• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Adab Al-Bahts

Mengenal Mushadarah ‘ala Al-Mathlub

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
13 Oktober 2023
in Adab Al-Bahts
Waktu Baca: 4 menit baca
Source: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-debat/

Source: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-debat/

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Suatu ketika, saya menghadiri sidang doktoral salah satu senior di Al-Azhar. Seperti biasa, mahasiswa atau tamu undangan yang hadir itu hanya datang untuk melihat dan menyaksikan peserta ujian mempertahankan risalahnya dan berdebat dengan dosen penguji.

Saat itu, salah satu dewan pengujinya adalah Prof. Dr. Ahmad Muhammad Syarqawi, Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar. Beliau mengeluarkan komentar pedas terhadap disertasi yang disajikan. Kurang lebih komentarnya bermakna begini: “Sang bâhits (peserta) melakukan mushâdarah ‘ala al-mathlȗb di dalam risalahnya (disertasinya) dan ini merupakan aib besar!”.

Seandainya ada orang yang sama sekali belum pernah menyentuh ilmu debat atau akrab disapa dengan adab al-bahts wa al-munâzharah secara umum, atau sama sekali tidak pernah mendengar istilah mushâdarah ‘ala al-mathlȗb itu, saya yakin dan percaya, dia akan menganggapnya sebagai kosakata biasa dan diterjemahkan ala kadarnya. Tapi, apa yang dimaksud dengan mushâdarah ‘ala al-mathlȗb? Dan mengapa ia merupakan aib besar?

Anggaplah saya berdebat dengan seorang kawan yang bernama Dokki’ tentang kecantikan seorang perempuan, sebut saja Fulanah. Salah satu rambu dalam ilmu debat adalah masalah yang dipersoalkan itu bersifat spekulatif, alias masih menimbulkan pertanyaan dan membutuhkan pembuktian, dalam hal ini kecantikan Fulanah. Dokki’ mengklaim: “Fulanah itu cantik.” Dengan nada keberatan, saya membalas, “Apa bukti bahwa Fulanah itu cantik?”. Dokki’ menjawab “Karena Fulanah itu cantik”.

Dialog tersebut merupakan skenario mini dari sebuah perdebatan yang terkontaminasi mushâdarah ‘ala al-mathlȗb. Kalau kita analisa dengan baik, kecantikan Fulanah adalah sengketa perdebatan. Saya meminta buktinya. Bukti itu harus berupa hal yang disepakati dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi, landasan Dokki’ akan kecantikan Fulanah adalah kecantikan Fulanah sendiri yang masih diperselisihkan. Bagaimana menjadikan kecantikan Fulanah sebagai landasan, sedangkan kecantikan itu sendiri yang menjadi sengketa dalam perdebatan itu. Tentu, apa yang dijadikan landasan oleh Dokki’ ini belum tentu pula bisa dipertanggungjawabkan.

Contoh lain, anggaplah ada seorang ateis datang kepada ‘Utbah. Orang ateis itu bertanya kepada ‘Utbah “Saya tahu bahwa agama Islam itu ada, tapi apa bukti bahwa agama Islam itu benar?” ‘Utbah kemudian memberikan landasannya bahwa “Ya karena agama Islam itu benar.”

Kira-kira apakah sengketa kebenaran Islam yang dibuka oleh orang ateis itu tuntas? Jawabannya, belum. Kenapa? Karena jawaban dari ‘Utbah, tidak membuktikan kebenaran Islam itu sendiri, dia hanya mengulang apa yang harusnya menjadi kesimpulan, ia letakkan di premis. Jika seandainya premisnya demikian, maka akan timbul pertanyaan yang sama “Lalu, kalau kebenaran Islam itu dibuktikan dengan kebenaran Islam, lalu apa buktinya?” Dialog imajinernya akan berputar terus, sama seperti skenario di atas tanpa ujung. Akhirnya, kalau bukan bermuara pada daur karena berputar-putar, maka akan berakhir pada tasalsul karena proses rasionalisasinya tak kunjung mendapat muaranya. Keduanya mustahil, sebagaimana yang pernah saya paparkan pada salah satu tulisan.

