• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Tulisan Umum

Benang Merah Ta’aruf dan Mantik Hadis (Bag. 2)

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
23 Januari 2023
in Tulisan Umum
Waktu Baca: 13 menit baca
https://www.pexels.com/id-id/pencarian/cinta/

https://www.pexels.com/id-id/pencarian/cinta/

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Dalam salah satu tulisan yang lalu, saya sudah menjelaskan bagaimana mantik modern (hadîts) itu secara umum. Juga tulisan itu, tugasnya hanya sekadar memperkenalkan. Tidak lebih. Kali ini, saya akan membuatnya sedikit mendalam. Kali ini saya akan mulai dari mantik modern.

Mantik, sebagaimana ilmu mantik yang lumrah diperkenalkan, tugasnya membuat kita mengetahui hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Baik mantik klasik maupun mantik modern, misinya sama. Sama-sama mengantarkan kita kepada hal baru. Hanya saja, cara untuk sampai ke sana berbeda.

Titik Temu

Saya perlu jelaskan di mana titik temu antara ta’aruf dan mantik modern. Pertama, perlu kita sepakati bahwa kedua hal tersebut bersepakat untuk mengetahui hal baru. Ta’aruf tugasnya mencari tahu informasi tertentu dari calon pasangan. Sedangkan, mantik modern juga mencari pengetahuan baru melalui rentetan metodologinya. Bedanya, mantik modern sifatnya lebih universal. Tapi, dengan keuniversalan itu mantik modern itu bisa diterapkan dalam proses ta’aruf. Kedua, ta’aruf itu membawa kita kepada hasil baru. Di mana, hasil tersebut menjadi pertimbangan bagi calon pasangan, apakah ingin melanjutkan ke tahap lamaran atau tidak. Dengan adanya pertimbangan serius, justru ini mendukung sikap objektivitas kita dalam melihat data. Sedangkan mantik modern, mengajak kita untuk berpikir jernih, objektif, dan independen melihat data dari sampel. Sehingga, hasil penelitian yang dilahirkan jauh dari pengaruh subjektivitas. Ringkasnya, yang ingin ditekankan keduanya adalah objektif dalam menilai data dan informasi dari apapun, tak terkecuali calon pasangan.

Istiqrâ’ Tâm dan Istiqrâ’ Nâqish

Jantung dari mantik modern terletak pada silogisme induktif (qiyâs istiqrâ’i). Istiqrâ’ itu kemudian terbagi menjadi dua; 1) Istiqrâ’ Tâm. 2) Istiqrâ’ Nâqish. Yang pertama meneliti sesuatu itu berdasarkan seluruh individu yang tercakup di dalamnya. Misalnya, ketika Anda ingin mengetahui apakah sebuah ringkasan itu benar-benar mencakup isi seluruh buku atau sebagian saja? Maka buku yang bersangkutan, harus Anda baca sampai akhir sampai kemudian lahirlah kesimpulan bahwa buku yang bersangkutan seluruhnya tercakup dalam ringkasan itu. Sedangkan yang kedua, hanya meneliti sebagian individunya saja, lalu digeneralisasi. Misalnya, ketika Anda meletakkan air di atas wadah yang memiliki suhu 100°C. Kemudian, air tersebut mendidih. Anda kemudian mencoba lagi sampel air lain dan meletakkannya di atas wadah yang suhunya demikian. Hasilnya sama. Lalu, lahirlah sebuah kesimpulan bahwa semua air yang diletakkan di wadah yang suhunya 100°C, pasti mendidih.

Tapi, kedua jenis istiqrâ’ itu memiliki resikonya masing-masing. Jika istiqrâ’ tâm meneliti semua individu dan menghasilkan pengetahuan yang bersifat yakin, resikonya ya Anda tidak mendapatkan hal baru. Karena saat Anda meneliti semua individu premisnya, maka Anda tidak butuh lagi dengan kesimpulan baru. Untuk apa disimpulkan jika isi kesimpulan itu sama dengan isi premis? Sedangkan istiqrâ’ nâqish meneliti sebagian individu saja. Akan tetapi, dengan generalisasi yang dibuat, malahan istiqrâ’ nâqish ini menghasilkan pengetahuan baru. Kendati demikian, tingkatan pengetahuan yang dihasilkan hanya sebatas zhann atau kemungkinan besar benar. Karena yang menjadi asasnya adalah besaran probabilitas.

