• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Tulisan Umum

Rambu Baca Buku Kiri

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
31 Desember 2025
in Tulisan Umum
Waktu Baca: 5 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Buku kiri itu selalu dilabeli sebagai buku tabu yang perlu disegel rapat-rapat. Istilah plus stereotip itu bermula sejak Orde Baru; di mana buku yang dicap “kiri” ini disita, dibakar, dan diamankan. Karena dianggap sebagai ancaman ideologis. Hal tersebut masih berlanjut hingga era Reformasi.

Muatan yang identik dengan “kiri” itu selalu diidentikkan dengan sosialisme, marxisme, dan leminisme, atau ide progresif yang mengkritik kapitalisme, kesenjangan sosial, dan penindasan kelas.

Kendati istilah “kiri” itu sarat dengan konteks politik, ada juga buku “kanan” yang cenderung konservatif; mendukung kapitalisme, liberalisme ekonomi, hierarki sosial, dan lain sebagainya. Seolah, “kiri” datang sebagai anti-tesis dari “kanan”.

Tapi, maraknya “kiri-kanan” itu digunakan, dalam beberapa konteks justru membuat kedua arah itu terlepas dari konteks politik era Orde Baru. Misal, buku kiri itu diidentikkan dengan buku radikal dan ekstrim keras, sedangkan buku kanan itu diidentikkan dengan buku liberal dan ekstrim lembut.

Apapun arahnya, mau itu kiri, kanan, atas, atau bawah, yang jelas Islam meridhai sikap moderat. Sikap moderat tidak harus kiri, kanan, atau tengah. Moderat bukan koordinat, tapi ketepatan sikap; meletakkan sesuatu pada tempat, konteks, dan momentum yang sesuai. Sehingga lahir nilai-nilai kebijaksanaan.

Awal Masalah

Kendati Islam mengharuskan kita mengambil sikap moderat, bukan berarti kita anti dengan buku yang berada di haluan arah lain. Karena membaca pemikiran atau alur bernalar, tidak mengharuskan kita setuju. Minimal, meragukan. Kita membaca untuk menimbang, bukan untuk setuju atau menolak.

Sikap seperti ini sangat diapresiasi dan memang begitu seharusnya. Hanya saja, tidak semua pembaca siap. Khususnya untuk masuk ke dalam tahap adopsi pemikiran dan cara bernalar.

Siap atau tidaknya pembaca diukur dengan; 1) Apakah dia bisa menimbang setiap detail pemikiran itu dengan kritis? 2) Apakah dia bisa memahami alur pemikiran itu secara fundamental dan detail? 3) Apakah dia bisa menguji setiap konsekuensi yang ditimbulkan dari pemikiran itu? dan 4) Apakah dia bisa mengukur dosis sampai mana batas konteks dan momentum pemikiran itu bekerja?

Untuk memiliki nalar metodologis-kritis itu butuh perjalanan panjang; butuh kompetensi yang sudah tahan banting di labolatorium.

Nah, apa jadinya kalau ada orang newbie (red: baru) belajar, tapi langsung disuguhkan buku dengan segala jenis arah itu? Akan terpukau. Minimal, ditelan mentah-mentah. Padahal, apapun pemikirannya, tetap perlu diuji. Termasuk tulisan ini.

Ibarat belum selesai ospek, tapi sudah berniat memberikan kontribusi luas. Perlu kita ingat, niat yang tulus harus selaras dengan kompetensi. Karena inkompetensi, selalu menimbulkan kerusakan lebih, alih-alih mewujudkan masyarakat ideal. Penting betul pemahaman yang benar sejak awal.

Tidak salah bermimpi, tapi pastikan jalan untuk mewujudkan mimpi itu realistis dan sesuai dengan kemampuan manusia normal.

Problem Solving

Sebenarnya, pemecahan masalah itu sudah sering kita dengar, walaupun dalam sebagian keadaan, ia masih seperti puzzle yang butuh penyelesaian; belajar.

Anda tidak salah baca, memang belajar solusinya. Hanya saja, perlu diperjelas; belajar apa dan bagaimana? Belajar yang dimaksud, bukan cuman memperkaya gudang ingatan. Tapi, membentuk pola pikir dan mindset yang tertata.

Membentuk pola pikir itu harus belajar kepada ahli. Karena di sana akan ada trial and error. Setiap murid mencoba berekperimen dengan pikirannya, pasti akan diarahkan oleh gurunya. Dalam proses inilah nalar murid “dibengkel” sampai menjadi kompeten.

Khusus dalam konteks Al-Azhar, murid itu diberikan peta belajar, agar dia memiliki cara pandang dan bernalar yang diwarisi oleh para ulama. Itulah fungsi ikut talaqqi (red: kajian keilmuan) dan dibarengi dengan muthala’ah (red: membaca).

Intinya, selama kita baru, minimal sadar diri; kalau sejak awal itu harusnya belajar. Tidak perlu berpikir mau membabat orientalis, orang ateis, mau jaga umat, dan seluruh tindakan heroik itu. Selama kita belum selesai dengan diri sendiri, masih kagetan, masih keteteran, bagaimana mau tampil jadi orang yang banyak menyelesaikan beban orang lain?

Bukan melarang untuk idealis, hanya saja langkah terburu-buru lebih banyak tidak masuk akalnya dan berujung halu. Apa gunanya idealisme sebesar semesta kalau langkah dan prosesnya saja tidak realistis? Kalau kebenaran saja tidak berpihak di jalan ini, lalu siapa kita yang tetap memaksakan?

