• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Tulisan Umum

Filusuf, Jodohnya Sastrawati

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
2 September 2021
in Tulisan Umum
Waktu Baca: 3 menit baca
Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Dalam salah satu kesempatan, ada salah seorang junior yang saya nilai mudah “tersihir” dengan keindahan sastra. Saya rasa itu wajar. Karena memang itu kelebihan yang dimiliki sastra. Sastra, dia bisa menghipnotis para pendengar dan pembaca, seolah dunia, penglihatan, dan pendengarannya tidak ada. Bahkan, sastra bisa menundukkan akal, walau penggunanya itu jelas-jelas bersalah. Tapi, bukan berarti tidak ada yang bisa lolos dari dekapan sihir sastra itu. Para filusuf yang benar-benar mengindahkan akal dan mereka dianugerahi kemampuan untuk terlepas dari hipnotis yang diciptakan sastra itu. Sebagaimana sastra dianugerahi kekuatan untuk menghipnotis lawan bicara.

Saya mengatakan kepada junior tersebut “kalau engkau menjadi filusuf, maka engkau tidak mudah patuh dengan kata orang“. Saya tidak bermaksud mengajarinya menjadi orang yang kepala batu, tapi karena manusia diberikan keistimewaan berpikir, maka saya mengajaknya berpikir untuk mempertanyakan dan mencari esensi dari keindahan kata itu. Jika takjub dan kagum adalah sebuah penyakit, maka obatnya adalah mempertanyakan.

Filusuf memiliki kekuatan untuk mempertanyakan segala hal. Kuatnya kekuatan akal itu membuatnya memiliki pribadi yang independen, kebenaran tidak dipegang oleh pihak tertentu, tapi kebenaran itu lahir dari rahim argumen. Sampai-sampai ada kesimpulan yang bisa menjadi pukulan telak bagi para sastrawan. Mantra itu berbunyi “lafaz itu tidak ada!”. Semenjak anggapan itu tertanam dalam diri filusuf, maka sekuat apapun sihir sastra tidak akan terpengaruh kepadanya.

Ada satu peristiwa paling monumental yang terukir di atas lembaran kertas buku sejarah dengan tinta emas. Peristiwa itu menceritakan ketika sang guru besar para filusuf, disebut-sebut sebagai orang paling berilmu oleh para dewa, Socrates berhadapan dengan para sastrawan dan ahli retorika yang dikenal dengan sebutan “kaum sofis”. Tidak sedikit orang yang mengira kaum sofis itu memegang kebenaran mutlak karena sihir sastra itu membuat para pendengar berpihak kepada orang yang bersastra.

Pertarungan itu tercatat terjadi pada abad ke-5 SM di kota Athena, Yunani. Pertarungan ini bukan tentang kejayaan salah satu klan, bukan tentang merebutkan bola naga yang menyebabkan hancurnya planet-planet. Tapi pertarungan ini tentang menegakkan kebenaran. Saat pertarungan itu dimulai, Socrates memulai menggunakan jurus pertamanya dengan mengeluarkan mantra sakti “jelaskan makna kata-kata yang anda keluarkan!”.

Jurus itu menimbulkan daya ledak yang sangat besar kepada orang-orang yang suka bermain-main dengan lidahnya. Sebab, mereka dituntut mempertanggungjawabkan kata-katanya. Setiap mereka memberikan jawaban untuk menangkis jurus yang dikeluarkan Socrates, maka mereka dijawab lagi dengan pertanyaan susulan yang mempertanyakan jawaban itu.

Sebenarnya, Socrates itu hanya memiliki satu jurus saja, yakni bertanya. Itu karena Socrates dari awal tidak memiliki rasa tidak tahu. Itulah yang mendorongnya untuk terus bertanya. Sampai ketika kaum sofis itu tersudut dan tidak bisa menjawab, barulah mereka mengatakan “kami tidak tahu”. Lalu, Socrates memberikan uluran tangan kepada mereka “Berarti kita sama, sama-sama tidak tahu”. Dunia Barat maupun Timur mengabadikan kisah ini dalam rak-rak perpustakaan mereka. Saat memulai pelajaran logika, kisah ini selalu dihaturkan melalui lisan para pengajar.

Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa para filusuf mengakui keindahan bahasa itu ada. Mereka hanya menahan decak kagumnya dengan mempertanyakan esensi perkataan itu, agar tidak mudah terhipnotis. Walaupun di sisi esensi banyak sastra yang kalah, tapi bukan berarti filsafat itu tidak boleh mengulurkan tangannya kepada sastra untuk bersatu menuju pelaminan.

Jika sastra dapat menghipnotis dengan segenap keindahannya dan filsafat dapat membuat para filusuf itu percaya akan esensi sebuah perkataan, maka menikahnya filsafat dan sastra bisa menaklukkan seluruh barisan akal yang ada di muka bumi ini. Ya, filsafat membuat penggunanya menyalakan akalnya. Sedangkan sastra membuat penggunanya menyalakan hatinya. Maka menikahkan keduanya membuat penggunanya menyalakan akal dan hatinya. Sehingga satu kalimat yang keluar, bagaikan tombak yang menusuk dada lawan bicaranya sampai tembus. Apapun yang dia katakan membuat jiwa-jiwa itu tunduk dan patuh.

Ada satu risalah yang pesannya kurang lebih “jangan sampai telingamu membutakan akalmu“. Maksudnya, menilai suatu ucapan itu tidak cukup hanya dengan sekedar lewat polesan sastra dan retorika, tapi seberapa berisi ucapan itu. Kalau kita hanya mendengar lalu percaya, lantas untuk apa akal menjadi esensinya manusia?

Tags: filsafatsastra
Artikel Sebelumnya

Perjalanan Ilmu Rasional

Artikel Selanjutnya

Belajar dari Mungkin

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Belajar dari Mungkin

Belajar dari Mungkin

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.