Dalam ceramah-ceramah, kita selalu mendengar bahwa kehidupan dunia itu fana dan tidak abadi. Kesan yang didapatkan oleh pendengar adalah dunia ini buruk. Sementara akhirat itu mulia dan harus dikejar. Tapi, bagian ini kerap disalahpahami. Karena ada yang menarik konklusi bahwa dunia itu harus ditinggalkan, tidak usah bekerja, dan fokus saja beribadah. Benarkah demikian? Kita akan mengurainya pada beberapa poin yang akan datang.
Kekal dan Fana
Dalam kajian ilmu kalam, kekal disebutkan dengan sifat baqâ’ (ketiadaan akhir) dan fana adalah lawannya; memiliki akhir. Sesuatu yang kekal itu dibagi menjadi dua; kekal lekang waktu dan tidak. Kekal yang terlepas oleh waktu itu adalah kekalnya Tuhan. Tapi, jika tidak maka itu tidak disebut dengan kekal.
Tapi, bagaimana dengan perkara akhirat yang katanya abadi tanpa ujung seperti penduduk surga yang menikmati surga tanpa batas dan penduduk neraka yang sengsara tanpa henti? Baqâ’ dari segi esensialnya dibagi menjadi dua; baqâ’ li dzâtihi (kekal hakiki) dan baqâ’ li ghairihi (kekal karena dikekalkan). Kekal yang pertama adalah kekalnya Tuhan. Sedangkan yang kedua adalah kekalnya surga dan neraka. Bedanya, kekal yang pertama tidak berawal. Karena kekal hakiki itu pasti memiliki sifat qadîm. Sementara yang kedua, memiliki awal. Karena surga dan neraka itu diciptakan.
Fana dan Dunia
Kalau kita pernah belajar ilmu kalam dasar, maka kita akan menemukan bahwa Allah adalah wâjib al-wujȗd (Keberadaan-Nya wajib) dan ketiadaannya itu mustahil. Adapun selain Allah itu pasti fana. Dunia itu termasuk selain Allah, maka dunia itu fana. Atau dengan kata lain, dunia ini akan memiliki akhir. Ini senada dengan salah satu firman-Nya:
كل من عليها فان
“Segala sesuatu yang ada di atas bumi pasti fana” (Al-Rahman: 26)
Di sini sudah jelas bahwa eksistensi dunia itu fana, alias memiliki akhir. Dari bagian ini, selalu ditarik kesimpulan bahwa apapun yang ada di dalam dunia, tidak akan dibawa mati. Sampai di sini, tidak ada masalah. Masalahnya nanti ketika dinyatakan bahwa kita harus meninggalkan sesuatu yang bersifat duniawi. Karena segala yang bersifat duniawi ini kita tidak akan bawa mati. Karena kesimpulan ini, akan ada orang yang tidak mau lagi bekerja dan hanya sibuk melaksanakan ibadah mahdhah.
Masalah pada kesimpulan tersebut akan terdeteksi ketika kita mempertanyakan “Benarkah dunia tidak memiliki sangkut paut dengan akhirat?” Kita perlu membedahnya pada segmen berikut.
Ibadah dan Bernilai Ibadah
Dalam salah satu artikel yang diteribitkan di Dar Al-Ifta Al-Mishiryyah (Lembaga Fatwa Otoritatif Mesir), disebutkan beberapa bagian detail dari ketaatan. Ketaatan itu adalah sesuatu yang diberi pahala jika dikerjakan. Tapi, ketaatan ini umum, melahirkan dua bagian; 1) Ketaatan yang butuh niat, 2) Ketaatan yang tidak butuh niat. Bagian pertama melahirkan dua bagian lagi; a) Ibadah. b) Qurbah.
Definisi ibadah:
امتثال ما أمر الله تعالى به واشترط في الإثابة عليه استحضار نية التقرب إليه عز وجل
“Mematuhi perintah Allah dan mendapat pahala dengan syarat adanya niat taqarrub kepada Allah Swt.”
