Ada banyak pertanyaan yang sering masuk ke inbox saya tentang bagaimana agar suka membaca, menulis, dan lain sebagainya tanpa merasa terbebani. Jawaban saya yang paling familiar adalah “cinta”. Kenapa dengan cinta? Karena dengan cinta, lelah dapat menjadi lillah, sebagaimana duri mawar yang seharusnya menyakiti, dapat terlupakan dengan keindahan mawar itu sendiri. Dengan cinta, hal-hal yang berlebihan di mata orang itu menjadi biasa bagi pecinta. Kadang, mengorbankan nyawa adalah sesuatu yang berlebihan dalam keadaan biasa, tapi tidak dengan cinta. Menghabiskan uang, perhatian, tenaga, segalanya untuk sesuatu adalah hal yang berlebihan, apalagi jika itu untuk sesuatu itu tidak dicintai, sangat menyakitkan. Tapi, itu lazim bagi sang pecinta.
Tapi, timbul pertanyaan, bagaimana cara mencintai? Kenapa kita mencintai? Ini pertanyaan sederhana tapi filosofis. Tentang bagaimana, tentu banyak cara. Tapi keadaan kita belum tentu sama. Meskipun demikian, ada hal-hal yang dinilai bagi penulis kemungkinannya sangat besar dalam menumbuhkan cinta. Mari kita urai.
Membiasakan
Kenapa harus membiasakan? Ingatlah, ada satu ungkapan bahwa “tidak kenal maka tak cinta”. Maksudnya apa? Contoh sederhana, ketika anda menemukan sosok wanita yang anda nilai itu cantik, apakah anda langsung jatuh cinta? Jawabannya tidak. Walaupun ada benih-benih rasa suka, itu belum cinta. Sebab, jika kecantikan adalah sebab cinta, lantas kenapa ada yang benci pada wanita yang cantik juga? Jika sebab cinta adalah kecantikan, kenapa ada orang yang cinta kepada yang tidak cantik-cantik amat? Ternyata ada sesuatu di balik rupa itu yang bisa membuat mata batin menatap dan membuat hati menetap, yakni kenal.
Seseorang yang awalnya tidak cinta, bisa menjadi cinta karena dekat dengan seseorang tertentu yang perbuatannya, hatinya, dan kehangatannya perlahan-lahan tampak. Ini tidak ditemukan pada tatapan pertama, tapi dari kedekatan. Apa kaitannya dengan membiasakan? Jika seseorang membiasakan sesuatu, semisal menulis, maka dia dekat dengan perbuatan menulis itu. Setelah dekat dan merasakan nyaman dengan menulis, sampai akhirnya tahap candu dalam menulis dia dapatkan. Ada yang kurang rasanya jika tidak melakukan itu, haus untuk menulis itu selalu meronta-ronta.
Pernah dengar seseorang yang cintanya sudah terlalu dalam sehingga tidak melihat selama beberapa jam saja sudah rindu? Ya, seperti itulah tahap candu. Orang yang semakin sering dengan sesuatu itu, maka dia akan semakin dekat dan semakin cinta.
Apakah membiasakan itu harus lama? Saya pribadi teringat dengan ucapan Syekh Hisyam Kamil “Sesuatu yang datang dengan cepat, maka akan berlalu dengan cepat. Begitu juga sebaliknya”. Sesuatu yang tidak berlalu dengan cepat itulah cinta, sebagai bayarannya butuh waktu yang lama juga untuk dekat dengan perbuatan itu. Maka sudah pasti, apa yang disebut dengan cinta pada tatapan pertama itu memang harus diragukan. Mengapa? Apa yang menyebabkan cintanya? Perasaan seperti itu hanya disebut dengan “benih-benih cinta”. Coba saja jika anda melihat seseorang yang cantik lalu setelah itu tidak memikirkannya, maka rasa itu langsung hilang seolah tak pernah ada. Mengapa? Itu hanya benih-benih. Seandainya memang itu cinta, perhatian anda akan sulit berpaling dari sana, walaupun kedua bola mata anda tidak melihatnya.
Begitu juga candu membaca, sebenarnya dimulai dari membaca sedikit-sedikit. Mulai menaruh sedikit perhatian, lalu semakin membiasakan sampai jiwa itu benar-benar lekat dengan membaca. Menaruh perhatian, tidak harus pada sesuatu yang kita cintai. Tapi, terlalu sering menaruh perhatian, akan menumbuhkan cinta itu. Tidak peduli, perhatian itu banyak atau sedikit.
Anda juga bisa membuktikan untuk rutin salat sunnah dua rakaat setiap hari sampai 40 hari 40 malam. Anda akan selalu mensinyalir untuk salat 2 dua rakaat sehari. Mensinyalir ini adalah bentuk menaruh perhatian. Ketika anda sudah sampai hari ke-40, maka anda akan merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya sekali saja. Semakin sering ditinggalkan, maka rasa tidak nyaman itu juga akan semakin memudar.
