Semakin ke sini, orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan kebenaran dan keadilan. Selalu saja ada tumpang tindih. Saya pribadi sudah kurang percaya dengan orang yang mengaku menegakkan kebenaran, melihat yang ingin merealisasikan kebenaran itu sangat kecil jumlahnya. Saya sempat didatangi oleh salah satu pepatah Arab yang terkenal “Qul al-haq wa law kâna murran” (Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit). Berarti kebenaran itu ada yang pahit dong. Masalahnya, hampir semua orang tidak mau menyelami rasa pahit itu. Berarti ada orang yang secara tidak sadar menolak kebenaran itu sendiri.
Dalam dunia perpolitikan dan media, kita bisa melihat ada kepentingan terselubung di sana yang tidak mau disebutkan oleh yang bersangkutan, melihat kepentingan itu memuaskan diri sendiri, bukan khayalak luas. Sadar atau tidak, tindakan sembunyi-sembunyi itu menunjukkan kalau dia atau mereka sebenarnya tahu kalau perbuatannya keliru, makanya tidak ditampakkan, karena itu dapat merusak citra dan nama mereka. Atas kepentingan dan tujuan terselubung ini, akhirnya mereka menciptakan “kebohongan bertopeng” lewat berbagai lini. Lewat media, saksi, orang biasa, dan lain-lain. Kita juga tidak meragukan kalau dalam menanamkan pengaruh ada saja “kebohongan bertopeng” di sana.
Untuk apa “kebohongan bertopeng” dibuat? Untuk menciptakan pesan, kesan, dan citra tertentu secara tersirat. Siapa sih yang mau kelihatan aibnya? Untuk ukuran manusia normal, tidak ada yang mau seperti itu. Uniknya, varian “topeng” itu ada banyak, lebih dari satu. Kalau bertanya sekali lagi, apakah hanya kepentingan? Jawaban garis besarnya mungkin iya. Parahnya, topeng dari kebohongan itu adalah lawan kebohongan itu sendiri, kebenaran. Sehingga orang tidak tahu kalau yang mereka sangka kebeneran adalah kebohongan.
Propaganda dan Konspirasi
Mulanya propaganda itu dengan hari ini dari segi esensi tetap sama maknanya, hanya saja hari ini propaganda menuai stigma yang disebabkan oleh penyebaran paham komunisme di era Nazi. Baik di era Persia Kuno maupun abad ke-21, propaganda itu tetap saja komunikasi massal yang bersifat persuasif. Artinya, ini adalah teknik komunikasi yang mempengaruhi banyak orang secara halus dengan tujuan tertentu. Memang, propaganda itu ada banyak jenisnya, tapi saya terfokus pada “komunikasi massal yang bersifat persuasif”.
Kalau menilik definisi itu, maka propaganda itu harus ada banyak targetnya, memberikan pengaruh tanpa peduli pengaruh yang disebarkan itu benar secara ilmiah atau tidak plus mencakup banyak juga kekeliruan berpikir di sana, dan ada tujuan tertentu. Sebab, untuk mempengaruhi dibutuhkan tujuan walaupun tidak disebutkan dalam definisi.
Ketika media Barat meliput dunia Timur atau lebih khusus, agama Islam, apa kesan yang mereka munculkan? Islam adalah teroris. Islam adalah agama yang berisi kekerasan. Islam itu adalah ideologi ekstrim. Ketika kita menilik Islam yang sebenarnya, ternyata apa yang diberitakan media itu adalah kebohongan belaka. Kita bisa bertanya, apa tujuan yang hendak mereka capai? Apa kepentingan mereka dalam menciptakan citra buruk terhadap Islam? Saya tidak tahu pasti tujuan terselubung apa yang ada, tapi motif itu tetap ada terlepas kita tahu atau tidak. Sebab, sebuah tindakan lahir dari suatu pemikiran.
Propaganda seperti itu kita tahu bersama pelakunya. Tapi, ada juga propaganda yang tidak kita ketahui dari mana sumbernya. Ini biasanya hoax yang masuk ke dalam grup keluarga dengan segenap huruf kapital, bold, dan tanda serunya yang muncul tanpa angin dan mendung. Tapi kita tidak tahu siapa pelaku dan penulis berita itu. Tidak jarang ada yang menyerang pemerintah secara umum padahal pelakunya adalah sebagian kecil oknum yang sedang bermain “kotor”.
