal yang metafisik melalui sesuatu yang fisikal. Atas dasar ini, kita tidak bisa mengatakan tuhan merupakan produk atau ciptaan pemikiran semata. Tentu ini sejalan dengan akal sehat.
Berarti Ciptaan Tuhan Lebih Jelas dari Tuhan itu Sendiri?
Pertanyaan ini diajukan oleh beberapa guru yang notabenenya mendalami dunia sufistik, juga kawan-kawan yang sudah sampai ke sana. Bagi sufi memang tidak membutuhkan bukti keberadaan tuhan, sebab keberadaannya terlalu jelas. Sufi yang sudah sampai di sini itu maqam atau levelnya sudah tinggi. Namun, hal seperti ini tidak berlaku kepada orang-orang yang levelnya masih amatiran. Bahkan, bagi mereka tuhan itu spekulatif. Seandainya bagi mereka tuhan itu aksioma (dharuriy), lantas kenapa mereka mengingkari keberadaan tuhan? Atas dasar ini, tentu mereka memerlukan bukti.
Kalau kita berbicara kepada yang levelnya masih di bawah, keberadaan tuhan melalui alam semesta yang empiris, memang lebih jelas keberadaan empirisnya. Namun, untuk yang maqam atau levelnya tinggi, mereka tidak butuh pembuktian seperti ini, karena tidak ada yang lebih jelas keberadaanya selain Allah. Sedangkan kalau kita berdialektika, kita harus menyesuaikan dengan mitra diskusi kita.
Wallahu a’lam.








