• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Ilmu Kalam

Apa Bukti Rasional Bahwa Tuhan itu Esa?

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
21 Mei 2022
in Ilmu Kalam
Waktu Baca: 8 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Ada satu hal yang sangat inti dalam berkeyakinan, yakni Allah adalah satu-satunya Tuhan, tidak berbilang. Kita juga mengamini bahwa dia tidak memiliki sekutu, tidak ada yang setara dengan-Nya dan tidak ada juga yang layak disembah selain-Nya. Dalam kalimat syahadat, ini juga kita amini. Namun, kalau dihadapkan dengan keyakinan di luar sana, kita tidak akan saling cocok dalam hal keesaan tuhan. Sebab, ada keyakinan yang menyatakan bahwa tuhan itu ada banyak. Dalam kehidupan sosial, ya kta persilahkan saja orang meyakini apa yang dia ingin yakini, tapi di saat yang sama, bukan berarti kita membenarkan apa yang diyakini orang lain.

Sebagai muslim, kita harus meyakini ini. Sebagaimana pada beberapa tulisan lalu, saya selalu mengatakan dalam akidah itu selama kita bisa berpikir, maka sebaiknya kita tidak bertaklid dalam berakidah. Atas dasar ini, dalam masalah keesaan pun, kita harus mendatangkan bukti-bukti rasional.

Sebelum mengafirmasi keesaan tuhan, kita harus tahu dulu, apa yang dimaksud dengan esa dalam pembahasan ini? Dalam Ahlussunnah, jika dikatakan bahwa tuhan itu esa, maka ada tiga hal yang dimaksud; Pertama, esa dalam dzat. Kedua, esa dalam perbuatan. Ketiga, esa dalam sifat. Yang pertama terbagi menjadi dua; Pertama, Allah maha suci dari ketersusunan. Kedua, tidak ada dzat yang menjadi sekutu tuhan. Sedangkan yang kedua memiliki dua pembagian juga; Pertama, tidak ada sifat makhluk yang serupa dengan sifatnya Allah. Kedua, sifat Allah esa dalam satu jins (genus). Sedangkan yang ketiga tidak terbagi. Jika dikatakan Allah itu esa, semua aspek ini harus tercakup. Karena jika tidak, maka kita akan menyandarkan kekurangan kepada Allah. Tentu Allah maha suci dari kekurangan.

Penjelasan

Dari beberapa bagan di atas, di sana bermuara pada lima hal. Kita akan memperjelas maksudnya lalu mendatangkan argumentasi rasional dari masing-masing bagian.

Pertama, Allah tidak tersusun atas bagian-bagian (ajzâ’). Maksudnya, kita melihat makhluk yang tersusun dengan bagian anggota tubuhnya. Seperti manusia, memiliki tangan, kaki, mata, kepala, dan lain-lain. itulah yang dimaksud dengan bagian-bagian itu. Hal yang seperti itu hanya terjadi pada makhluk, tidak terjadi pada dzat Allah.

Kedua, tidak adanya dzat yang menjadi sekutu tuhan. Maksudnya, kita mengimani bahwa Allah satu-satunya dzat yang wâjib al-wujȗd (istilah ini sudah saya jelaskan pada tulisan yang lalu), dan tidak ada dzat lain yang bisa sampai ke derajat itu, dengan kata lain tidak ada yang bisa menjadi tuhan yang niscaya secara akal. Juga, maksud sekutu di sini adalah adanya pihak lain yang juga sama-sama menjadi tuhan selain Allah. Dan ini tidak mungkin ada.

Ketiga, tidak ada sifat makhluk yang seupa dengan sifat-Nya Allah. Jika manusia punya sifat yang memiliki keberadaan setelah memiliki ketiadaan, maka Allah tidak seperti manusia yang ada setelah melewati fase ketiadaan. Begitu juga yang berlaku pada semua selain Allah pada sifat-sifat yang lain.

Keempat, sifat Allah esa dalam satu jins (genus). Dalam mantik sudah dijelaskan bahwa jins adalah kategori yang diberlakukan pada banyak hal untuk menjawab pertanyaan apa itu. Ketika dikatakan bahwa Allah itu memiliki sifat yang esa, maka maksudnya Allah tidak memiliki dua perbuatan atau lebih dalam satu jenis sifat. Misalnya, sifat ilmu itu satu jenis. Jika dikatakan dua ilmu, maka ada dua sifat dalam satu jenis sifat, yakni ilmu. Allah memiliki sifat ilmu yang esa, kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah memiliki dua ilmu, tiga ilmu, banyak ilmu dalam artian sifat. Itu juga berlaku pada sifat qudrah, iradah, hayah, sama’, bashar, dan kalam.