Begitu juga dalam sesi lamaran. Secara teori, ada dua kemungkinan dalam melihat karakter calon pasangan Anda. Bisa saja Anda melihat seluruh kepribadian pasangan Anda, yakni dengan cara istiqrâ’ tâm. Bisa juga dengan melihat sebagian pribadi pasangan Anda, yakni dengan istiqrâ’ nâqish. Yang pertama jelas mustahil menurut kebiasaan (mustahîl ‘âdah). Sebab, untuk mengetahui pribadi seseorang secara utuh, kita harus berinteraksi penuh mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Hal ini hanya bisa terjadi saat sudah menikah.

Maka, yang tersisa hanya istiqrâ’ nâqish. Kita hanya bisa menilai sebagian karakter calon pasangan kita. Sebab, cara pertama sudah mustahil. Maka cara yang paling memungkinkan adalah cara yang kedua; istiqrâ’ nâqish. Ini adalah cara yang paling banyak digunakan dalam ta’aruf.

Perlu diingat, dalam istiqrâ’ nâqish, sampel yang digunakan untuk sampai kepada generalisasi bukan sembarangan sampel, tapi sampel yang cukup krusial. Berbekal sampel yang cukup padat, maka bisa lahir sebuah hukum atau kesimpulan yang bersifat universal. Begitu juga dalam ta’aruf, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukan asal tanya-jawab saja. Melainkan pertanyaan yang krusial.

Dalam artian, pertanyaan krusial yang dibawakan dalam ta’aruf, berpotensi besar membawa kepada kesimpulan yang cukup untuk menilai calon pasangan secara umum. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud itu meliputi hal yang bersifat personal dan menyentuh kebiasaan calon pasangan. Kalau marah, maunya disikapi seperti apa. Kalau kerja, apakah suka ditemani atau suka fokus sendiri. Kalau punya tujuan, seberapa besar effort yang digunakan untuk mencapainya. Dan lain sebagainya. Tapi, bukan berarti bagian-bagian lain tidak penting, seperti bagaimana dia melihat tujuan hidup, cita-cita, dan planning Anda ke depannya.

Sebagaimana yang sudah disebutkan, bahwa istiqrâ’ nâqish itu memberikan sebuah kesimpulan yang bersifat zhanni. Artinya, walaupun Anda sudah memiliki data yang kuat dan sampai kepada suatu kesimpulan tertentu mengenai karakter calon pasangan Anda, jangan mengira bahwa Anda sudah mengenal dia seutuhnya. Bisa saja, apa yang Anda duga kuat itu benar justru salah. Sebabnya, bermacam-macam. Bisa saja, ada pertanyaan yang tidak dijawab secara detail atau Anda melewatkan satu atau dua pertanyaan penting, sehingga ada informasi tertentu yang tidak Anda ketahui. Tentu, hal tersebut mempengaruhi kesimpulan Anda terhadap calon pasangan Anda.

Tapi, kalau kita tarik ke realitas ta’aruf sendiri, tujuannya bukan untuk mengetahui calon pasangan sampai bagian yang terlalu detail, alias non-substansial. Poinnya, bagaimana Anda bisa mengenal watak, sifat, karakter, plan, dan hal-hal yang berkaitan dengan calon pasangan Anda secara umum dan itu krusial untuk keberlangsungan rumah tangga. Tidak terlalu umum, tidak juga terlalu detail. Adapun hal yang tidak pernah Anda duga dari pasangan saat mengendarai bahtera rumah tangga, ini perlu kesiapan mental. Karena melihat realitas yang berbeda dengan ekspektasi, butuh kekuatan mental. Di sini, kedewasaan Anda juga diuji untuk menerima kekurangan pasangan.

Istiqrâ’ Fithriy

Dalam mantik modern, istiqrâ’ fithriy merupakan sebuah generalisasi yang dilakukan berdasarkan satu atau dua keadaan saja. Misalnya, Anda bertemu dengan dua atau tiga laki-laki yang buruk. Mereka yang Anda temui, sama-sama tidak memperlakukan perempuan dengan baik, juga tidak menghormatinya. Lalu, setelah itu Anda menyimpulkan “Semua laki-laki sama saja”. Jelas, kesimpulan seperti ini tertolak, bukan karena saya laki-laki lantas menolak kesimpulan seperti itu. Tapi, tidak ada alat atau patokan ilmiah yang digunakan dalam menyimpulkan hal tersebut. Jadi, istiqrâ’ fithriy memiliki kekuatan kesimpulan yang lemah.