Jadi, ibadah itu harus ada niat qurbah kepada Allah. Jika tidak, maka itu tidak disebut ibadah. Adapun qurbah:
فِعْلُ ما يُثاب عليه بعد معرفة مَنْ يُتَقَرَّب إليه به، وإن لم يَتَوقَّف على نيةٍ
“Perbuatan yang diberikan ganjaran pahala setelah mengetahui Tuhan yang ditaqarrubi, walaupun itu tidak ada niat”
Jadi, sebelum perbuatan itu sampai kepada tahap ibadah, maka yang paling pertama adalah mengenal Allah dulu. Ini sebagaimana yang diajarkan dalam kitab-kitab akidah dasar. Tapi, ini tidak dikatakan ibadah, tidak juga qurbah walau berpahala. Setelah kita mengenal, barulah kita bisa mendekatkan (taqarrub) diri kepada Allah.
Adapun bagian ketaatan yang tidak membutuhkan niat, ini jelas mencakup perbuatan duniawi. Tapi, dengan catatan bahwa perbuatan tersebut itu harus dimaksudkan merealisasikan maslahat umum. Ini yang sering disebut dengan aktivitas yang bernilai ibadah, tapi bukan ibadah esensinya.
Jadi, jika ibadah membutuhkan niat, maka perbuatan yang bernilai ibadah tidak membutuhkan niat. Misalnya, salat, puasa, dan sebagainya. Perbuatan ini tidak sah dikatakan ibadah jika tidak diniatkan. Adapun perbuatan seperti sedekah, membantu orang lain, menemukan sesuatu yang memudahkan manusia, ini akan bernilai pahala, alias bernilai ibadah walaupun tidak dikatakan sebagai ibadah, tanpa perlu diniatkan.
Apakah Kita Harus Meninggalkan Dunia?
Dari uraian di atas, kita bisa melihat bahwa meninggalkan dunia dengan alasan dunia itu fana adalah perbuatan yang naif. Sebab, ada banyak hal duniawi yang bisa bernilai ukhrawi. Buktinya, hal-hal duniawi bisa berpahala juga. Kita bekerja, menafkahi anaknya orang, membantu orang lain dalam hal baik, dan lain-lain, ini semua berpahala. Kontribusi sekecil apapun dalam mewujudkan maslahat umum, pasti akan bernilai pahala.
Tapi, bagaimana mengkompromikan antara fokus ukhrawi dan perbuatan duniawi? Mudah saja. Kalau kita sejak awal sepakat bahwa Islam itu relevan pada setiap konteks, maka perbuatan duniawi tidak bertentangan dengan fokus kepada hal ukhrawi. Bagaimana mungkin kita meninggalkan hal duniawi jika hal duniawi itu memiliki ujung ke hal ukhrawi, sementara kita meniatkan fokus kepada hal ukhrawi? Jelas, kedua hal ini tidak bertentangan. Perlu digarisbawahi bahwa tidak semua perbuatan ukhrawi mencakup duniawi dan tidak semua perbuatan duniawi mencakup ukhrawi.
Islam itu tidak sebatas pada salat, puasa, zakat, taharah, berpakaian, dan lain-lain. Mulai dari hal kecil diatur sedemikian rupa. Cara tidur, buang air, dan lain-lain. Jika demikian, bagaimana mungkin Islam abai terhadap hal yang lebih besar, seperti sosmed, transaksi Bitcoin, bersosial, berteman, memiliki circle, dan lain-lain? Di sini, kita harus membuang jauh-jauh cara pandangan sekuler; memisahkan dunia dan akhirat. Semua hal duniawi memiliki hubungan dengan hal ukhrawi. Skala paling kecilnya, berkaitan dengan pahala dan dosa. Islam tidak meridai pandangan sekuler semacam itu.
Dunia dan Gurauan
Imam Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H) dalam kitab Mafâtih Al-Ghaib menjelaskan Surah Al-Hadid ayat 20 dengan detail. Menurut Imam Al-Razi, bukan kehidupan dunianya yang sia-sia, jika ingin mengatakan duniawi itu sia-sia. Ini karena ada ayat:
أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا
“Apakah kalian mengira kami menciptakan kalian dengan sia-sia?” (Al-Mu’minun: 115).
Kalau bukan dunia yang salah, lalu apa? Jawabannya, kehidupan ini menjadi sia-sia, tidak berarti, atau fana‒sebagaimana yang sering digaungkan dalam ceramah-ceramah‒ketika kehidupan itu tidak dilandasi ketaatan kepada Allah Swt. Makanya Allah menyifati dunia dengan lima sifat di surah Al-Hadid ayat 20:
Pertama, la’bu, yaitu perbuatan anak kecil yang mengikuti alur hawa nafsunya. Masalahnya, perbuatan itu tidak ada manfaatnya.