Isykâl

Mungkin akan ada bertanya: “Sejak awal kita harus menimbang, bukan percaya atau menolak dulu. Tapi, kenapa kita harus ikut pada metode tertentu untuk menimbang, alih-alih menimbang metode itu lalu mengikutinya?”

Begini, dalam sistem bernalar, sebuah kebenaran harus disandarkan kepada kebenaran yang lebih promordial dan fundamental. Lebih sederhananya, sebuah klaim atau spekulasi harus bersandar kepada sesuatu yang dipastikan kebenarannya.

Misalnya, untuk membuktikan kebenaran bahwa setengah kue lebih kecil dibanding keseluruhan kue, perlu bersandar kepada proposisi yang lebih dasar: “Setengah lebih kecil daripada keseluruhan.” Ini adalah proposisi paling dasar karena berisi pola kebenaran yang sifatnya pasti. Karena memberikan pola yang sifatnya pasti, maka kebenarannya juga pasti. Ini disebut dengan aksioma (dharȗriy).

Kenapa tidak diuji? Aksioma itu tidak perlu dibuktikan. Karena seandainya aksioma butuh kepada pembuktian, maka proses pembuktian itu akan terus berjalan tanpa ujung. Jika proses ini berjalan tanpa ujung, maka terjadi tasalsul. Dan itu mustahil, sebagaimana yang pernah dijelaskan pada salah satu tulisan.

Solusinya, pembuktian itu harus berhenti pada satu kebenaran yang “dipastikan”, agar menghindari konsekuensi tasalsul itu.

Nah, kumpulan kebenaran itu kemudian diramu menjadi metodologi. Metodologi inilah kemudian yang digunakan untuk menimbang benar-salah pemikiran lain.

Betul, kita membaca bukan untuk menerima dan menolak. Tapi, sikap ini tidak bisa berlaku pada hal-hal yang dipastikan benarnya. Karena kalau kita meragukan hal yang sudah jelas, tentu tidak matching. Karena kebenaran itu diterima, bukan diragukan.

Sesuatu yang bisa diragukan itu ketika dia masih berada pada tahap spekulatif; belum bisa dipastikan benar-salahnya. Perlu eksplorasi nalar dan pembuktian lebih lanjut. Tapi, seluruh aktivitas nalar dan pembuktian itu, memerlukan alat untuk eksekusi lapangan. Alat itu adalah metodologi. Metodologi itulah yang menjadi pisau bedah dalam membaca pemikiran lain.

Jadi, kalau masih maba (mahasiswa baru) jangan minder kalau belajar hal-hal dasar. Itu sangat wajar. Justru perlu malu itu kalau sudah merasa sampai puncak dengan segenap eksklusifitas yang beda dari awam, tapi masalah dasar saja belum selesai. Tidak penting betul itu validasi eksternal. Yang jauh lebih penting itu jujur sama diri; maksimal pada apa yang Allah tugaskan kepada kita. Biar Dia yang pindahkan ke mana posisi kita. Kalau sekarang masih harus tekun di ilmu dasar, maksimal saja di sana.

Metodologi di Awal

Mungkin ada pertanyaan, kenapa belajar cara bernalar sejak awal itu seperti harga mati? Kenapa tidak nanti saja? Kan, masalah di masyarakat dan kesesatan itu sangat banyak.

Justru karena masalah itu sangat banyak, kita perlu belajar cara bernalar sejak awal. Jangan dibalik. Kalau cita-cita adalah menyelesaikan masalah dan menjawab problematika sosial, pertanyaan lanjutannya: “Masalah apa yang bisa selesai dengan kebodohan dan kedangkalan?” Pada akhirnya, ketidaktahuan justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.

Juga, dalam membenahi cara berpikir di awal melalui rangkaian ilmu alat itu, waktunya tidak terlalu lama, alias terbatas. Sedangkan gumpalan masalah dan isu kemasyarakatan itu tidak terbatas. Kalau kita sejak awal hanya konsen sama isu lapangan, kita tidak akan pernah selesai. Karena tidak terbatas.

Dapat orang sesat, dikomentari. Dapat Wahabi mencela Ahlussunnah, dikomentari. Akhirnya, kita tidak punya waktu untuk membenahi diri pada ilmu yang terbatas itu. Waktu kita habis dalam mengomentari. Sayang sekali, waktu habis untuk hal yang tidak prioritas.

Kalau mau dapat dua-duanya, selesaikan yang terbatas dulu. Karena yang namanya terbatas, ia punya titik paten. Setelah selesai, silahkan, lapangan sangat menyambut kedatangan Anda.

Bukannya mengajak apatis dan menutup mata dengan lapangan. Bersikap itu penting dan melek realitas itu juga penting. Tapi, jika kita bersikeras berkontribusi tanpa adanya kompetensi, itu jauh lebih egois. Kenapa? Karena ego kontribusi kita  yang memaksa itu, akhirnya masalah di masyarakat semakin besar. Inkompetensi mana yang menyelesaikan masalah dengan baik? Kalaupun selesai, ya hoki.

Fyi saja, judul tulisan ini cuman clickbait dan tidak diniatkan menjadi tulisan ilmiah banget. Karena tulisan ini diperuntukkan kepada orang-orang yang barusan belajar secara umum dan toolkit untuk maba yang barusan datang di Mesir secara khusus. Supaya sejak awal, tidak tertipu dengan nafsu belajar yang landasannya ego, bukan kemurnian.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

Artikel Sebelumnya

Manusia itu Bisa Berubah!

Artikel Selanjutnya

Bahasa Ribet itu Perlu Ada!

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Bahasa Ribet itu Perlu Ada!

Bahasa Ribet itu Perlu Ada!

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.