Walaupun kesimpulan yang dilahirkan mayoritas lemah, bukan berarti seluruh kesimpulannya salah. Ada juga benar dan sedikit. Misalnya, Anda terkena api. Lalu di tubuh Anda ada luka bakar. Dengan cepat, Anda menyimpulkan bahwa semua api membakar. Kesimpulan ini dapat diterima, karena realitanya demikian. Tapi, bukan berarti ini bisa dijadikan pegangan. Bahkan, dari kalangan logikawan sendiri ada yang menolak istiqrâ’ fithriy ini disebut sebagai istiqrâ’. Karena tidak berdasar alat ilmiah.

Dalam kasus ta’aruf, Anda tidak bisa menyimpulkan karakter pasangan Anda menggunakan istiqrâ’ fithriy. Sebab, untuk menilai calon pasangan, kadang butuh banyak data di samping melangsungkan ta’aruf. Misalnya, Anda harus bertanya kepada teman, keluarga, sahabat, dan orang-orang dekat dari calon pasangan tentang apapun, sesuai dengan informasi yang Anda butuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Anda tidak boleh menggeneralisir begitu saja calon pasangan Anda dengan sedikit data, apalagi jika hanya ketemu sekali atau dua kali.

Saya tidak menafikan kalau istiqrâ’ fithriy yang Anda lakukan, bisa saja benar. Tapi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa itu benar. Kalaupun benar, benarnya hanya kebetulan dalam menilai calon pasangan. Iya, memang kita hidup di semesta yang serba mungkin. Tapi, yang menjadi pegangan dalam kehidupan adalah sesuatu yang kemungkinan terjadinya besar (ghalib), bukan sesuatu yang langka (nadir).

Ini kasusnya sama seperti orang yang tidak belajar, bisa lulus ujian. Apakah kita bisa berpegang kepada fakta bahwa ada orang yang tidak belajar dan lulus? Jika percaya bahwa itu adalah fakta, iya kita percaya. Tapi untuk dijadikan patokan, tidak. Sebab, realita berkata kalau orang yang tidak belajar, justru banyak yang tidak lulus ujian. Kita harus mengambil kemungkinan besar; belajar sebelum ujian. Inilah yang disebut dalam agama Islam dengan istilah “melaksanakan sebab” (al-akdzu bi al-asbâb). Dan ini nilainya ibadah.

Prosedur Istiqrâ’

Dalam melakukan generalisasi, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan, khususnya terkait dengan prosedur. Ada empat tahapan besar yang harus dilalui dalam menggeneralisir:

  1. Pengamatan

Dalam mengamati sesuatu, bisa saja pengamatan itu sifatnya sekilas, bisa juga pengamatannya cukup dalam. Pengamatan yang sekilas itu seperti ketika kita melihat jalanan, pasar, orang-orang di jalanan. Sedangkan pengamatan dalam atau pengamatan ilmiah, selain melihat sampel, melihat gejala, sebab, akibat, korelasi, dan lain sebagainya sangat diperlukan.

Pengamatan sekilas, dianggap tidak banyak berguna walau setiap hari kita melakukan itu. Tapi, bukan berarti dia tidak bisa menginspirasi untuk menemukan hukum penting dalam semesta. Ini sebagaimana yang terjadi pada Issac Newton, dia melihat buah apel yang jatuh dari pohon. Setelah itu, dia terinspirasi pada sesuatu yang menyebabkan buah apel itu jatuh. Inilah yang menjadi cikal-bakal munculnya teori gravitasi. Akan tetapi, jangan mengira karena sekali atau dua kali ini berguna, lantas disimpulkan bahwa ini dapat digunakan untuk menemukan sesuatu yang bernilai. Kalaupun ada, yang lebih memungkinkan untuk sampai ke sana adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi.