Apa itu mushâdarah ‘ala al-mathlȗb? Mushâdarah berasal dari kata shâdara yang bermakna mengambil alih. Kata ‘ala merupakan kata bantu yang menjembatani relasi subjek dan objek antara pengambil alihan dan objeknya. Sedangkan kata mathlȗb berasal dari kata thalaba yang berarti menuntut. Ketika berubah menjadi variasi objek, maka dia bermakna yang dituntut.

Secara sederhana, mushâdarah ‘ala al-mathlȗb itu mengambil alih (mushâdarah) kesimpulan (al-mathlȗb), lalu menjadikannya sebagai premis. Seperti persoalan kecantikan tadi. Kesimpulan dari perdebatan itu adalah apakah Fulanah cantik atau tidak. Sedangkan premis, tidak boleh berisi kesimpulan, karena kesimpulan itulah yang menjadi tujuan. Dengan kata lain, premis itu tidak boleh berisi klaim bahwa Fulanah itu cantik, karena itu menjadi kesimpulan. Harus hal lain selain kecantikan itu yang muaranya sampai pada kesimpulan, bahwa Fulanah itu cantik.

Coba kita perhatikan bagaimana teolog membangun argumen tentang kontigensi alam:

Premis 1: Alam itu berubah

Premis 2: Semua yang berubah itu kontigen (al-hâdits)

Konklusi: Alam itu kontigen

Konklusi yang ditarik oleh para teolog itu, berangkat dari dua premis yang membangunnya, melalui rajutan hadd al-awsath (middle term). Begitu juga premis yang dibangun, bagian pertama dan kedua itu beda dengan kesimpulan. Seandainya bagian premis dan kesimpulan itu sama, maka bangunan premis itu tidak ada gunanya, tidak ada kesimpulan dan hal baru yang dilahirkan.

Kenapa premis harus berbeda? Karena premis ini menjadi pengantar kepada tujuan. Ibaratnya jalanan menuju suatu tempat tertentu. Jalanan itu satu hal, tujuannya merupakan hal lain. Keduanya beda. Absurd-nya mushâdarah ‘ala al-mathlȗb ini, sama absurd-nya dengan menjadikan jalanan itu sebagai tujuan, begitu juga sebaliknya.

Kecacatan dalam berargumen seperti ini tergolong aib dan aib besar bagi orang yang memiliki nalar argumentatif. Karena kecacatan seperti ini umumnya terjadi pada masyarakat awam dan biasanya kita saksikan di layar kaca kita.

Muara argumentasi semacam ini, alih-alih melahirkan perdebatan sehat, malahan melahirkan perdebatan keruh dan kusir. Sangat jauh dari prinsip kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dari sini, terlihatlah bagaimana pentingnya mempelajari ilmu mantik dan ilmu debat. Karena kesalahan seperti ini sederhana, tapi korbannya tidak sesederhana bentuk kesalahannya; sangat banyak! Apa yang dikira kebenaran dengan argumentasi semacam ini, sesungguhnya bukan kebenaran itu sendiri. Karena tidak ada pembuktian, sementara kebenaran lahir dari rahim argumentasi. Kalaupun ada orang tampak menang dalam berdebat dengan cara seperti ini, dia hanya menang retorika, bukan menunjukkan kebenaran.

Akhir kata, jika sejak awal manusia keliru dalam berpikir, maka jangan tanya kenapa ada peradaban yang jauh dari nilai kebenaran.

Wallahu a’lam.

Artikel Sebelumnya

Kulliy Ketiga: Fashl

Artikel Selanjutnya

Menguji ChatGPT dalam Bidang Akidah

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Menguji ChatGPT dalam Bidang Akidah

Menguji ChatGPT dalam Bidang Akidah

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.