Ada satu teori yang sangat penting dalam propaganda: Menyelipkan kebenaran dalam sebuah kebohongan. Mencampur yang hak dan batil itu dicela dalam kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali dalam Al-Qur’an sendiri. Kenapa? Mencampur hak dan batil itu cikal bakal pembodohan dan pembohongan publik. Segala bentuk pembodohan dan pembodohan itu tidak baik dan tidak benar. Tapi, percaya atau tidak, teori ini masih dipakai dalam membuat teori false yang terkenal: konspirasi. Ingat serangan menara kembar WTC, 11 September 2001? Saya sendiri tidak ingat, karena saya lahir 2002, haha. Tapi, kalau menilik bunyi tuduhan dan kronologi kejadian saat itu, orang bisa membentuk teori baru. Mari kita analisa.
Dalam dakwaan atau tuduhan dalam teori itu adalah “Ini semua ulah Amerika untuk menuduh dan menyerang Afghanistan”. Apakah ada rasionalisasi atau “alasan yang dibuat-buat”? Ada! Waktu itu, presiden Bush masih hidup, dinyatakan berteman dengan Osama bin Laden. Kemudian, ada analisa pakar bangunan yang menyatakan bahwa mustahil tiang gedung setinggi itu runtuh karena tiangnya meleleh akibat bahan bakar pesawat. Ditambah lagi, ada ratusan orang pekerja Yahudi yang serentak izin di hari yang sama. Dari tiga bahan ini, spekulasi atau persepsi palsu sudah bisa dibuat. Bagaimana caranya? Buat saja narasi yang mengaduk emosi, karena dengan emosi akal manusia itu tidak akan bekerja dengan peforma maksimal. Dari emosi ini juga, jadilah sikap buru-buru dalam menyimpulkan. Akhirnya, kesimpulan yang lahir berdasarkan sangkaan, emosi. Bukan berdasarkan kebenaran. Misalnya, katakan saja: “Bukankah orang Yahudi itu bersepakat izin di hari itu karena mereka tahu kejadiannya akan seperti apa”. Apalagi ditambah gaya berpikir masyarakat kita kalau dapat hal-hal baru plus disampaikan dengan gaya yang berapi-api, itu mudah percaya tanpa menalar terlebih dahulu. Padahal, belakangan terbukti kalau dalangnya memang anak didiknya Osama bin Laden.
Kalau kita tarik kasus ini dalam pembahasan cacat logika (logical fallacy/mughalathah al-fikr), ada dua jenis cacat logika yang ada di sana. Pertama, menyandarkan kepada emosi (logical fallacy of appeal to emotion). Kedua, menarik kesimpulan dari data yang sifatnya asumtif (logical fallacy of oversimplification). Bagaimana caranya kita menyimpulkan apalagi sampai kepada taraf tuduhan, sedangkan kita sendiri masih ragu akan keterkaitan data dan kesimpulan kita? Ya, anggaplah datanya mungkin benar. Ini sisi haknya. Tapi batilnya, ketika menyimpulkan berdasarkan emosi dan tidak berdasarkan bukti, tapi hanya “kira-kira” doang. Beginilah teori konspirasi itu bekerja. Tapi, kalau ditanya apakah semua teori konspirasi keliru? Jawabannya, bukan berarti dia hanya terkategorikan sebagai teori konspirasi lantas dia keliru. Titik kekeliruannya ada pada kesimpulan dan cara sampai kepada kesimpulan itu. Jadi, mungkin saja ada teori konspirasi yang benar informasinya.
Selain itu, pola yang selalu berulang dari deretan teori konspirasi itu, hanya berputar pada beberapa hal: Pertama, tidak bisa memberikan bukti. Kedua, bersifat asumtif. Ketiga, menghadirkan narasi yang mengaduk-aduk emosi. Dan dari tiga poin ini, yang menjadi poin penting dari teori konspirasi adalah poin ketiga itu. Karena dengan terpenuhinya poin itu, tujuan teori tersebut bisa terpenuhi. Dari propaganda dan konspirasi ini, sudah banyak “menelan korban” yang bukan hanya di negara kita, tapi lebih luas dari itu, seluruh dunia.