Pengamatan ilmiah inilah yang nantinya digunakan oleh para ilmuwan dalam merumuskan sesuatu yang baru, tak terkecuali teori. Karena ini memiliki langkah-langka metodis yang dapat mengawal kebenaran. Langkah-langkah yang dimaksud itu seperti:

  1. Jelas tujuannya.
  2. Memberikan perhatian khusus dan maksimal kepada sampel.
  3. Menggunakan aparatur ilmiah yang detail.
  4. Memaksimalkan akal dalam meneliti, mengurai, dan menganalisa.
  5. Tidak terpengaruh dengan hal lain (objektif).
  6. Penuh pertimbangan dan tidak terburu-buru.

Dalam ta’aruf, jelas pengamatan sekilas sangat tidak berguna. Sebab, bagaimana menilai keseluruhan calon pasangan melalui pandangan sekilas? Sementara orang yang berteman selama bulanan bahkan tahunan saja, belum tentu mengenal si calon pasangan.

Maka, pengamatan ilmiah ini yang tersisa. Jangan salah, justru langkah-langkah metodis itu sangat berguna dalam menilai calon pasangan. Seperti, ketika Anda mau melakukan ta’aruf, tujuan Anda jelas dan arah pertanyaannya jelas. Ini sisi poin pertama. Anda bisa juga menggunakan ilmu psikologi atau ilmu khusus yang terbukti bisa digunakan untuk mengamati karakter calon pasangan. Ini sisi penggunaan aparaturnya.

Selain itu, Anda harus memberikan perhatian maksimal. Perhatian yang dimaksud adalah penyelidikan yang mendalam terkait watak dan karakternya. Ini bisa juga mencakup sebelum dan sesudah ta’aruf. Sebab, relevansi dan kebenaran informasi yang diberikan calon Anda, bisa dibuktikan dengan pengamatan langsung atau menggunakan pihak ketiga. Ini sisi poin perhatian khusus dan maksimal kepada sampel.

Ketika Anda sudah memiliki informasi yang dibutuhkan, Anda harus menggunakan nalar untuk menertibkan dan mengorganisir kumpulan informasi yang Anda miliki. Setelah itu, Anda bisa urai dengan mencocokkan dengan informasi lain, lalu masuk ke tahap analisa informasi. Di sini, Anda bisa mencocokkan dengan diri Anda. Apakah calon tersebut adalah orang yang cocok dengan Anda atau tidak. Ini sisi poin keempat.

Yang paling penting, saat Anda melakukan aktivitas ini, Anda tidak boleh terburu-buru atau buta karena cinta. Karena kedua hal ini dapat menghalangi Anda untuk sampai kepada kemurnian informasi. Anda bisa melakukan ini saat sesi ta’aruf sudah selesai. Dan Anda bisa meyakinkan diri dengan salat istikharah setelah Anda menggunakan semua kemampuan yang Anda miliki.

Jangan mengira bahwa saat ta’aruf sudah selesai, berarti jawaban sudah ditemukan. Belum tentu. Bisa saja Anda semakin abu-abu setelah itu. Jadi, setelah ta’aruf, Anda bisa mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk menimbang dengan teliti plus objektif, apakah Anda akan maju atau memilih mundur.

  1. Eksperimen

Sebenarnya, eksperimen itu satu paket dengan pengamatan ilmiah. Karena eksperimen merupakan bentuk eksekusi lanjut dari pengamatan ilmiah. Ada juga yang menyatakan bahwa eksperimen dan pengamatan merupakan dua hal yang saling meniscayakan. Sebab, ketika seseorang yang melakukan eksperimen, maka saat itu juga dia sedang melakukan pengamatan akan reaksi sampel yang diteliti. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan eksperimen. Hal yang dimaksud, seperti ketentuan yang mmebuat eksperimen ini memiliki nilai lebih dan membuatnya buruk. Yang membuat eksperimen itu baik, jike memenuhi rambu-rambu berikut ini:

  1. Punya tujuan jelas sejak awal
  2. Objektif
  3. Menganalisa dengan detail
  4. Memperhatikan titik kritis dan mengawalnya
  5. Melakukan analisa ulang dan melakukan percobaan berkali-kali
  6. Melakukan dokumentasi terhadap kesimpulan sementara
  7. Menggunakan segenap kemampuan dan menggunakan semua teori yang relevan

Ketika kita memperhatikan sebuah sampel, maka kita harus memiliki tujuan, alias kerangka penelitian. Kita ingin meneliti sampel itu dengan sudut pandang apa. Agar arahnya jelas. Selain itu, ketika kita meneliti, jelas kita tidak boleh mengandalkan perasaan dan pandangan orang lain. Di sinilah sikap objektif itu bekerja.