Kedua, lahwu, yaitu perbuatan kaum muda yang berorintasi kepada hasrat dan rakusnya saja. Ini juga menjadi dalang dari hidup hedon. Padahal, orang berakal tidak ingin banyak memiliki. Karena mereka akan terganggu dengan kehilangan.
Ketiga, zînah. Kata Imam Al-Razi, ini adalah kebiasaan perempuan yang memperindah diri, kesungguhan menyempurnakan fisik yang kurang ideal, dan lain-lain. Padahal, jika sejak awal esensinya (dzat) sudah menampung kekurangan, bagaimana mungkin aksiden (‘aradh) memperbaiki kekurangan itu? Jika dunia sudah sejak awal tidak sempurna, bagaimana menutupi kekurangan itu? Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut dalam konteks untuk orang kafir. Karena orang kafir sibuk memanjangkan umurnya untuk kepentingan hedonnya, tanpa mementingkan kehidupan akhiratnya.
Keempat, tafâkhar. Maksudnya, saling berbangga-bangga dalam konteks perbuatan fana. Semisal, saling berbangga-bangga dalam hal nasab, kekuatan, kekuasaan, harta, dan lain-lain. Padahal, semuanya akan lenyap.
Kelima, takâtsur fi al-amwâl wa al-awlâd. Maksudnya, fokus memperbanyak harta dan keturunan. Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud di sini adalah sibuk mengumpulkan harta di jalan yang dimurkai Allah sembari berlagak sombong di hadapan wali Allah.
Sebagai solusi, Imam Fakhruddin Al-Razi menulis bahwa jika orientasi dunia masih berputar pada lima poin di atas tadi dan persoalan akhirat diabaikan, maka tugas kita adalah menggeser orientasinya menjadi orientasi ukhrawi. Inilah yang dicela oleh Allah Swt. dan dikatakan sebagai senda gurau semata.
Coba perhatikan kelima poin tersebut. Semuanya memiliki muara yang sama; kebosanan, fana, dan hasilnya tidak abadi. Benar-benar permainan yang membutakan dari hakikat! Syariat datang berbicara hakikat dan mengajak kita fokus kepada hal-hal substansial, alih-alih terjerumus dalam kebutaan. Bukankah substansi menjadi titik fokus orang-orang yang memiliki akal?
Memperbaiki Hidup dan Ukhrawi
Sebenarnya, tidak ada salah dari memperbaiki hidup. Sebab, sejak awal kita diperintahkan untuk menjaga tubuh dan nyawa kita. Hanya saja, jika tujuannya bersifat fana, di sini yang menjadi masalah. Mengumpulkan harta itu tidak salah jika tujuannya membangun kemaslahatan dalam keluarga, punya tujuan baik seperti pendidikan, dan lain-lain. Yang menjadi masalah jika mengumpulkan harta itu tujuannya hanya untuk berbangga-bangga. Memperindah tubuh itu tidak salah. Yang salah jika memperindah itu tujuannya untuk hal duniawi, bukan untuk merawat.
Begitu juga dengan hal-hal lain, jika tujuannya adalah hal fana, maka jelas itu dicela oleh agama. Kebatilannya bukan hanya dinyatakan oleh agama, tapi dinyatakan oleh akal sehat. Kita harus sepakat dulu bahwa hal ukhrawi adalah hal yang substansial. Sebab, akhirat itu kekal dan dunia fana. Jika orang sibuk kepada dunia, maka muara perbuatannya akan sampai kepada kesia-siaan dan hanya sampai batas tertentu. Jika melewati batas itu, maka perbuatannya tidak memiliki lagi nilai. Sedangkan jika orang fokusnya kepada akhirat, maka perbuatannya tidak sia-sia.
Lantas, bagaimana jika ada yang menanyakan “Untuk apa makan kalau pada akhirnya kita akan lapar?” Jawabannya, kita makan bukan sekadar untuk bertahan hidup, tapi mematuhi perintah Allah bahwa kita harus menjaga diri (hifzh al-nafs). Kalaupun pada akhirnya kita lapar, materi dunianya fana, bukan nilai akhiratnya.
Wallahu a’lam