Dua Kubu
Ada dua kasus yang berkesan bagi saya saat di Indonesia dulu, yaitu peristiwa menjelang pemilu dan mahasiswa vs aparat. Saya bertanya, siapa sebenarnya yang benar? Kalau melihat pendukung paslon A, mereka ada yang tertangkap menyebarkan kebohongan atau berita palsu demi paslonnya. Begitu juga pendukung paslon B, tidak jauh beda apa yang dilakukan paslon A. Jadi, sebenarnya siapa yang benar? Jawabannya, siapa saja yang menyebarkan kebohongan, itu adalah kesalahan. Tapi, apakah perbuatan pendukung paslon adalah paslon itu sendiri? Mari panggil nalar sehat untuk berkata tidak. Jadi saya tetap tidak bisa menilai paslon itu berdasarkan pendukungnya. Pendukung paslon adalah satu hal, sedangkan paslon itu sendiri adalah hal yang lain. Saya tidak berpikir seperti ini waktu itu.
Kasus lain, saat demo besar mahasiswa yang melibatkan universitas-universitas ternama di Indonesia. Saya lupa apa yang digugat saat itu. Yang mau saya soroti “Benarkah salah satu pihak mutlak benar?”. Sampai waktu itu ada beberapa mahasiswa diundang datang ke Indonesia Lawyers Club (ILC). Ternyata di sana ada pak menteri yang mendakwa mahasiswa tersebut, bahwa mereka itu ditunggangi oleh kepentingan kelompok tertentu yang juga punya kepentingan sendiri. Kalau tidak salah, presiden BEM yang ada di sana itu mengelak kalau mereka tidak ditunggangi. Akhirnya, ada pertanyaan yang diajukan oleh pak menteri itu, “Jadi, yang anarkis di jalan itu siapa?”. Akhirnya presiden BEM itu menjawab “Itu bukan dari kami”. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa itu ternyata ditunggangi.
Ada akun Instagram yang bernama @kabarmakassar_ menampilkan salah satu adegan di mana ada mahasiswa anarkis kepada aparat kepolisian. Tapi, di sisi lain ada juga video aparat yang kurang lebih tingkahnya sama dengan mahasiswa itu. Uniknya, dua adegan berbeda ini dipotong dan di-frame sedemikian rupa sampai menciptakan suara penonton yang berpihak pada salah satu kubu. Misalnya, “Mahasiwa A ini ditemukan anarkis terhadap aparat” dan pada narasi yang lain “Astagfirullah, sungguh zalim aparat ini kepada mahasiswa”. Padahal mereka ada di peristiwa yang sama, hanya saja orang tidak membaca lengkap kronologinya. Andai orang melihat lengkap semua kronologi yang ada, pastilah mereka akan sulit untuk berpihak apalagi kalau melihat indikasi kepentingan tertentu yang tidak semua orang suka.
Saya tidak habis pikir, paslon A dan B, begitu juga mahasiswa vs aparat ini ternyata sama-sama punya salah dan tidak semuanya bisa benar-benar dipercaya. Memang benar, kedua pihak membangun citra dengan caranya masing-masing. Namun, saya mulai ragu ketika dua orang yang bersebrangan dipanggil bertemu dalam “meja bundar”. Saya lihat, mereka tidak seperti citra yang mereka bangun. Di sinilah saya mulai berpikir kalau ketika ada dua kubu yang menciptakan citra dan saling berlawanan, bukan berarti salah satu dari mereka itu benar mutlak. Ada tiga kemungkinan: Pertama, keduanya benar. Kedua, keduanya salah. Ketiga, salah satunya benar dan satunya salah. Dan kalaupun tujuan keduanya benar, bukan berarti tidak ada oknum-oknum yang membuat gerakan tambahan yang membuat tujuan baik itu tertutupi.
Hari-hari terakhir, saya melihat media ribut tentang perang antara Rusia dan Ukraina. Ada yang bertanya “Siapa yang didukung?”. Saya tidak memberikan jawaban. Sebab, saya tidak punya kepentingan di sana, walaupun di media itu ada banyak citra kedua pihak bertebaran. Saya berpegang pada pandangan saya bahwa di sana tetap ada tiga kemungkinan. Kalaupun ada benar, kita tidak tahu, ada di pihak siapa. Karena kita semua tahu, perang terjadi karena ada kepentingan dari dua belah pihak. Lagipula, saya tidak punya alasan logis kenapa saya harus dan apa yang mengharuskan saya mendukung salah satunya.
