Dulu, saya selalu memikirkan bahwa mungkin ada sesuatu sebelum tuhan, hanya saja saya belum tahu waktu itu. Pasalnya, yang ada di pikiran saya dulu itu, apapun yang ada pasti ada penciptanya, termasuk tuhan itu sendiri. Tapi, saya juga bertanya lagi, siapa pencipta tuhan itu? Atau dengan pertanyaan yang mirip, adakah sesuatu sebelum tuhan? Begitu seterusnya sampai saya tidak menemukan ujungnya. Inilah yang disebut dengan talsalsul sebagaimana yang telah saya jelaskan pada tulisan yang lalu.
Pertanyaan ini sangat berbahaya, karena jika diiyakan akan melahirkan pertanyaan baru lagi, apakah yang ada itu? terang? Gelap? Asap? Atau apa? Padahal, untuk mencegat adanya opsi-opsi seperti itu cukup dengan mengatakan bahwa tidak ada sebelum dan yang bersama dengan tuhan saat tuhan ada. Tentu untuk menguatkan opsi ini, saya harus mendatangkan pembuktian. Saya akan mendatangkan beberapa poin.
Pertama, pertanyaan ini keliru. Sebab, jika ada sesuatu sebelum tuhan, maka keberadaannya lebih tidak terbatas dibanding sesuatu yang disebut tuhan itu. Kalau demikian, maka yang disebut dengan tuhan itu keberadaannya menjadi terbatas, tidak lagi tidak terbatas. Kalau begitu, berarti dia tidak layak disebut tuhan, karena ada yang lebih dulu darinya. Dan ini juga akan menyebabkan sesuatu yang disebut tuhan tadi terbatas dari berbagai aspek, mulai dari keberadaan sampai kekuasaan. Juga, kata “sebelum” menunjukkan keberwaktuan. Sedangkan tuhan tidak diliputi oleh waktu. Tapi, Dia-lah yang menciptakan waktu.
Kedua, kalau ada sesuatu sebelum tuhan, maka sesuatu itu perlu dilihat lagi, apakah dia adalah sesuatu yang diciptakan oleh sesuatu yang lain atau rentetan sebab-akibat mentok sampai pencipta sesuatu yang disebut tuhan itu? Jika dia adalah sesuatu yang diciptakan, apakah rentetan sebab-akibat ini akan terus berlanjut atau tidak? Jika tidak, maka ada sesuatu yang menjadi ujungnya, dan itu lebih layak disebut dengan tuhan. Jika terus berlanjut, maka akan terjadi yang disebut dengan tasalsul, ini mustahil. Begitu juga pada bagian yang satunya, akan bermuara pada wujud atau eksistensi yang paling awal dan ini yang lebih layak disebut tuhan.
Ketiga, jika ada sesuatu sebelum tuhan, maka itu berarti tuhan pernah mengalami ketiadaan. Karena pernah mengalami ketiadaan, ini berarti tuhan memiliki sifat yang sama dengan makhluk; hâdits (istilah ini pernah saya bahas dalam salah satu tulisan). Jika tuhan sama dengan makhluk, apa gunanya disebut dengan tuhan? Justru karena berbedanya tuhan dengan makhluk, dia disebut tuhan.
Keempat, jika tuhan sama dengan hâdits, maka itu berarti tuhan diciptakan atau ada yang menyebabkan dia ada. Kalau demikian, berarti sebab itu lebih berkuasa daripada tuhan. Ini berarti tuhan “butuh” kepada sesuatu yang menciptakannya. Di mana bentuk keabsolutan tuhan jika masalah keberadaan saja masih bergantung kepada sesuatu yang lain? Ini berarti tuhan yang betulan, tidak demikian.
Dalam kesempatan lain, ada juga pertanyaan “Kapan tuhan ada?” (Yang masih bersangkutan dengan eksistensi tuhan). Kata “kapan” menanyakan waktu atau sesuatu yang berkaitan dengan waktu. Jika sesuatu itu berwaktu, maka dia memiliki awal, sebab waktu sendiri memiliki awal. Ini berarti semua yang berwaktu itu hâdits. Ini juga berarti yang layak ditanya “kapan” adalah sesuatu yang bermakhluk, yakni selain tuhan. Sebab, mempertanyakan sesuatu yang tidak sesuai dengan waaknya adalah bentuk kekeliruan.
Yang namanya tuhan, dia pasti maha suci dari waktu dan sifat-sifat makhluk lainnya. Seandainya tuhan berwaktu, maka tuhan memiliki awalan. Juga, jika eksistensi tuhan bersamaan ada dengan adanya waktu, berarti waktu adalah sesuatu qadîm lainnya yang tidak diciptakan. Jika bersamaan adanya, bagaimana kita bisa menyebut tuhan yang menciptakan waktu sementara pencipta harus ada duluan daripada yang diciptakan? Bukankah tuhan pencipta ruang dan waktu?
Memang benar, segala sesuatu ada pasti ada penciptanya. Tapi, ini hanya berlaku pada sesuatu yang hâdits, tidak berlaku kepada yang qadîm; yakni tuhan. Ini juga saya sudah buktikan pada tulisan yang lalu bahwa sesuatu yang qadîm itu tidak diciptakan, tapi dialah yang menciptakan. Karena jika tidak demikian, maka akan terjadi tasalsul atau daur dan ini mustahil secara akal (Penbuktiannya sudah ada penggalannya di salah satu tulisan). Jika seandainya yang qadîm itu tidak ada, maka segalanya tidak ada, termasuk kita. Karena mustahil ada sesuatu yang hâdits jika tidak diciptakan oleh sesuatu yang dalam hal ini adalah sesuatu yang bermuara rentetan sebab-akibatnya kepada dzat yang qadîm.
Dalam salah satu kisah, Imam Abu Hanifah (w. 150 H) ditanya oleh seorang pendeta “Apa yang ada sebelum tuhan, duhai imam?”. Imam Abu Hanifah kemudian bertanya balik kepada pendea itu “Apakah Anda bisa berhitung?”. Pendeta itu kemudian menjawab “Tentu, duhai imam”. Kemudian, sang imam bertanya “Angka apa yang ada sebelum angka satu?”. Pendeta itu terdiam sebentar lalu menjawab “Tidak ada”. Kalaupun disebut nol dan minus, itu juga menunjukkan ketiadaan. Imam Abu Hanifah langsung memberikan jawabannya “Kalau persoalan angka sebelum satu saja tidak bisa kita cerna dengan akal, maka sangat logis jika tidak ada sesuatu sebelum tuhan”.
Wallahu a’lam








