• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Ilmu Kalam

Apakah Keberadaan Tuhan Butuh Bukti?

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
4 Juli 2022
in Ilmu Kalam
Waktu Baca: 3 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Beberapa waktu lalu, sempat ada perdebatan hangat antar akademisi mengenai pembuktian keberadaan tuhan. Di sini ada dua kubu, yakni yang mengatakan bahwa keberadaan tuhan butuh kepada bukti dan satunya berkata tidak. Alasan yang mengatakan bahwa tuhan butuh bukti itu sangat jelas, bahwa ada banyak yang mengingkarinya. Seandainya keberadaan tuhan sudah terlampau jelas, kenapa ada orang yang mengingkarinya? Sedangkan yang berkata tidak, baginya keberadaan tuhan sudah jelas dan cukup diimani.

Setelah saya memaparkan pendapat dua kubu ini, di sisi lain ada yang mengomentari tulisan saya, bahwa memang keberadaan tuhan tidak perlu dibuktikan karena sudah terlampau jelas. Maksudnya, kalaupun segalanya tidak ada, maka tuhan tetap ada. Ini menyatakan bahwa keberadaan tuhan tidak bergantung kepada apapun. Setelah saya mendengarkan pemaparannya, saya sepakat dan sebenarnya tidak berbeda dengan yang berpendapat bahwa tuhan butuh bukti. Namun masing-masing hanya perlu penjelasan mengenai konsep dari pandangannya mengenai pembuktian eksistensi tuhan ini.

Dari sini, saya akan memaparkan secara ringkas tiga kubu yang berdebat ini:

  1. Keberadaan tuhan butuh bukti. Sebab, ada orang yang mengingkarinya.
  2. Keberadaan tuhan tidak butuh bukti. Karena tuhan ada tanpa harus ada sesuatu yang membuktikan keberadaannya.
  3. Keberadaan tuhan tidak butuh bukti. Karena keberadaan tuhan cukup diimani.

Pandangan Pertama

Maksud dari pandangan pertama ini adalah ada banyak orang yang tidak mengamini keberadaan tuhan. Sebab, sejak awal mereka tidak tahu dan tidak melihat kejelasan keberadaan tuhan. Maka dari itu, mereka butuh sesuatu yang membuat mereka mengamini keberadaan tuhan.

Pandangan ini sah-sah saja dan inilah yang diamini oleh ulama kalam, makanya kenapa ulama kalam itu kerap mendatangkan bukti keberadaan tuhan. Juga ini berlaku kepada mereka yang sedang tidak benar-benar mengenal tuhan.

Imam Sanusi dalam Al-‘Aqîdah Al-Kubrâ juga mengamini jika ada orang yang berkata kalau keberadaan tuhan itu aksiomatik, alias terlampau jelas, tapi dalam artian kejelasan itu ada setelah melewati pembuktian demonstratif (burhân), maka ini sah-sah saja. Sebab, pembuktian memang tujuannya membuat sesuatu yang belum jelas menjadi jelas.

Pandangan Kedua

Maksud dari pandangan kedua ini adalah keberadaan tuhan tidak bergantung kepada bukti. Seandainya sesuatu yang disebut bukti itu tidak ada, maka tuhan tetap ada. Pada akhirnya tuhan tidak membutuhkan bukti itu dan tetap ada.

Ini juga merupakan penjelas dari konsep wâjib al-wujȗd dan mumkin al-wujȗd. Maksudnya, karena tuhan itu keberadaannya wajib, maka dia harus ada. Adapun keberadaan alam semesta, dia tidak harus ada. Seandainya tuhan memutuskan untuk tidak menciptakan alam semesta atau ciptaan apapun, tuhan tetap ada.

Sebenarnya pandangan pertama dan kedua ini tidak berbeda, tapi berbeda dari caranya memandang. Pandangan pertama melihat dari sisi manusia yang hanya bisa melihat sesuatu melalui zahirnya, maka manusia butuh kepada pembuktian yang dengan pembuktian itu dia mengetahui keberadaan tuhan. Namun, ketidaktahuan manusia terhadap keberadaan tuhan itu tidak menafikan keberadaan tuhan. Sedangkan pandangan yang kedua melihat tuhan sebagai wujud yang independen. Artinya, ini melihat bahwa tuhan ada sebagaimana dia ada, tanpa adanya embel-embel bukti. Ringkasnya, kalau pandangan pertama menggunakan sudut pandang manusia, maka yang kedua menggunakan sudut pandang ontologis atau objektif. Sebenarnya dua sudut pandang ini bisa bertemu jika perspektifnya disatukan sejak awal. Sebab, perbedaan sudut pandang tidak semerta-merta menyebabkan kontradiksi.

Para sufi juga memegang pandangan kedua ini, sebab mereka tidak butuh lagi rentetan premis. Mereka sudah bisa langsung musyâhadah (menyaksikan langsung) kebesaran tuhan. Jika mereka sudah sampai ke tujuan yang diinginkan bukti itu, untuk apa lagi membutuhkan bukti? Ini ibarat sudah sampai di tujuan tapi kembali ke jalan.

Pandangan Ketiga

Pandangan ini menegaskan bahwa manusia tidak perlu mencari bukti akan keberadaan manusia sebab keberadaan tuhan cukup diimani. Pandangan ini menggunakan sudut pandang manusia. Tentu ini sudut pandang yang menuai kritikan. Sebab, bagaimana manusia bisa sampai ke sana tanpa melalui bukti? Di sini juga Syekh Rabi’ Gauhari dalam ‘Aqîdatunâ menegaskan bahwa seandainya keberadaan tuhan tidak membutuhkan bukti, lantas kenapa pengingkaran datang dari banyak orang? Imam Sanusi juga dalam Al-‘Aqîdah Al-Kubrâ, menyatakan pandangan seperti ini batil atau menyatakan bahwa keberadaan tuhan itu sudah jelas tapi tanpa melalui penalaran.

Sebab kebatilan pandangan ini adalah bagaimana mengetahui sesuatu yang metafisik secara yakin (dalam istilah ulama kalam, bukan dalam istilah awam) sedangkan untuk sampai ke sana tidak ada? Dengan kata lain begini, sebelum kita mengetahui sesuatu yang metafisik, kita memerlukan bukti untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat yakin, tidak sekonyong-konyong sampai di sana. Sebagaimana yang saya sampaikan pada salah satu tulisan yang lalu bahwa ada namanya tarjîh bi lâ murajjih. Jika kita tiba-tiba langsung menghukuminya sebagai sesuatu yang yakin tapi tidak ada bukti untuk sampai ke sana, maka akan terjadi tarjîh bi lâ murajjih dan ini batil.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa ada tiga pandangan mengenai pembuktian keberadaan tuhan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tuhan itu harus dibuktikan keberadaannya dengan sudut pandang manusia yang mengetahui keberadaan tuhan. Dan pengetahuan manusia tidak mempengaruhi keberadaan atau ketiadaan tuhan. Pandangan yang mengatakan tidak perlu pembuktian terbagi menjadi dua. Pertama, menyatakan tidak butuh bukti dari segi sudut pandang objektif dan tuhan sebagai wâjib al-wujȗd yang tidak butuh kepada bukti. Kedua, menggunakan sudut pandangan yang sama dengan pandangan yang pertama. Tapi, hanya pandangan ketiga batil karena terkena kaidah tarjîh bi lâ murajjih bâthil.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

Apa yang Ada Sebelum Tuhan?

Artikel Selanjutnya

Pentingnya Kata Kunci

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Pentingnya Kata Kunci

Pentingnya Kata Kunci

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.