Setelah sampel itu memiliki tujuan dan peneliti memiliki sikap objektifnya, peneliti kemudian harus menganlisa titik-titik yang diduga kuat bisa menghasilkan muara memuaskan. Ketika kita meletakkan perhatian terhadap titik itu lalu bagian kritisnya muncul, maka tugas peneliti adalah mengawalnya dengan baik. Karena titik kritis inilah yang menjadi titik terang menuju kepada kesimpulan.

Saat titik kritis sudah ada, alur penelitian sudah ada, maka saat itu peneliti melakukan analisa ulang dengan sikap skeptis dan eksperimen beberapa kali, apakah iya, sudah itu jawabannya? Saat sudah sampai di puncaknya, maka kesimpulan itu kita catat dengan baik. Karena itulah jawaban yang dicari.

Dalam konteks ta’aruf, ketika kita ingin menyimpulkan seperti apa calon pasangan kita dan seperti apa sikap kita selanjutnya, apakah maju atau mundur, sangat ditentukan dalam sesi ta’aruf. Pertama, tentu kita harus memiliki alur utama pembahasan yang bisa menjadi kunci dari pertanyaan utama kita; “Bagaimana dia? Seperti apa sikap saya?”. Untuk menentukan alur, tentu kita tidak luput dari hal-hal urgen dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya masalah kesiapan, visi, dan lain sebagainya. Walaupun eksekusinya tidak menggunakan konsep yang kaku, tapi poin-poin yang disiapkan tidak boleh lolos begitu saja.

Ketika kita sudah mulai mengeksekusi, kita harus tetap bersikap objektif. Harus bisa sedikit menekan perasaan demi sebuah kemaslahatan yang lebih besar. Jangan karena suka lantas menafikan hal-hal yang bisa dipertimbangkan dan ditinjau ulang. Karena apapun yang sudah diakadkan, itu harus diterima seumur hidup dari calon pasangan kita.

Biasanya, orang saat menjalankan ta’aruf, punya caranya masing-masing. Semisal dialog ringan. Melalui dialog ringan, kita sudah bisa memulai penyelidikan sampai investigasi. Kadang, orang juga menggunakan redaksi “Jika kamu ada dalam keadaan A, apa sikapmu?”. Ini digunakan untuk meringankan tekanan jika situasinya menekan. Yang terpenting, bagaimana kedua pihak memiliki “rasa aman” yang sama dalam membeberkan privasinya masing-masing. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh calon pasangan itulah yang menjadi titik kritis dan diingat dengan baik. Karena inilah susunan puzzle yang mengantarkan kita untuk menyimpulkan bagaimana calon pasangan ini.

Saat kesimpulan atau yang mendekati kesimpulan itu sudah kita miliki, maka kita tidak langsung percaya begitu saja dengan kesimpulan yang kita buat. Bisa saja kita yang kebablasan dalam menghukumi. Untuk meninjau ulang kesimpulan kita, bisa diuji dengan melontarkan pertaanyaan lain yang jawabannya bisa mendukung atau mematahkan kesimpulan. Jika hasilnya konsisten, maka itulah jawabannya. Jawaban apapun yang lahir di sini, perlu diingat atau dicatat dengan baik. Karena informasi ini sangat penting dalam keberlangsungan rumah tangga.

Adapun eksperimen yang buruk, itu bisa dilihat dalam tiga bentuk:

