Di dalam tradisi Ilmu tauhid terdapat dua Thariqah dalam menjelaskan Aqidah yakni; Arab dan ‘Ajam. Dimulai di era Mutaqaddimin setelah generasi Imam mazhab arba’ah, generasi selanjutnya menghadapi tantangan baru dalam persoalan akidah dengan munculnya berbagai aliran yang merusak dasar aqidah agama. Maka untuk menjawab respon tersebut, para ulama menyibukan diri untuk membela aqidah yang diwariskan rasul yang dikenal i’tiqad “ahli Sunnah wal jama’ah”.
Pada abad ke-3 H, muncul dua ulama terkemuka yang memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu aqidah serta menjadi rujukan setelahnya. Salah satunya adalah Abu Hasan Al-Asy’ari, yang merumuskan manhaj atau metode ilmiah dalam aqidah, yang lebih dikenal dengan sebutan ushuluddin. Di sisi lain, di wilayah timur yang jauh dari Baghdad, ada tokoh Abu Mansur Al-Maturidi, yang juga menjadi benteng juga menyusun kerangka ilmiah aqidah.
Setelah fase dua pendekar aqidah tersebut, perjuangan mereka tidak berhenti sampai disitu dalam membela aqidah tetapi dilanjutkan oleh murid-muridnya, diantaranya terdapat beberapa fase pembaharuan hingga sampai kepada generasi Imam Al-Sanusi:
Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani
merupakan fase penguatan manhaj setelah era murid Imam Abu Hasan Al-Asy’ari melakukan perlawanan terhadap firqah-firqah menyimpang, di mana teori Imam Al-Asy’ari disusun dan tata rapi serta ditulis ulang kumpulan tulisan pemikiran sang pelapor(Abu Hasan Al-Asy’ari) oleh Imam Ibnu Furak kitab Mujarrad Maqalat Al-Syaikh Abi Al-Hasan Al-Asy’ari. kitab yang berpengaruh fase ini yakni Al-Inshaf Fima Yajib I’tiqaduh yang ditulis Imam Al-Baqillani.
Imam Al-Haramain Al-Juwayni
setelah fase penyebaran dan perluasan manhaj yang dilakukan lewat halaqah dan madrasah. Maka selanjutnya fase pertahanan yang fokus mempertahankan manhaj dengan merinci dan memperluas penjelasan serta mengoreksi gagasan ulama sebelumnya. Melalui Imam Al-Haramain sang penulis Al-Syamil, Al-Irsyad, Al-Burhan berjasa memperkuat manhaj Asy’ari yang melahirkan sosok sekaliber Imam Al-Ghazali di universitas Nizhamiyyah.
Hujjah Al-Islam Abu Hamid Al-Ghazali
masa di mana manhaj Asy’ari mengalami kejayaan pesat melalui universitas Nizhamiyyah di Baghdad yang merupakan ibukota peradaban islam pada zamannya. Di masa ini lah terjadi tajdid besar dalam tradisi keilmuan islam yang dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali. Diantara kitabnya terkenal yang berpengaruh;
1. Ihya Ulumuddin
2. Iqtishad Fi I’tiqad
3. Al-Mustashfa
4. Maqashid Al-Falasifah dan Tahafut Al-Falasifah
5. Mi’yar Al-Ilm
Walaupun era ini peralihan Mutaqaddimin menuju Muta’akhirin, dalam struktur penulisan aqidah masih sama mengikuti ulama sebelumnya hanya saja terjadi penambahan pokok pembahasan penting yang awal fokusnya membahas ketuhanan dan kenabian menjadi membahas segala perkara yang diketahui untuk itsbat aqaid dinniyah yang akan berpengaruh besar setelahnya.