Kita bisa menyadari sesuatu bahwa salah satu cara membunuh cinta itu adalah mencabut perhatian kita dari sesuatu yang kita cintai sebelumnya. Semakin kita berusaha memlingkan diri dari sesuatu itu, maka perlahan cinta itu akan layu, kering sampai benar-benar mati. Jika anda ingin move on, lakukan cara ini.
Juga, memalingkan perhatian kepada sesuatu yang lain, itu sama halnya menanam benih-benih baru dan meninggalkan pohon yang sudah lama tumbuh. Pohon lama hanya tinggal mengering sampai menjadi kenangan dan benih-benih baru itu tumbuh menjadi pohon beringin yang membawa kesejukan dan teduh di hati.
Ini berlaku jika kita sudah expert pada satu bidang dan ingin mencoba bidang lain. Misalnya anda sudah sangat expert dalam bidang ekonomi dan ingin mencoba dunia filsafat, maka anda harus mengalihkan perhatian dari ekonomi ke filsafat. Tapi bukan berarti kita meninggalkan praktik dalam bidang ekonomi itu secara total, agar tidak hilang. Mengapa? Misalnya saja jika anda move on dari seseorang lalu anda kembali mencoba mengingat, maka “rasa” itu berpotensi lagi untuk tumbuh. Karena “mengigat” dan “menaruh perhatian” dalam dunia ilmu itu disebut dengan muraja’ah (mengulang). Agar move on anda itu benar-benar sempurna, maka anda tidak boleh mengingat sesuatu dari yang anda cintai sebelumnya. Begitu juga, jika anda ingin menghilangkan kecintaan anda terhadap menulis, membaca, dan lain-lain, maka jangan biasakan untuk itu.
Anda harus ingat, jika anda hanya mencoba sekali atau dua kali, maka anda sejatinya belum memiliki cinta terhadap sesuatu yang anda inginkan. Mengapa? Ini sama dengan persoalan tatapan pertama tadi, bukan cinta tapi hanya benih-benih. Sangat mudah hilang. Tidak ada rasanya jika ditinggalkan. Cobalah menulis setiap hari, tidak harus banyak, biar sedikit yang penting rutin.
Tapi, bukan berarti benih-benih itu sama sekali tidak ada gunanya sama sekali. Benuh-benih ini ibarat potensi atau hal-hal yang kita sukai, tapi kita belum bisa mengekspresikan suka itu jauh lebih dalam dengan bentuk latihan atau sejenisnya secara rutin. Misalnya, kita suka melihat orang melukis, tapi kita sendiri tidak pernah latihan melukis. Tapi, ditanya suka, ya suka. Seperti inilah juga gambaran benih-benih cinta itu, dia belum menjadi cinta yang utuh karena belum pernah memberikan perhatian.
Saya pribadi sudah membiasakan membaca dan menulis sejak lima tahun lalu sampai hari ini. Mengapa? Alasannya sederhana, saya tidak bisa berhenti. Saya sendiri merasa gelisah jika tidak menulis selama sehari saja. Maka selama lima tahun itu, saya tidak pernah berhenti menulis. Itupun yang saya bagikan, hanya sedikit dari yang sudah saya tulis. Begitu juga membaca, jika saya tidak bisa membaca satu buku, maka satu bab. Jika tidak bisa lagi, maka satu sub-bab. Jika tidak bisa lagi, maka satu halaman. Dan ini jumlah paling sedikit yang saya baca dalam sehari dan itu jarang.
Lingkungan
Kenapa lingkungan? Karena karakter, pemikiran, dan sikap kita dibentuk oleh lingkungan. Kita semua ibarat puzzle yang dibentuk oleh lingkungan, tidak ada yang lolos dari itu. Walaupun prinsip kita sekuat apapun kalau terlalu lama dalam suatu lingkungan, maka prinsip itu akan melemah dengan sendirinya. Sebab, sesuatu jika dibiarkan, tidak dirawat, maka akan hancur dengan sendirinya. Gedung semewah apapun, sekokoh apapun, jika tidak dirawat maka akan runtuh dnegan sendirinya.
Selain itu, jika anda sudah memiliki cinta yang amat dalam nan serius, maka anda harus menemukan sesuatu yang mendukung cinta anda. Misalnya saja, anda sudah terlanjur cinta dengan seorang wanita lalu anda menceritakan cinta itu kepada orang tua anda. Setelah mendengar cerita anda dan keduanya menolak, maka cinta anda hanya akan berakhir sampai di sana. Itu sama dengan padi yang anda tanam di tengah gurun, anda berusaha menyiramnya dengan air. Alih-alih tumbuh, akan mati sendiri. Mengapa? Selain karena tidak didukung dengan iklim, jenis tanah juga tidak mendukung.