  1. Memperhatikan hal yang tidak urgen. Seperti yang saya jelaskan di atas, bahwa ta’aruf sudah harus siap poin pentingnya. Jika membahas hal-hal yang tidak urgen, bahkan saling bongkar aib, jelas ini menghalangi sampai kepada kesimpulan. Seharusnya kita mencari tahu bagaimana wataknya, tapi kita menyuruh calon pasangan untuk mengabsen semua aibnya.
  2. Hanya mengandalkan pancaindera. Jangankan dalam dunia ilmiah, dalam dunia ta’aruf pun, sangat berisiko jika mengandalkan pancaindera. Risikonya, tidak jauh-jauh dari kebenaran yang tidak utuh. Ada banyak manusia yang tidak bisa kita nilai menggunakan pancaindera, karena pancaindera kita terbatas, melainkan menggunakan akal. Akal sehat dan waras sangat dibutuhkan dalam ta’aruf. Karena ada banyak bungkusan makanan basi yang lebih unik dari bungkusan makanan yang masih siap saji.
  3. Penafsiran atau prasangka keliru. Penafsiran semacam ini bisa keliru karena ekspektasi yang terlalu besar dan angan-angan yang terbang setinggi langit. Kita menganggap calon pasangan kita adalah malaikat yang tidak berdosa, padahal hukum kehidupan menyatakan bahwa manusia memiliki kesalahan menurut versinya masing-masing. Poin ini bisa diredup dengan sikap objektif. Kita menilai seseorang sebagaimana mestinya.

Perlu ditegaskan sekali lagi, menilai seseorang tujuannya bukan untuk meremehkan, merendahkan, apalagi untuk dijauhi. Tapi, penilaian terhadap seseorang untuk memperbaiki komunikasi, menerima, dan saling menyesuaikan.

  1. Hipotesa

Bagian sebelumnya sudah membicarakan tentang bagaimana proses menilai. Bagian ini adalah sesi kesimpulan sementara; setelah melewati dua tahap sebelumnya. Hipotesa, punya beberapa ciri khas:

  1. Berpegang kepada imajinasi ilmiah; bersandar kepada penelitian dan eksperimen secara langsung.
  2. Mungkin ditarik masuk ke realita. Jadi tidak sekadar kesimpulan teoritis-idealis semata.
  3. Menginterpretasi realita dengan penafsiran ilmiah, bukan dongeng atau mitos.
  4. Tidak ada kontradiksi internal dengan hipotesa ilmiah lainnya.

Ketika kita ingin melahirkan teori baru, maka kita harus melihat apakah teori ini sudah melewati fase hipotesa atau tidak? Apakah hipotesa ini memiliki ciri-ciri di atas atau tidak? Misalnya, ketika kita ingin menyelidiki populasi rayap di rak buku yang kini semakin membludak. Apa penyebab membludaknya rayap itu? Dilakukanlah penelitian dan eksperimen. Ketika selesai, lahirlah sebuah hipotesa bahwa buku terbuat dari kayu dan sari kayu itu mengandung daya tarik bagi rayap, misalnya. Semakin banyak tumpukan kayu, maka daya tariknya semakin tinggi.

Kalau klaim atau hipotesa “Kayu memiliki daya tarik kepada rayap” ini dilihat, sudah bersandar kepada penelitian dan eksperimen, mungkin ditarik untuk ke realitas, berdasarkan penafsiran ilmiah karena sudah melalui tahap khusus, dan tidak kontradiktif dengan isi hipotesa lainnya. Karena di dalamnya tidak ada kaitan dengan hal-hal abstrak seperti adanya jin atau makhluk halus yang mempengaruhi rayap, pengaruh dewa A atau B, dan lain sebagainya. Murni berangkat dari hal-hal yang bisa diidentifikasi.

Begitu juga ketika kita melakuan ta’aruf, maka kita harus memperhatikan, apakah kesimpulan kita terhadap calon pasangan kita itu layak menjadi hipotesa atau tidak. Kita perlu cek, apakah kesimpulan kita berdasar atas data yang kita miliki sebelumnya atau tidak? Apakah kesimpulan yang dilahirkan itu mungkin (bahkan besaran kemungkinannya tinggi) untuk ditarik ke realita atau tidak? Atau jika seandainya kita membuat hipotesa lain dengan data dan premis yang sama, apakah kedua hipotesa ini saling kontradiksi atau tidak? Semua itu harus kita pertanyakan. Jangan-jangan hipotesa kita lahir atas kecondongan perasaan kita. Jelas, jika hanya berdasarkan perasaan, itu berarti kesimpulan tersebut hanyalah penafsiran kosong semata, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak melakukan penelitian.