Fakhruddin Ar-Razi dan Saifullah Al-Amidi
Pada fase inilah dikenal sebagai permulaan “Muta’akhirin” karena gaya pembahasan ilmu aqidah semakin meluas dan pembentukan madrasah dengan talkhis juga syarah. Dari metode Imam Al-Ghazali yang diwariskan dikembangkan lagi oleh dua sosok yakni Imam Ar-Razi dan Al-Amidi, pembahasan aqidah tidak sekedar argumentasi rasional saja tapi juga menambahkan ilmu thabi’iyyat, riyadhiyyat, ilahiyyat kubra, hai’ah, dsb. Disinilah ilmu kalam mengalami puncak kematangan yang melahirkan thariqah penulisan aqidah. Kitab yang berpengaruh sebagian besar dari Fakruddin Ar-Razi, diantaranya;
1. Ma’alim Fi Ushul Al-Din
2. Muhasshal Afkar Al-Mutaqaddimin Wa Al-Muta’akhirin
3. Al-Mathalib Al-Aliyah
4. Nihayah Al-Uqul
Dan kitab Ibkar Al-Afkar Fi Ushul Al-Din karangan Saifullah Al-Amidi, dan lainnya.
Thariqah Al-‘Ajam
Setelah fase Ar-Razi dan Al-Amidi lalu muncullah para ulama yang mengkritisi, merapikan, dan menjelaskan metode kedua tokoh tersebut. Mereka adalah Imam Al-Baidhowi, Al-Asfihani, Adhu Al-Din Al-Iji, dan lainnya. Fase ini dikenal dengan sebutan Thariqah Al-‘Ajam karena penulisannya dilakukan oleh ulama Non-Arab yang berada di sekitar Asia Tengah atau dikenal juga Ahlu Masyriq. Memiliki ciri khas tersendiri dalam menjelaskan metode penulisan aqidah yakni atsar falsafah atau tajrid aqliyyah yang kental dalam menjelaskan, di mulai membahas persoalan Al-Umur Al-Ammah dan Al-Maqulat sampai ke-inti pembahasan Ilahiyyat dan Sam’iyyat. Sosok berpengaruh pada thariqah ini kalau di fiqh Syafi’iyah disandingkan dengan Imam Al-Nawawi dan Al-Rafi’i, maka di ilmu aqidah dikenal tokoh Imam Al-Taftazani dan Sayyid Syarif Al-Jurjani. Diantara Kitab rujukan utama pada penulisan ala Thariqah Al-‘Ajam:
1. Thawali Al-Anwar dan Misbah Al-Arwah li Imam Al-Baidhawi
2. Mawaqif fi Ilm kalam li Imam Adhu Al-Din Al-Iji
3. Tahdzib Kalam dan Syarah Al-Maqashid li Imam Al-Taftazani
4. Syarah Mawaqif li Sayyid Syarif Al-Jurjani, dan lainnya.
Thariqah Al-Arab dan madrasah Imam Al-Sanusi
Sebelum Al-Sanusi lahir tradisi gaya dalam menjelaskan aqidah itu sudah hadir dengan tiga corak;
1. Ahl Hadits, yang cenderung banyak memakai khabar shahih dari nash Al-Quran, Al-Sunnah dan Atsar kalangan salaf dalam menjelaskan aqidah. Dalam menulis hal yang paling ditekankan ialah dalil naqli, karena pentingnya riwayat sebuah nash dan memahaminya dengan kaidah shahih. Diantara kitabnya: Luma Al I’tiqad, I’tiqad wa Al-Hidayah ila Sabili Rasyad, Ain Al-Atsar, Mukhtasar Nihayah Al Mubtadiin, dll.
2. Ahl Nazhar Wa Istidlal, kalangan yang cenderung berdalil lebih fokus menggunakan akal dalam menjelaskan aqidah, dalam penulisan pembahasan argumentasi rasional sangat kuat, diantara buku yang penting dalam mazhab ini adalah Al-Irsyad, Thawali Al-Anwar, Mawaqif, Musamarah, Sahaif Al-Ilahiyyah, Tabsirat Al-Adillah, dll.