Namun, di sini bisa muncul syubhat, misalnya “Jika memang Allah Maha Tahu, kenapa ilmu-Nya hanya satu?” dan “Jika memang Allah esa sifat-Nya, lantas kenapa sifat-Nya banyak?”. Dua syubhat ini akan dibahas pada tulisan terpisah. Tentu kita baru bisa menjelaskan ini setelah menjelaskan apa itu sifat ilmu sedetail mungkin, juga membedakan mana yang namanya sifat ilmu dan cakupan ilmu itu sendiri, dan kita juga akan membantah syubhat yang serupa seputar sifat setelah menguraian tentang sifat itu sendiri.

Kelima, esa dalam perbuatan. Maksudnya, tidak ada pihak mana pun yang dapat menyetarai Allah dalam menguasai dan mengatur sesuatu.

Argumentasi

Ada beberapa hal yang harus kita ingat; Pertama, yang namanya bukti itu bisa bersifat non-fisik, dalam hal ini menggunakan rasionalitas akal. Kedua, jika seandainya bukti harus bersifat fisik, kenapa lantas dalam pembuktian kriminal itu bisa menggunakan barang bukti sebagai indikasi kuat yang nyata-nyata kita tidak sedang melihat kejadian kriminal itu secara langsung? Atas dasar ini, sangat valid jika kita menggunakan keniscayaan akal sebagai bukti akan keesaan tuhan.

  1. Tuhan tidak tersusun atas bagian-bagian.

Jika tuhan tersusun atas bagian-bagian, maka seluruh bagian-bagian itu akan saling membutuhkan. Tapi, saling membutuhkan atau butuh itu sendiri tidak mungkin ada pada tuhan, karena jika tuhan butuh maka tuhan tidak lagi kuasa. Tentu ini batil dan tidak bisa diterima.

Selain itu, jika tuhan tersusun atas bagian-bagian, maka secara tidak langsung kita menghukumi tuhan sama dengan material-empiris. Alasannya, sebuah materi tidak akan terbentuk kecuali dia butuh kepada sesuatu yang menyusunnya. Sedangkan tuhan tidak disusun, tapi dialah yang menyusun segalanya.

Juga, tuhan itu bukan materi. Karena materi merupakan makhluk. Jika kita memberlakukan sifat materi kepada tuhan, maka kita sudah memberlakukan kematerian kepada tuhan. Kenapa bisa? Karena sifat adalah sesuatu yang butuh kepada inang, dia tidak akan muncul kecuali memiliki inang, dalam hal ini adalah esensi atau hakikat. Berarti, sebelum kita meletakkan sifat makhluk kepada esensi itu, maka esensi itu harus berstatus makhluk dulu. Sebab, sifat makhluk tidak akan muncul kecuali dari esensi makhluk. Sebagaimana sifat kemanusiaan tidak akan muncul kecuali dari manusia itu sendiri. Jika kita memberlakukan sifat materi kepada tuhan, secara tidak langsung kita memberlakukan kematerian kepada tuhan. Dengan kata lain, kita secara tidak sadar menghukumi tuhan sebagai materi. Tentu ini juga mustahil. Kenapa mustahil? Karena materi butuh kepada penyusun. Sedangkan yang disusun itu pasti bukan tuhan karena ada yang lebih kuasa jika demikian.

Kenapa materi butuh kepada penyusun? Karena keutuhan materi itu hanya bisa terbentuk dengan bagian alias komposisi. Kita tidak bisa melihat hp sebagai entitas yang utuh tanpa adanya komposisi seperti RAM, CPU, dan lain-lain. Artinya, keutuhan entitas hp ini butuh kepada komposisinya untuk membentuk entitas utuhnya. Bagian utuh ini disebut dengan istilah kull (sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian) dan bagiannya dikenal dengan istilah juz/ajzâ’ (bagian yang jika tersusun akan membentuk entitas utuh). Dua unsur material ini tidak bisa kita berlakukan kepada tuhan, karena sekali lagi, tuhan bukan materi.

Jika tuhan adalah materi dan butuh kepada penyusun, maka saat itu dia bukan lagi tuhan dan mencari yang lebih kuasa menyusun. Bagaimana mungkin kita menganggap sesuatu itu sebagai tuhan, sedangkan kekauasaannya sendiri terbatas karena disusun oleh sesuatu yang lebih kuasa? Jika kita memaksa bagian ini, maka kita akan melanggar cara berpikir yang sehat sesuai nalar sehat. Kita terkena dua hal; 1) Qalb al-haqâ’iq. 2) Tasalsul. Dua istilah ini juga sudah saya jelaskan pada salah satu tulisan yang lalu beserta bukti kemustahilannya.