Saya sudah banyak melihat bukti, ada yang sebenarnya punya kebiasaan baik tapi runtuh ketika masuk dalam lingkungan atau circle tertentu. Akhirnya apa? Kebiasaannya perlahan-lahan mengikuti lingkungannya. Syekh Musthafa Ridha mengajarkan bahwa salah satu rukun ilmu (yang relevan sepanjang masa) adalah bi’ah ‘ilmiyyah (lingkungan ilmu). Mengapa? Sekali lagi, lingkungan itu sesuatu yang mendukung tumbuhnya cinta kita. Jika pendukungnya tidak ada, maka cinta itu akan sulit bertahan. Alih-alih pede dengan cinta itu, malahan minder dengan sendirinya.
Bukan berarti juga kita tidak sama sekali berteman dengan siapapun. Kita perlu bedakan hal-hal yang sampai tahap mulazamah dan tidak. Yang sampai tahap mulazamah itu seperti orang yang mengikuti anda terus-menerus sampai kebiasaannya memiliki pengaruh dengan diri kita karena saking dekat dengan kita. Orang-orang yang sampai tahap ini perlu kita seleksi. Sedangkan untuk yang di luar itu, kita bisa berteman dengan siapa saja. Di sini, kita perlu membuat lapisan-lapisan circle sehingga kita memiliki sikap yang berbeda pada setiap lapisan, dalam artian kita bisa menempatkan sikap sebagaimana mestinya.
Jika kita ingin cinta kita mati, maka sederhanya menetaplah di lingkungan yang sama sekali tidak mendukung cinta itu. Dia akan mati dengan sendirinya walaupun anda berusaha menjaganya. Itulah pentingnya memahami lingkungan sekitar, apa saja yang tergolong dalam toxic relationship.
Mencari Tahu Kelebihan
Perlu dicatat, bahwa mengetahui kelebihan sesuatu, tidak lantas membuat kita mencintainya begitu saja. Buktinya, ada orang iri begitu mengetahui kelebihan orang lain kan? Tapi, mengetahui kelebihan yang kita cintai dapat memperkokoh cinta kita dan membuat kita merasa bangga dengan yang kita cintai itu. Orang-orang atheis itu identik dengan kecintaannya kepada sains dan materialis. Coba saja tanya mereka, apa kelebihan yang mereka cintai itu? Mereka bisa mendatangkan berjilid-jilid buku mengenai kelebihan dari sesuatu yang mereka cintai. Begitu juga ketika anda mencintai anaknya orang, anda bisa menyebutkan 1001 kelebihan dan kebaikannya. Karena dengan Pengetahuannya tentang sesuatu yang dicintainya membuat dirinya semakin kokoh kepada sesuatu yang dia cintai.
Tapi, jika anda belum sama sekali mencintai sesuatu itu, mengetahui kelebihan adalah wasilah agar anda bisa sampai kepada cinta itu. Artinya, mengetahui kelebihan itu bukanlah sebab, tapi dia adalah booster agar mencintai sesuatu itu. Bahkan, ada satu tahap di mana kita melihat sesuatu yang kita cintai itu adalah sesuatu yang tidak ada kurangnya, serba-serbi lebih dan baik. Mengapa? Cinta dapat membutakan kita terhadap kekurangan sesuatu itu.
Benarlah ungkapan bijak itu “Ketika kita ingin menilai sesuatu, maka nilailah sesuatu itu melalui sesuatu itu sendiri, bukan melalui pecintanya, bukan juga melalui pembencinya”. Mengapa? Pecinta itu buta akan kekurangan. Sementara pembenci itu buta akan kebaikan.
Jadi, jika anda memang ingin mencintai perbuatan menulis dan membaca itu, jangan cari-cari kekurangannya. Karena, kekurangan itu dapat membuat kita tidak pede dengan sesuatu yang kita cintai tadi. Bahkan yang bisa membuat kita cepat move on itu adalah mengingat-ingat kekurangan sesuatu itu. Itu akan membuat kecintaan itu semakin rapuh dan layu.
Kuncinya, jika anda memang benar-benar ingin mencintai, maka anda harus melakukan sesuatu yang menumbuhkan cinta, bukan sesuatu yang malahan membunuh cinta itu. Tapi, jika anda ingin mematikan cinta itu, maka lakukanlah hal-hal yang bersebrangan dengan itu.
Kalau diingat-ingat, ada satu pertanyaan belum tuntas di atas, yakni “mengapa”. Jawabannya, cinta tidak butuh alasan. Cinta hanya butuh perhatian.