3. Ahl Dzauq, Kalangan yang menjelaskan aqidah dengan pengalaman dan pengetahuan kasyaf, dalam penulisan kental akan wijdan atau dzauq. Diantara kitab terkenal: Syarah Aqidah Ghazaliyyah li Syaikh Ahmad Zaruq, Qawaid Kasyfiyah dan Jawahir li Imam Sya’rani, juga Tahrir Al-Mathalib li Imam Ibnu Hajib Al-Maliki, dll.
Disamping lain, kawasan Maghrib atau sekarang Afrika Utara tempat lahir Imam Al-Sanusi telah hadir terlebih dahulu dan tersebar kitab Al-Irsyad karangan Imam Al-Haramain. Salah satu pengaruhnya melahirkan sebuah kitab “Aqidah Al-Burhaniyyah” oleh Imam Al-Salalijiyyah dan Luma’i Al-Adillah oleh Imam Al-Tilimsani, dan beberapa tokoh seperti Imam Ibnu Arafah dan Ibnu Muqtarah. Pengaruh ciri khas Kitab-kitab Fakhruddin Ar-Razi dan Thariqah Al-‘Ajam tidak begitu masif karena kecenderungan letak geografis dan inilah dikenal sebagai Ahlu Maghrib. Memiliki ciri khas daerah yang banyak melahirkan ulama hadits dan tasawuf, dalam karakter menjelaskan aqidah lebih fokus pada inti ilmu Aqidah yakni Ma’rifatullah dan kental akan maqalah hadits dan tasawuf. Sebagian daerah juga kitab Qawaid Al-Aqaid Imam Al-Ghazali dengan ciri khas era mutaqaddimin digunakan sebagai kurikulum seperti di hadramaut atau sekarang yaman dan daerah lainnya.
Namun, sebelum masa Imam Al-Sanusi pembahasan kitab aqidah entah dari ahlu masyriq maupun maghrib kebanyakannya tidak diletakkan khusus berjenjang antara kalangan awam, thalib, dan ‘alim walaupun memang ulama sebelumnya menulis diperuntukkan bagi pemula hanya saja pembahasannya tidak bertahab.
Ketika kemudian sang Imam Al-Alamah Muhammad bin Yusuf As-Sanusi Al-Maliki Al-Asy’ari lahir dan muncul kepermukaan, beliau melakukan tajdid besar di dalam ilmu kalam sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Al-Ghazali, dengan menuliskan sistem dan metode penulisan baru dalam aqidah secara bertahap untuk semua kalangan dan mulanya pembahasan tauhid penuh tajrid aqliyyah serta teori kalam yang ruwet berisi tentang istidlal dan perdebatan. Maka setelah itu ketika melakukan inovasi, pembahasan pun lebih fokus terarah pada inti belajar tauhid mengenal Tuhan dan Rasul, tidak sekedar itu saja Imam Al-Sanusi menggabungkan tiga corak dalam menjelaskan aqidah antara ahli hadits, ahli nazhar wa istidlal, dan ahli dzauq. Dari sejak itu dikenal lah madrasah Al-Sanusi sebagai representasi Thariqah Al-Arab, diantara kitab utama tersebut:
1. Aqidah Al-Kubra
2. Aqidah Al-Wushta
3. Aqidah Al-Sughra atau lebih dikenal Ummul Barahin
4. Aqidah Al-Sughra Al-Sughra
5. Aqidah Hafidah
6. Dan Muqaddimat, sebagai gerbang penting dalam Thariqah Al-Arab, sedangkan Thariqah Al-‘Ajam ialah Nasyr Al-Thawali’.
Dan beberapa kitab lain sangat penting yang wajib dibaca untuk memahami Madrasah Kalamiyyah Imam Al-Sanusi:
1. Mukhtashar Mantiq: Karya Imam Al-Sanusi ini penting pelajari untuk mempelajari kaidah logika yang beliau jelaskan, apalagi karya tersebut menjadi rujukan setelahnya atas pensyarahan sullam munawraq. Pemahaman logika menjadi dasar yang penting dalam kajian ilmiah.