Karena melihat hal yang seperti itu akan muncul ketika kita menghukumi tuhan sebagai materi, maka kita harus membatalkan kemungkinan ini dengan memilih kebalikannya; Tuhan tidak tersusun atas bagian-bagian. Ini merupakan argumen demonstratif-konversif (burhân al-khulf) dalam ilmu mantik.

  1. Tidak ada sekutu bagi Allah.

Di sini saya akan mengutarakan dua argumen demonstratif. Aslinya masih ada argumen lain yang membutuhkan banyak pengantar dan pengenalan istilah, makanya dicukupkan sampai dua saja, tanpa mengurangi kekuatan kebenaran ini.

Argumen Pertama

Jika kita membayangkan ada dua tuhan atau lebih, maka kita harus memiliki sesuatu yang membedakan tuhan pertama dan tuhan kedua, dalam hal ini adalah sifat atau karakteristiknya. Anggaplah yang membedakan ini adalah sifat kesempurnannya, karena tuhan pasti memiliki sifat sempurna.

Jika salah satu tuhan memiliki sifat kesempurnaan sedangkan yang satunya lagi tidak, maka tuhan yang tidak memiliki kesempurnaan itu bukan tuhan. Karena tidaklah sesuatu itu dikatakan sebagai tuhan jika kelayakan sebagai tuhan, dalam hal ini adalah kesempurnaan dia sendiri tidak punya? Namun, jika dua-duanya tidak memiliki sifat kesempurnaan, maka keduanya bukan tuhan. Sebab, yang tidak sempurna pasti memiliki kekurangan. Dan yang memiliki kekurangan pasti bukan tuhan.

Ringkasnya, jika dikatakan bahwa tuhan itu berbilang, maka akan ada tuhan yang memiliki kekurangan. Kekurangan tidak mungkin ada pada tuhan. Maka yang memiliki kekurangan ini pasti bukan tuhan. Karena opsi ini membatalkan bahwa tuhan ada dua atau lebih, kita akan bermuara pada satu kesimpulan; Tidak ada sekutu bagi tuhan.

Argumen Kedua

Jika seandainya ada dua tuhan, anggaplah mereka yang menciptakan alam. Di sini kita perlu mempertanyakan, apakah alam ini bisa diciptakan oleh satu tuhan saja atau harus dua tuhan? Jika alam diciptakan oleh satu tuhan, maka tuhan kedua ini tidak dibutuhkan keberadaannya, karena dia tidak menciptakan apapun. Kenapa? Karena dia tidak terlibat dalam apapun dalam penciptaan segalanya. Ketidakbutuhan alam semesta ini akan membatalkan status tuhan yang tidak memiliki andil ini sebagai wâjib al-wujȗd. Jika tetap dikatakan dia itu ada, sebagaimana tuhan yang pertama yang keberadaannya wajib, apa yang membuat tuhan kedua ini wajib atau harus ada? Jika dia tidak harus ada, maka dia bukan tuhan. Karena tuhan itu keberadaannya niscaya.

Jika dikatakan bahwa alam ini ada atas “patungan” dari dua tuhan ini, berarti pada hakikatnya, kedua tuhan ini sejatinya memiliki kekurangan. Buktinya, mereka patungan kekuasaan. Jika memang mereka maha kuasa, kenapa harus patungan? Ibaratnya, untuk menciptakan alam semesta membutuhkan 100 kekuatan dan masing-masing tuhan ini tidak memiliki kekuatan untuk sampai ke 100 sehingga mereka harus patungan. Ini berarti mereka memiliki kekurangan.

Jika dikatakan patungan ini terjadi karena tuhan pertama tidak ingin capek dan aslinya memiliki kekuatan di atas 100, itu berarti tuhan pertama ini bukan tuhan, karena memiliki batas capek dalam kekuasaan. Artinya, kekuasaannya terbatas. Jika dikatakan bahwa tuhan pertama ini tidak capek dan kekuasaannya tidak terbatas, tapi hanya ingin patungan saja, berarti tuhan pertama ini melakukan perbuatan sia-sia (tahshîl al-hâshil) dan ini tidak mungkin ada pada diri tuhan. Tapi, jika tuhan tidak membutuhkan tuhan kedua ini dalam menciptakan alam, maka akan kembali ke kemungkinan pertama tadi, bahwa tuhan kedua ini keberadaannya tidak dibutuhkan dan dia bukan tuhan.

Jika keduanya memiliki kekurangan, maka keduanya bukan tuhan. Jika tuhan tidak ada, maka akan bermuara pada tasalsul atau daur. Berarti, harus ada tuhan yang esa tanpa berbilang dan tidak ada sekutunya yang membatalkan kemungkinan mustahil itu. Secara tidak langsung, memang akal sehat harus mengamini bahwa tuhan itu esa. Karena kalau kita mencoba kemungkinan-kemungkinan lain, maka akan bermuara pada kemustahilan yang ditolak oleh akal sehat.

