Di tengah suguhan narasi tentang efektivitas suatu metode dalam belajar, ada banyak ide-ide yang bermunculan tentang belajar itu sendiri, khususnya dalam hal cara belajar yang efektif. Ada yang bilang belajar itu harus dibaca berulang-ulang, harus tengah malam, harus subuh, setelah olahraga, dan lain sebagainya.
Tapi kalau kita melihat realita sekali lagi, cara-cara yang dianggap paling efektif oleh orang yang menyodorkan ide itu ternyata tidak relevan untuk semua orang. Ada yang suka tenang, ada yang suka kalau sambil jalan, ada yang suka kalau sedang dengar musik, bahkan ada yang suka belajar tidak dengan cara membaca. Sadar atau tidak, di sekitar kita ada orang yang demikian.
Sebelum mengatakan ada atau tidaknya metode itu, kita perlu bertanya “Apa tolak ukur ke-efektif-an dari metode itu?”. Jangan-jangan yang dimaksud dengan efektif itu adalah yang paling banyak digunakan orang kan? Atau ternyata yang dimaksud dengan efektif itu yang disukai guru? Itu perlu kita ketahui dengan baik.
Kalau kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada beberapa makna yang relevan dengan kata ‘efektif’ itu sendiri. Di antara makna-makna itu adalah “ada efeknya” dan “dapat membawa hasil”. Mungkin ada yang menggunakan kata efektif dengan makna yang berbeda, tapi tidak berlaku pada konteks kali ini yang membahas tentang metode belajar. Menurut penulis, kedua makna yang sudah dikutip itu lebih relevan untuk konteks ini. Sebab, ketika kita membahas metode belajar dan menggunakan kata itu, yang kita cari adalah dampak dari metode itu sendiri. Jadi, kalau ada metode yang tidak memberikan dampak atau tidak membuat kita nyaman, itu tidak bisa dikatakan efektif.
Sekarang kita kembali membahas tentang keberadaan metode paling efektif itu, apakah ada? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak, tergantung sudut pandang seperti apa yang kita gunakan. Jika kita menggunakan sudut pandang objektif alias tidak melihat individual, maka jawabannya tidak. Sebab, tidak ada metode yang ditemukan sampai hari ini yang benar-benar efektif untuk seluruh manusia. Namun, jika kita menggunakan sudut pandnag individual atau subjektif, jawabannya iya. Sebab ada satu atau dua metode yang berlaku untuk orang-orang tertentu yang nyatanya itu efektif bagi dia sendiri.
Melihat kenyataan bahwa tidak ada metode yang benar-benar efektif untuk semua orang di saat yang bersamaan, maka sebagai orang yang ingin belajar efektif haruslah mencari metode yang pas bagi diri masing-masing. Ada mungkin yang belajarnya itu harus sambil jalan kaki, ada yang harus tenang, dan lain sebagainya. Ini sah-sah saja menggunakan cara apapun yang penting kita mendapatkan kenyamanan saat belajar.
Tapi, mungkin ada merasa tidak efektif walaupun merasa nyaman. Maksudnya tidak efektif ini, ya tidak paham-paham walaupun sudah merakan kenyamanan itu. Perlu dicatat baik-baik bahwa yang membuat kita paham, bukan metode atau kecerdasan kita. Sebab orang sekelas Ibnu Sina yang merupakan filusuf, namanya tersohor dari Timur sampai Barat, susah paham tulisan Aristoteles. Bahkan dalam satu riwayat diceritakan bahwa Ibnu Sina itu membaca empat puluh kali dan tidak paham. Akhirnya Ibnu Sina meninggalkan buku itu sampai Al-Farabi datang menjelaskan beliau mengenai isi buku tersebut.
Artinya, yang membuat paham kita adalah Allah Swt., bukan metode ataupun kecerdasan. Allah bisa saja mengizinkan kita paham atau mendatangkan orang yang mengajarkan kita suatu ilmu hingga Allah mengizinkan kita paham saat itu. Terus, kenapa dikatakan di atas memberi kesan seolah metode itulah yang memberikan dampak? Itu maksudnya bukan hakiki, tapi untuk memudahkan pembaca untuk memahami tulisan ini saja. Sama halnya dengan mengatakan “Obat yang menyembuhkan”, maksudnya kita tidak meyakini saat itu bahwa obat yang menyembuhkan, tapi melalui wasilah obat kita bisa sembuh. Dan meminum obat juga itu merupakan ikhtiar kita.
Lantas untuk apa metode kalau Allah yang memahamkan kita? Perlu kita ingat, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berusaha, tidak memerintahkan kita untuk memberi dampak atas usaha kita. Buktinya, kita bisa gagal dan rancangan kita tidak sesuai ekspektasi. Itu bukti bahwa kita tidak punya wewenang pada bagian setelah usaha kita. Adapun mencari metode yang paling relate dan paling cocok untuk kita, itu bagian ikhtiar kita.
Selain itu juga, Allah mungkin saja memberikan kita ilmu secara instan tanpa belajar. Ini dikenal dengan ilmu ladunni. Tapi, seberapa besar kemungkinan itu? Perbandingannya sangat jauh. Yang lebih bermaslahat untuk kita adalah berusaha belajar, mencari metode yang paling baik dan cocok untuk kita.
Mungkin juga ada yang ingin bertanya, apa bedanya membahas cara ini dan membahas metode yang sebelumnya penulis bahas. Seperti mengenai urutan kitab atau hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum itu. Jawabannya sederhana, tulisan-tulisan sebelumnya membahas mengenai kurikulum atau arah belajar kita. Sedangkan pada tulisan ini, kita terfokus membahas tentang bagaimana cara merealisasikan kurikulum yang sudah kita bentuk awalnya. Kurikulum itu memiliki standar yang sudah ditetapkan oleh para ahli. Sedangkan cara belajar itu tidak memiliki standar mutlak dan absolut, sehingga kita bebas ingin belajar dengan cara apa senyaman mungkin.
Wallahu a’lam