Dampaknya?
Ingatlah bahwa yakin dan ragunya orang itu dibentuk oleh segenap informasi yang ada dalam dirinya. Kalau saya memberikan Anda pisau untuk menikam tetangga Anda, apakah Anda akan ke sana begitu saja lalu menikam tanpa ada ragu? Kalau mental dan jiwa Anda sehat, Anda akan ragu melakukan itu. Bagaimana kalau tetangga Anda non-muslim? Anda tetap saja ragu melakukan itu. Karena Anda melihat dia tidak melakukan apa-apa dan jiwa humanis Anda itu hidup. Tapi, bagaimana kalau saya mendoktrin Anda bahwa semua non-muslim di dunia sepakat membuat banyak hal untuk menghancurkan Islam, salah satunya tinggal dekat-dekat dengan orang muslim. Apakah keraguan Anda itu berubah? Ya, bisa saja apalagi kalau Anda tidak tahu kalau pikiran Anda sedang dicuci dengan doktrin.
Ya, dengan doktrin melalui propaganda dan konspirasi dunia dan seisinya bisa kacau. Negara-negara bisa diadu dengan propaganda dan disinformasi. Paul Joeseph Goebbels pernah berkata tentang teori propaganda: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang berulang-ulang akan membuat publik percaya bahwa kebohongan itu adalah kebenaran”. Kalau kebohongan dalam suatu negara terhadap suatu kelompok, etnis, dan agama tertentu selalu diulang-ulang, saat itulah orang mengira kebohongan sebagai sesuatu yang benar. Lebih parahnya lagi jika ternyata kebenaran itu menyebabkan gerakan, tindakan, atau perbuatan tertentu yang merusak dan orang yang melakukannya mengira kalau mereka sedang berkehendak secara independen menurut keinginannya saja. Inilah propaganda tertinggi.
Puzzle yang Hilang
Saya menemukan alasan untuk mengampanyekan agar belajar ilmu rasional. Karena suatu peradaban kemajuannya dimulai dari mulai berpikir dan membaca. Kalau mereka tidak punya ini, saat itulah peradaban akan terus terbelakang. Mau sampai kapan menyaksikan tindakan tak terdidik itu? Saya pribadi sudah bosan dengan itu. Mulai dari menjadikan berita palsu sebagai asas adu jotos sampai perang antar kompleks karena kabar burung saja.
Ada banyak orang yang termakan dengan jebakan-jebakan “Batman” yang diciptakan media dan dunia agar mengikuti kepentingan mereka. Kebusukan mereka akan terbaca jika kita mencoba membuktikan dengan cara ilmiah yang melibatkan ilmu rasional tentunya dan bisa mengendalikan emosi. Sebab, kita akan terus dipermainkan selama kita masih tidak pernah berusaha membuktikan dan masih dikendalikan emosi. Karena melalui dua jalur ini, otak kita dimasuki informasi yang tidak-tidak. Buktinya, sepanjang sejarah, berita palsu akan terjawab dengan sendirinya dengan adanya pembuktian dan pengendalian emosi di sana. Mengapa? Orang emosi itu tidak berlogika. Sementara kebenaran bisa kita dapatkan adalah dengan berlogika.
Selain itu, kebenaran itu dibiaskan demi mencapai kepentingan tertentu. Jika ada kepentingan yang diwujudkan dengan cara membiaskan kebenaran, saat itulah kebenaran kepentingan tersebut diragukan. Semua orang tahu betapa buruknya tindakan membiaskan kebenaran ini, tapi ada sebagian orang menjadi pelakunya. Yang jelas, cukup sederhana jika kita ingin mengetahui apa yang ada di berita atau informasi itu benar atau tidak, apakah bisa dibuktikan? Atau kalau ada nukilan tertentu yang orangnya punya pengaruh, kita bisa bertanya, apakah nukilan itu benar atau tidak?
Wallahu a’lam.