  1. Sifat Allah itu tidak diserupai dengan apapun.

Kenapa sifatnya Allah itu tidak bisa diserupai dengan apapun? Karena sifat itu mengikuti status dzatnya. Jika status dzat itu mungkin, maka sifatnya juga demikian. Jika status dzat itu wajib dan qadim, maka pasti sifatnya juga memiliki status wajib dan qadim. Dari sini saja, kita sudah tidak bisa menerima kalau makhluk memiliki sifatnya tuhan. Kenapa? Karena yang namanya sifat, tidak akan melekat di inang yang tidak tepat.

Sifat tuhan hanya melekat pada tuhan, sebagaimana sifat makhluk hanya melekat pada makhluk. Sifat langit hanya melekat pada dzat langit. Sebagaimana sifat layak diduduki itu melekat pada dzat sesuatu yang bisa diduduki. Bagaimana mungkin kita membayangkan adanya sifat mungkin diduduki itu diberlakukan kepada esensi langit? Bisakah langit diduduki? Jawabannya tidak. Karena pada dasarnya sesuatu yang bisa diduduki itu hal-hal layak diduduki. Ini berarti sifat harus melekat pada dzat yang tepat.

Atas dasar ini, maka akal kita tidak bisa menerima jika ada yang memiliki sifat tuhan selain tuhan. Maka hal yang niscaya di akal kita adalah tuhan memiliki keesaan sifat, tidak serupa dengan apapun.

  1. Sifat Allah esa dalam satu jins dan perbuatan-Nya esa.

Jika kita membayangkan kalau tuhan memiliki dua sifat dalam satu jins, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, sifat yang dimaksud adalah sifat yang memiliki keterkaitan dengan penciptaan atau penafian hal mungkin (ta’alluq al-mumkin), seperti qudrah dan iradah. Kemungkinan kedua, sifat ini tidak memiliki keterkaitan dalam menciptakan apapun, seperti sifat sama’ dan bashar.

Jika kita menguji kemungkinan pertama, maka kita harus melihat kemungkinan lagi. Pertama, dari dua qudrah, satu saja cukup dalam menciptakan alam. Kedua, tidak cukup dalam menciptakan alam. Jika satu sifat sudah cukup dalam menciptakan alam ini, maka keberadaan sifat kedua itu sia-sia. Sedangkan tuhan maha suci dari kesia-siaan. Jika harus ada dua sifat yang saling membantu dalam menciptakan alam, maka sudah pasti dua sifat ini memiliki kekurangan. Buktinya, jika kedua sifat ini dipisah, maka kelemahan dari masing-masing sifat ini akan tampak. Maka kedua opsi ini tidak bisa diterima akal. Sebab akan berimplikasi kepada penyandaran kekurangan kepada Allah. Juga akal tidak bisa menerima jika Allah memiliki kekurangan, sebab dia tuhan dan tuhan tidak mungkin memiliki kekurangan. Maka kita harus menguji satu kemungkinan lagi.

Jika kita menguji kemungkinan kedua, maka kita akan melihat dua kemungkinan lagi. Kemungkinan pertama, satu sifat itu sudah cukup untuk menghasilkan kesempurnaan. Kemungkinan kedua, harus membutuhkan dua sifat untuk menghasilkan kesempurnaan. Jika kita melihat kemungkinan pertama, maka jawabannya sama dengan kasus sebelumnya, sifat kedua tidak dibutuhkan. Tuhan maha suci dari kesia-siaan. Kemungkinan kedua, sama juga dengan kasus sebelumnya, hakikatnya kedua sifat ini memiliki kekurangan.

Setelah melihat seluruh kemungkinan yang bisa muncul dari ketidakesaan sifat tuhan, dalam artian sifat tuhan lebih dari satu dalam satu jins, semuanya bermuara pada kemustahilan dan bertentangan dengan akal sehat. Maka kita harus mengamini opsi kebalikannya, Allah esa sifat-Nya, tidak berbilang dalam satu jins. Argumen yang serupa juga bisa digunakan dalam mengafirmasi keesaan perbuatan-Nya.

Di sini sudah terjawab secara rasional, bahwa memang tuhan itu esa dzat, sifat, dan perbuatannya. Jika kita memang memiliki akal sehat, maka pasti kita akan menerima bahwa hal tersebut adalah sebuah kebenaran.

Wallahu a’lam.

Artikel Sebelumnya

Kenapa Tuhan itu Ada?

Artikel Selanjutnya

Jika Tuhan Tidak Tersusun, Apakah Berarti Atom Memiliki Sifat Ketuhanan?

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Blak-Blakan Seputar Pendidikan

Jika Tuhan Tidak Tersusun, Apakah Berarti Atom Memiliki Sifat Ketuhanan?

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.