Apakah keempat poin di atas adalah syarat? Bisa dikatakan iya, tapi tendensinya lebih dekat kepada ciri-ciri. Adapun syarat, ada beberapa poin:

  1. Hipotesa merupakan produk langsung dari penelitian dan eksperimen. Tidak dimasuki pengaruh-pengaruh lain seperti kecondongan perasaan atau subjektivitas orang lain.
  2. Hipotesa tersebut bisa dijadikan premis untuk argumen demonstratif (burhân). Jika tidak bisa, maka bisa dipastikan itu batil. Sebab, hipotesa tersebut gagal untuk melayakkan diri menjadi proses pembuktian.
  3. Hipotesa tidak bertentangan dengan satupun prinsip keimiahan, seperti hukum kausalitas, koherensi, dan visioner.
  4. Tidak mengandung kontradiksi.
  5. Bisa ditarik untuk masuk ke arena realita, tanpa menafikan penelitian dan eksperimen yang menjadi tiang hipotesa tersebut.
  6. Peneliti harus memeriksa detail hipotesa yang dibangun, agar jika nantinya ada lebih dari satu hipotesa, semuanya bisa diseleksi. Karena banyaknya hipotesa hanya akan membangun kebingungan.

Dalam ranah sains sendiri, sebuah hipotesa harus dikawal dengan baik. Tidak dibiarkan begitu saja. Sebab, sebuah hipotesa akan sangat menentukan kemajuan pengetahuan. Begitu juga dalam ta’aruf, hipotesa kita terhadap calon pasangan kita itu akan mempengaruhi sikap kita terhadapnya dalam dunia pernikahan. Karena perubahan sikap dasar kita terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh pengetahuan kita tentang orang itu. Maka hipotesa kita sangat krusial. Kalau kita tidak boleh menilai orang berdasarkan kebencian, bukankah hal yang sama juga berlaku dalam konteks kecintaan?

  1. Realisasi Hipotesa

Jika bagian ini saya uraikan, maka tulisan ini akan panjang. Hemat saya, dalam konteks ta’aruf, sebagaimana judul tulisan, sudah cukup sampai poin ketiga saja.

Sebuah Catatan

Meskipun Anda membaca uraian di atas penuh dengan teori, dingin, dan kaku, sebenarnya dalam eksekusi ta’aruf, tidak sekaku yang dibayangkan. Pembicaraannya bisa hangat, mengalir, plus memiliki arah yang jelas. Uraian di atas, tidak lebih dari sekadar memperkenalkan cara kerja mantik modern dan sedikit gambaran mengenai alur pembahasan ta’aruf.

Kalaupun pembahasan mantik modern ini dihilangkan dari konteks ta’aruf, tetap saja pembahasan ta’aruf, masih bisa terkonsep kaku. Misalnya alurnya dimulai dari membahas alasan, tujuan, visi-misi pernikahan dan keluarga, tujuan pribadi, tujuan bersama, potensi bersama menyelesaikan masalah, dan lain-lain. Walaupun konsep idealnya terlihat kaku, bukan berarti kita tidak boleh memilah tema dan cara yang tepat. Karena untuk mengharmonisasikan antara teori dan realita, salah satu caranya adalah memilah teori dan cara untuk keadaan yang tepat.

Mengaitkan antara ta’aruf dan mantik modern, tujuannya bukan aneh-aneh. Mantik di sini datang sebagai aspek pembantu dalam mengeksekusi ta’aruf, khususnya dalam hal tetap logis. Kenapa terasa dingin pembahasan ta’aruf yang harusnya hangat? Jawabannya, kita sedang membahas konsep. Konsep yang baik tidak dirasuki kecondongan perasaan. Dalam realita, sekali lagi, tidak semua sama persis dengan teori. Ada banyak hal-hal yang tidak terduga. Kalau begitu, apa gunanya membahas teori? Ibaratnya, teori itu persiapan. Orang yang bersiap, tidak dijamin pasti berhasil. Tapi, setidaknya kemungkinan kegagalannya menurun. Prinsipnya, orang yang besar penyesalannya adalah orang yang tidak maksimal dalam berusaha dan melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Kurang lebih, demikian.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

“Cinta Saya Ditolak, Saya Harus Apa?”

Artikel Selanjutnya

Syubhat Seputar Ilmu Mantik (7)

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Syubhat Seputar Ilmu Mantik (7)

Syubhat Seputar Ilmu Mantik (7)

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.