2. Al-Manhaj Al-Sadid ala Syarh Kifayah Al-Murid: Dalam kitab ini, Imam Al-Sanusi memberikan penjelasan atas syarahan Aqidah Jazairi. Buku ini merujuk pada metode beliau yang mengaitkan aqidah dan tasawuf, disamping itu lah madrasahnya terkenal akan penghimpunan Syariat-Thariqat-Hakikat.
3. Syarh Washitoh Al-Suluk: Merupakan karya terakhir Imam Al-Sanusi yang membahas tauhid. Kitab ini sangat penting untuk memahami metode dan pendapat beliau di akhir hayat, serta penguat atas karya sebelumnya.
4. Al-Mawahib Al-Qudussiyyah: Ditulis oleh Syaikh Mallali, kitab ini menggambarkan perjalanan pemikiran Imam Al-Sanusi. Ini memberikan wawasan mendalam tentang perkembangan dan kontribusi beliau dalam keilmuan.
Sehingga setelah beberapa dekade, banyak ulama yang mengikuti menjadikan kurikulum pendidikan dan terinspirasi ala metode Imam Al-Sanusi. Dampaknya melahirkan kitab sejenisnya seperti Jauhar Al-Tauhid, Al-Kharidah Al-Bahiyyah, Kifayah Al-Awam, Aqidah Al-Bajuri, Aqidah Al-Awam, beserta Syarah dan Hasyiah-Nya.
Tak heran. Jika, Imam Hasan Al-Athar mengungkapkan dalam hasyiyahnya atas Jam’ul Jawami’
“tak dianggap Asyai’rah(sepenuhnya) jika tidak membaca kitab Imam Al-Sanusi”.
Hal ini karena peran besar kitab Imam Sanusi menjaga imam setiap muslim. Dan sebagian pakar mengungkapkan apa yang dilakukan Imam Al-Sanusi ialah mengembalikan Madrasah Imam Al- Haramin Al-Juwayni.
Diriwayatkan dari Syaikh Al-Inbabi juga Imam Syarqawi, dalam kisah yang terdapat dalam karya monumental Aqidah Sanusiyah, terdapat cerita menarik yang diriwayatkan dalam biografi Imam Sanusi oleh muridnya, Muhammad bin ‘Umar Al-Malali. Cerita ini mengisahkan tentang seorang teman yang melihat orang berilmu yang telah meninggal dunia.
Pada saat itu, teman tersebut bertanya kepada orang yang telah meninggal tentang pengalamannya dengan malaikat Munkar dan Nakir. Sang ulama yang telah wafat menjawab bahwa malaikat tersebut menanyakan agamanya dan apa yang telah ia pelajari dari kitab tauhid. Namun, ia menyebut bahwa ia telah membaca kitab-kita lain selain aqidah Sanusi.
Malaikat tersebut kemudian marah dan menegurnya, mengatakan bahwa ia seharusnya membaca aqidah Sanusi karena itu sudah mencukupi dari yang lainnya. Akibatnya, sang ulama ditegur dan dipukul beberapa kali karena tidak membaca aqidah Sanusi, meskipun ia memiliki pengetahuan yang kuat dalam aqidah.
Syekh Al-Inbabi kemudian memberikan pandangan bahwa orang tersebut seharusnya tidak disiksa karena ia telah belajar dan memahami aqidah. Namun, kebanyakan musibah seringkali disebabkan oleh penyakit batin, seperti sikap meremehkan dan protes terhadap kebaikan yang seharusnya diterima.
Hikmahnya yang bisa kita petik “Janganlah meremehkan suatu kebaikan, bisa jadi ada rahasia yang tidak kita temukan” dan dari sini mengajarkan kita betapa pentingnya tawadhu itu bisa mendatangkan rahmat dari Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani diangkat menjadi Sulthan Aulia karena ketawadhuannya.
Wallahu’alam.
Ditulis oleh N. Arifin. H. Kamis, 19 Juni 2024.
Note: tulisan diambil dari tulisan sebelumnya dari beberapa pelajar dan beberapa kitab. Lalu dikumpulkan menjadi satu biar lebih rapi lagi.








